
Pagi-pagi buta Diandra telah berada di sekitar kediaman Steven Walker untuk mengamati pria yang begitu ia cintai, ia duduk santai di dalam mobil yang baru saja ia beli dari hasilnya melakukan pemotretan majalah dewasa.
Ia rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan hati seorang Steven Walker.
Sudah hampir 2 jam aku menunggu Steven tapi, mobil pria itu belum terlihat keluar dari gerbang rumah.
Sebaiknya aku terus menunggu disini sampai Steven keluar.
*
“Sayang!” panggil Steven.
Azizah hanya diam membisu tak mengeluarkan suara sedikitpun, ia begitu kesal dengan suaminya yang tidak memperbolehkan dirinya ikut menemani sang suami pergi bekerja.
“Sayang, kamu harus istirahat di rumah ya!” pinta Steven yang terus-menerus membujuk sang istri agar tidak ikut.
“........”
“Sayang!”
“.......”
Aku ingin ikut menemani suamiku apa salahnya, perasaanku dari semalam tidak enak seperti ada sesuatu yang mengganjal pikiranku.
“Sayang, kamu mau aku belikan apa? nanti saat aku pulang aku akan membelikan apa yang kamu inginkan!”
“.......”
Adam dan Yuli tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Azizah maupun Steven, mereka percaya bahwa kedua anak manusia itu bisa menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri.
“Baiklah, kamu boleh ikut,” ucap Steven pasrah yang tidak tega jika membuat sang istri sedih.
Azizah yang awalnya murung dan tak mau bicara langsung tersenyum kemudian memeluk tubuh suaminya.
“Terima kasih suamiku,” ucap Azizah kemudian mencium pipi suaminya sekilas.
Steven menggandeng pinggang Azizah dan menuntunnya keluar rumah.
“Ayo Galih kita berangkat!” perintah Steven.
“Baik tuan muda!” seru Galih kemudian segera menyalakan mesin mobil dan bergegas ke perusahaan.
Di dalam mobil Azizah bersandar di lengan suaminya dan memainkan jemari tangan Steven.
“Kamu tidak akan menggigitku lagi kan sayang?” tanya Steven was-was takut jika istrinya meminta menggigit jari-jarinya.
“He.. he.. tidak akan suamiku, anak kita sedang tidak doyan,” balas Azizah kemudian menoleh ke arah luar jendela.
Azizah membelalakkan matanya dan terkejut dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Steven yang melihat gelagat aneh sangat istri langsung memeluk tubuh Azizah.
“Sayang kamu kenapa?” tanya Steven yang agak panik.
“Ti...tidak apa-apa,” balas Azizah yang segera menyeka keringatnya yang tiba-tiba mengucur cukup deras.
“Kamu kepanasan sayang?” tanya Steven karena istrinya mengeluarkan keringat yang cukup banyak di dahi.
“Ti... tidak sayang, tolong peluk aku lebih erat lagi!” pinta Azizah.
Apakah tadi aku salah lihat?
Aku tadi melihat wanita yang mirip sekali dengan Diandra seorang wanita yang berprofesi sebagai model dan menyebutkan bahwa dia adalah tunangan Steven. Tapi, yang aku dengar dan aku lihat diberita dia sudah pergi ke luar negeri? Jika memang benar wanita itu telah kembali aku tidak akan membiarkan dia mendekati suamiku.
Azizah merasa tenang dipelukan sang suami, ia berharap bahwa apa yang dilihat olehnya hanya halusinasi dia saja.
Diandra mengikuti mobil Steven dari jarak yang cukup jauh, di dalam mobil Diandra terus saja mengeluarkan umpatan demi umpatan kesal.
“Sial, ngapain wanita kampungan itu ikut bersama pria yang aku cintai? seharusnya dia ngaca dulu yang pantas bersanding dengan Steven adalah aku seorang bukan wanita kampungan seperti itu,” ucap Diandra di dalam mobil.
Galih melihat ke arah spion mobil dan mengetahui ada mobil yang mengikuti mobil yang ia bawa, ia pun mengendarai mobil sedikit lebih cepat dan mencari jalan pintas agar tidak diikuti oleh mobil dibelakangnya.
“Tuan muda, kita sebaiknya lewat jalan sebelah sana saja yang lebih cepat,” ucap Galih.
“Terserah kamu saja yang terpenting istriku sampai dengan selamat,” balas Steven yang masih memeluk tubuh istrinya.
“Iya sayang ada apa?” tanya Steven.
“Aku tidak suka kaca mobil yang seperti ini, bisakah ganti yang lebih hitam lagi?” tanya Azizah.
“Baiklah, apapun yang kamu mau akan aku turuti,” ucap Steven.
“Galih, setelah sampai ke perusahaan kamu segeralah ganti kaca mobil yang paling hitam kamu mengerti maksud saya kan?”
“Baik tuan muda saya mengerti!”
Diandra akhirnya kehilangan jejak Steven.
“Aaaaaaahhhhh.. Sial kemana mobil Steven pergi tadi, kenapa cepat sekali perginya membuat aku kehilangan jejak!” teriak Diandra.
Diandra tidak bisa memasuki kawasan perusahaan milik Steven, karena tempat itu benar-benar dijaga ketat dan yang masuk ke dalam perusahaan itu harus memiliki ID.
Aku hanya ingin melihat wajahmu Steven Sayang. Tapi, sialnya aku kehilanganmu.
Sebaiknya aku harus menyingkirkan wanita kampungan itu terlebih dahulu baru aku bisa menemui Steven. Karena wanita itu satu-satunya penghalang untuk aku.
Diandra akhirnya kembali ke tempat pemotretan, tidak hanya melakukan sesi pemotretan majalah dewasa, Diandra juga bahkan menemani para pria yang meminta dirinya untuk sekedar menemani mereka minum bersama.
🍃🍃
__ADS_1
Akhirnya sampailah mereka di perusahaan Walker Corp.
“Ayo sayang!” ajak Steven.
“Iya sayang!” seru Azizah.
“Galih kamu pergilah.”
“Baik Tuan muda!”
Galih langsung pergi untuk mengganti kaca mobil sesuai permintaan dari majikannya.
Di dalam mobil Galih terus berpikir siapa orang yang mengikuti mobil yang ia tumpangi bersama dengan kedua majikannya.
Sepertinya yang mengendarai mobil itu adalah seorang wanita. Tapi, mau apa dia mengikuti kami?
Atau aku hanya salah tebak? Sebaiknya aku jangan memberitahukan kepada tuan muda terlebih dahulu sebelum mempunyai bukti.
**
Azizah langsung diperintahkan oleh Steven untuk diam di dalam kamar dan tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat, bahkan pria blasteran itu menyuruh seorang pegawai perusahaan yang jelas-jelas bekerja untuk perusahaan malah menyuruhnya untuk menjaga istri kesayangannya.
“Sayang apa ini tidak berlebihan?” tanya Azizah sedikit kesal.
“Tidak ada kata berlebihan, bahkan aku ingin menambah pegawai lagi agar menjagamu disini,” sahut Steven.
“Tidak perlu, satu saja sudah cukup,” balas Azizah.
“Ya sudah aku ada urusan penting, kamu diam disini ya sayang. Ingat jangan banyak gerak!” perintah Steven sambil mengusap lembut rambut Azizah.
“Tenang sayang aku baik-baik saja!” seru Azizah agar suaminya tidak mengkhawatirkan dirinya.
Steven tanpa rasa malu mencium bibir Azizah dengan sangat lama padahal jelas-jelas di dekat mereka ada pegawai wanita yang terlihat begitu canggung dengan kemesraan mereka.
“Maaf, suamiku sangat senang seperti itu,” ucap Azizah pada wanita yang bertugas menjaganya.
Untung saja Steven sudah pergi, dasar suami mesum.
“Nona tidak perlu minta maaf!” seru wanita itu.
“Boleh aku tahu namamu?” tanya Azizah.
“Nama saya Pramesti nona,” balasnya.
“Nama yang cantik, pekerjaan mu di sebagai apa kalau boleh tahu?” tanya Azizah yang ingin mencoba lebih dekat dengan Pramesti sekaligus mengusir kejenuhannya di dalam kamar itu.
“Saya hanya staff biasa di bagian gudang nona,” balas Pramesti.
Azizah dan Pramesti berbincang-bincang seakan mereka sudah mengenal satu sama lain.
__ADS_1