
Dimas masih mencintai Azizah, bahkan ia berusaha mencari keberadaan Azizah wanita yang sangat ia cintai.
Meski Ia dan Monicha telah resmi menikah, namun Dimas sama sekali tidak mencintai Monicha.
Ia menikahi Monicha karena anak yang sedang dikandung Monicha.
“Dimas! aku ingin dimanja,” pinta Monicha.
“Jangan harap! aku menikahi kamu karena anak diperut kamu. Saat kamu melahirkan nanti aku pasti segera menceraikan kamu,” tegas Dimas.
“Tidak akan! sampai kapanpun aku tidak mau bercerai,” teriak Monicha.
“Terserah kamu, yang penting aku akan menceraikan kamu,” tegas Dimas.
“Kamu mau kemana?” tanya Monicha yang melihat Dimas memakai jaket.
“Mau cari udara segar,” sahut Dimas.
Monicha tak dapat menghentikan sang suami, ia duduk di ranjang dengan tatapan sedih.
Tanpa pikir panjang Dimas lalu pergi keluar meninggalkan istrinya yang tengah hamil.
Aku memang salah Dimas, tapi itu semua aku lakukan karena aku telah jatuh hati kepadaku.
Apakah kamu masih ingin bercerai setelah anak kita lahir?
Hampir setiap malam Monicha tidur sendiri, Dimas akan kembali ke rumah saat pagi hari.
Monicha bahkan tak pernah dinafkahi secara batin oleh Dimas.
Dimas pergi ke bar untuk merilekskan pikirannya, ia begitu menyesal saat memutuskan berselingkuh dengan Monicha.
Bahkan sampai detik ini Dimas masih mencintai Azizah.
Suara dentuman musik membuat Dimas mabuk, tak henti-hentinya ia menyebut nama Azizah meski dalam pengaruh alkohol.
“Kembalilah bersamaku Azizah, aku sangat mencintaimu,” teriak Dimas.
Tak jarang Dimas tidur di bar itu, bahkan pekerja di bar itu sudah hafal dengan kehadiran Dimas.
Sudah jam 3 pagi Dimas tak kunjung pulang, Monicha bahkan tertidur di ruang tamu menanti kedatangan sang suami meski saat itu kondisi sedang sakit.
“Buka!!” teriak Dimas.
“Buka pintunya!!” teriak Dimas lagi.
Sebenarnya dirumah itu ada pembantu, tapi Monicha tak mengizinkan pembantunya membukakan pintu dengan alasan Monicha lah yang wajib membukakan pintu untuk sang suami.
“Buka pintunya!!” teriak Dimas.
Monicha terperanjat saat mendengar suara ketukan dan teriakan Dimas, dengan cepat ia membukakan pintu untuk Dimas.
“Kamu mabuk lagi Dimas?” tanya Monicha dan memapah tubuh suaminya yang tengah dipengaruhi alkohol.
Monicha melepaskan sepatu yang dikenakan suaminya bahkan mengganti pakaian Dimas yang tercium bau alkohol.
Maafkan aku Dimas, tapi aku terlanjur mencintaimu.
Jadi jangan minta aku untuk bersedia diceraikan olehmu Dimas.
Ia lalu tidur di pelukan sang suami yang sedang tak sadarkan diri, itulah kesempatan untuk Monicha mendekap tubuh sang suami.
Namun jika suaminya sedang tidak mabuk, untuk tidur memeluk saja tidak bisa.
__ADS_1
“I love you Dimas.” Itulah kata-kata yang selalu Monicha ucapkan saat suaminya telah tertidur.
Keesokan Pagi.
Dimas terbangun dengan kepala yang begitu pusing, ia terkejut saat Monicha tidur sambil memeluknya.
Dengan pelan Dimas menjauhkan Monicha dari tubuhnya.
Monicha yang merasa tubuhnya telah bergeser tak memeluk Dimas Akhirnya terbangun.
“Kamu sudah bangun? mau aku masakan apa Dimas?” tanya Monicha.
“Tidak perlu, aku bisa makan di restoran,” sahut Dimas lalu pergi menuju kamar mandi.
Sampai kapan kamu memperlakukan aku seperti ini Dimas?
Monicha mengelus-elus perutnya yang mulai membesar, ia sering mengajak bayinya berbicara.
“Anak Mama yang sehat ya di dalam perut,” ucap Monicha pada bayi di kandungannya.
Dimas tahu apa yang Monicha lakukan selama ini, tentang Monicha yang selalu memapahnya menuju kamar saat mabuk.
Melepaskan sepatunya bahkan mengganti pakaiannya.
Sejujurnya ada rasa kasihan terhadap Monicha tentang sikapnya yang selalu acuh tak acuh kepada Monicha, namun dengan cepat rasa itu ditepisnya mengingat perbuatan licik Monicha kepada dirinya.
Monicha menuruni anak tangga, dengan langkah kaki yang sangat pelan ia berjalan menuju dapur untuk memasak makanan.
“Bi Yati, tolong ambilkan kangkung dan potong-potong ya!” ucap Monicha pada asisten rumah tangga.
“Baik Bu,” sahut Yati.
Monicha dengan semangat menumis kangkung untuk sang suami. Monicha tahu bahwa Dimas sangat menyukai tumis kangkung.
“Tolong taruh ke meja ya bi, aku panggilkan Dimas dulu,” ucap Monicha dan berjalan menaiki anak tangga.
“Dimas! ayo sarapan, aku ingin kita makan bersama!” ajak Monicha.
“Aku tidak lapar,” sahut Dimas.
Monicha menarik tangan Dimas dan meletakkannya tepat diperut Monicha.
“Tolong Dimas! sekali ini saja demi anak kita,” ucap Monicha penuh harap.
Dimas tak tega melihat wajah Monicha yang terlihat sedih, bagaimanapun Monicha adalah istrinya.
“Baiklah, kali ini saja,” sahut Dimas.
Monicha tersenyum lebar, Akhirnya Dimas mau sarapan bersamanya.
“Terima kasih Dimas,” ucap Monicha senang.
Dimas berjalan menuruni anak tangga, Monicha berjalan tepat dibelakang sang suami.
Setelah sampai dimeja makan Dimas langsung memakan sarapan buatan sang istri.
Terima kasih Dimas, aku sangat senang akhirnya kamu mau sarapan bersamaku.
“Hari ini aku mau ke restoran, kamu diam saja di rumah. Jaga anak kita!” ucap Dimas.
Untuk pertama kalinya setelah menikah Dimas berkata semanis itu membuat Monicha bahagia.
Monicha spontan memeluk tubuh Dimas, ia menangis terharu karena Dimas memberi perhatian.
__ADS_1
Dimas tahu bahwa Monicha saat itu menangis, ia belum siap melihat wajah Monicha yang berurai air mata.
Dengan perlahan ia melepaskan pelukan Monicha dan pergi tanpa menoleh ke arah Sang istri.
Aku akan berusaha menjadi istri yang baik Dimas, maaf selama ini aku bersalah.
Dimas mengendarai mobilnya menuju restoran.
Ia mengingat kejadian tadi bersama Monicha, Dimas kini bimbang apakah harus menceraikan Monicha atau tidak?
Aaaaaaaaaaa... Aku benar-benar bimbang, tapi aku tidak ingin anakku hidup tanpa kasih sayang kedua orangtuanya.
Aku harus bagaimana Tuhan?
Sesampainya di restoran, Dimas berjalan menuju ruangannya.
Ia selalu memeriksa setiap pemasukkan dan pengeluaran di restorannya.
Sejak ia menikah dengan Monicha Sutomo Ginanjar yang tak lain ayah kandung Dimas mewariskan restoran itu kepadanya.
Kini restoran itu menjadi tanggung jawab Dimas.
Tok.. tok..
“Masuk!" ucap Dimas yang masih berkutat dengan laptopnya.
“Permisi Pak! saya ingin memberikan nota pembelian kemarin,” ucap pegawainya.
“Oke terima kasih, kamu boleh pergi sekarang!”
“Baik Pak, saya permisi,” ucap pegawai Dimas.
Dimas lagi-lagi memikirkan Monicha, saat itu ia ingin sekali bertemu dengan istrinya.
Sebaiknya kamu mengirimkan pesan singkat untuknya.
Dimas mengetik beberapa kata untuk Monicha.
Ia mengetik lalu menghapus kembali, mengetik lagi lalu menghapus kembali.
Dimas bingung harus mengetik apa.
Dimas💌
“Sudah makan?”
Monicha💌
“Sudah, 1 jam lalu sarapan bersama kamu Dimas.”
Dimas tersenyum lebar, ia benar-benar lupa bahwa ia dan Monicha sejam yang lalu sedang sarapan bersama.
Dimas Akhirnya memutuskan untuk membuka hatinya buat sang istri dan mencoba melupakan Azizah wanita yang sangat ia cintai.
Aku tidak tahu sekarang kamu dimana Azizah, berbulan-bulan aku mencarimu tapi tidak ada hasilnya. Hari ini dengan ikhlas aku melupakan kamu, Selamat tinggal masa lalu.
Selamat tinggal Azizah Cahyani.
Tekad Dimas sudah bulat untuk melupakan Azizah Cahyani.
Sekarang yang ia fokuskan adalah Monicha dan calon anak mereka.
Terima kasih para pembaca setiaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa
Like ❤️ Komen👇Vote🙏🤗