Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 205


__ADS_3

Dokter telah memeriksa kondisi Azizah dan mengizinkan Steven untuk menemui sang istri.


Tak ingin berlama-lama, Steven langsung bergegas masuk sambil terus menggendong buah cintanya dengan Azizah.


“Sayang,” ucap Steven dan mencium mesra kening Azizah.


Azizah menangis terharu sambil bergantian melihat sang suami dan juga bayi mungil di gendongan suaminya.


“Ba..bayi ini benar anak kita sayang?” tanya Azizah.


“Iya sayang, ini bayi yang selama ini kita nantikan,” jawab Steven.


Steven memberikannya kepada Azizah.


Dengan hati-hati Azizah menggendong buah hatinya.


“Ugh.. ugh..” Mulut mungil sang bayi bergerak-gerak mencari air susu untuk di minum.


Azizah kembali menangis terharu, melihat wajah bayi mungilnya yang sangat mirip dengan dirinya.


“Apakah bayi kita laki-laki?” tanya Azizah sambil mengelus-elus pipi lembut selembut kapas bayinya.


“Iya sayang, bayi kita laki-laki seperti yang kamu katakan,” jawab Steven.


Ya Allah terima kasih karena Engkau telah memberikan hamba kesempatan untuk kembali hidup bersama suami, bayi kami dan juga keluarga suami hamba.


Deg!


Azizah tiba-tiba ingat tragedi kecelakaan yang membuat dirinya seperti ini.


“Sayang, Galih sekarang dimana?” tanya Azizah panik.


Steven menundukkan kepalanya, ia bingung harus berkata jujur atau tidak.


“Sayang, Galih baik-baik saja kan?” tanya Azizah penasaran.


“Huh..” Suara Steven bernapas.


“Galih masih koma sayang.”


“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Lalu bagaimana dengan orang yang menabrak kami?” tanya Azizah yang memang tidak mengetahui insiden ledekan itu.


Steven menceritakan tentang kecelakaan dan tak ada satupun yang terlewatkan oleh dirinya.


Azizah terkejut saat tahu bahwa Diandra telah menemui ajalnya.


“Semoga dia diterima disisi-Nya,” ucap Azizah.


“Untuk apa kamu berdoa seperti itu sayang? gara-gara dia aku hampir kehilangan kamu dan buah hati kita,” sahut Steven yang masih sangat kesal dengan perbuatan Diandra.


“Sayang, sebagai manusia kita harus saling memaafkan,” ucap Azizah.


“Dia bukan manusia sayang!” tegas Steven yang semakin membenci Diandra.

__ADS_1


Adam, Yuli dan Mariska tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Steven sebelumnya telah mengetahui bahwa Azizah telah sadarkan diri.


“Menantu mami!” panggil Yuli dengan sangat senang.


Azizah memberikan bayinya kepada sang suami.


Yuli kemudian memeluk tubuh Azizah dan menangis terharu.


“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar nak,” ucap Adam.


“Kak Azizah akhirnya sadar juga, keponakan Mariska sangat mirip dengan kak Azizah,” sahut Mariska.


Mereka saling menumpahkan rasa rindu yang terasa sangat lama.


“Oek... oek....” Bayi mungil itu kembali menangis seolah-olah mengerti dengan suasana haru di dalam ruangan.


Azizah sangat senang karena akhirnya ia berhasil selamat dari maut, ditambah sekarang ia telah memiliki tanggungan untuk membesarkan buah hatinya dan Steven.


“Sayang, bolehkah aku segera pulang dari sini!” pinta Azizah yang memang tak betah berlama-lama di rumah sakit.


“Aku akan meminta izin kepulangan mu saya sayang. Setelah kondisi tubuhmu pulih,” jawab Steven.


Mariska senang akhirnya kakak iparnya pulih.


Sekarang tinggal Coneh yang belum sadarkan diri, Ya Allah hamba mohon selamatkan lah Galih.


Malam hari.


Sebelumnya ia telah meminta izin kepulangan sang istri dan syukurnya dokter yang menangani Azizah mengizinkannya pulang besok pagi.


“Sayang, Terima kasih banyak atas perjuanganmu selama ini. Maaf aku belum menjadi suami yang baik untuk mu dan papah yang baik untuk bayi kita,” ucap Steven sedih.


Azizah menggelengkan kepalanya.


“Suamiku ini bicara apa? Apapun yang kamu katakan aku anggap hanya gurauan. Steven Walker tetaplah suami yang terbaik dan papah yang terbaik untuk bayi kita,” sahut Azizah dengan sangat jujur dari hati yang paling dalam.


“Ugh.. ugh...” mulut mungil sang bayi selalu saja bergerak-gerak membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


“Aku ingin menyusui bayi kita sayang. Tapi, ASI ku belum juga keluar,” ucap Azizah sedih.


Steven baru ia ingat bahwa ia membeli sesuatu untuk sang istri. Dengan cepat pria blasteran itu bergegas mengambil sesuatu yang ia beli.


“Ini sayang, aku tidak yakin ini berhasil. Namun, banyak wanita setelah melahirkan meminum ini,” ucap Steven sambil menyerahkan kotak kecil yang bertuliskan 100% daun katuk alami.


Azizah tiba-tiba tersenyum manis, ia begitu senang dengan tindakan sang suami yang begitu perhatian.


“Terima kasih sayang,” sahut Azizah sambil mengambil kotak kecil itu.


“Sebentar lagi anak mamah minum ASI! Anak mamah dan ayah harus bersabar ya,” ucap Azizah dan mengecup lembut pipi bayi mungil mereka.


Bayi mungil itu akhirnya tertidur, dengan perlahan Steven memindahkan ke dalam ranjang bayi.

__ADS_1


“Selamat tidur anak papah, mimpi indah ya jagoan papah dan mamah!”


Steven lalu kembali mendekati sang istri dan langsung naik ke ranjang.


“Sayang, sekarang ini waktu kita berdua,” ucap Steven dengan memberikan senyum lebarnya.


Steven mendekatkan wajahnya dan menciumi bibir Azizah dengan penuh cinta.


Meski belum bisa melakukan lebih setidaknya itu bisa membantu mengatasi kerinduan Steven untuk bermanja-manja dengan istri tercintanya.


Mereka pun kemudian tidur di atas satu ranjang yang sama.


2 jam kemudian.


“Oek... oek....” Bayi mereka terbangun dengan suara tangisan yang begitu kencang.


“Sayang, anak kita bangun!” Azizah membangunkan Steven yang masih tidur dengan menggerakkan tubuh Steven.


Pria itu terbangun dan terkejut mendengar bayi mereka menangis.


“Sayang, ini papah.. Cup.. cup.. cup..” Steven menggendong dengan mengayunkan perlahan-lahan di gendongannya.


“Oek... oek....”


Azizah membantu sang suami untuk membuatkan susu formula, ia sama sekali tidak turun di ranjangnya karena meja kecil yang berada di sampingnya sudah lengkap untuk meracik susu formula.


“Ini sayang!” seru Azizah dan menyerahkan botol yang sudah berisikan susu.


“Terima kasih sayang,” sahut Steven lalu memberikannya kepada buah hati ia dan sang istri.


Azizah dan Steven saling memandang kemudian mereka tertawa.


“Jadi ini rasanya memiliki bayi sayang,” ucap Azizah.


“Iya sayang, kita pasti akan disibukkan dengan bayi kita,” sahut Steven.


“Suamiku sayang, terima kasih karena selama ini kamu yang menjaga bayi kita saat aku belum sadarkan diri,” ucap Azizah kemudian menitikkan air mata.


Steven menghampiri Azizah dan mencium bibir sang istri sekilas.


“Istriku jangan terlalu banyak berpikir, kamu harus tidur sekarang juga!” pinta Steven.


“Tidak sayang, aku harus menemani suamiku begadang.”


“Sayang, kamu harus banyak istirahat. Ingat! besok pagi kita akan kembali ke rumah.”


Suamiku benar, jika tidak begitu aku malah akan berlama-lama disini.


“Baiklah, aku tidur sayang. Jika suamiku ini kesulitan jangan sungkan-sungkan untuk membangunkan aku sayang!”


“Siap sayangku!”


Azizah menarik selimut kemudian segera memejamkan mata.

__ADS_1


Tidurlah yang nyenyak istriku sayang.


Selamanya aku mencintaimu!


__ADS_2