Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 210


__ADS_3

Azizah dan Steven sama-sama bingung harus memberitahukan kepada keluarga yang lain dengan cara seperti apa, ditambah Mariska pasti teramat sangat sedih mendengar bahwa pria yang setiap hari ia temui akhirnya meninggal dunia.


“Sayang, kamu sekarang beritahu kepada yang lainnya!” pinta Azizah dengan air mata yang terus menetes.


“Aku tidak sanggup Istriku, aku tidak sanggup melihat Mariska menangis. Meski diluar adikku terlihat manja dan cerewet. Tapi, di dalam sebenarnya dia sangat cengeng,” terang Steven.


“Oek... oek...” Bayi Farhan menangis mencari put*ng sang ibu.


Azizah dengan cepat mendekat ke arah bayinya dan menggendongnya perlahan.


“Bayi mamah haus lagi ya nak?” tanya Azizah dan mulai menyusui.


Steven menatap bayinya yang sangat imut.


“Kamu diam disini saja sayang, aku yang akan memberitahukan kepada mereka!”


“Kamu serius sayang?” tanya Azizah.


“Iya sayang, bagaimanapun aku harus melakukannya meskipun berat.”


Azizah memperhatikan punggung sang suami yang pergi meninggalkan dirinya dan juga bayinya sampai akhirnya punggung sang suami tak terlihat lagi ketika Steven menutup pintu rapat-rapat.


Mariska pasti terkejut dan sangat sedih.


Ya Allah kenapa Galih harus pergi meninggalkan kami dengan cara seperti ini?


Berikanlah adik ipar kami ketabahan dan keikhlasan hati.


Steven menghampiri kedua orangtuanya yang sibuk sedang duduk sambil melihat para pelayan menancapkan kembang api di tanah.


“Mami dan papi. Ada sesuatu hal yang harus Steven katakan,” ucap Steven dengan serius.


Adam dan Yuli yang sedang tertawa bahagia langsung terdiam melihat mata putranya memerah.


“Ada sesuatu yang terjadi nak?” tanya Adam dan Yuli kompak.


Steven mengangguk kecil dan memberanikan diri untuk memberitahukan berita kematian sopirnya.


“Ada, sesuatu yang sangat mengejutkan,” jawab Steven lirih..


“Nak, katakan saja apa yang terjadi. Kamu bicara seperti ini membuat mami takut,” ucap Yuli dengan menyentuh dadanya.


Steven mengatur napasnya terlebih dulu sebelum mengatakan sesuatu yang mengejutkan kedua orangtuanya.


“Galih...” ucap Steven yang menggantungkan ucapannya.


“Iya Galih kenapa nak?” tanya Yuli semakin penasaran.


“Galih telah meninggal dunia,” jawab Steven lirih.


“Prakkk!”


Mariska yang sedang membawa minuman dingin terkejut dan menjatuhkan gelas yang sedang dibawanya.

__ADS_1


Gadis itu terjatuh lemas di tanah bahkan kedua lututnya berdarah akibat gesekan tanah yang mengenai lututnya.


“Mariska!” teriak Steven dan kedua orangtuanya. Lalu, segera membantu Mariska.


“Sini nak mami bantu!” Yuli mencoba membantu keponakannya berdiri.


“Lepas!” teriak Mariska seketika itu air matanya mengalir deras membasahi pipinya.


“Kak Steven jangan mengatakan hal yang tidak mungkin, Coneh pasti sedang mengerjai kita saja. Coneh tidak mungkin melupakan janjinya untuk Mariska!” teriak Mariska yang tidak terima dengan kematian dari Galih.


Para pelayan yang mendengar teriakkan Mariska terkejut dan terus memandang ke arah Mariska dan juga majikannya.


“Hiks... hiks... Galih tidak mungkin meninggal,” ucap Mariska.


“Kalian bohong kan? Mana mungkin Galih meninggal! Galih masih punya janji sama Mariska yang belum ditepati. Cepat katakan kalau ini hanya candaan kalian saja!” teriak Mariska dan mengabaikan luka di kedua lututnya.


Para pelayan akhirnya tahu alasan mengapa Mariska menangis, mereka terkejut dan sangat sedih atas meninggalnya Galih.


“Kamu harus terima kenyataan Mariska, Galih sudah meninggal,” ucap Steven berusaha menyakinkan adik sepupunya yang belum terima atas kematian sopirnya.


Mariska menyentuh kepalanya yang terasa sangat pusing perlahan penglihatannya menjadi kabur dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Steven menggendong Mariska dan membawanya ke dalam kamar agar adik sepupunya bisa beristirahat.


“Kalian bereskan semuanya!” perintah Adam dan mengikuti putranya.


“Baik tuan besar!”


“Azizah!” panggil Yuli.


“Masuk saja mi!” seru Azizah.


Yuli masuk dan melihat menantunya menangis di dalam sambil menyusui Farhan.


“Bagaimana dengan Mariska mi?” tanya Azizah.


“Mariska tidak sadarkan diri.”


“Azizah kasihan dengan Mariska mi, ternyata Allah berkehendak lain,” ucap Azizah sambil menghapus air matanya.


“Allah lebih sayang Galih nak, kedepannya Mariska perlahan-lahan bisa melupakan Galih. Sepertinya hubungan Mariska dan Galih sangatlah dekat,” balas Yuli.


“Galih juga pria yang baik mi, Azizah masih ingat betul saat insiden waktu itu.”


Steven ternyata menyusul sang istri dan masuk ke dalam.


“Sayang, kamu dan Farhan segera ke kamar ya! Jenazah Galih akan diantar malam ini juga,” jelas Steven.


“Iya sayang!”


Mereka pun pergi meninggalkan pondok kecil.


Azizah dan bayinya kini telah berada di kamar, Steven tidak mengizinkan untuk sang istri keluar membawa Farhan kecil.

__ADS_1


Steven dan lainnya sibuk untuk menyambut kedatangan jenazah Galih sementara Mariska masih di dalam kamar tak sadarkan diri.


Pemakaman jenazah Galih akan dilaksanakan besok pagi tepat tanggal 1 Januari.


“Nak, kita hanya tinggal menunggu mobil ambulans datang. Kamu sebaiknya menemani istri dan juga bayimu!” pinta Yuli.


“Tapi mi...”


“Ikuti saja permintaan mami!”


“Baik mi, Steven akan kembali ke kamar.”


Steven segera bergegas menuju kamar untuk menemani istri dan juga bayinya.


“Sayang!” panggil Steven dan melihat istrinya sedang berbaring bersama Farhan.


Azizah hanya menatap sang suami dengan tatapan sedih.


“Aku tahu kamu akan sangat sedih sayang,” ucap Steven sambil menghampiri Azizah dan naik ke ranjang.


“Bagaimana dengan Mariska sayang?” tanya Azizah.


“Dia masih belum sadarkan diri, aku berharap untuk malam ini Mariska jangan bangun sampai besok pagi.”


“Apakah orang panti asuhan sudah dihubungi?” tanya Azizah.


“Belum sayang, rencananya aku akan mengatakannya besok saja. Lagipula ini sudah malam.”


“Lebih baik beritahu saja sekarang, bukankah pengurus panti asuhan termasuk orang dekat Galih?”


“Baiklah, aku akan memberitahukannya sekarang.”


Steven mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi pengurus panti asuhan Jannah.


Beberapa menit kemudian.


“Mereka akan hadir besok pagi sayang, mereka kini akan mengadakan do'a bersama di panti asuhan untuk galih.”


Azizah memeluk tubuh suaminya.


“Aku takut akan ada Diandra lainnya yang melakukan hal mengerikan seperti itu suamiku, aku sangat takut kejadian itu akan terulang lagi. Apalagi saat pemberitaan media yang terus menayangkan berulang kali tentang insiden itu,” ucap Azizah.


“Kamu tenang saja ya sayang, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi. Media-media yang menayangkan kejadian itu sudah tidak akan bisa lagi menayangkannya.”


Azizah langsung menatap sang suami dengan penuh kebingungan.


“Aku sudah membayar mereka dan jika sampai hal itu terjadi lagi, aku akan menuntut mereka sayang,” jelas Steven.


Aku berharap jangan lagi ada Galih kedua, ketiga dan seterusnya yang mengalami nasib buruk seperti ini.


Ya Allah berikanlah Mariska ketabahan dan hamba mohon kenangan pahit ini jangan sampai terulang lagi.


Azizah memejamkan matanya hingga ia pun tertidur. Steven memperbaiki posisi tidur istrinya dan ikut tertidur juga dengan posisi dipinggir sementara bayi mereka di tengah.

__ADS_1


__ADS_2