
Di Jakarta.
Yuli sedang berada di pusat perbelanjaan bersama suami dan juga keponakannya, sebelum pulang ia ingin membelikan sesuatu untuk menantunya yang tengah mengandung cucu pertamanya.
“Mami Mariska mau beli ini boleh? belikan ya mi!” pinta Mariska.
“Ambil saja yang kamu mau nak, kamu tidak perlu bertanya apakah mami memperbolehkan atau tidak,” balas Yuli.
“Terima kasih mami!” seru Mariska.
Mariska membeli beberapa coklat bubuk serta bahan-bahan yang lain untuk membuat cemilan, ia ingat sekali jika kakak iparnya itu suka sekali bereksperimen di dapur.
Sekarang aku ingin belajar membuat kue, ya siapa tahu bisa. Lagipula aku sudah mulai bosan menjahit pakaian karena aku sudah bisa membuat gaun cantik yang tak kalah dengan desainer terkenal.
“Ada apa kamu senyum-senyum seperti itu?” tanya Adam yang melihat keponakannya senyum sendirian.
“Tidak ada Pi, Mariska hanya tersenyum saja!” seru Mariska.
Yuli terlihat bingung memilih susu formula mana yang baik untuk menantunya itu karena ia sudah lama tidak meminum minuman itu.
“Mami kenapa?" tanya Adam.
“Mami pusing Pi susu mana yang baik buat ibu hamil, ini juga varian rasanya banyak sekali,” balas Yuli.
“Pilih yang rasa cokelat saja mi, kak Azizah bukannya sangat menyukai rasa coklat?”
“Astaga, mami sampai lupa untung saja kamu mengingatkan mami!” seru Yuli kemudian mengambil beberapa kotak susu rasa cokelat.
Mereka lalu pergi ke kasir untuk membayar tagihan belanja, Adam membayar semua tagihan dan bergegas pulang ke rumah.
“Andai mami Teressa masih ada Pi, pasti mami sangat senang karena Azizah tengah mengandung,” ucap Yuli mengingat saat Teressa sangat mengharapkan seorang bayi mungil.
“Semuanya sudah takdir mi yang terpenting sekarang Azizah dan Steven akan menjadi orang tua,” balas Adam.
Mariska yang duduk di belakang hanya mendengar kedua orang tua yang berbincang-bincang.
Terima kasih atas kebaikan kalian berdua, meski mami dan papi hanya paman dan Tante Mariska, tapi Mariska tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun dari kalian.
Mariska menangis terharu dan dengan cepat ia menghapus air matanya yang tak sengaja jatuh dan fokus memperhatikan ke arah luar jendela mobil sambil menikmati cemilan yang ia beli.
Di kediaman Steven Walker.
Hari sudah semakin gelap namun Adam, Yuli dan Mariska tak kunjung datang.
Azizah dan Steven sudah menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga setengah jam yang lalu.
__ADS_1
“Mereka kenapa belum sampai juga ya sayang!”
“Sebentar lagi juga sampai istriku, kamu jangan banyak pikiran kasih sama yang ini,” ucap Steven dan mengelus-elus perut Azizah.
Azizah mendekat dan bersandar di dada suaminya sambil menikmati cemilan kacang almond sesekali ia menyuapi suaminya.
“Sayang, aku ingin makan pecel lele sekarang!” pinta Azizah yang tiba-tiba menginginkan pecel lele.
“Sekarang sayang?” tanya Steven memastikan.
“Tahun depan!”
“Tahun depan keburu anak kita lahir sayang,” balas Steven.
“Sudah tahu sekarang masih saja tanya,” ucap Azizah kesal.
Sekarang istriku mulai memerintah lagi, baiklah demi istri dan calon anakku tak masalah bahkan ke ujung dunia pun aku akan lewati asal mereka berdua baik-baik saja.
“Baiklah aku akan pergi, kamu dirumah saja!”
“Tidak, aku pokoknya ingin ikut!”
“Papi dan yang lainnya belum sampai rumah istriku, kalau kita tidak ada di rumah bagaimana?”
Steven memang sengaja tak memperbolehkan Azizah untuk ikut tapi ternyata istrinya lebih pintar dari dirinya sehingga tidak ada alasan untuk Steven menolak keinginan istrinya yang ingin ikut.
“Baiklah kamu ikut sayang!”
Steven menuntun istrinya dengan begitu pelan untuk menuju mobil, pria itu sangat berhati-hati tentang keselamatan istrinya memang terlihat berlebihan jika orang lain melihatnya tapi Steven merasa itu adalah hal yang memang harus ia lakukan agar istri dan calon bayinya selamat apalagi bayi itu adalah keturunan dari Steven Walker.
“Galih antarkan kami ke restoran yang menjual pecel lele!” perintah Steven.
“Tidak mau,” sahut Azizah.
“Bukankah kamu ingin pecel lele sayang?”
“Iya memang aku ingin pecel lele tapi aku ingin kita membelinya di tenda biru pinggir jalan,” terang Azizah.
“Baiklah sayang.”
Meski aku melarangnya tetap saja istriku akan memaksaku untuk pergi membeli pecel lele dipinggir jalan daripada aku yang kena semprot mending aku mengikuti apa yang diinginkan selama bayiku sehat-sehat saja di dalam perut istriku ini.
“Mari tuan muda dan nyonya muda!" ucap Galih sambil membuka pintu mobil.
Azizah masih terlebih dahulu kemudian disusul oleh Steven, sampai di dalam mobil Steven langsung memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
Ia takut kejadian pagi tadi yang meminta Galih untuk berhenti secara tiba-tiba membuat Azizah hampir saja menabrak kursi depan untungnya posisi saat itu Steven sedang memeluk tubuh istrinya.
Tin... tin...
Suara klakson mobil Adam, dengan cepat Steven turun dan tak membiarkan istrinya ikut turun keluar dari mobil menemui mertuanya.
“Steven kalian mau kemana?" tanya Adam.
“Kami hanya keluar sebentar Pi, Azizah tiba-tiba ingin membeli pecel lele!”
“Ya sudah kalian pergilah, jaga menantu kami baik-baik,” ucap Adam berpesan.
“Baik Pi!”
“Kak Steven, Mariska ingin ikut!" pinta Mariska berteriak di dalam mobil.
“Ya sudah ayo turun!" ajak Steven.
Mariska turun dan segera menghampiri Azizah di dalam mobil, saat Mariska ingin duduk dekat Azizah dengan cepat Steven menghalangi Mariska.
“Jangan disini, kamu di depan saja!” perintah Steven.
Mariska turun dan mengomel pelan membuat Galih tertawa kecil melihat tingkah Mariska.
“Gila apa ketawa-ketawa sendiri,” ucap Mariska kepada Galih yang membuatnya kesal.
Galih tertegun dan memandang lurus ke arah depan.
“Kita pergi sekarang!" perintah Steven.
“Baik tuan muda!” seru Galih dan mulai mengendarai mobil.
Azizah sedikit kesal dengan suaminya yang tak memperbolehkan Mariska duduk disampingnya namun ia tahu jika itu termasuk tindakan keperdulian suaminya untuk dirinya dan calon bayi mereka.
Sepanjang perjalanan mencari keberadaan warung pecel lele Azizah dan Steven saling berbincang-bincang kecil agar Mariska ataupun Galih tak mendengarkan perbicangan mereka, sementara Mariska terus saja menatap tajam ke arah Galih yang masih membuatnya kesal.
Memang tadi lucu apa sampai-sampai si sopir ini tertawa, rasanya ingin aku tinju itu mulutnya biar tidak bisa tertawa lagi.
Galih tahu bahwa dirinya sedari tadi diperhatikan dengan tatapan permusuhan namun, sebisa mungkin ia bersikap seolah-olah tak mengetahui bahwa gadis disampingnya begitu marah kepadanya.
Aku hanya tertawa sebentar itu pun tidak sampai 10 detik, tapi tatapan matanya sudah melebihi durasi aku tertawa.
“Mariska kamu baik-baik saja?” tanya Azizah karena melihat raut wajah Mariska yang begitu kesal.
“Tentu saja kak, lihat aku tersenyum dan tidak tertawa,” balas Mariska dengan memberikan senyum kepada Azizah.
__ADS_1