Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 179


__ADS_3

Pagi itu mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk melepas kepergian Steven dan Azizah yang ingin melakukan babymoon di luar negeri.


Azizah juga harus merilekskan pikirannya


disana.


“Steven kamu harus menjaga menantu dan cucu mami, jangan sampai istrimu ini kelelahan disana,” ucap Yuli memberikan petuah.


“Baik mami, mami tenang saja Steven akan menjaga Azizah,” balas Steven.


“Kak Azizah hati-hati disana, kalau kak Steven nakal cubit saja,” ucap Mariska.


“Kamu tenang saja, suamiku tidak akan bisa macam-macam denganku,” balas Azizah santai.


Steven dan Azizah kemudian berpamitan dan mencium punggung tangan Yuli dan Adam.


“Assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam!”


***


Bandar Udara Internasional Changi Singapura


Steven dan Azizah telah sampai di bandara, mereka langsung di jemput oleh orang suruhan Steven dan mengantarkan mereka menuju tempat mereka untuk beristirahat sekaligus tempat tinggal selama di Singapura.


“Kamu ingat kan sayang?” tanya Azizah.


“Iya sayang aku ingat, kita akan menyewa rumah yang banyak tanamannya,” balas Azizah.


Azizah sengaja tidak ingin tinggal di apartemen, ia lebih suka tinggal di Singapura dengan sederhana dan bisa menghirup udara segar di sekitar pekarangan rumah.


“Tidurlah di bahuku jika mengantuk, perjalanan kita masih beberapa jam lagi,” ucap Steven sambil menepuk-nepuk pundaknya.


“Aku tidak mengantuk sayang, di pesawat tadi aku sudah tidur sangat lama.”


Azizah bersandar di bahu milik suaminya dan menggenggam jemari tangan suaminya.


Ia sangat senang bisa berlibur di luar negeri, setidaknya ia bisa terbebas dari rasa takut yang menyergap dirinya selama beberapa hari di rumah.


“Bagaimana, apakah kamu senang sayang?” tanya Steven.


“Sangat senang suamiku, anak kita juga sangat senang bisa jalan-jalan!” seru Azizah.


“Bagaimana kalau kita mampir ke restoran terlebih dahulu?”


“Aku ingin makan mie bihun sayang, yang banyak kuahnya apakah disini ada?”


“Tentu saja ada!” seru Steven.


Steven memerintahkan sang supir agar segera mencari restoran penjual mie bihun, tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai.


Azizah terkejut karena restoran itu begitu banyak pelanggan yang mengantri dengan sangat tertib.


“Sepertinya kita akan sangat lama sayang untuk mendapatkan makanan,” ucap Azizah.

__ADS_1


“Kamu tunggu disini aku akan ke depan sebentar!” perintah Steven.


“Baikpah sayang.”


Entah apa yang dibicarakan oleh Steven dan penjual mie bihun itu, tiba-tiba orang datang dan menggiring Azizah duduk kemudian Steven menyusul dan ikut duduk di samping sang istri.


“Loh kok kita bisa langsung duduk tanpa mengantri sayang?” tanya Azizah heran sekaligus penasaran.


“Tentu saja mereka harus seperti itu sayang, peraturan di restoran ini ibu hamil dan sang suami boleh langsung duduk dan tidak perlu mengantri makanan,” jelas Steven.


“Waw mereka begitu baik hingga memuliakan ibu hamil,” puji Azizah karena pelayanan di restoran itu benar-benar luar biasa.


Tak lama pesanan Azizah dan Steven datang.


“Silahkan dinikmati!” ucap pelayan.


“Terima kasih,” balas Azizah.


Tidak sulit untuk berbicara dengan orang Singapura karena bahasa mereka hampir sama dengan bahasa Indonesia.


Azizah mengipasi mie bihun memakai tangannya kemudian saat dirasa dingin wanita hamil itu mulai memasukannya ke dalam mulut kemudian mengunyah.


“Mmmm... enak sayang,” puji Azizah.


“Iya sayang sangat enak," balas Azizah.


Azizah menambah garam sekitar setengah sendok di hidangannya kemudian menambahkan lagi setengah sendok membuat Steven tercengang.


“Sayang kamu tidak bercanda kan, mau menghabiskan makanan itu?” tanya Steven yang masih terkejut.


“Aku juga tidak tahu sayang, rasanya begitu nikmat sekarang jangan ganggu aku!” pinta Azizah dan terus mengunyah makanan.


Steven mengelus-elus perut Azizah dengan mendelik tajam ke arah perut Azizah.


“Sayang, aku sedang makan jauhkan tanganmu dari perutku!” perintah Azizah tiba-tiba tidak suka dengan sentuhan dari sang suami.


“Baiklah,” balas Steven.


Pasti gara-gara bayi di perut Azizah, benar-benar dia mengibarkan bendera perang untukku.


Steven duduk sambil terus memperhatikan sang istri yang sedang menikmati hidangan.


“Alhamdulillah, akhirnya kenyang,” ucap Azizah.


Setelah membayar biaya makanan, suami istri itu kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju perumahan yang sudah mereka sewa beberapa bulan ke depan.


2 Jam kemudian.


Azizah takjub dengan perumahan yang akan menjadi tempat tinggal ia bersama sang suami.


“Sayang, tempat ini sangatlah indah. Wah tanahnya terlihat sang subur,” ucap Azizah bersemangat.


“Sesuai permintaan istriku tercinta, syukurlah istriku yang cantik ini menyukainya," sahut Steven.


“Sayang, ayo masuk ke dalam aku ingin melihat-lihat!” pinta Azizah.

__ADS_1


Seorang wanita berumur 40 tahunan datang dan menyambut kedatangan mereka.


“Selamat datang tuan muda dan nyonya muda!”


“Sayang, ini bi Ana orang yang akan membantu kita selama tinggal disini,” ucap Steven.


“Hallo bi Ana, saya Azizah!” Azizah mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada Bu Ana.


Azizah mengajak sang suami untuk segera masuk ke dalam kamar, tubuhnya benar-benar sangat lelah. Ia tidak sabar ingin menikmati sore harinya di pekarangan rumah.


“Bi Ana, kami permisi ya mau ke kamar!” ucap Azizah.


Tak sulit menemukan kamar karena rumah itu tidak terlalu besar sesuai permintaan dari Azizah.


Azizah masuk ke dalam kamar dan takjub melihat interior design kamar yang sangat cantik.


“Sayang, kamu benar-benar suami yang sangat baik dan pengertian,” puji Azizah dan mengecup pipi suaminya.


“Tentu saja sayang, ini kan untuk membahagiakan kamu dan juga anak kita,” balas Steven.


Sangking senangnya Azizah langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan merentangkan kedua tangannya.


Inilah hidup yang aku idamkan, tempat ini membuatku sangat nyaman.


Steven ikut merebahkan tubuhnya dan menggeser tangan sang istri yang memenuhi ranjang.


“Sini sayang!” pinta Steven sambil menepuk dadanya.


Azizah tersenyum dan langsung tidur di atas dada sang suamiku.


“Tidurlah sayang!”


Tak butuh waktu lama Azizah tidur di atas dada sang suami dengan posisi terlentang, sementara Steven masih saja mengelus-elus perut sang istri yang sesekali bergerak.


Tidurlah yang nyenyak istriku, mimpilah yang indah!


Cukup lama Steven perlahan-lahan mengubah posisi tidur sang istri kemudian ia beranjak dari ranjang.


“Kamu tidur yang nyenyak ya sayang, aku ingin ke dapur membuatkan makanan spesial untukmu,” ucap Steven pada Azizah yang masih tertidur kemudian meninggalkan kamar.


Steven menghampiri Bi Ana yang sedang menyapu lantai.


“Bi Ana! bahan makanan yang aku minta sudah disiapkan?” tanya Steven.


“Sudah tuan muda, semuanya ada di dapur!” seru Bi Ana.


“Ya sudah bi, terima kasih!”


Steven dengan cepat pergi ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk ia memasak.


Aku akan memasak makanan yang spesial untukmu sayang, semoga kamu senang!


🍃


🍃

__ADS_1


Kira-kira Steven masak apa nih?


Komen ya teman-teman!😘😘


__ADS_2