Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 198


__ADS_3

Malam hari.


Acara bakar-bakar sate baru saja dimulai, semua penghuni rumah kini telah berada di halaman belakang rumah kecuali, bodyguard yang harus tetap menjaga keamanan kediaman Steven Walker.


Azizah malam itu mengenakan pakaian yang sangat tebal, udara pada malam hari cukup membuat kulit mereka merasakan kedinginan.


“Sayang, jangan melakukan apapun!” pinta Steven melihat sang istri yang berjalan mendekati pemanggang sate..


“Tapi sayang...”


“Tidak boleh sayang, ratu hatiku hanya perlu duduk menunggu sampai sate ayam siap untuk disantap,” ucap Steven sambil menuntun sang istri duduk.


Azizah tak bisa menolak perintah suaminya, ia pun mengikuti sang suami.


“Mariska!” panggil Yuli.


“Iya mami ada apa?” tanya Mariska.


“Mami mencium bau gosong, coba kamu lihat sate ayam yang sedang di bakar!”


Mariska dengan cepat berlari mendekati sate yang sedang di bakar, “Ya ampun gosong mi,” ucap Mariska dan mengangkatnya.


Yuli dan yang lainnya geleng-geleng kepala.


“Bukankah yang memegang pekerjaan ini adalah Mariska?” tanya Adam.


Mariska menyeringai lebar, yang dikatakan oleh pamannya memanglah benar.


Suasana malam itu benar-benar sangat ramai, para pelayan sibuk membuat bumbu kacang dan bumbu kecap.


Sementara Galih membantu menusuk daging dan membakarnya bersama Mariska.


Coneh kalau seperti ini terlihat manis juga.


Sangat jauh dari saat kami belum sedekat ini, dulu Coneh terlihat sangat menyebalkan.


Mariska dengan segera memperhatikan sate yang ia bakar, sementara Galih masih sibuk dengan pekerjaannya.


Beberapa jam kemudian.


Sate ayam telah siap untuk dinikmati, sudah terbentang merata di tanah menjadi lesehan untuk mereka menikmati sate ayam secara bersama-sama.


“Taruh disini ya bi!” perintah Yuli.


“Baik nyonya besar!”


Akhirnya semua sudah siap, Azizah sebenarnya merasa sedih karena dia hanya diam cantik tanpa melakukan apapun.


Saat ia mencoba membantu, suaminya malah menatapnya memberi isyarat agar Azizah tidak beranjak dari tempat duduknya.


“Azizah, ayo sini nak!” panggil Yuli.


Mendengar nama sang istri di panggil membuat Steven beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri sang istri tercinta.


“Ayo sayang kita bergabung!” ajak Steven dan merangkul pinggang Azizah.


“Iya sayang!”

__ADS_1


Azizah mencoba berjongkok untuk ikut duduk. Namun, ia terlihat kesulitan sehingga tidak bisa ikut bergabung duduk di tikar.


“Sayang,” ucap Azizah sedih sambil menggenggam erat lengan suaminya.


“Ada apa istriku?” tanya Azizah lembut.


“Aku merasa sesak sayang jika harus duduk di bawah,” jelas Azizah.


Steven membelai lembut rambut Azizah, “Ya sudah tidak apa-apa, kamu kan sekarang sedang hamil sebab itu istriku ini sudah untuk duduk dibawah. Bagaimana kalau kita duduk di kursi saja!”


“Baiklah sayang, mau bagaimana lagi.”


Steven mengambil beberapa sate ayam dan menyiraminya dengan bumbu kacang tak lupa ia memberikan acar timun sebagai topping sate ayam.


“Ayo sayang!” ajak Steven.


Mereka memilih duduk di kursi yang jaraknya cukup jauh, Steven sengaja karena ingin bermesraan dengan istri tercintanya.


“Sekarang kamu coba sate ayam ini sayang!” pinta Steven.


Azizah mengambil dan mulai menikmatinya.


“Mmmm.. enak sayang!” Azizah sangat menyukai rasa dari sate ayam yang dibakar oleh Mariska dan juga Galih.


“Syukurlah jika istriku menyukainya,” jawab Steven dan mengelus pipi istrinya kemudian menatap dengan penuh cinta, “Besok aku akan kembali bekerja sayang, kamu tidak masalah kan dirumah?”


“Ditinggal lagi sayang?” tanya Azizah dengan menunduk sedih.


“Iya sayang, besok aku akan pulang larut malam. Kamu tidak apa-apa kan sayang?”


Azizah menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis.


“Baiklah, kamu jangan nakal ya disana!”


Steven terkekeh geli, untuk pertama kalinya sang istri berpesan kata-kata aneh layaknya anak SMA.


“Apakah kata-kataku terlihat lucu sayang?” tanya Azizah lalu memanyunkan bibirnya.


Steven menoleh ke arah keluarganya sekilas dan mencium bibir Azizah bahkan dengan sangat lama.


Steven bisa merasakan bumbu kacang yang tertinggal di bibir sexy milik istrinya.


Tangan Steven sudah merambat ke pinggang Azizah dan perlahan naik ke atas.


“Jangan sayang!” perintah Azizah melepaskan ciumannya dan menahan tangan sang suami.


Tatapan Steven saat itu penuh gairah, Azizah takut jika suaminya bertindak konyol dengan cepat ia mengajak sang suami untuk masuk pondok.


Sensor~ 😳


*


Adam, Yuli dan Mariska terlebih dahulu masuk ke dalam rumah setelah acara makan-makan bersama.


Galih serta pelayan yang lainnya sibuk membersihkan sisa-sisa dari acar bakar sate.


“Coneh!” panggil Mariska yang ternyata kembali ke halaman belakang.

__ADS_1


“Kamu ngapain kesini Ceneh?” tanya Galih.


“Mau bantuin beres-beres,” jawab Mariska santai.


Para pelayan saling melirik satu sama lain, mereka terkejut dengan kedekatan Mariska dan juga Galih. Kecuali, salah satu dari pelayan yang sebelumnya pergi bersama Mariska dan Galih saat berbelanja ke pasar.


“Lebih baik kamu masuk saja, lihatlah mereka memperhatikan kita,” ucap galih lirih agar tak terdengar oleh para pelayan.


Mariska menoleh sekilas ke arah para pelayan yang ternyata memang memperhatikan dirinya dan juga Galih.


“Ya sudahlah, aku kembali masuk ke dalam saja,” balas Mariska dan mengurungkan niatnya untuk membantu.


Mariska berjalan dengan sangat tergesa-gesa kemudian masuk ke dalam kamarnya.


“Memangnya salah ya jika membantu Coneh, lagipula aku dan Coneh kan berteman,” ucap Mariska bermonolog sambil memukul-mukul bantal miliknya.


Di belakang halaman rumah.


Salah satu pelayan yang paling muda berjalan mendekati Galih untuk mengorek informasi antara Galih dan juga Mariska.


“Galih, kamu dan nona Mariska ada hubungan apa?” tanyanya.


“Saya dan Mariska tidak ada hubungan apa-apa mbak lilis.”


“Jangan bohong kamu, jujur saja sama saya!” pinta Lilis yang sangat penasaran.


“Saya dan nona Mariska berteman mbak,” jelas Galih.


Lilis mengangguk kecil, “Oallah kalian berteman, saya kira apa,” ucap Lilis dan kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Galih mengelus-elus dadanya.


Aku juga tahu diri mbak Lilis.


Aku dan Mariska memang sepatutnya berteman dan tak lebih dari itu.


20 menit kemudian.


Akhirnya pekerjaan mereka selesai, Galih membawa sate ayam yang sebelumnya sudah dipisahkan untuk para bodyguard yang sedang menjaga di depan rumah.


Galih berjalan dengan membawa membawa dua piring yang berisikan sate ayam.


“Pak!” panggil Galih.


Para bodyguard menoleh dan menghampiri Galih.


“Sudah selesai Lih acara bakar-bakar satenya?” tanya salah satu bodyguard.


“Sudah pak Dewo, ini satenya untuk pak Dewo dan kawan-kawan.”


“Terima kasih ya Galih, kamu sudah membawanya!"


“Pak Dewo bisa saja, ini juga kan memang buat pak Dewo dan yang lainnya.”


Galih melepaskan jaket yang ia kenakan kemudian pamit untuk kembali ke kamarnya.


**

__ADS_1


Terima kasih atas kunjungan kalian!


Beri tip Koin sebanyak-banyaknya dan juga Poin kalian sayangku!!😘😘


__ADS_2