Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 204


__ADS_3

Seminggu sudah telah berlalu dan seminggu sudah bayi mereka tidak mendapatkan ASI dari sang ibu dikarenakan sang ibu belum juga tersadar.


Steven terus menemani Azizah yang masih saja tak sadarkan di ranjang pasien.


Para pegawai perusahaan dan teman kerja Steven selalu berdatangan menjenguk Azizah sesekali mereka mengajak bayi mungil berumur seminggu itu berbicara.


“Sini nak, waktunya cucu mami minum susu,” ucap Yuli sambil memberikan susu formula untuk cucu laki-lakinya.


Mulut mungil bayi itu mengisap empeng yang berisi susu.


“Bayi kalian ini sangat kuat, sudah 2 botol yang bayimu ini habiskan,” ucap Yuli kemudian tertawa.


“Tentu saja anakku harus hebat seperti ibunya, kelak dia juga harus memimpin perusahaan Steven mi,” balas Steven.


Beberapa menit kemudian.


Bayi mungil itu tertidur pulas dengan perlahan Yuli berjalan menuju ranjang bayi dan menidurkan bayi itu di ranjang.


“Selamat tidur cucu Oma,” ucap Yuli kemudian menutup ranjang bayi dengan kelambu bayi.


Adam masuk ke dalam ruang ibu dan anak sambil membawa nasi bungkus ditangannya.


“Ayo kita makan!” ajak Adam.


Menikmati nasi Padang telah menjadi kebiasaan Adam yang lainnya selama berada di rumah sakit. Bukannya tak mampu membeli makanan restoran, bahkan membeli restoran bintang 5 pun Keluarga mereka tentu saja sangat. Hanya saja menurut mereka nasi Padang jauh lebih enak apalagi rendang Padang adalah makanan kuliner yang paling enak di dunia.


“Mariska mana Pi? apakah bersama Yana dan Mike?” tanya Steven.


“Sahabatmu dan istrinya telah kembali, kamu tahu sendiri istri Mike sedang hamil,” jawab Adam.


“Lalu Mariska?” tanya Steven lagi.


“Mariska sedang berada di ruangan Galih,” jawab Adam.


Steven mengangguk, memang sudah seminggu penuh Mariska selalu menemani Galih. Meski Mariska tidak pernah menceritakan tentang kedekatannya kepada Steven dan yang lainnya. Namun, mereka ternyata tahu bahwa Mariska dan Galih memang memiliki hubungan yang sangat dekat.


Mereka pun makan bersama mumpung bayi mungil sedang tertidur.


***


Mereka telah selesai menikmati makan bersama.


“Jadi kapan kamu akan memberi nama cucu kami?” tanya Adam penasaran.


“Iya nak, mami juga penasaran dengan nama cucu kami,” sahut Yuli.


“Tunggu sampai Azizah sadar ya mi!” pinta Steven.


“Baiklah, mami juga paham maksud kamu.”


“Mami sudah sore, waktunya kita pulang!” ajak Adam.


Adam dan Yuli akhirnya pulang bersama dengan Mariska. Sementara Steven tetap di rumah sakit menemani istri tercintanya.

__ADS_1


Flashback 5 hari yang lalu


Kedua orangtuanya Diandra datang untuk mengambil jenazah Diandra. Sebelum mereka pergi, kedua orang tua itu datang menghampiri Steven dan meminta maaf atas kelakuan putrinya.


“Tuan Steven, saya mohon maaf atas kelakuan anak saya. Saya benar-benar tidak tahu jika akan terjadi seperti ini,” ucap Alex Smith yang tak lain adalah ayah kandung Diandra.


“Benar tuan Steven, kami memohon maaf kepada tuan Steven sekeluarga atas apa yang dilakukan oleh putri kami Diandra,” sahut Nirmala.


Steven mengepalkan tangannya kuat-kuat, bagaimana bisa ia memaafkan kelakuan wanita yang membuat orang-orang yang dia cintai celaka.


“Kamu pikir aku adalah orang yang gampang memaafkan apalagi ini menyangkut nyawa?” tanya Steven geram.


“Maaf tuan Steven, saya memohon ampun,” ucap Alex bahkan bersimpuh di hadapan Steven.


“Cih.. gampang sekali mengatakan maaf. Seharusnya kalian berdua menjaga wanita kurang ajar itu!” teriak Steven.


Adam dan Yuli yang baru saja datang terkejut melihat putra kesayangan mereka sedang dalam mode marah.


“Siapa mereka nak?” tanya Yuli dan membantu Nirmala untuk berdiri.


“Jangan sentuh wanita itu mi!” pinta Steven.


Yuli terkejut dan segera menjauhi diri dari Nirmala.


“Sebenarnya ada apa nak?” tanya Yuli dan juga Adam.


“Mereka berdua adalah orang tua dari wanita jal*ng itu,” terang Steven.


“Maksud kamu Diandra nak?” tanya Yuli.


Adam dan Yuli tak ingin banyak tanya, mereka pun bergegas pergi ke ruang rawat.


Nirmala dan Alex trus memohon agar Steven mau memaafkan putri mereka.


Mereka ingin Diandra meninggal dengan tenang.


Lihat wanita kurang ajar, apakah kamu tidak kasihan melihat kedua orangtuamu seperti ini hanya untuk wanita jal*ng sepertimu.


“Kalian berdirilah!” perintah Steven.


Alex dan Nirmala pun berdiri.


“Sebaiknya kalian pergi dari sini dan bawa mayat putri kalian!” perintah Steven.


“Berarti itu artinya tuan Steven memaafkan kami dan putri kami?” tanya Alex.


“Pergilah!” perintah Steven dengan mengibaskan tangannya.


Alex dan Nirmala dengan segera pergi meninggalkan Steven, mereka berulang kali meminta maaf dan membungkukkan tubuhnya kepada Steven sampai akhirnya mereka benar-benar pergi.


~~


Steven mengusap wajahnya kemudian berjalan mendekati istrinya.

__ADS_1


“Jika ingat kedua orangtua itu, aku merasa kasihan sayang.” Steven berkata sambil mengingat kejadian 5 hari yang lalu.


“Oek... oek...” Suara tangisan bayi.


Steven berlari kecil dan menggendong tubuh mungil bayinya.


“Anak papah sudah bangun ternyata, mau minum susu nak?” tanya Steven kemudian memanggil perawat.


Perawat dengan cepat masuk untuk membuat susu formula.


“Cepat buatkan!” perintah Steven.


Beberapa menit kemudian.


“Ini tuan Steven!”


Steven mengambil botol susu dan memberikannya kepada bayinya.


“Sekarang pergilah!” perintah Steven.


“Saya permisi tuan Steven!”


Pria blasteran itu berjalan perlahan mendekati sang istri kemudian menidurkan bayi mungil mereka ke sisi ranjang istri tercintanya.


“Sayang, bayi kita sangat lucu sekali! kamu tidak ingin melihat bayi kita yang tampan ini?” tanya Steven kepada Azizah yang belum juga sadarkan diri.


Meski Steven baru pertama kali menjadi seorang ayah. Namun, Steven bisa dikatakan adalah seorang ayah siaga.


Ia bahkan pintar mengganti popok bayi mungilnya dan pintar membungkus tubuh bayinya dengan bedong.


“Sa...yang,” ucap Azizah lirih.


Steven terkejut dan mendekati sang istri.


“Kamu sudah bangun sayang, sebentar aku panggilkan dokter,” sahut Steven dan memencet tombol panggil berulang kali.


Azizah masih terlihat sangat lemas, ia hanya terus menatap wajah tampan suaminya.


“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar sayang,” ucap Steven dan mencium kening istrinya dengan sangat lembut.


“A..anak kita?” tanya Azizah yang kelihatan mulai panik.


Steven menggendong tubuh bayi mungilnya dan memperlihatkan kepada Azizah.


“Ini anak kita sayang, wajahnya mirip sekali dengan mu,” ucap Steven.


Disaat bersamaan sang dokter wanita masuk dengan 2 perawat.


“Akhirnya nona Azizah telah sadar, mohon tuan Steven untuk menunggu diluar!” pinta sang dokter.


“Bolehkah,” ucap Steven sambil menoleh ke arah bayi mungil di gendongannya.


Sang dokter mengerti maksud dari ucapan Steven.

__ADS_1


“Silahkan saja tuan Steven, anda boleh membawa bayi anda!”


“Sayang, aku keluar dulu bersama bayi kita! setelah itu kita akan bersama lagi,” ucap Steven kemudian berjalan keluar.


__ADS_2