Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 108


__ADS_3

Azizah tersipu malu-malu di dalam mobil.


Ia mengingat kejadian saat suaminya mencium bibirnya.


Sementara Steven senang karena dengan kejadian itu, semua orang tahu bahwa ia begitu mencintai Azizah Cahyani.


“Kamu masih memikirkan yang tadi istriku?” tanya Steven sambil menahan senyumnya.


“Tidak.” Azizah mengelak.


“Tapi mengapa wajahmu memerah seperti itu?”


“Hentikan!” perintah Azizah.


Azizah menutup wajahnya ia benar-benar sangat malu.


Suamiku benar-benar senang menggodaku.


Bagaimana jika aku digosipkan yang tidak-tidak, tapi ada sedikit rasa bangga karena Steven menunjukkan cintanya kepadaku di depan orang. Tapi tetap saja itu membuatku malu dan menjadi pusat perhatian orang banyak.


Steven tak bisa menahan tawanya ia tertawa kecil lalu menarik tubuh istrinya ke arah dadanya, ia memeluk sambil memainkan rambut istrinya.


“Dengan suamimu sendiri tidak perlu malu istriku,” bisik Steven karena tak ingin terdengar oleh Galih.


“Bagaimana aku tidak malu kamu menciumiku di depan orang banyak,” balas Azizah dengan berkata lirih.


“Biarkan saja, aku melakukannya agar mereka tahu siapa aku dan siapa kamu istriku.”


Tapi apa harus mencium segala?


Alasanmu benar-benar hebat suamiku.


Kamu kenapa?” tanya Steven melihat istrinya tersenyum.


“Tidak ada apa-apa,” balas Azizah.


“Galih kita lewat jalan tembus saja!” perintah Steven.


“Baik tuan muda!” seru Galih.


Azizah tiba-tiba dilanda ngantuk, ia kembali menyandarkan kepalanya ke dada suaminya kemudian tertidur.


Steven tahu jika istrinya mengantuk. Ia lalu memeluk tubuh istrinya agar tidak terjatuh.


“Selamat tidur istriku ❤️,” bisik Steven.


°°°°°


Akhirnya mereka sampai di kediaman Steven Walker.


Galih dengan cepat keluar mobil untuk membukakan pintu untuk majikannya, Steven tak membangunkan istrinya ia menggendong tubuh Azizah ala Bridal Style.


Galih berdecak kagum melihat perlakuan Steven kepada istrinya.


Tuan muda benar-benar sangat mencintai nyonya muda, nyonya muda beruntung memiliki tuan muda dan sebaliknya.


Bodyguard yang ingin memberikan salam tak diizinkan oleh Steven, ia menggeleng keras saat bodyguard ingin membuka suara membuat mereka menundukkan kepalanya.


Bukannya menaiki lift Steven malah berjalan menaiki tangga menuju kamar, ia sengaja melakukannya hitung-hitung olahraga malam karena beberapa hari yang lalu ia belum sempat berolahraga di tempat kebugaran tubuh langganannya.

__ADS_1


Azizah merasakan gerakan yang berulang kali membuat terbangun dan terkejut karena suaminya menggendong dirinya.


“Sayang lepaskan!” pinta Azizah.


Steven sedikit terkejut karena istrinya malah terbangun namun ia tak menurunkan istrinya malah terus melanjutkan perjalanan menuju kamar dirinya dan Azizah.


“Suamiku! kamu akan lelah jika menggendongku seperti ini sekarang turunkan aku!” pinta Azizah.


“Tidak!” tegas Steven sambil terus melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


“Aku mohon sayang, turunkan aku!” pinta Azizah karena tak ingin suaminya kelelahan akibat menggendong dirinya.


“Baiklah!” seru Steven dan menurunkan istrinya.


Steven menyadarkan tubuh Azizah ke tembok membuat Azizah tak bisa leluasa bergerak.


Azizah langsung gugup melihat senyum suaminya yang sudah pasti itu adalah senyum mesum.


“Ka..kamu mau apa sayang?” tanya Azizah gugup.


“Coba tebak!” pinta Steven.


Azizah bingung ia berusaha menelan Salivanya dengan sekuat tenaga namun rasanya benar-benar sulit seperti menelan kerikil batu yang begitu banyak.


“Kita pemanasan disini ya sayang,” bisik Steven.


“Apaa?” tanya Azizah terkejut.


“Disini sebentar saja!”


Steven tak ingin berlama-lama ia langsung menyerang istrinya dengan ciumannya membuat Azizah tak bisa mengontrol nafasnya. Steven terus bermain di mulut istrinya dan membuat melenguh kecil.


Tak tahan Steven pun menggendong tubuh istrinya dengan posisi Azizah menghadap ke arahnya, bukannya berhenti ciuman itu terus berlanjut sampai ke kamar. Untungnya para pelayan tidak berada disekitar mereka.


Steven melepaskan gendongannya dan menidurkan Azizah di ranjang.


Mereka lalu melakukan aktivitas suami istri, entah beberapa kali Steven melancarkan aksinya.


“Terima kasih istriku!” ucap Steven.


Seperti biasa jika sudah selesai melakukan hubungan suami istri, Steven selalu mengucapkan terima kasih.


Azizah tersenyum manis lalu mengangguk kecil.


“Aku sangat mengantuk,” ucap Azizah.


“Baiklah, ayo tidur aku juga mengatur!”


Kediaman Sutomo Ginanjar


Tubuh Azizah kecil mengalami demam tinggi.


Dimas bingung apa yang harus ia lakukan, apalagi saat mendengar suara tangisan anaknya itu membuat ia begitu khawatir.


“Kamu kenapa Azizah? kenapa demam kamu belum turun nak!” ucap Dimas yang sibuk menggendong anaknya yang berumur beberapa bulan itu.


“Oek... oek... oek...”


“Azizah sayang, jangan menangis ya nak!” pinta Dimas.

__ADS_1


Ida yang masih terjaga sambil menunggu Sutomo pulang dari restoran akhirnya menghampiri Dimas dan cucunya di kamar.


“Dimas, bisakah ibu masuk?” tanya Ida di balik pintu.


“Masuk saja Bu! tidak Dimas kunci!” seru Dimas.


Ida mendekat ke arah cucunya yang digendong oleh Dimas, ia menyentuh kening Azizah kecil. Ida terkejut dan dengan berhati-hati ia menggendong bayi itu.


“Dimas, Azizah badannya sangat panas sekali. Obat yang kemarin seperti tidak cocok untuk Azizah,” terang Ida.


“Dimas juga berpikir seperti itu Bu,” balas Dimas.


“Ayo nak kita bawa Azizah ke dokter!”


“Baik Bu, lalu ayah bagaimana?”


“Ayah nanti bisa menyusul kalau kita belum kembali dari rumah sakit.”


Dimas pun dengan cepat pergi ke rumah sakit terdekat di sekitar rumah.


15 menit kemudian.


Akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit. Untungnya rumah sakit itu buka 24 jam,


Dimas dan Ida dengan cepat melangkahkan kaki mereka agar segera bertemu dengan dokter.


“Selamat malam! ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang perawat.


“Tolong periksa cucu saya mbak, Azizah dari tadi badannya panas padahal sudah minum obat,” keluh Ida.


Perawat itu dengan segera membayar mereka menemui dokter setelah melakukan prosedur pendaftaran, dokter dengan cepat menangani keadaan Azizah.


“Bisa jelaskan bagaimana anak tuan bisa seperti ini!” pinta dokter itu.


“Kemarin anak saya minum obat yang saya beli dengan merk ********.”


“Apakah itu sesuai resep dari dokter?” tanya dokter itu memastikan.


“Tolong Dokter jelaskan sebenarnya apa yang terjadi!” pinta Dimas yang penasaran.


Dokter itu langsung merubah wajahnya seperti orang yang sedih sekaligus bingung.


“Dokter!” panggil Dimas.


“Putri anda sepertinya mengalami keracunan tuan, karena di masih terbilang sangat kecil jadi sangat sulit untuk membuang racun diperutnya.”


Dimas syok mendengar yang dikatakan dokter, ia bahkan mengeluarkan keringat dingin.


Ida yang baru saja dari toilet menghampiri dokter dan Dimas yang terlihat ketegangan diantara mereka.


“Ada apa dokter?” tanya Ida yang belum mengetahui tentang demam cucu nya itu.


Dokter pun menjelaskan secara rinci sementara Dimas terdiam tak mengeluarkan suara sedikitpun pandangannya begitu kosong.


Ida yang tak dapat menahan kesedihannya berjalan mendatangi Azizah yang nampak begitu lemas, tangannya dipasang jarum dan keringatnya mengucur dengan deras.


“Azizah cucu nenek, kamu harus sembuh,” ucap Ida sambil membelai lembut rambut cucu nya.


Like ❤️ komen 👇 Vote ya teman-teman

__ADS_1


__ADS_2