Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 26


__ADS_3

Diana sedang asik menikmati dentuman musik yang ada di diskotek bersama teman-teman prianya.


Suasana malam itu sungguh ramai, kota New York punya sejuta cerita di dunia malamnya.


Diana white sendiri adalah wanita asli dari Amerika, memiliki hubungan spesial dengan Mike Adalson yang hampir 1 tahun.


“Ambilkan segelas anggur untukku!” pinta Diana pada salah satu Bartender.


Diana langsung meneguk minumannya sekali tegukan, Ia benar-benar kesal dengan Mike yang tak ada kabar seminggu lebih.


“Diana! Ayo bergoyang dengan kita!” ajak Mady.


“Baiklah!”


Mereka bergoyang mengikuti dentuman musik yang sangat keras, kehidupan di Amerika benar-benar bebas. Apapun bisa terjadi disana.


“Diana, kau terlihat mabuk sekarang,” ucap Louis.


“Aku tidak mabuk, aku masih kuat.”


Louis adalah salah satu sahabat Diana, mereka telah dekat saat masih kecil. Sebenarnya Louis tertarik dengan Diana sudah sangat lama sekitar 5 tahun yang lalu, saat Diana hampir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya. Dan saat itulah Louis menyadari perasaannya kepada Diana.


Namun perasaan itu Ia simpan sampai detik ini.


“Tidak Diana, kamu sekarang benar-benar mabuk sebaiknya aku antarkan kamu pulang sekarang,” ucap Louis.


Louis langsung memapah Diana pulang, Ia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Diana.


“Aku masih ingin minum Louis,” ucap Diana yang benar-benar mabuk.


Louis hanya terdiam, dilajukannya mobil dengan kecepatan sedang.


“Aku benci kamu Mike, aku ingin putus denganmu,” oceh Diana dalam keadaan mabuk.


“Sebenarnya aku tidak mencintaimu lagi Mike, aku sejujurnya mencintai Louis. Tapi karena Louis sering bersama Himawari wanita Jepang itu jadinya aku menyimpan perasaan ini sendirian, seharusnya Louis mengutarakan Cintanya padaku,” oceh Diana yang tak sadarkan diri lalu menangis.


Deg.. deg..


Louis langsung menghentikan mobilnya, ternyata perasaannya selama ini tidak hanya Ia Seorang. Tetapi Diana juga memiliki perasaan terhadap dirinya.


“Katakan sekali lagi Diana, Apakah kamu mencintai Louis?” tanya Louis sambil menyentuh kedua pundak Diana.


“Ya aku mencintai Louis, sangat mencintainya.”


Usai mengucapkan isi hatinya, Diana langsung tertidur. Louis sangat senang dengan ucapan Diana, mobil yang semula berhenti kini berjalan kembali.


Sampailah mereka dikediaman Robert Dominic.


Ting.. Tong..


Ceklek Suara pintu terbuka.


“Apakah dia mabuk lagi?” tanya Rose yang tak lain Ibu Diana.


“Ya, Diana sangat susah jika disuruh berhenti minum,” ucap Louis.


“Bawa dia ke kamar, aku tidak kuat memapah dirinya!”


“Baik.”


Rose sudah terbiasa dengan kelakuan anaknya itu, Ia pun telah mengenal Louis dan keluarganya sejak lama. Sebenarnya Rose lebih setuju jika Diana dan Louis bersatu, karena Louis yang selalu menjaga Diana.


Louis memapah Diana menuju kamarnya, kamar yang cukup besar didominasi warna putih dan hijau.


“Tidurlah yang nyenyak Diana.”


“Jangan pergi!” pinta Diana sambil memegang tangan Louis, Diana sendiri tidak sadar dengan perilakunya itu.


Louis berusaha melepaskan pegangan tangan Diana, namun Diana memegang tangan Louis sangat erat. Sehingga sangat sulit untuk Louis lepaskan.


"Ini sudah malam Diana, Aku harus pulang" Ucap Louis lalu berusaha melepaskan tangan Diana, dan akhirnya terlepas.


Louis berjalan ke arah pintu, ditutupnya pintu dengan pelan-pelan.

__ADS_1


“Louis!”


“Ya Aunty!”


"Ayo temani Aunty minum teh, ada yang ingin Aunty tanyakan pada kamu" Ajak Louis dan ingin membicarakan sesuatu.


Louis tidak menjawab, Ia hanya mengikuti Rose dari belakang.


Sampailah mereka di ruang keluarga, Louis dan Rose duduk di sofa berwarna hitam.


“Louis, Apakah kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Rose serius sambil menyeruput teh hijau miliknya.


“Belum Aunty!”


“Kenapa belum? kamu sekarang sudah besar dan bahkan sangat dewasa. Kenapa kamu belum juga memiliki kekasih?” tanya Rose Penasaran.


“Sebenarnya aku mencintai Diana Aunty,” jujur Louis.


Rose langsung melebarkan senyumnya, Ternyata Louis menyukai Putrinya itu.


“Bagaimana kalau kalian segera menikah?” tanya Rose.


Louis langsung membelalakkan matanya, Ia sangat terkejut dengan ucapan Rose yang tiba-tiba memintanya untuk segera menikah.


"Bagaimana bisa Aunty? Diana sendiri telah memiliki Mike" Ucap Louis, bagaimanapun Ia harus menghargai Mike.


“Soal Mike biar aku beri dia penjelasan, orang tuanya juga dari dulu tidak merestui hubungan mereka.”


“Baiklah Aunty, aku pulang dulu sudah larut malam.”


“Besok pagi berkunjunglah kesini, Uncle Robert besok pagi akan datang!”


“Siap Aunty, aku pulang dulu. Selamat Malam.”


“Selamat malam juga.”


Rose lalu membereskan sisa teh di meja, Ia kemudian bergegas menuju kamar mengistirahatkan tubuhnya.


Jarak Rumah antara Diana dan Louis tidak terlalu jauh, jika berjalan kaki tidak sampai 5 menit.


“Mommy belum tidur?” tanya Louis yang baru turun dari mobil.


“Mommy menunggu kamu pulang, ayo kita masuk. Ini sudah sangat malam, sebaiknya Mommy tidur".


Mereka masuk ke dalam rumah, Audy sendiri adalah seorang Single parent.


“Selamat tidur Mommy,” ucap Louis didepan kamarnya.


“Selamat tidur Louis,” balas Audy didepan kamarnya.


Louis mengganti pakaian yang Ia kenakan seharian, lalu Ia merebahkan tubuhnya di kasur.


Sang Kakak yaitu Louis.


Keesokan Paginya.


“Mommy, aku pergi ke rumah Diana*” ucap Louis yang sudah berdandan rapi.


“Baiklah, Salam untuk keluarga mereka.”


“Baik Mommy, bye.”


“Jaga diri Nak,” ucap Audy.


Louis menuju rumah Diana dengan berjalan kaki, tidak butuh waktu lama Louis pun telah sampai.


"Selamat Pagi Aunty, Selamat Pagi Uncle!” Sapa Louis yang melihat Rose dan Robert sedang menyiram bunga dihalaman rumah.


“Ayo masuk Louis!” Ajak Robert.


Robert dan Louis melangkahkan kaki mereka memasuki rumah. Disusul pula dengan Rose.


“Minumlah teh hijau ini Louis!” ucap Rose sambil menuangkan secangkir teh hijau.

__ADS_1


“Terima kasih Aunty,” balas Louis ramah.


“Sayang, Panggilkan Diana!” Pinta Robert.


Rose lalu pergi menuju dapur, Diana sedang memotong buah semangka kesukaannya. dihampirinya Sang Putri.


“Diana, didepan ada Louis,” ucap Rose.


Deg.. deg..


Diana merasakan ada yang aneh pada dirinya, Untuk pertama kalinya Ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Perasaan yang benar-benar aneh.


“Diana Sudah terlihat cantik belum Mom?” tanya Diana.


Rose mengerutkan keningnya, tidak biasanya Diana memikirkan penampilannya dihadapan Louis.


“Bukankah kamu selalu cuek dengan penampilan saat bertemu dengan Louis? tidak seperti biasanya,” ucap Rose.


Diana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar yang dikatakan oleh Ibunya. Bukankah Ia begitu cuek dengan penampilan saat bertemu dengan Louis, Diana menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ayo sayang, kasihan Louis menunggu lama" Ajak Rose sambil menarik tangan Anaknya.


"Ha..ha.. Uncle bisa saja" Ucap Louis yang sedang tertawa bersama Robert.


Rose dan Diana datang menghampiri mereka, kini mereka duduk bersama di ruang tamu.


“Jadi kapan kalian menikah?” tanya Robert, Seketika membuat Diana dan Louis saling melotot.


“Daddy!! Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Diana heran dan sangat terkejut.


“Salah jika Daddy menanyakan hal itu? Lagipula Louis mencintai kamu,” ujar Robert.


“Louis tidak mencintai Diana Daddy, yang Louis cintai itu Himawari wanita Jepang itu,” ucap Diana.


“Aku tidak pernah mencintai Himawari, aku hanya mencintaimu Diana,” jlas Louis dengan serius.


Deg.. deg..


Diana sangat terkejut, mulutnya bahkan menganga lebar. Ternyata Louis selama ini menyukai dirinya.


“Hati-hati ada lalat masuk!” ucap Rose sambil menahan tawanya.


Diana menutup cepat-cepat menutup mulutnya, ada rasa malu yang ia rasakan sekarang.


“Tapi bagaimana dengan Mike?” tanya Diana.


"Bukankah kamu bilang kepadaku bahwa kamu tidak mencintai Mike lagi? dan kamu hanya mencintaiku?" Tanya Louis dengan santai.


Diana dibuat malu dengan ucapan Louis, wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus. Ingin rasanya Ia menenggelamkan dirinya di bawah selimut.


"Kenapa wajahmu memerah Diana?" Tanya Rose berpura-pura tidak tahu.


Untuk menutupi rasa malunya, Diana berusaha bersikap biasa. Dimajukan bibir miliknya seperti Donal bebek.


"Kamu seperti itu tetap cantik" Puji Louis kepada Diana didepan orang tuanya.


Lagi-lagi wajah Diana memerah seperti kepiting rebus, Louis benar-benar berhasil membuat Diana malu.


“Sudah Louis, kasihan Diana. wajahnya bahkan sangat merah dari yang sebelumnya.” Goda Robert.


“Cukup! Jangan membuat Diana malu,” ucap Diana yang sangat malu.


“Dan kamu Louis, kapan aku bilang mencintai kamu?” tanya Diana.


“Semalam, saat kamu tidak sadarkan diri. Bukankah saat seseorang sedang mabuk dan berbicara saat ia seperti itu, Ia pasti membicarakan isi hatinya. Dan isi hati kamu semalam mengatakannya,” terang Louis.


Diana tidak bisa berkutik lagi, yang dikatakan Louis memang benar. Dirinya telah menyukai Louis dan tidak memiliki perasaan lagi terhadap Mike.


"Sekarang kami sudah tahu bahwa Kalian saling mencintai, Jadi kapan kalian menikah? Kami tidak ingin kalian berpacaran yang tidak jelas" Tanya Robert serius.


“Tapi Daddy, Diana dan Mike belum putus,” ucap Diana lirih.


“Kalau begitu segera putuskan hubungan kalian, dan menikahlah dengan Louis!”

__ADS_1


“Baiklah Daddy!”


__ADS_2