
Paris memiliki segudang tempat yang begitu indah sejauh mata memandang, Azizah tak henti-hentinya mengagumi keindahan kota itu.
“Bagaimana kalau kita pergi ke sana?” tanya Azizah menunjuk tempat yang begitu banyak orang sedang menikmati es krim.
“Jangan kesana sayang, kalau kamu mau es krim lebih baik kita cari tempat yang khusus menjual es krim jangan beli di tempat terbuka seperti itu,” tolak Steven.
“Tidak! aku mau pergi menikmati es krim di sana!” tegas Azizah.
Steven menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tak menyetujui permintaan istrinya.
“Azizah bergelayut manja di lengan suaminya, ia sangat ingin sekali es krim itu.”
“Baiklah tapi jangan banyak-banyak!”
Azizah melompat senang karena suaminya mau menuruti keinginannya.
Steven menemani Azizah menikmati es krim nya, ia tidak senang tatapan pria disekitar tempat itu yang menatap tertarik ke arah istrinya.
“Muaccch!” Steven mencium sekilas bibir istrinya yang sedang menikmati es krim.
“Sayang kamu apa-apaan? ini di tempat publik bukan di hotel,” ucap Azizah lalu memukul lengan suaminya.
“Biarkan saja, aku paling tidak suka jika ada yang memandangi istriku ini!” tegas Steven.
Azizah tertawa kecil karena suaminya cemburu.
Baru juga tertawa, Azizah langsung mengubah raut wajahnya menjadi masam saat beberapa wanita berkedip genit ke arah suaminya dan dengan beraninya mereka datang menghampiri Azizah dan Steven.
Azizah merasa tersingkirkan saat dua wanita menggeser tubuhnya menjauhi Steven.
“Salut beaute! (Hai tampan!)” sapa mereka.
Azizah mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasanya ingin sekali ia menendang wanita-wanita yang mendekati suaminya.
“Puis-je apprendre a te connaltre? (Boleh kenalan?” tanya mereka.
Steven mengabaikan wanita-wanita itu lalu berjalan mendekati Azizah yang sedang cemburu, Steven mendekat ke bibir Azizah dan ******* bibir seksi Azizah.
“Relugnant!” tegas Steven pada wanita-wanita yang menggodanya dan menarik tangan Azizah meninggalkan tempat itu.
Azizah nampak kesal dengan suaminya yang terus menuntunnya pergi, ia pun menepis tangan suaminya saat dirasa jauh dari tempat mereka tadi.
“Lepaskan!” tegas Azizah.
Steven berbalik dan memeluk tubuh istrinya.
Azizah mengelak dari pelukan suaminya dan melangkahkan kakinya menjauhi suaminya itu.
“Sayang!” panggil Steven sambil melangkahkan kakinya ke arah istrinya.
“Berhenti disitu! jangan dekat-dekat.”😤
“Baiklah, aku diam disini!”
Steven berdiri sambil terus menatap wajah istrinya yang terlihat begitu masam.
__ADS_1
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Azizah mengintrogasi suaminya.
“Aku tidak membicarakan apapun kepada mereka!” seru Steven dengan melangkahkan kakinya ke arah istrinya.
“Jangan mendekat!” tegas Azizah.
Steven menarik nafasnya dalam-dalam, ia pun menuruti perintah istrinya itu.
“Lalu tadi itu apa setelah mencium ku?” tanya Azizah penasaran.
“Aku berkata kepada mereka menjijikkan, hanya itu saja. Sumpah!”
Azizah menatap jeli ke arah mata suaminya barang kali suaminya berkata dusta namun sedikit pun ia tak menemukan kebohongan dari mata suaminya.
“Benarkah?” tanya Azizah.
“Benar istriku! untuk apa aku berbohong? mendapatkan mu saja sangat sulit untukku dan tidak mungkin aku berkata dusta,” terang Steven.
“Kalau begitu peluk aku!” pinta Azizah dengan membentangkan kedua tangannya.
Steven tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat dan dengan cepat memeluk tubuh Azizah, mereka berdua tak perduli dengan pandangan disekitar tempat itu.
“Apa kau tahu aku tidak suka jika ada wanita yang mendekatimu?” tanya Azizah yang masih berada di pelukan suaminya.
“Kamu juga harus tahu Istriku, bahwa aku sangat tidak suka kalau ada yang melihatmu sedetik saja!” tegas Steven.
“Cekrek.... Cekrek...”
Seseorang dari kejauhan memotret suami istri itu.
Siapa pria disana?
Apakah mungkin hanya perasaanku saja bahwa ia memotret aku dan suamiku?
Mungkin aku salah lihat!
“Sayang, aku lelah,” ucap Azizah.
“Baiklah ayo kita kembali ke hotel!” ajak Steven.
Pria blasteran itu terus menggenggam erat tangan istrinya sesekali ia mengecup punggung tangan Azizah dan juga pipi merona istrinya.
Azizah terpaku pada apa yang dilihatnya, anak kecil berusia sekitar 2 tahun berjalan gontai dan berlari kecil. Steven mengernyitkan dahinya karena istrinya berhenti dan fokus melihat sesuatu, ia pun mengikuti ke arah mata istrinya memandang.
“Apakah kamu ingin memiliki anak lucu seperti itu sayang?” tanya Steven sambil mencolek dagu Azizah.
Azizah membulatkan matanya dengan sempurna, “Kamu ini bicara apa sayang?” tanya Azizah balik.
“Aku membicarakan fakta, ayo kita buat baby!” ajak Steven.
“Dasar mesum!” ucap Azizah lalu memukul bahu suaminya.
Steven terkekeh geli karena istrinya selalu mengatakan ia mesum.
“Aku mengatakan mesum dan kamu malah tertawa,” ucap Azizah kesal.
__ADS_1
“Aku sudah pernah mengatakan, bahwa aku mesum terhadapmu saja Istriku,” ucap Steven menekankan kata istriku.
Azizah terdiam, bagaimanapun yang dikatakan oleh suaminya memang benar.
Daripada ia mesum dengan wanita lain itu lebih berbahaya.
“Ya sudah ayo ke hotel! perutku sangat lapar.”
Azizah memasang ekspresi seimut mungkin dan mengelus-elus perutnya yang rata.
“Baiklah istriku ayo!”
Steven menuntun istrinya pergi menuju hotel, dari kejauhan sudah ada seseorang yang menanti mereka dengan mobil.
“Ayo sayang!” ajak Steven untuk memasuki mobil.
Steven memang tak langsung bergegas menuju hotel, ia meminta sopir untuk mengelilingi kota Paris sebentar agar istrinya itu merasa senang sekaligus bahagia.
“Wah tempat itu sangat cantik suamiku!” ucap Steven menunjuk pada salah satu tempat permainan.
“Lain kali kita akan kesana istriku, masih banyak tempat yang harus kita kunjungi!” seru Steven.
“Berapa lama kita di Paris?” tanya Azizah penasaran.
“3 bulan atau sampai kamu benar-benar hamil sayang!”
Azizah terperangah mendengar ucapan suaminya, dengan gamblangnya mengatakan hal seperti itu untungnya saja sang sopir tidak mengetahui apa yang di ucapkan oleh pria blasteran itu.
3 bulan bukankah waktu yang sebentar suamiku, meski aku menyukai tempat ini.
Tetap saja Indonesia lah tempat yang nyaman bagiku.
Semoga saja aku cepat hamil agar cepat kembali ke Jakarta.
Azizah mengelus-elus perutnya yang rata disusul oleh Steven.
“Hentikan sayang! nanti sopir itu melihat kita!” perintah Azizah kesal.
“Aku hanya menyentuh perutmu sayang, lagipula di negara bebas tidak hanya perut yang lainnya sudah bisa disentuh di tempat umum,” sahut Steven santai.
Azizah menutup telinganya rapat-rapat, suaminya itu benar-benar sangat mesum.
Kamu membuatku semakin bergairah Istriku,
semakin hari aku semakin ingin memakan mu.
1 jam kemudian.
Akhirnya sampailah mereka di hotel, Azizah dengan cepat meminta suaminya untuk memesan makanan.
Sebenarnya bisa saja ia dan suaminya makan diluar, namun mengingat kejadian tadi saat para wanita mendatangi suaminya, Azizah merasa kesal dan memutuskan untuk makan di hotel saja.
😅 Wajarlah cemburu... wkwkw..
Vote 🙏😂 like ❤️ komen 👇
__ADS_1