Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 170


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Azizah dan Steven memutuskan untuk segera kembali ke rumah.


Bodyguard yang sebelumnya mengantarkan Azizah ke perusahaan sudah pulang sesaat setelah Azizah turun dari mobil saat baru sampai di perusahaan.


Steven berjalan sambil merangkul pinggang Azizah, para pegawai yang lewat selalu menyapa Azizah dan juga Steven. Azizah bahkan tak segan-segan membalas sapaan mereka dan tersenyum manis berbanding terbalik dengan Steven yang selalu memasang wajah datar.


“Sayang bagaimana kalau kita mampir ke pusat perbelanjaan!” ajak Steven.


“Aku sedang tidak ingin berbelanja suamiku bagaimana kalau kita mampir ke panti jompo?” tanya Azizah.


“Kamu ingin kesana sayang?” tanya Steven balik.


Dengan cepat Azizah mengangguk, “Iya suamiku sangat ingin, biasanya kita ke panti asuhan anak yatim-piatu dan sekarang aku ingin ke panti jompo,” terang Azizah.


“Kalau begitu kita belanja sembako untuk mereka,” ucap Steven.


“Benar sekali ayo!” ajak Azizah yang tak sabaran.


Galih sudah siap membukakan pintu untuk suami istri itu mereka berdua masuk dan duduk cantik.


“Galih tolong antarkan kami ke toko sembako ya!” pinta Azizah.


“Baik nyonya muda!” seru Galih.


Nyonya muda Azizah tidak pernah berubah selalu saja menghargai bawahannya, beruntung sekali tuan muda Steven mendapatkan istri sebaik nyonya muda.


“Sayang nanti beli yang banyak ya!” pinta Azizah.


“Iya sayang kita beli yang banyak!” sahut Steven.


Azizah begitu senang akhirnya ia bisa datang ke panti jompo tempat dimana manula tinggal. Namun, ada rasa sedih juga dihatinya karena ia tidak bisa melihat kedua orangtuanya menua dan juga Darmi yang sudah meninggal.


Azizah meneteskan air mata saat mengingat kedua orangtuanya yang meninggal akibat kecelakaan dan juga Bu Darmi yang meninggal akibat penyakit yang dideritanya.


“Kamu menangis sayang?” tanya Steven.


Azizah terus menangis dan memeluk tubuh suaminya, “Aku teringat akan kedua orangtuaku dan juga Bu Darmi sayang,” terang Azizah.


Galih yang sedang mengemudi ikut sedih bahkan ia juga mengeluarkan air matanya, nasib dia dan Azizah tidak jauh berbeda.


Kalau Azizah kedua orangtuanya meninggal sementara Galih ia sendiri tidak tahu dimana keluarganya, karena sebelum ia bekerja dan tinggal di kediaman Steven. Ia tinggal dan besar di lingkungan panti asuhan, pemilik yayasan panti asuhan bahkan mengatakan bahwa Galih ditemukan di dalam masjid dengan keadaan tubuh yang masih berdarah dan tali pusar yang masih melekat.


“Sudah jangan menangis, mereka sekarang bahagia di surga jadi istriku yang cantik ini jangan menangis,” hibur Steven agar istrinya segera berhenti menangis.


“Iya sayang,” balas Azizah dengan suara serak karena menangis.


Galih dengan segera menghapus air matanya, ia melihat di depan ada toko sembako dan dengan cepat ia meminggirkan mobil dan memarkirkan mobil itu di area toko.


“Sudah sampai tuan muda dan nyonya muda,” ucap Galih kemudian turun dan membukakan pintu mobil.


Steven turun lebih dulu kemudian merangkul pinggang istrinya dan mengajak masuk ke dalam toko sembako.


“Ayo sayang!” ajak Steven.

__ADS_1


“Iya sayang!” seru Azizah.


Sesampainya di dalam toko sembako, Steven langsung mengambil karung beras yang cukup banyak, gula, kopi, roti serta bahan makanan yang lainnya untuk kebutuhan penghuni panti jompo.


20 menit kemudian.


“Terima kasih,” ucap pemilik toko karena Steven telah berbelanja begitu banyak sembako di toko miliknya.


Pegawai toko memasukkan barang belanjaan Azizah dan Steven ke dalam mobil kursi belakang dan ada beberapa barang yang tidak muat karena sangking banyak akhirnya salah satu pegawai toko sembako mengikuti mobil Steven untuk mengantarkan barang-barang ke tempat tujuan.


***


Sampailah mereka di Panti jompo.


Azizah dan Steven turun dari mobil dan segera menghampiri pemilik panti jompo untuk memberikan bantuan mereka kepada manula yang tinggal di tempat itu.


“Assalamualaikum,” ucap Azizah dan Steven.


Wanita berumur sekitar 50 tahun datang menghampiri mereka, “Waalaikumsalam,” balas wanita itu yang memakai kaca mata, “Mari masuk!” ajaknya mempersilahkan Azizah dan Steven masuk.


“Iya Bu,” balas Azizah dan masuk laku duduk di kursi tua yang terlihat agak lapuk.


“Sebentar saya akan buatkan minuman untuk kalian,” ucap ibu itu dan pergi.


Azizah memperhatikan disekitar ruangan itu, tembok yang terlihat sudah tidak kokoh lagi bahkan cat di dinding sudah banyak yang memudar. Steven paham dengan apa yang dilihat oleh istrinya dan juga apa yang dipikirkan oleh istrinya.


Pria blasteran itu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu entah apa isinya.


“Sayang, tempat ini sangat tidak layak,” ucap Azizah kasihan dengan penghuni panti jompo yang sudah sangat tua.


“Alhamdulillah, terima kasih suamiku,” ucap Azizah dengan mata berkaca-kaca.


Ibu itu datang dengan membawa 2 cangkir teh dan kue kering.


“Silahkan dinikmati!” ucapnya.


Azizah menghargai pemberian dari ibu itu dan langsung menyeruput teh itu yang untungnya hangat.


“Kami datang kesini ingin memberikan sedikit bantuan untuk panti jompo ini, mohon ibu menerimanya,” ucap Azizah.


“Alhamdulillah terima kasih atas kebaikan hati kalian,” ucap ibu itu kemudian bersujud di lantai.


Azizah dengan cepat mengangkat tubuh wanita paruh baya itu dan memeluknya.


“Terima kasih karena kalian membantu kami, sebelumnya saya sedih karena..” Wanita paruh baya tidak melanjutkan ucapannya ia menangis tersedu-sedu.


Azizah terus memeluk wanita itu hingga akhirnya wanita itu terdiam kemudian menceritakan mengapa ia menangis.


Ternyata selama ini wanita itu tidak mendapatkan bantuan dari orang lain bahkan hartanya habis untuk menghidupi para manula yang tinggal di panti jompo.


“Jadi tempat selama ini banyak anak yang menitipkan orang tua mereka disini lalu menelantarkan mereka begitu saja tanpa memberikan makanan kepada panti ini?” tanya Azizah.


“Benar mbak, sebelumnya saya mengira mbak dan suaminya mbak ingin menitipkan orang tua mbak disini,” jujur wanita itu.

__ADS_1


“Lalu seandainya memang benar seperti itu, kenapa ibu masih mempersilahkan kami masuk dan menjamu kami padahal kalau kami menitipkan orang tua kami ibu bisa menolaknya?”


“Itu karena sebelumnya saya pernah meninggalkan orang tua saya mbak kemudian saya tidak pernah pulang sampai akhirnya orang tua saya meninggal, jadi saya berjanji akan mengurus para manula hingga seperti sekarang ini,” terang ibu itu.


Steven hanya diam sambil mendengarkan apa yang diucapkan oleh pemilik panti jompo, banyak pelajaran yang bisa ia petik dan ia sangat bersyukur dari Azizah ia mengetahui hal yang sebelumnya tidak ia ketahui.


“Ibu sekarang tidak perlu khawatir, saya dan suami saya akan membantu ibu. Sekarang ibu duduk ya!”


Steven memerintahkan Galih dan juga pegawai toko sembako yang sebelumnya ikut mengantarkan barang-barang yang ia beli ke dalam ruangan itu. Tak lupa Steven memberikan uang yang cukup banyak dan memberitahukan bahwa panti itu akan dibangun dengan layak, lagi-lagi ibu itu bersujud kepada Allah karena telah mengirimkan orang baik yang membantu membangun panti jompo.


“Boleh saya melihat-lihat penghuni panti ini?” tanya Azizah.


“Silahkan, ayo mbak saya antarkan,” balasnya.


“Sebelumnya nama ibu siapa?” tanya Azizah.


“Nama saya nyami mbak,” balasnya.


“Saya Azizah Bu Nyami!”


Nyami mengantarkan ke ruangan penghuni jompo, Azizah langsung sedih melihat banyak sekali manula di dalam ruangan itu.


“Kalai boleh tahu berapa orang yang mengurus para manula ini Bu?”


“5 orang termasuk saya mbak, 2 diantaranya adalah anak kandung saya dan 2 lainnya adalah cucu saya,” balas nyami.


“Lalu penghuni jompo ini ada berapa orang?” tanya Azizah.


“Sekitar 45 orang mbak.”


45 orang tidaklah sedikit dan hanya diurus oleh 5 orang saja. Sungguh baik hati Bu Nyami.


“Kalau boleh tahu biaya kebutuhan para manula darimana Bu?”


“Meski harta saya habis, Alhamdulillah suami saya masih bisa bekerja sehari bisa menghasilkan uang 50 ribu dan anak serta cucu saya juga membantu untuk membeli kebutuhan para manula.”


Azizah salut dengan kebaikan hati Bu Nyami, walaupun bukan orang kaya. Tapi, hati Bu Nyami patut diacungi jempol.


Cukup lama akhirnya Azizah dan Steven pamit pulang dan berjanji akan kembali lagi menemui Bu Nyami dan juga penghuni jompo.


Di dalam mobil Steven terus saja memeluk tubuh istrinya, ia bahkan menangis terharu karena mendapatkan pelajaran yang begitu berharga.


Karena sebelumnya Steven memang senang membantu yayasan panti asuhan dan juga sering berkunjung ke panti asuhan. Ia bahkan sering memberikan bantuan ke panti jompo namun, tak pernah langsung turun tangan.


“Darimu aku banyak belajar banyak hal istriku, terima kasih!”


“Aku juga berterima kasih kepadamu suamiku,” balas Azizah.


*Allah memberikan kita kekayaan bukan untuk dipamerkan melainkan Allah memberikan kita kekayaan untuk membantu sesama manusia. Sungguh miris jika ada orang kaya yang sangat pelit untuk menyumbangkan hartanya walaupun sedikit, bahkan ada yang tega membuang orang tuanya karena ia tidak sanggup menjaga dan menghidupi mereka padahal orang tua kita lah yang merawat kita sedari kecil.


😭😭*


Author: Bersyukurlah kalian selagi memiliki orang tua lengkap, jikalau orang tua kalian sudah tidak ada sepatutnya kita sebagai anak mengirimkan do'a untuk mereka.

__ADS_1


Author bersyukur masih diberikan orang tua yang lengkap, sebagai anak kita harus selalu berbakti kepada orang tua kita yang sudah merawat kita sedari bayi hingga sekarang.


__ADS_2