
Mobil yang dikendarai oleh Steven telah memasuki halaman rumah, pria blasteran itu dengan tak sabaran melangkahkan kakinya untuk segera menemui sang istri.
“Sayang!” Steven tersenyum senang melihat wajah istrinya.
“Akhirnya suamiku pulang juga, aku sangat rindu sayang,” ucap Azizah begitu manja.
Mariska yang melihat keromantisan suami istri itu langsung bergegas pergi, ia tidak mau mengganggu keromantisan mereka.
“Tumben di ruang keluarga,” ucap Steven dan memangku Azizah.
Azizah tersenyum dan mencium pipi Steven, “Karena aku merasa bosan di dalam kamar terus sayang.”
Steven tidak berpikir sejenak, pria blasteran itu tidak ingin jika sang istri keluar rumah.
“Bagaimana kalau kita buat sate ayam sayang!”
“Sate ayam? maksudnya sayang?” tanya Azizah penasaran.
Steven menjelaskan maksudnya, seharusnya rencana untuk bakar-bakar sate ayam dilaksanakan besok malam. Namun, berhubung istri tercintanya mengatakan bosan akhirnya Steven memajukan rencananya.
“Bagaimana apakah istriku setuju?” tanya Steven.
Wah, membayangkan saja sudah membuat air liurku meronta-ronta untuk menikmati sate ayam. Tentu saja aku setuju.
“Setuju!” seru Azizah sambil mengangkat kedua tangannya.
“Istriku ini semakin lama semakin cantik,” puji Steven.
“Pasti ada maunya ini,” celetuk Azizah karena melihat wajah suaminya yang begitu bahagia.
Steven mengecup pipi sang istri berulang kali dan mengajak istri tercintanya untuk kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, Steven langsung mengganti pakaiannya agar lebih leluasa bergerak.
“Sayang, kamu sudah minum susu?” tanya Steven.
“Belum sayang, aku belum sempat untuk minum susu,” jujur Azizah karena sedari tadi ia sibuk menonton film tentang kerajaan.
Steven tak bertanya lagi, justru pria itu keluar dari kamarnya.
Apakah suamiku marah?
Rasanya tidak mungkin ia marah hanya gara-gara aku belum minum susu.
Azizah duduk di ranjang sambil terus menatap pintu kamar berharap suaminya kembali masuk menemani dirinya.
Beberapa menit kemudian.
Steven masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu untuk sang istri.
“Ya ampun sayang, aku kira kamu meninggalkan aku sendirian rupanya membuatkan aku susu,” ucap Azizah.
Pria itu tersenyum sambil menghampiri sang istri yang sedang duduk di ranjang.
__ADS_1
“Lain kali jangan sampai telat untuk minum susu, sekarang minum susunya ya sayang!” Steven berkata dengan sangat lembut kemudian membelai rambut wanita yang sangat dicintainya.
Sebelum menghabiskan susu khusus ibu hamil, Azizah berinisiatif untuk mencium bibir suaminya.
“Muach.. terima kasih sayang!”
Steven menyentuh bibirnya sendiri dan membalas ciuman dari sang istri bahkan ciuman itu cukup lama.
Usai berciuman Azizah menyentuh bibirnya yang terasa bengkak.
“Kamu terlalu bersemangat sayang,” ucap Azizah dan mulai meneguk susu sampai habis.
“Bersemangat kepada istri sendiri tidak apa-apa sayang, kamu harus ingat bahwa aku harus sering memanjakan mu sayang untuk membantu proses kelahiran mu nanti,” jelas Steven kemudian tersenyum menyeringai.
“Dasar mesum, bukankah setiap malam kamu selalu memintanya,” ucap Azizah kemudian tertawa kecil.
“Ayo kita lakukan sekarang!” ajak Steven bersemangat.
“Aku baru saja minum susu sayang,” ucap Azizah sambil menunjuk gelas yang sebelumnya terisi susu ibu hamil
“Baiklah, kita lakukan nanti sore saja sebelum acara bakar sate dimulai.”
“Memangnya ayam untuk membuat sate sudah dibeli sayang?” tanya Azizah, “Dan bahan-bahan yang lain, alat untuk membakar sudah dipersiapkan?” tanya Azizah lagi.
Steven menepuk dahinya, ia benar-benar untuk untuk persiapan acara bakar sate.
Untungnya saja, istri tercintanya memberitahukan dirinya.
Tak ingin menunggu lama, Steven langsung mengirim pesan singkat kepada sang sopir.
“Sayang!” panggil Azizah agar sang suami mendekat ke arahnya.
“Ada apa sayangku?” tanya Steven kemudian membelai lembut rambut panjang istrinya.
“Peluk!” pinta Azizah sambil merentangkan kedua tangannya.
Mendengar permintaan manja dari istrinya langsung membuat gairah Steven memuncak, pria itu kemudian mendekap tubuh Azizah dan mulai menghujani wajah sang istri dengan ciumannya.
“Sayang, aku hanya meminta di peluk loh,” ucap Azizah berusaha menjauhkan tubuh sang suami dari dirinya.
Steven terus saja menikmati kegiatannya, justru ia malah semakin gairah dan kini mulai turun menciumi leher putih milik sang istri bahkan tak segan-segan Steven memberikan tanda kepemilikan di leher putih istrinya.
Azizah sudah tidak bisa menghentikan sang suami jika sudah seperti itu, ia pun mulai mengikuti permainan cinta dari suaminya.
***
Siang itu Galih pergi ke pasar bersama Mariska dan seorang pelayan yang berumur sekitar 40 tahunan. Mereka bertiga sedang mencari bahan-bahan serta alat untuk acara bakar sate yang akan diadakan pada malam hari di halaman belakang.
Sesampainya di pasar.
“Ayo Coneh! kamu juga harus ikut!” ajak Mariska.
“Siap Ceneh!”
__ADS_1
Wanita yang berada di kursi tengah terkejut dengan panggilan aneh mereka berdua. Namun, ia juga tidak berani untuk bertanya apalagi ia hanya seorang pelayan.
“Kita beli apa saja bi?” tanya Mariska penasaran yang sudah berada di luar mobil bersiap-siap untuk masuk ke dalam pasar.
“Sebaiknya kita terlebih dahulu beli alat bakar nona!” seru si pelayan.
“Ya sudah tunggu apa lagi, kita berangkat!”
Mereka berdua langsung memasuki pasar, pasar itu sangat besar dan buka sampai jam 7 malam.
2 jam kemudian.
Akhirnya belanjaan mereka sudah lengkap, Mariska ternyata belum ingin pulang justru ia ingin menikmati mie ayam yang menjadi makanan favorit Mariska sejak pertama kali mencicipi mie ayam sekitar pasar.
“Ayo bi, ikut Mariska! Mariska akan mengajak bibi untuk menikmati mie ayam!” ajak Mariska dengan semangat.
“Saya takut nona Mariska,” jawabnya.
“Takut kenapa bi? kak Steven tidak akan memarahi bibi. Lagipula Mariska yang mengajak bibi!” Tak ingin ajakannya ditolak, Mariska menggenggam lengan sang pelayan dan menuntunnya untuk ikut menikmati mie ayam.
Melihat tingkah Mariska, Galih geleng-geleng kepala dan tertawa kecil.
Mariska tetaplah Mariska, gadis yang apa adanya.
Warung mie ayam itu dari kejauhan saja sudah terlihat sangat ramai. Bahkan, Mariska mempercepat langkahnya takut-takut kalau mie ayam itu habis.
“Pak mie ayamnya masih ada tidak?” tanya Mariska.
“Masih mbak,” jawab penjual mie ayam.
“Mie ayam 3 campur bakso 3 mangkok yang pak! Es jeruk 3!” seru Mariska yang terlihat tidak sabaran untuk menikmatinya.
“Siap mbak!”
“Ditunggu ya pak,” ucap Mariska lagi.
“Oke mbak, siap deh!” seru penjual mie ayam.
Mariska tersenyum dan mencari kursi kosong.
“Ayo kita duduk disana!” ajak Mariska.
Tak butuh waktu lama akhirnya pesanan Mariska datang. Mereka menikmati mie ayam bersama-sama.
“Enak nona Mariska!”
“Mariska kan sudah bilang kalau mie ayam disini enak, ya kan Coneh!” seru Mariska kemudian Galih mengangguk.
Usai menikmati mie ayam, mereka langsung pulang ke rumah untuk mempersiapkan acara bakar sate.
**
Mampir juga ya di novel author yang lain berjudul “Abraham Dan Asyila” 😘😘
__ADS_1