
Steven bersiap-siap untuk pergi ke Perusahaannya, hari ini ia terlihat begitu tampan.
Bahkan Indah di buat tak berkedip melihat ketampanan Steven.
"Ya Ampun Tuan Muda Steven benar-benar tampan dengan setelan kemeja kerja itu" Puji Indah yang melihat Steven lewat kamar Azizah dan langsung dipelototi oleh Azizah.
"Hati-hati dekat dengannya, Mbak bisa dicabik-cabik" Ucap Azizah berbisik menakut-nakuti Indah.
"Ya ampun Nona, bukan maksud saya seperti itu. Nona jangan cemburu terhadap saya" Sahut Indah yang tidak enak hati, ia berpikir bahwa Azizah cemburu atas pujiannya terhadap Steven.
Sementara Azizah dibuat bingung bagaimana bisa ia dianggap cemburu dengan pria tukang perintah dan pemaksa seperti dia.
"Mbak indah salah paham, saya dan....”
"Saya tahu kok nona, jangan malu-malu terhadap saya hi..hi" Potong Indah sambil tersenyum kecil.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Steven yang datang menghampiri Azizah.
"Tidak ada" Ucap Azizah singkat, sementara Indah hanya diam menunduk tak berani.
"Bisa tinggalkan kita berdua?" Tanya Steven tanpa menoleh sedikitpun ke arah Indah.
"Baik Tuan muda" Sahut Indah dan pergi sejauh mungkin dari Majikannya.
"Aku mendengar ucapan kalian tadi, kamu tenang saja Gadis bodoh selamanya hatiku hanya untukmu. Jadi kamu tidak perlu cemburu terhadap wanita manapun, aku kerja dulu, nanti kita berjumpa lagi" Bisik Steven lalu mengacak-acak rambut Azizah tak lupa mencium kening Azizah.
Steven meninggalkan Azizah yang diam mematung, Steven berjalan dengan senyum diwajahnya. Indah bahkan dibuat terheran-heran dengan sikap Steven yang baru keluar dari kamar Azizah.
"Apa-apaan dia itu, lagi-lagi mencium keningku. Lain kali aku tidak akan membiarkannya mengambil kesempatan" Ucap Azizah yang kesal dengan perlakuan Steven terhadap.
"Nona!!" Panggil Indah semangat dan datang menghampiri Azizah.
Azizah tak menjawab panggilan itu, ia masih kesal dengan Steven.
"Nona!!" Panggil Indah lagi dengan senyum cerah diwajahnya.
"Ada apa?" Tanya Azizah heran melihat ekspresi wajah Indah.
"Apa yang kalian lakukan tadi, apakah kalian begini?" Tanya Indah sambil mempertemukan jari-jarinya seperti membentuk ciuman.
"Maksud Mbak apa?" Tanya Azizah heran.
"Ini loh nona, yang muach muach itu" Sahut Indah sambil mencotohkan ciuman ditangannya.
Bukan hanya Steven yang membuat kesal hari ini bahkan Indah pun membuatnya semakin kesal.
"Baju yang kemarin sudah kering belum Mbak?" Tanya Azizah mengalihkan pembicaraan yang sangat memuakkan bagi dirinya.
"Saya cek dulu ya Nona" Sahut Indah dan pergi melihat jemurannya.
"Syukurlah dia sudah pergi, ada-ada saja kelakuan Mbak Indah. Pasti ini ajaran Si Bossy itu, aku harus cari cara supaya dia tidak mencium keningku seenaknya" Azizah berpikir keras untuk membuat Steven jera.
Azizah menjentikkan jarinya, akhirnya dia ada ide membuat Steven benar-benar kapok dan menyesal telah mencium dirinya seenak jidat.
__ADS_1
Sore pun tiba, Azizah dengan senangnya tersenyum ceria ia bahkan memikirkan bagaimana ekspresi Steven nanti.
"Apakah Pak Steven telah tiba?" Tanya Azizah pada Indah yang sedang menata piring.
"Belum Nona" Sahut Indah sambil menata piring.
"Apakah Pak Steven telah tiba dari kantornya?" Tanya Azizah lagi yang tak sabaran ingin menjahili Steven.
"Belum Nona Azizah" Balas Indah lagi, ia menahan tawanya karena ia pikir Azizah tak sabar menanti kedatangan Steven.
Beberapa jam kemudian.
"Nona Azizah, ini sudah waktunya saya pulang. Apakah saya boleh pulang sekarang?" Tanya Indah.
"Pulanglah Mbak! kalau sudah waktunya pulang, ya Mbak harus pulang" Sahut Azizah ramah.
"Terima kasih Nona, saya permisi".
"Iya Mbak, hati-hati".
1 jam telah berlalu, namun belum juga tampak batang hidung Steven.
Azizah pun kesal karena Steven belum juga sampai. ia lalu menggerakkan kursi rodanya menuju kamar.
"Kemana Si Bossy itu, sudah jam segini belum juga datang. Apa dia sengaja membiarkan aku sendirian disini" Celoteh Azizah, namun diam-diam Steven memperhatikan Azizah yang dengan gamblangnya mengoceh membicarakan dirinya.
Steven berjalan pelan mendekati Azizah, Azizah tidak tahu bahwa Steven telah datang. Karena Azizah duduk di kursi roda membelakangi pintu masuk.
"Seharusnya tadi saat dia mencium keningku, aku hajar mulutnya biar monyong sekalian" Ucap Azizah mengoceh.
"Ya kalau sudah monyong biar tahu rasa dia" Sahut Azizah, namun tiba-tiba dia ingat bahwa dirinya sendirian di kamar itu dan Steven belum datang.
Azizah diam sementara waktu, ia lalu menoleh ke arah belakang.
"Ahhhhhhhhh!!!!" Teriak Azizah terkejut.
"Kenapa berteriak?" Tanya Steven dengan tatapan tajam sambil memutar arah kursi roda agar menghadap padanya.
"Ba..bapak se..sejak kapan bapak disini?" Tanya Azizah gelagapan, ia benar-benar tertangkap Basah.
"Sejak kamu mengatakan aku Si Bossy, apakah itu panggilan kesayanganmu terhadap diriku gadis bodoh?" Tanya Steven dengan mendekati wajah Azizah.
"Ha..ha.. Ba..bapak salah dengar, pasti telinga bapak tidak dibersihkan selama setahun" Ucap Azizah sambil tertawa terbahak-bahak, ia berusaha menyembunyikan ketakutannya.
"Jadi sekarang kamu mengatakan bahwa aku tuli ya!" Ucap Steven dengan senyum licik lalu menyentuh kedua pipi Azizah.
"Ba..bapak ma..mau apa?" Tanya Azizah gugup.
Steven langsung mencium kening Azizah, ia sangat gemas dengan gadis bodoh itu.
Sementara Azizah menahan tawanya.
"Ha..ha..ha.." Tawa Azizah pecah ia tak dapat menahan tawanya saat melihat mulut Steven yang hitam.
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Steven heran.
"Ha..ha.. Ya Tuhan perutku sakit" Ucap Azizah disela-sela tawanya.
Steven kesal, ia pun memegang kedua bahu Azizah. Sehingga membuat Azizah diam seketika.
"Apakah aku begitu lucu hingga kamu tertawa seperti itu gadis bodoh?" Tanya Steven kesal dan masih memegang kedua bahu gadis itu.
"Tidak Pak" Sahut Azizah yang menunduk menahan tawanya, ia bahkan mencubit pinggangnya sendiri agar berhenti tertawa.
Merasa ada yang curiga dengan wajahnya, Steven berjalan cepat menuju cermin. Ia pun tertawa karena melihat mulutnya yang gosong.
"Ha..ha.. ha.." Tawa Steven.
Azizah juga akhirnya ikut tertawa melihat Steven tertawa seperti itu.
"Hahaha..ha.ha." Tawa Azizah.
"Ha..ha.. kamu benar-benar gadis bodoh, kamu berani melakukan ini terhadapku" Ucap Steven, seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan seperti ini bahkan dipermalukan di depan Seorang wanita.
Steven menghapus air mata bahagia yang keluar dari matanya, ia tidak pernah merasakan sebahagia ini.
"Bagaimana kamu melakukannya gadis bodoh?" Tanya Steven yang menghampiri Azizah.
"Tapi Bapak berjanji tidak menghukum ku!!".
"Ya, cepat katakan!" Pinta Steven tanpa menghapus noda hitam di bibirnya.
"Pakai ini Pak" Ucap Azizah sambil merogoh saku bajunya dan menunjukkan eye shadow warna hitam miliknya kepada Steven.
"Berikan padaku!!" Pinta Steven lalu mengambil paksa eye shadow itu.
Steven ingin Azizah merasakan penderitaannya, ia pun mendandani Azizah seperti panda, lingkaran mata di buat hitam oleh Steven. bahkan bibir Azizah kini menjadi hitam legam.
"Ha..ha.. lihat betapa jeleknya dirimu gadis bodoh" Tawa Steven pecah saat melihat karyanya di wajah polos Azizah. ia mendorong kursi roda Azizah menuju cermin.
"Astaghfirullah" Teriak Azizah lalu menghapus eye shadow hitam itu di mata dan mulutnya, bukannya berkurang warna hitam itu bahkan hampir menutupi seluruh wajah Azizah.
"Aaaahhhhhhhh kenapa tambah hitam" Teriak Azizah, sontak membuat Steven tertawa terbahak-bahak.
"Kamu memang benar-benar gadis bodoh, bahkan terlalu bodoh. lihat saja wajahmu sudah hitam seperti itu ha..ha.." Ledek Steven.
"Ayo kita foto bersama!" Ajak Steven lalu mengabadikan momen mereka di handphone milik Steven.
Azizah berusaha menolak, namun tubuhnya kaku karena dipegang erat oleh Steven. Ia pun pasrah dengan perlakuan Steven yang mengambil fotonya secara paksa.
"Kamu jangan percaya diri dulu, fotomu ini akan ku buat untuk menakut-nakuti tikus" Ledek Steven lalu pergi meninggalkan Azizah.
"Dasar Si Bossy" Teriak Azizah saat Steven benar-benar pergi.
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Steven yang berdiri tepat di tengah pintu.
"Tidak ada apa Pak hehe" Balas Azizah dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, kamu terlihat seperti kuntilanak bodoh" Ledek Steven lagi dan pergi menuju kamarnya.
Awas kamu Pak, lihat saja! lain kali aku akan mengerjai dan aku pastikan kamu tidak akan bisa membalasnya.