Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 189


__ADS_3

2 Bulan kemudian.


Kandungan Azizah kini berusia 30 Minggu atau 7 bulan lebih 2 Minggu, yang artinya 2 Minggu lagi ia akan kembali ke Jakarta.


Sang sahabat dan juga Mike telah kembali ke Indonesia 1 bulan yang lalu, Mike ternyata tidak bisa berlama-lama di Singapura.


“Sayang!” panggil Steven melihat sang istri duduk melamun sendirian di atas ranjang.


“Iya sayang,” jawab Azizah.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Steven dan mengelus-elus perut Azizah, “Anak kita menendang sayang,” ucap Steven senang.


“Iya sayang,” balas Azizah lagi dengan wajah datar.


“Kamu kenapa sayang? apa ada hal yang membuatmu sedih?” tanya Steven khawatir dengan kondisi sang istri yang begitu tidak bersemangat.


“Aku sudah bosan sayang, mau pulang,” jawab Azizah dan bergerak tidur di paha sang suami.


Steven memperbaiki duduknya dan memainkan rambut Azizah, “Kamu ingin kita pulang kapan sayang?” tanya Steven lembut.


“Kalau besok bagaimana sayang?” tanya Azizah.


Steven berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya, “Lusa ya sayang! bukankah kamu mengatakan sebelum pulang harus bawa oleh-oleh?”


“Ya ampun aku lupa sayang, terima kasih sudah mengingatkan! bolehkah aku tidur dipangkuan mu sayang!”


“Silahkan, waktunya untukmu dan anak kita tidur siang!” seru Steven.


Azizah tak ingin berlama-lama, ia pun memejamkan dan akhirnya ia tertidur pulas.


Apa ada hal yang kamu sembunyikan istriku sayang? atau karena bawaan dari anak kita?


Aku berharap kamu dan calon anak kita baik-baik saja!


Pria blasteran itu pun ikut tidur dengan terus memangku kepala Azizah di pahanya.


Bi Ana tidak sengaja melihat suami istri itu tertidur karena pintu kamar yang tidak tertutup rapat, Bi ana pun mendekat dan menutup pintu itu rapat-rapat.


Tuan muda dan nyonya muda sebentar lagi akan menjadi orang tua, Ya Allah berikan mereka kebahagiaan di hidup mereka selamanya..


Bi Ana pun pergi dan melanjutkan tugasnya untuk bersih-bersih.


1 Jam kemudian.


Azizah tak lagi merasakan kepalanya yang bertumpu di paha milik sang suami, ia menggerak-gerakkan tangannya berusaha menemukan tubuh suaminya namun, tak juga menemukan keberadaan sang suami. Ia pun membuka matanya perlahan dan benar saja, sang suami memang tidak ada di atas ranjang.


“Sayang!” panggil Azizah setengah berteriak.


“Sayang!” panggil Azizah lagi.


“Ceklek.” Suara pintu kamar mandi.

__ADS_1


“Iya sayang, aku sedang buang air kecil,” sahut Steven dan berjalan menuju ranjang.


“Aku kira kamu pergi, temani aku disini!” pinta Azizah manja.


“Baiklah sayang, sini aku peluk!”


Azizah mendekat dan dengan cepat Steven memeluk tubuh sang istri kemudian menghujani wajah Azizah dengan ciuman.


“Muach... Muach... Muach...” Suara kecupan cinta dari Steven untuk Azizah.


“Hentikan sayang, sekarang kamu pergilah!” perintah Azizah kemudian mendorong tubuh suaminya.


Steven hampir saja terjungkal untungnya ia masih berpegang erat pada sisi ranjang.


“Sayang, kamu yakin menyuruhku pergi?” tanya Steven yang masih tak percaya dengan permintaan sang istri.


“Iya sayang, aku ingin sendirian sekarang!”


Aku bingung dengan keinginan ibu hamil, kadang ini kadang itu, tiba-tiba ini, tiba-tiba itu.


Tidak bisa ditebak sama sekali.


“Baiklah sayang, kalau ada apa-apa panggil lah aku! aku ada di ruang keluarga!”


Steven menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan keluar pintu, pria blasteran itu lalu merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


Lebih baik aku tidur disini terlebih dahulu, siapa tahu istriku rindu dan memintaku menemaninya lagi.


Azizah tersenyum tipis, ia sengaja mengusir suaminya untuk sementara waktu.


“Bi Ana!” panggil Azizah dengan cepat Bi Ana berlari kecil menuju kamar.


“Iya nyonya muda, ada perlu apa?” tanya Bi Ana.


“Bi, lusa kita akan kembali ke Indonesia. Tolong bantu saya berkemas-kemas ya Bi!” pinta Azizah.


“Baiklah nyonya muda!” seru Bi Ana.


Bi Ana mulai memasukkan dan menyusun pakaian majikannya, ia pun mendadak menghentikan tugasnya dan memberanikan diri menanyakan sesuatu yang dikatakan oleh nyonya mudanya itu.


“Maaf nyonya muda, tadi saya mendengar nyonya muda mengatakan kita, itu artinya apanya nyonya muda?” tanya Bi Ana.


“Bi ana kan sendirian disini, bagaimana kalau bi Ana ikut kami saja pulang ke Jakarta?” tanya Azizah.


“Tapi nyonya muda..”


“Tenang saja Bi Ana, semuanya sudah di urus oleh suami saya. Suami saya sebelumnya telah mengurusi berkas atau apalah itu saya kurang tahu sebulan yang lalu,” jelas Azizah memotong ucapan Bi Ana.


“Te.. terima kasih nyonya muda, terima kasih juga untuk tuan muda yang telah membantu saya,” ucap Bi Ana kemudian menangis terharu.


“Bi Ana bisa kan mengurus bayi?” tanya Azizah.

__ADS_1


“Bisa Nyonya muda, dulu saya juga seorang baby sitter.”


“Alhamdulillah, Bi ana mau kan bekerja dengan saya dan suami mengurus anak kami?”


“Te..tentu saja saya mau nyonya muda!”


“Lusa Bibi Ana ikut kami ya, bi Ana bawalah pakaian seperlunya. Sampai di Jakarta kami akan membelikan pakaian untuk bi ana!”


“Terima kasih nyonya muda!”


Azizah senang akhirnya Bi ana mau ikut bersamanya pulang ke Jakarta, ia tidak tega jika selamanya bi ana tinggal dan mengurus perumahan yang ia huni untuk sementara waktu yang sebentar lagi dirinya dan sang suami tidak lagi tinggal.


30 menit kemudian.


“Sudah nyonya muda!”


“Terima kasih ya Bi Ana, tolong panggilkan suami saya!”


“Baik nyonya muda!”


Di kamar itu masih ada beberapa baju yang belum dimasukkan ke dalam koper, Azizah sengaja karena masih ada 1 hari lagi ia menghabiskan waktunya di rumah itu.


“Ceklek.” Suara pintu terbuka.


“Jangan lupa dikunci sayang!”


Steven tersenyum dan mengunci pintu itu.


“Sekarang, aku sudah boleh dekat-dekat denganmu lagi kan sayang?” tanya Steven memastikan dan berjalan mendekati Azizah yang berada di ranjang.


“Sudah boleh sayang, Bi Ana menyetujui keinginan kita sayang,” terang Azizah.


“Syukurlah, sekarang kamu sudah lega kan?”


“Tentu saja, maaf ya sayang karena waktu itu akan memaksamu mengurusi kependudukan Bi Ana,” ucap Azizah dan mengalungkan tangannya di leher sang suami.


“Iya sayang, sudahlah jangan diingat yang waktu itu. Sekarang bolehkah aku memintamu saat ini juga sayang?” tanya Steven kemudian menciumi leher putih Azizah.


“Baiklah! tapi, pelan-pelan ya sayang!”


“Iya sayang!”


Steven mulai menciumi leher putih Azizah dan bergantian mencium bibir sang istri.


Cukup lama mereka pemanasan hingga akhirnya mereka pun melepaskan seluruh hasrat mereka di atas ranjang itu.


1 jam kemudian.


Mereka sama-sama lelah dan memutuskan untuk tidur bersama.


“I love you my wife!”

__ADS_1


“I love you too my husband!”


Steven tidur dengan memeluk tubuh polos sang istri dari belakang, hanya selimut tebal yang menjadi penutup tubuh mereka.


__ADS_2