Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 136


__ADS_3

Di Inggris.


Malam hari.


Adam Walker beserta keluarga yang lain tengah menunggu kedatangan Steven dan juga Azizah, mereka berharap kedatangan sepasang suami istri itu membuat Teressa bisa sembuh.


Entah apa yang di dalam pikiran Teressa, ia menolak untuk dirawat di RS dan malah ingin tetap tinggal di rumah meski keadaannya sudah tidak memungkinkan.


Steven dan Azizah sudah berada di mobil menuju ke kediaman Adam Walker, terlihat sekali wajah gelisah dari pria blasteran itu.


Azizah terus menggenggam tangan suaminya berharap bisa mengurangi kegelisahan dari suaminya.


Untuk pertama kalinya Azizah datang ke Inggris dan menemui mertuanya serta keluarga yang lain, ia terkesima saat mobil yang ia naiki bersama sang suami masuk ke halaman yang begitu luas.


Rumah yang begitu besar namun tetap saja rumah suaminya yang lebih besar.


Mobil telah berhenti artinya mereka telah sampai ke tempat tujuan, sang sopir dengan cepat berlari keluar dan membukakan pintu untuk Steven dan Azizah.


“Ayo istriku!” ajak Steven sambil mengulurkan tangannya


“Iya suamiku!” seru Azizah.


Azizah menyambut tangan suaminya, mereka lalu berjalan memasuki rumah tersebut.


“Nenek tidak di rumah sakit?” tanya Azizah.


“Tidak sayang, mami dan papi mengatakan bahwa nenek menolak untuk di rawat di RS,” jelas Steven.


Adam dan Yuli terlihat sekali begitu menantikan suami istri itu, mereka memeluk bergantian dan membawa Azizah dan Steven ke kamar Teressa.


“Malam papi dan mami!” sapa Azizah.


“Malam juga nak,” ucap suami istri itu dengan kompak.


“Nenek dimana Pi?” tanya Steven pada sang ayah.


“Ada di dalam kamar nak,” sambung sang ibu yaitu Yuli.


“Bicaralah dengan nenekmu nak! sudah beberapa hari ini ia menyebutkan namamu dan Azizah!” ucap Adam.


Steven dan Azizah masuk ke dalam kamar Teressa, terlihat sudah ada Mariska dan Lucy yang berdiri tak jauh dari ranjang Teressa.


Teressa berbaring di atas ranjang itu.


Steven menatap sedih ke arah sang nenek, ia menggenggam tangan istrinya dan berjalan mendekati nenek Teressa.


Azizah tiba-tiba teringat dengan mimpinya, rasanya ia ingin sekali pergi menjauhi Teressa.


Bukan karena ia benci atau tidak senang, melainkan ia takut jika mimpinya malah menjadi kenyataan.


“Nenek,” ucap Steven lirih dan mencium pipi kanan serta kiri Teressa.

__ADS_1


“Nek ini Azizah,” ucap Azizah lirih dan mendekatkan dirinya disisi ranjang tempat Teressa membaringkan tubuhnya.


Teressa hanya menatap sepasang suami istri itu, tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Steven dan Azizah telah berada disini nek,” ujar Steven sambil terus menggenggam tangan sang nenek.


Mariska dan Lucy berdiri tak jauh dari Adam dan Yuli, mereka terlihat begitu sedih saat sepasang suami istri itu berbicara kepada Teressa.


“Nenek cepat sembuh ya!” ucap Steven yang mulai mengeluarkan air mata.


“Iya nek, nenek harus sembuh,” sambung Azizah.


Melihat suaminya menangis, Azizah seakan-akan tak berdaya.


Tubuhnya gemetar dan akhirnya ia pun menangis disusul yang lainnya.


“Ja.. jangan me.. menangis,” ucap Teressa berat.


Wajah Teressa begitu pucat, kulit keriputnya juga terlihat sangat pucat.


Ia hanya tersenyum tipis kepada Steven dan Azizah.


Tangan Teressa mengarah pada Azizah, dengan cepat Azizah mendekatkan telinganya ke arah mulut wanita tua itu.


“Nenek ingin mengatakan sesuatu, katakanlah nek!” ucap Azizah.


“Ma.. maafkan ne...nek ya azi..zah.” Teressa mengucapkan seakan-akan itu adalah kalimat terakhir untuk cucu menantunya itu.


Azizah tak dapat berkata-kata, ia menangis sesenggukan membuat yang lain menangis sejadi-jadinya.


“Ja..ga..lah Azizah,” ucap Teressa.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Teressa langsung memejamkan mata untuk selamanya.


“Nek... nenek bangun!” pinta Steven.


“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un,” ucap mereka begitu berat hati.


Takdir akhirnya datang memanggil Teressa untuk menghadap Sang Maha Kuasa.


Mereka menangis tersedu-sedu atas meninggalnya Teressa.


“Nenek bangun!” teriak Steven.


Yuli menangis di pelukan suaminya, Mariska dan Lucy pun menangis sejadinya.


Ternyata Teressa memang menunggu kedatangan Steven dan Azizah yang berada di Paris agar ia bisa istirahat dengan tenang.


Ya Allah jadi mimpi Hamba benar, nenek meninggalkan kami.


Azizah tak dapat berkata-kata sepatah katapun, ia terus saja menangis melihat Teressa yang sudah tak bernyawa.

__ADS_1


Steven memeluk tubuh renta Teressa yang sudah tak bernyawa, ia menangis sambil terus memanggil neneknya itu.


“Kenapa nenek pergi secepat ini Nek?” tanya Steven yang masih belum terima atas kepergian neneknya.


Azizah tak ingin suaminya bersedih, ia pun menggeserkan tubuhnya mendekati Steven.


“Sayang ini sudah takdir Allah,” ucap Azizah lalu memeluk tubuh suaminya agar suaminya dapat tenang.


Adam berusaha tegar atas meninggalnya sang ibu, ia menghampiri Teressa dan mencium pipi keriput sang ibu.


“Mami yang tenang di Surga, kami yakin mami sudah bersama dengan papi,” ucap Adam yang masih terus menangis.


Yuli berjalan menghampiri suaminya, langkahnya begitu berat untuk sampai mendekati suaminya.


Langkah demi langkah terasa sangat sakit, ia belum sanggup kehilangan Teressa yang sudah ia anggap seperti ibu kandung sendiri.


“Hiks... hiks... mami,” ucap Yuli berat.


Lucy berjalan menjauh dan segera menghubungi keluarganya yang berada di Turki untuk segera datang ke Inggris.


Teressa sendiri adalah bibi Lucy, meski begitu sedari kecil Lucy sudah menganggap Teressa sebagai ibu kandungnya.


Mariska menyusul Lucy yang sudah berada di luar pintu kamar.


“Teyze menghubungi siapa?” tanya Mariska yang masih menangis.


“Teyze menghubungi keluarga di Turki agar segera kemari, teyze tahu mereka pasti tidak sempat menghubungi kerabat jauh,” ucap Lucy.


Mariska menangis dan memeluk tubuh Lucy, ia begitu sedih menyaksikan kepergian nenek Teressa.


Di dalam kamar, Azizah merasakan pusing yang teramat sakit namun ia tak berani mengatakan kepada yang lainnya karena posisi saat itu sedang berduka atas meninggalnya nenek Teressa.


Kepala ku sakit sekali, rasanya benar-benar pusing.


Sebaiknya aku tahan dan jangan memberitahukan kepada yang lain termasuk Steven, karena ini bukan waktu yang tepat untukku mengadukan rasa sakit ku ini.


Azizah berjalan menjauh dan menyadarkan tubuhnya di kursi, kepalanya terasa begitu berat belum lagi ia merasa mual yang semakin membuatnya lemas.


Ia terus saja memijat keningnya yang teramat pusing.


Steven hanya menoleh sekilas ke arah istrinya namun tidak menghampiri istrinya itu, ia masih berdiam di sisi sang nenek.


Ia ingat dengan pesan terakhir sang nenek yaitu menjaga Azizah.


Nenek tenang saja, Steven akan menjaga Azizah selama sisa umur Steven.


Nenek yang tenang disurga!


Steven berusaha untuk menenangkan dirinya, ia harus tegar sebagai laki-laki apalagi kini ia telah menjadi seorang suami.


🍃🍃🍃

__ADS_1


Selamat jalan nenek Teressa 😭


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭


__ADS_2