
Steven sibuk membuat makanan yang menurutnya akan sangat disukai oleh sang istri.
Tak lupa ia cuma membuatkan es segar untuk pencuci mulut.
2 Jam kemudian.
“Akhirnya jadi juga, semoga istriku menyukainya.”
Steven berharap masakan spesial darinya tidak mengecewakan.
Di dalam kamar.
Azizah meraba sisi ranjang yang lain namun, tidak menemukan keberadaan sang suami. Ia pun membuka matanya perlahan.
“Sayang!” panggil Azizah.
“Sayang!” panggil Azizah lagi.
Suamiku kemana? bukankah tadi menemaniku tidur disini.
Karena Steven tak kunjung menghampirinya ia pun bergegas keluar kamar dan mencari-cari keberadaan sang suami.
“Bi Ana, apakah melihat suamiku?” tanya Azizah.
“Tuan muda sedang sibuk di dapur nyonya muda!” seru Bi Ana.
“Terima kasih bi Ana!”
Sedang apa suamiku di dapur? sebaiknya aku segera menghampirinya.
Azizah melangkahkan kakinya menuju dapur dan terkejut melihat sang suami sedang menyiapkan makanan.
“Sayang, ini kamu beli dimana?” tanya Azizah.
“Kamu tidak lihat aku memakai celemek dan berantakan seperti ini sayang? tentu saja aku yang memasak udang asam manis dan pencuci mulut yang sangat nikmat!” seru Steven bersemangat.
“Serius kamu sayang?” tanya Azizah memastikan.
“Tentu saja, aku menyiapkan semua ini membutuhkan waktu 2 jam dan hanya aku sendiri yang memasaknya,” ucap Steven percaya diri.
“Tampilan sih oke tapi, soal rasa aku sedikit ragu,” balas Azizah dengan mengernyitkan keningnya.
“Cobalah sayang! rasanya tidak akan mengecewakan!” pinta Steven agar sang istri mencoba masakannya.
“Baiklah aku akan mencobanya terlebih dahulu!” seru Azizah.
Azizah mengambil udang yang sebelumnya telah dikupas oleh sang suami, perlahan ia memasukkannya ke dalam mulut dan mulai mengunyahnya.
“Bagaimana sayang?” tanya Steven.
Azizah belum menjawab, ia tetap saja mengunyah udang itu hingga habis di dalam mulutnya.
“Sayang, kalau boleh jujur rasanya sangat nikmat!” seru Azizah sedikit berteriak.
“Alhamdulillah, akhirnya masakan ku tidak mengecewakan,” ucap Steven memuji dirinya sendiri.
“Kita makan bersama bi Ana ya saya sayang!” pinta Azizah.
__ADS_1
“Boleh, lagipula di dalam wajan masih banyak,” balas Steven.
Azizah ke ruang tengah dan mengajak bi Ana untuk makan bersama, meski sempat menolak akhirnya Bi Ana mau karena Azizah terus memaksanya untuk makan bersama.
“Ayo kita makan bersama!” ajak Azizah.
Azizah melayani sang suami terlebih dahulu kemudian mengambil nasi serta lauk untuk Bi Ana.
“Sayang, ayo pimpin do'a!” pinta Azizah pada sang suami.
Steven mulai membaca do'a sebelum makan dan diikuti oleh Azizah serta Bi Ana.
Bi Ana merasa sangat tersentuh dengan kebaikan Azizah, ia tidak pernah diperlakukan seperti Azizah memperlakukan dirinya saat itu.
Hidup seperti ini yang sangat aku sukai, anak mamah saat besar nanti jadilah anak yang berguna dan tidak boleh sombong.
Cukup lama mereka menikmati makan bersama akhirnya aktifitas makan bersama selesai.
Azizah membantu Bi Ana menaruh piring kotor dan yang lainnya di tempat pencucian piring sementara Bi Ana yang mencuci piring.
“Sayang, sudah sore ayo mandi!” ajak Steven.
“Iya sayang!” seru Azizah.
“Bi Ana, koper kami bibi taruh mana?” tanya Steven.
“Sudah bibi taruh di dalam kamar tuan muda!” seru Bi Ana.
Steven merangkul pinggang Azizah dan berjalan menuju kamar.
“Sayang kita mandi bersama ya! sudah lama kita tidak mandi bersama!” ajak Steven.
“Tidak mau sayang,” tolak Azizah.
“Aku malu karena tubuhku sudah mulai gemuk sayang, nanti kamu akan mengejekku gembul lagi,” balas Azizah sambil mengerutkan bibirnya.
Steven terkekeh geli karena akhirnya ia tahu kenapa sang istri selalu menolak untuk diajak mandi bersama.
“Sayang, kamu gembul juga tidak apa-apa. Ayo kita mandi bersama aku juga ingin bermain-main dengan anak kita!” ajak Steven.
“Baiklah,” balas Azizah.
Azizah masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu dan merendamkan diri di bathtub, kemudian Steven menyusul sang istri.
“Hangat,” ucap Azizah sambil memejamkan mata.
Steven mengelus-elus perut Azizah kemudian anak di dalam Azizah bergerak.
“Kamu merasakannya sayang?” tanya Steven.
“Tentu saja aku merasakannya sayang, anak kita sangat peka jika disentuh olehmu,” jelas Azizah.
Azizah dan Steven mandi bersama dan saling membersihkan diri.
45 menit kemudian.
Steven menuntun Azizah keluar dari kamar mandi.
“Sayang aku bisa sendiri,” ucap Azizah dan duduk di kursi meja rias.
“Baiklah, aku akan memakai pakaian terlebih dahulu baru aku akan mengeringkan rambut mu istriku!” seru Steven.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Steven keluar dari ruang ganti sementara Azizah masih saja duduk.
“Karena kamu sudah memakai pakaian, sekarang tinggal aku sayang,” ucap Azizah dan masuk ke dalam ruang ganti.
Sambil menunggu sang istri selesai, Steven menyalakan hairdryer dan mengeringkan rambutnya.
“Aku sudah selesai sayang,” ucap Azizah mendekati sang suami.
Steven menuntun sang istri duduk dan mulai mengeringkan rambut panjang Azizah.
“Aku sudah lama tidak melakukan ini untukmu,” ujar Steven sambil mengeringkan rambut Azizah.
“Benarkah?” tanya Azizah memastikan.
“Iya sayang,” sahut Steven.
Azizah dan Steven terus saja berbincang-bincang bahkan mereka sering melempar candaan.
“Sayang ayo kita jalan-jalan sekitar perumahan ini!” ajak Azizah.
“Boleh, mumpung cuaca sore ini sangat cerah!” seru Steven.
Mereka berdua keluar kamar dan bergegas untuk jalan-jalan sore, Bi Ana yang sedang menyapu halaman rumah melihat sepasang suami istri itu dan menyapa.
“Selamat sore tuan muda dan nyonya muda!” sapa Bi Ana.
“Sore juga Bi Ana!” seru Azizah.
Steven hanya melempar senyum kepada Bu Ana.
“Mau jalan-jalan sore ya Nyonya muda?” tanya Bi Ana.
“Iya Bi, cuacanya enak kalau buat jalan-jalan sore!” seru Azizah sambil merangkul lengan sang suami.
“Kami pergi dulu ya Bi!” Pamit Steven.
“Iya Tuan muda dan Nyonya muda!”
Azizah berjalan-jalan sambil terus mengelus perutnya, sepertinya calon anak mereka sang menyukai jalan-jalan sore.
“Sayang, bagaimana kalau besok pagi aku bercocok tanam?” tanya Azizah yang tak lain mengutarakan keinginannya.
“Boleh, kamu ingin bercocok tanam apa?” tanya Steven penasaran.
“Sepertinya kacang-kacangan atau sebangsa cabe dan tomat!” seru Azizah.
“Baiklah, aku akan meminta orang untuk membeli bibit,” terang Steven.
“Sayang, bolehkah kita tinggal lebih lama disini?”
“Apa sampai anak kita lahir?” tanya Steven.
“Tidak lah sayang, aku ingin anak kita lahir di Indonesia jangan disini!” pinta Azizah.
“3 bulan apakah cukup?”
“Kalau 3 bulan berarti usia kandunganku 8 bulan lebih, baiklah aku setuju 3 bulan kita disini ya sayang!” seru Azizah.
“Iya sayang, 3 bulan.”
__ADS_1
Jujur saja aku takut untuk kembali ke Jakarta sayang, sepertinya wanita yang aku lihat itu benar-benar adalah Diandra.
Entah kenapa dia bisa kembali ke Jakarta, aku takut dia akan membuat hal yang tidak kita inginkan.