
Mendengar bahwa Mariska telah ditemukan membuat Adam Walker dan Yuli Walker memutuskan untuk segera datang ke Indonesia.
1 tahun mereka menanti dan mencari keberadaan Mariska sang keponakan, akhirnya membuahkan hasil karena kegigihan Steven yang tak pernah berhenti menyerah mencari Mariska.
“Alhamdulillah, Mariska keponakan kita telah ditemukan Pi. Mami mengira Mariska kita tidak akan pernah ditemukan," ucap syukur Yuli.
“Iya sayang, sekarang kita sudah bernafas lega,” sahut Adam.
Sepasang suami istri itu sedang berbincang-bincang diatas permukaan laut, ya! mereka saat ini sedang berada di pesawat pribadi milik Adam Walker.
Steven mendapat kabar bahwa kedua orangtuanya sebentar lagi akan mendarat.
“Heru! cepat ke Bandara orangtuaku sebentar lagi sampai,” ucap Steven.
“Baik Tuan muda, saya segera kesana.”
Steven mengawasi Mariska dari kejauhan, pintu sengaja dibuka sedikit untuk melihat apa saja yang sedang dilakukan Mariska di kamar. Mariska ternyata duduk melamun di ranjangnya, pandangannya sangat kosong.
Ketakutan saat mengingat kembali tentang kebakaran yang menewaskan kedua orangtuanya akibat kelalaiannya.
Saat itu Mariska sedang menyalakan lilin, tak sengaja lilin yang sedang ia pegang malah terjatuh dan dengan cepat membakar bahan yang mudah terbakar. Mariska bisa menyelamatkan diri namun kedua orangtuanya yang sedang tertidur dikamar akhirnya tewas mengenaskan.
“Papa, Mama! Maafkan Mariska, Mariska bersalah.” Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh gadis remaja berumur 16 tahun.
Steven merasa sangat kasihan, hidupnya sebatang kara sama seperti Azizah.
Setidaknya Mariska lebih beruntung masih ada dirinya dan kedua orangtuanya yang perduli dengan Mariska.
Sedangkan Azizah tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Steven menghubungi Azizah, ia ingin mengajak Azizah datang ke rumah.
“Hallo sayang, 2 jam lagi aku akan menjemputmu! pakailah gaun yang telah aku siapkan dikamar."
“..........”
“Oke sayang, I Love you gadis bodohku.”
Setelah menghubungi nomor Azizah, Steven kembali ke ruang kerjanya sambil menunggu kedatangan Adam dan Yuli.
Azizah dengan semangat berlari ke kamar Steven, ia sangat penasaran gaun seperti apa yang telah disiapkan oleh Steven.
Saat membuka pintu kamar Steven terlihat kotak besar di atas ranjang ukuran King size milik kekasihnya itu.
Sebaiknya aku buka dikamar saja, sekalian membersihkan diri.
Gadis itu lalu membawa kotak berukuran besar ke kamarnya, dengan cepat ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Heru duduk di jejeran kursi Bandara menanti majikannya itu.
Hampir 20 menit ia menunggu, namun kedua orang tua itu belum juga terlihat.
“Heru!!”
Heru merasa ada orang yang memanggilnya, ia pun menoleh kesana-kemari.
“Heru!!” Panggil Adam.
“Maaf Tuan besar,” ucap Heru.
“Dari tadi kami memanggil kamu,” ucap Adam kesal.
“Sudahlah Pi,” ucap Yuli. Yuli kemudian tersenyum kepada Heru. “Kamu angkat barang kita ya Heru,” ucap Yuli lembut.
“Baik nyonya besar,” sahut Yuli.
Sikap Steven menurun dari sang Ayah yaitu Adam Walker, beda sekali dengan Yuli yang lembut dan sabar.
“Apakah Mariska baik-baik saja?” tanya Yuli pada Heru yang sedang menyetir.
“Saya kurang tahu nyonya besar,” sahut Heru.
“Ya sudah, kamu teruskan menyetirnya.”
“Baik nyonya besar.”
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil mereka memasuki pekarangan rumah anak mereka yang begitu luas bunga-bunga yang terlihat cantik terawat.
Para pelayan berbaris rapi menanti kedatangan Adam Walker dan Yuli Walker.
“Selamat datang Tuan besar dan Nyonya besar,” sapa para pelayan membungkuk memberi salam.
“Dimana Mariska?” tanya Yuli.
“Nona Mariska ada dikamar,” sahut kepala pelayan.
“Baiklah, kalian ambil cinderamata untuk kalian di bagasi mobil! kami akan menemui Mariska,” ucap Yuli.
“Terima kasih Tuan besar dan nyonya besar.”
Yuli mengandeng tangan suaminya, hatinya sangat gelisah saat berjalan menuju kamar.
“Mariska!" panggil Yuli dan memeluk keponakannya.
“Mami! Hiks..hiks.. Mariska salah Mi,” ucap Mariska, ia sangat dekat dengan Yuli.
“Kamu kemana saja Mariska? kamu tahu kan kami mencari kamu selama setahun ini,” ucap Yuli.
“Iya Mariska, kamu kemana saja? Mami kamu bahkan menangis jika mengingat kamu,” ucap Adam.
Mariska melepaskan pelukan Yuli, ia menunduk dengan air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
“Mami, Papi! kalian sudah tiba,” ucap Steven dan memeluk Adam lalu mencium pipi Yuli.
“Sudah, kami baru saja tiba,” sahut Yuli.
“Kenapa tidak menyambut kedatangan kami?” tanya Adam.
“Maaf, Steven tadi sedang mengurusi berkas diruang kerja,” ucap Steven jujur.
“Sekarang bagaimana? Apakah pekerjaanmu telah selesai?” tanya Adam.
“Sudah Pi,” balas Steven.
“Sekarang kita sudah disini, Mariska ceritakan ya nak! kamu selama ini kemana saja?” tanya Yuli.
Mariska lalu mendongakkan kepalanya.
“Mariska selama ini...” ucap Mariska lirih.
“Ayo ceritakan! Mami janji tidak akan marah,” ucap Yuli. Meyakinkan Mariska agar menceritakan kemana saja dirinya selama ini.
“Mariska selama ini tinggal di Banten Mi, Mariska disana bekerja sebagai pemulung,” ucap Mariska.
Adam dan Steven melongo sangking terkejutnya, sementara Yuli langsung menangis sejadi-jadinya.
Keponakan satu-satunya pergi dan bahkan menjadi pemulung.
“Kenapa kamu tidak menemui kami?” tanya Adam penasaran.
“Mariska takut masuk penjara Pi,” ucap Mariska ketakutan.
Yuli kembali memeluk Mariska, kenapa keponakannya itu bisa berpikir seperti itu.
“Kamu tidak akan pernah masuk penjara Mariska, kamu tidak bersalah,” tegas Yuli.
Mariska merasa lega, meski tetap saja ia merasa bersalah karena kecerobohannya.
Yuli menenangkan Mariska dengan sifat keibuannya.
Setelah 1 jam berbincang-bincang akhirnya Mariska kembali seperti Mariska yang dulu gadis ceria meski belum sepenuhnya.
Steven merasa ada sesuatu yang ia lupakan.
“Oh tidak, Steven ada janji dengan seseorang.
Steven pergi dulu,” ucap Steven dengan cepat ia mengambil kunci mobil dan pergi menuju apartemen.
Hampir saja aku melupakan Azizah, untunglah masih ada waktu 30 menit.
Steven Akhirnya sampai di apartemen, diparkirnya mobil mewah miliknya.
Dengan langkah tergesa-gesa Steven menuju apartemennya.
“Sayang!!” panggil Steven lagi.
Berulang kali Steven memanggil kekasihnya itu namun tidak ada Jawaban.
“Sayang!” panggil Steven dan membuka pintu kamar Azizah.
Azizah terkejut dengan kedatangan Steven.
“Kenapa tidak mengetuk dulu?” tanya Azizah kesal.
“Maaf, dari tadi aku panggil kamu tidak menyahut,” ucap Steven.
“Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu,” ucap Azizah yang masih memakai baju kasual.
“Baiklah,” sahut Steven dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Sambil menunggu sang kekasih berganti pakaian, Steven menyibukkan diri menonton televisi.
Azizah membuka kotak berukuran besar itu, betapa terkejutnya saat melihat gaun berwarna putih. Tak lupa ada high heels berwarna senada dengan gaunnya.
Ini sangat cantik, sebenarnya apa yang direncanakan oleh Steven?
Dengan cepat Azizah memakai gaun putih itu, ia bahkan tercengang dengan dirinya sendiri.
Ia memoles wajahnya dengan make up tipis Dan tak lupa lipstick berwarna pink menghiasi bibir manisnya.
Azizah lalu memakai high heels yang cukup tinggi.
Benar-benar sangat cantik, bahkan aku tidak mengenali diriku sendiri.
“Sudah belum sayang?” tanya Steven dibalik pintu.
“Sudah sayang,” sahut Azizah. Ia pun berjalan menghampiri Steven.
Steven terkejut saat Azizah membuka pintu, Azizah saat itu benar-benar terlihat sempurna.
“Wow.. Sempurna,” puji Steven.
Steven mendekatkan wajahnya ke arah bibir Azizah, namun dengan cepat Azizah menghindari ciuman Steven.
“Ada apa sayang?” tanya Steven.
“Aku sudah berdandan seperti ini, aku tidak ingin memakai lipstick lagi,” ucap Azizah sambil memanyunkan bibirnya.
“Muuuuacchh.” Steven mencium pipi Azizah.
“Kalau pipi boleh kan sayang?” tanya Azizah.
“Buat apa menanyakan? kamu sudah mencium ku terlebih dahulu,” kesal Azizah.
__ADS_1
Steven melebarkan senyumnya, ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kita mau kemana?” tanya Azizah penasaran.
“Sudah jangan banyak tanya, nanti kamu juga tahu sendiri,” ucap Steven dan menggandeng tangan Azizah.
Azizah semakin penasaran, sebenarnya apa yang direncanakan oleh Steven.
Saat telah Tiba didalam mobil,
Ia pun diam dan duduk manis tepat disamping Steven.
Steven membuatku penasaran, Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?
Ya Allah berasa dag dig dug begini.
Azizah penasaran dan bingung saat mobil yang dikendarai oleh kekasihnya itu masuk ke pekarangan rumah besar dan mewah.
Rumah itu sangat mencolok dari rumah-rumah yang lain bahkan besarnya hampir seperti apartemen.
“Ini rumah siapa sayang?” tanya Azizah yang masih di dalam mobil.
“Rumah ku dan sebentar lagi rumah kamu juga sayang,” ucap Steven.
Azizah langsung ciut, ia tidak pernah membayangkan bahwa rumah Steven sebesar itu.
Bahkan terlihat sekali beberapa penjaga berpakaian hitam berdiri sekitar rumah itu.
“Kamu kenapa?” tanya Steven.
“Rumah kamu besar sekali sayang, aku tidak berani masuk ke dalam,” ucap Azizah.
“Kenapa tidak berani? ayo kita turun,” ucap Steven. Steven keluar dan membukakan pintu untuk Azizah.
“Ayo sayang!” ucap Steven mesra.
Dengan ragu-ragu Azizah pun mengikuti ucapan Steven.
“Selamat datang Tuan muda,” sapa para pelayan.
Steven mendelik tajam ke arah para pelayan.
“Apakah kalian hanya menyapa saya? perkenalkan ini calon istriku Azizah,” tegas Steven.
“Selamat datang Tuan muda dan nona Azizah,” sapa mereka kembali.
Azizah merasa tak pantas diperlakukan layaknya majikan, ia pun membalas sapaan mereka dengan senyum semanis mungkin.
“Ayo sayang kita masuk!” ajak Steven dan berjalan sambil memeluk pinggang Azizah.
Adam dan Yuli yang sedang duduk di ruang keluarga terkejut melihat Steven membawa seorang gadis cantik.
“Steven! ini siapa?” tanya Adam dan Yuli.
“Perkenalkan ini Azizah, calon istri Steven,” ucap Steven bangga.
“Selamat datang Azizah, kamu sangat cantik,” puji Yuli.
“Pilihan kamu sangat tepat,” puji Adam.
“Terima kasih atas pujiannya,” sahut Azizah.
“Panggil kami Papi dan Mami seperti Steven.”
“Baik, Papi dan Mami,” ucap Azizah malu-malu.
”Karena Azizah sudah datang, kita sekalian makan bersama oke!" ajak Yuli.
“Ayo sayang!!” ajak Steven.
Azizah sangat senang, Kedua orangtua Steven menerimanya. Bahkan sangat baik.
“Panggil Mariska kemari!!” ucap Yuli pada kepala pelayan.
“Baik nyonya besar,” sahut kepala pelayan.
Sebelum kepala pelayan itu sampai ke kamar, Mariska terlebih dahulu keluar kamar.
“Ada apa?” tanya Mariska pada kepala pelayan.
“Nona Mariska dipanggil nyonya besar untuk makan bersama.”
“Baiklah,” sahut Mariska dan berjalan keruang makan.
Mereka yang sedang bersenda gurau langsung menghentikan aktivitas mereka.
“Sini sayang!” panggil Yuli.
“Hai semuanya,” sapa Mariska.
Mariska mengernyitkan keningnya, ia menatap bingung ke arah Azizah.
“Kamu siapa?” tanya Mariska penasaran.
“Ini Azizah, sebentar lagi dia akan menjadi kakak ipar kamu Mariska,” jelas Steven.
“Perkenalkan aku Mariska, adik sepupu kak Steven.” Mariska senang sekali, akhirnya ia akan segera memiliki kakak ipar.
Tak ada kesulitan untuk mendekati keluarga Steven, Azizah yang awalnya merasa ciut kini telah percaya diri.
Like❤️ komen👇Vote😭😅
__ADS_1