
“Yana, ini benar kamu?” tanya Azizah yang masih tak percaya bahwa sang sahabat ada di hadapannya.
“Iya ini aku Azizah, sahabatmu Yana Aryanto,” jelas Yana.
Azizah menangis terharu dan segera memeluk tubuh Yana.
“Ehem.” Steven berdehem membuat Azizah melepaskan pelukannya dan bergantian memeluk sang suami.
“Aku pikir kamu kemana sayang, ternyata kamu menyusul sahabatku. Terima kasih sayang!”
“Sama-sama istriku sayang, ayo sekarang kita masuk!” ajak Steven.
Mereka pun masuk dan duduk santai di ruang keluarga.
“Bi Ana, tolong buatkan jus jeruk ya!” pinta Azizah.
“Baik nyonya muda!”
Azizah bercengkrama dengan sang sahabat bahkan melupakan para suami yang juga duduk di dekat mereka.
“Aku sudah menduganya, pasti hal seperti ini akan terjadi,” ucap Steven lirih namun, masih bisa terdengar oleh telinga Mike.
“Kamu benar Steven,” balas Mike.
Steven mengangkat sebelah alisnya dan terus menatap wajah sang istri.
Yana cuek kepadaku sekarang Steven juga cuek kepadaku. Lalu, aku harus bicara dengan siapa?
Mike memeluk bantal yang berada di sofa kemudian tanpa ia sadari, ia pun tertidur membuat Steven dan yang lainnya terkejut.
“Suamimu sepertinya sangat lelah, antarkan dia ke kamar samping kamarku dan suamiku!” ucap Azizah pada Yana.
“Silahkan di minum jus jeruknya!” ucap Bi Ana kemudian meletakkan jus jeruk di atas meja lalu setelah itu ia kembali menuju dapur.
Sebelum membangunkan Mike, mereka bertiga menikmati terlebih dahulu jus jeruk yang nampak sangat segar.
“Malam ini tidurlah bersamaku!” ajak Azizah.
“Uhuk... uhuk....” Steven tersedak karena terkejut dengan keinginan sang istri yang mengajak Yana untuk tidur otomatis ia tidak bisa bermesraan dengan Azizah.
“Sayang, kamu kalau minum yang hati-hati dong. Tidak ada yang berebut denganmu,” ucap Azizah sambil menepuk-nepuk pelan dada sang suami.
“Kamu tidak bercanda kan sayang?” tanya Steven.
“Bercanda apa? masalah aku akan tidur dengan Yana?” tanya Azizah dan langsung diangguki oleh Steven.
“Untuk beberapa hari ini saja ya sayang, kamu bisa tidur bersama Mike,” terang Azizah.
Steven tak bisa menolak keinginan sang istri ia pun menyetujui keinginan istrinya itu.
“Baiklah, hanya beberapa hari saja setelah itu kamu harus kembali tidur denganku!”
“Siap sayangku, suamiku memang yang terbaik,” ucap Azizah dan tanpa malu-malu mengecup mesra pipi milik sang suami.
Steven ingin memberikan waktu untuk sang istri yang sedang temu kangen bersama Yana, pria blasteran itu kemudian membangunkan Mike agar tidur di kamar.
*
“Ya ampun, tempat ini mengingatkanku akan Magetan Azizah,” ucap Yana.
__ADS_1
“Kamu benar sekali, untungnya saja suamiku menuruti permintaanku,” jawab Azizah.
“Perutmu sudah terlihat menonjol, apakah kamu sudah tahu jenis kelamin anakmu ini?” tanya Yana penasaran.
“Aku dan Steven sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak kami, aku dan Steven sedang main tebak-tebakan,” jelas Azizah kemudian tertawa kecil.
“Bolehkah aku ikut menebak?”
“Silahkan!”
“Sepertinya anakmu laki-laki,” ucap Yana.
“Wah, pemikiran mu ternyata seperti aku juga.”
“Sekarang tebak lah anak yang aku kandung ini!” pinta Yana.
“Perutmu masih rata jadi aku tidak bisa menebak,” balas Azizah apa adanya.
“Kamu benar sekali.”
Cukup lama mereka berbincang-bincang akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar, Azizah sebelumnya sudah beristirahat namun, melihat sang sahabat yang terlihat mengantuk, Azizah pun memutuskan untuk kembali tidur.
Malam hari.
Mereka berempat sedang berada di meja makan menikmati makan malam bersama, para suami istri berhadap-hadapan dan saling suap menyuap.
“Aaaa sayang!” pinta Azizah dan menyuapi makanan ke dalam mulut sang suami.
“Terima kasih sayang,” ucap Steven dengan makanan yang masih penuh di dalam mulutnya.
“Cepat kunyah sayang!” seru Azizah.
Mike juga tak mau kalah dari sang sahabat, ia pun menyuapi makanan ke dalam mulut Yana. Padahal berulang kali Yana menolak karena Mike menyuapi makanan dengan begitu banyak hingga Yana susah untuk mengunyah.
Ingin romantis-romantisan malah ditertawakan, seharusnya Yana mengerti maksudku. Haduh....
Bi Ana dari kejauhan memperhatikan mereka, ia tersenyum senang hingga air matanya menetes, air mata bahagia yang jarang ia jatuhkan.
Rasanya pasti nyaman jika terus tinggal bersama tuan muda dan nyonya muda.
Selama aku bekerja dengan mereka, mereka selalu memperlakukan ku dengan sangat baik padahal aku hanya seorang pembantu di rumah ini.
Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk bersantai-santai dan menikmati malam mereka dengan menonton TV bersama-sama.
“Sayang, habis ini kamu minum susu ya!” ucap Steven.
“Iya sayangku, siap! tapi kamu yang membuatkannya untukku!” pinta Azizah.
“Tentu saja!”
“Drrt... drrt...” Ponsel milik Azizah bergetar tanda bahwa ada seseorang yang menghubunginya.
“Assalamualaikum,” ucap Azizah
“........”
Azizah terkejut dan dengan cepat melempar ponselnya.
“Brugh!”
__ADS_1
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Steven panik.
Wajah Azizah memucat, keringat dingin mengucur di dahinya.
“Sa..sayang, peluk aku!” pinta Azizah.
Steven dengan cepat memeluk tubuh sang istri, ia pun berulang kali mengusap lembut rambut istrinya.
Mike dan Yana terdiam dan terus menatap ke arah Azizah yang terlihat begitu syok.
Suara siapa itu? kenapa dia mengancam ku dan anak yang sedang aku kandung.
Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan dengan mengancam keselamatan ku dan juga bayi yang tidak berdosa ini.
Azizah berusaha tenang dipelukan sang suami, ia memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada sang suami tentang apa yang ia dengar.
“Sayang, temani aku tidur sekarang m Sepertinya aku butuh istirahat!” pinta Azizah agar Steven segera menemaninya untuk tidur.
“Baik sayang!”
Steven menuntun Azizah berjalan menuju kamar, ia juga meminta Bi Ana untuk membuatkan susu untuk istrinya tercinta.
Beberapa menit kemudian.
“Tok... tok...” Suara pintu diketuk.
“Masuk saja Bi!” perintah Steven.
Bi Ana masuk dengan membawa susu khusus ibu hamil.
“Ini tuan muda!”
“Terima kasih bi!”
Bi Ana kemudian pergi meninggalkan mereka.
“Minum ya sayang, setelah itu kamu tidurlah!”
Azizah meneguknya hingga habis.
“Peluk aku sayang!” pinta Azizah.
Steven memeluk tubuh sang istri hingga Azizah pun tertidur kemudian Steven pun ikut tertidur.
Di Jakarta.
Diandra tertawa puas di dalam kamarnya, ia senang karena bisa menghubungi wanita yang begitu ia benci di tambah ia juga mengancam istri pria yang begitu ia cintai.
“Ini baru permulaan wanita kampungan, aku akan membuat perhitungan yang lebih dari ini bahkan untuk tidur pun kamu tidak akan bisa tenang,” ucap Mariska bermonolog.
Mariska lalu memperhatikan gambar foto milik Steven Walker.
Aku setiap hari memantau mu dari depan gerbang rumahmu dan ternyata kamu sedang asyik-asyiknya menikmati babymoon bersama wanita kampungan itu.
Baiklah, untuk sekarang aku akan bersabar menunggumu Steven.
Namun, saat kamu kembali ke Jakarta, akan aku pastikan detik itu juga kamu menjadi milikku selamanya.
***
__ADS_1
Mampir ke novel author yang lain ya!
Berjudul “Abraham Dan Asyila” Ceritanya tidak kalah seru dan buat baper para pembaca.. 😘😘