Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 28


__ADS_3

Sampailah mereka di Mega flower Residence, gedung yang menjulang tinggi. Terlihat sekali bahwa ditempat ini adalah orang-orang elit menengah atas.


Azizah sangat penasaran mengapa dirinya di dibawa ke lokasi itu, terbesit dipikirannya bahwa Steven ingin menjual dirinya seperti di film-film.


"Pak Steven, anda tidak berniat menjual saya kan Pak?" Tanya Azizah memastikan.


"Untuk apa aku menjualmu? Gadis bodoh dan sedang duduk di kursi roda ini, memangnya laku untuk dijual?" Tanya Steven balik.


"Maksud Bapak saya bodoh begitu? Berarti saat saya sembuh nanti bapak ingin menjual saya?" Tanya Azizah polos.


"Mungkin" Balas Steven singkat.


"Ampuni saya Pak, saya tahu kalau saya salah. Bapak jangan menjual saya, Tolong!!" Teriak Azizah, Ia berharap ada orang baik yang membantunya kabur.


Steven langsung menutup mulut Azizah rapat-rapat dengan tangan kanannya, Azizah meronta ingin dilepaskan. Namun saat melihat mata seorang Steven Ia pun diam seketika. Kini mereka saling tatap satu sama lain.


Deg... deg..


Jantung mereka seperti berpacu dengan sangat kencang, bahkan suara jantung mereka bisa terdengar oleh Heru.


Heru seperti nyamuk ditengah-tengah mereka, Ia bahkan sangat kesal dengan telinganya yang mendengar suara jantung keduanya.


"Aku seperti nyamuk saja, bahkan bisa jadi aku adalah setan" Pikir Heru yang kesal dan berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa.


"Ehemmmm" Sambung Heru berdehem.


Bagaikan orang yang tengah tertangkap basah, mereka pun salah tingkah.


"Sudah jangan banyak bicara, dan tutup mulutmu jangan berteriak seperti di hutan. ayo kita masuk!!" Ajak Steven yang terlihat sedikit gugup namun berusaha ditutupi dengan sikap dinginnya.


Heru menahan tawanya, Steven benar-benar terlihat sangat lucu.


Sementara Azizah hanya terdiam, Ia masih bisa merasakan detak jantungnya.


"Ya Tuhan, kenapa lagi dengan jantungku?" Tanya Azizah didalam hatinya.


Heru membantu mendorong kursi roda milik Azizah, sementara Steven berjalan layaknya model. Ia Sangat terlihat sempurna, bahkan tatapan matanya bisa membuat kaum hawa terlena oleh Steven.


"Ternyata dia sangat tampan, aku memang bodoh. bisa-bisanya mengira bahwa Bosku ini pencuri" Batin Azizah sambil memijat keningnya.


"Mulai sekarang kamu tinggal disini" Ucap Steven dengan tatapan tajam seperti ingin menelanjangi Azizah.


"Boleh saya menolak?" Tanya Azizah sambil mengangkat kedua alisnya berusaha berani.


"Tidak" Balas Steven singkat dengan tatapan tajamnya.


Azizah bergidik ngeri, ucapan yang dilontarkannya tadi mengenai ketampanan Steven Ia tarik kembali. Bagi Azizah, Steven adalah Pria tukang perintah dan pemaksa.


"Kenapa kamu menolak?" Tanya Steven.

__ADS_1


"Begini Pak, tempat ini sungguh besar dan saya tidak mampu untuk membayar semua ini. Kalaupun Bapak menjual saya, saya rasa tidak cukup untuk membayar tempat ini" Balas Azizah Kesal, Ia sangat ingin mencakar wajah Steven.


"Kalau begitu, kamu cukup jadi milikku" Ucap Steven serius.


Azizah dibuat heran dengan sikap Steven, Bahkan Azizah tak habis pikir dengan ucapan Bosnya itu, seenaknya meminta dirinya menjadi milik pria pemaksa itu.


Meski Azizah yatim-piatu dan sebatang kara, tapi Ia tidak boleh terlihat lemah didepan orang lain apalagi di depan Pria.


"Baiklah saya tinggal disini" Ucap Azizah pasrah, Ia harus main pintar jika ingin selamat. Setidaknya ini cara yang aman agar terhindar dari sikap kebuasan bos tukang perintah dan pemaksa itu.


"Tinggalkan kami berdua" Ucap Steven, Heru lalu pergi menuruti perintah majikannya itu.


Sementara Azizah mengernyitkan dahinya, Ia bahkan takut melihat ke arah Steven.


Ditelan Salivanya Kasar-kasar, bahkan butuh tenaga untuk menelan Saliva nya itu.


Steven berjalan menghampiri Azizah, didorongnya kursi roda Azizah menuju jendela kaca yang langsung menghadap ke arah luar.


"Apa yang ingin dilakukan oleh pria ini?" Tanya Azizah di dalam hatinya. Ia tidak berani bertanya kepada Steven.


"Kamu sementara waktu tinggal disini, aku telah meminta Indah merawatmu" Ucap Steven yang sudah pasti tidak bisa di ganggu gugat.


"Tapi Pak" Ucap Azizah namun keburu dipotong oleh Steven.


"Jangan menolak" Ucap Steven dengan nada yang begitu tajam, bahkan ucapannya seperti pisau yang diasah begitu tajam.


Azizah hanya mengangguk kepalanya pelan, Ia bahkan tak menoleh ke arah Steven. Suaranya saja sudah membuat diri Azizah takut apalagi saat melihat wajahnya yang seperti harimau yang siap memakan mangsanya.


Steven berjalan ke arah pintu apartemen, Ia lalu menekan kata sandi yang sebelumnya sudah Ia setting.


"Maaf Tuan muda saya telat" Ucap Indah ketakutan, ini adalah pertama kalinya Ia bekerja sebagai perawat pribadi.


Steven tak membalas ucapan indah, ia hanya menggerakkan kepalanya isyarat agar indah masuk. indah yang takut langsung berlari menghampiri Azizah yang sedang terdiam di dekat jendela super besar.


Azizah sebenarnya sangat takut, namun ketakutannya itu Ia tutupi dengan senyumnya.


Steven menatap tajam ke arah Azizah, Ia kemudian berjalan mendekatinya.


"Aku pergi dulu, ada urusan yang ingin aku selesaikan" Bisik Steven ditelinga Azizah, Azizah bahkan bergidik ngeri dengan bisikkan Steven.


Steven merogoh kantong celananya, Ia langsung melemparkan handphone ke arah Azizah.


"Itu handphone milik mu gadis bodoh, kalau ada apa-apa segera hubungi aku" Ucap Steven yang sebenarnya berharap ingin dihubungi Azizah.


"Iya Pak terima kasih" Balas Azizah pelan.


"Dan kamu rawat gadis bodoh ini dengan baik!!" Perintah Steven kepada Indah perawat pribadi Azizah.


"Baik Tuan muda" Balas Indah menunduk.

__ADS_1


Steven melangkahkan kakinya menuju pintu, Ia pun berhenti karena mengingat sesuatu.


"Gadis bodoh!!" Panggil Steven tanpa berbalik arah.


"I..iya" Jawab Azizah bingung.


"Kata sandi tanggal lahirmu" Ucap Steven dingin dan meninggalkan mereka berdua.


Azizah menganga lebar, kenapa kata sandi pintu apartemen itu harus memakai miliknya.


Ia menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin dilakukan Steven terhadap dirinya.


"Nona!!" Panggil Indah menyadarkan Azizah yang melamun.


"Kamu panggil apa tadi?" Tanya Azizah mengulangi panggilan Indah, bahkan Ia berpikir bahwa telinganya sudah tuli.


"Nona Azizah" Jawab Indah.


"Jangan panggil nona" Tolak Azizah yang sangat risih dengan Panggilan itu dan merasa sangat tidak pantas untuk wanita seperti dirinya.


"Maaf nona, saya tidak berani. Tuan muda sendiri yang meminta saya memanggil nona" Ucap Indah jujur, Ia tidak ingin dipecat oleh Steven dihari pertamanya bekerja. Dan gaji yang ditawarkan Steven tidak main-main.


Azizah tak bisa menolak, dalam hatinya Ia sangat mengutuki sikap Steven yang bossy itu.


Ia lalu memencet nomor telepon yang ada di handphone miliknya.


"Namamu siapa?" Tanya Azizah, sebenarnya Azizah sudah tahu nama wanita itu dari Steven karena Si bossy itu menyebut nama perawat itu di depan dirinya. Tapi Ia ingin berkenalan secara langsung.


"Nama saya indah" Balas Indah ramah.


"Aku Azizah" Ucap Azizah dengan senyum manisnya.


Mereka saling berjabat tangan tanda perkenalkan.


"Bisa tinggalkan aku disini? aku ingin menelpon seseorang" Ucap Azizah sambil memainkan handphone miliknya.


"Baik nona, saya juga ingin beres-beres" Sahut Indah lembut dan pergi menuju dapur.


Azizah kemudian memencet tombol panggil, Ia ingin menelpon seseorang yang sangat Azizah rindukan.


Tut..Tut..


Tut..Tut.. Suara sambungan telepon.


Tut.. Tut..


"Tidak biasanya seperti ini, apa mungkin Dimas sangat sibuk?" Tanya Azizah didalam hatinya, Ia heran dengan Dimas yang tak mengangkat teleponnya.


Tut..Tut..

__ADS_1


Lagi-lagi tak terjawab oleh Dimas, berulang kali Azizah mencoba menghubungi nomor Dimas. Namun tetap saja tak diangkat.


Azizah merasa sangat kesal, selama Ia di Rumah sakit kenapa Dimas tidak mengunjungi bahkan menanyakan kabarnya.


__ADS_2