Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 207


__ADS_3

Di ruang keluarga.


Kedua orangtuanya Steven, keponakan, para bodyguard dan pelayan berkumpul untuk mengetahui nama bayi mungil Azizah dan juga Steven.


“Papi dan mami. Terima kasih karena kalian telah membesarkan Steven selama ini, Steven tidak bisa sepenuhnya membalas perjuangan kalian selama ini. Tapi, sebagai putra kalian Steven berjanji akan terus menghormati papi dan mami. Sekarang Steven telah menjadi seorang ayah, bayi laki-laki Steven dan Azizah bernama Farhan yang artinya gembira. Farhan Walker juga akan menjadi penerus dari Steven,” terang Steven.


Mereka semua bertepuk tangan atas nama yang sangat indah diberikan oleh anggota baru di rumah itu.


“Nama bayi kalian sangatlah bagus nak,” ucap Yuli.


Adam tersenyum bangga dan memeluk tubuh putra tunggalnya.


“Kak! bolehkah Mariska bertemu dengan Farhan kecil?” tanya Mariska dengan semangat.


“Boleh, ayo aku akan menemanimu menemui bayi kami!” ajak Azizah.


Sementara Azizah dan Mariska pergi ke kamar. Steven dan kedua orangtuanya berbincang-bincang di ruang keluarga.


Para pelayan dan bodyguard kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


Azizah masuk ke dalam kamar, tampak wajah Mariska yang tak sabaran ingin menemui Keponakannya.


“Bayi Farhan mana kak?” tanya Mariska.


“Itu di ranjang bayi,” ucap Azizah sambil menunjuk ke bayi mungilnya yang sedang tertidur pulas.


Mariska dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya mendekati ranjang bayi.


“Kak Azizah, bolehkah Mariska menggendongnya?” tanya Mariska berharap diizinkan.


“Boleh, sebentar biar kak Azizah gendong terlebih dahulu. Kamu tunggu saja di kasur!”


“Siap kak!” seru Mariska.


“Anak mamah masih bobo ya nak, Farhan mau mimik?” tanya Azizah sambil menggendong tubuh bayi mungilnya.


Tiba-tiba mata Farhan kecil terbuka seolah tahu bahwa sang ibu menggendongnya.


“Ugh... ugh..” Mulut kecil bayi mungil itu terbuka mencari put*ng sang ibu.


“Anak mamah kok bangun? mau mimik ya sayang?” tanya Azizah.


Azizah menidurkan bayi kecilnya di ranjang dan segera menyusui bayinya.


“Kamu tunggu sebentar ya Mariska, Farhan ternyata sangat haus!” pinta Azizah.


“Siap kak, kak Azizah tenang saja. Mariska akan setia menunggu adek Farhan tersayang,” sahut Mariska.


Akhirnya Farhan kecil menghentikan aktivitasnya menyusu, Azizah pun memberikan bayinya ke gendongan Mariska.


“Gendonglah pelan-pelan, bayi sangat senang jika diayunkan dengan sangat lembut,” ucap Azizah dengan suara yang begitu lirih takut bayi mungil itu terbangun.

__ADS_1


Mariska tak percaya bahwa dirinya telah berhasil menggendong keponakannya sendiri.


Jadi rasanya seperti ini menggendong bayi, ya ampun lucu sekali.


“Bagaimana, apakah kamu senang?” tanya Azizah.


“Sangat senang kak, bayi ini sangat lucu!”


Steven tiba-tiba masuk kamar dan terkejut melihat Mariska yang menggendong bayinya.


Mata Steven mendelik tajam, Mariska tambah terkejut karena ketahuan telah menggendong keponakannya.


“Kak Azizah, ini ambilah bayi kakak!” pinta Mariska yang ketakutan.


Steven mendekat menghampiri Azizah dan juga Mariska.


“Lain kali harus lebih berhati-hati menggendong keponakan mu!” pinta Steven.


Mariska yang awalnya ketakutan akhirnya bernapas lega, rupanya kakak sepupunya mengizinkan ia untuk menggendong bayi mungil itu.


“Bisa tinggalkan kami berdua!” pinta Steven.


“Te..tentu saja kak, kalau begitu Mariska pergi sekarang!” seru Mariska dan pergi meninggalkan kamar.


Azizah hanya bisa geleng-geleng melihat apa yang dilakukan oleh sang suami.


“Apakah Farhan sudah minum ASI sayang?” tanya Steven kemudian mengecup kening Azizah.


“Alhamulillah sudah sayang, Farhan kita sekarang malah tidur karena kekenyangan,” sahut Azizah.


“Tentu saja aku setuju sayang, hal seperti itu yang memang wajib kita lakukan,” sahut Azizah.


~


Mariska melihat jam ditangannya yang sudah waktunya bagi ia pergi mengunjungi Galih di rumah sakit.


Hampir setiap hari Mariska tak pernah absen untuk mengunjungi pria yang selalu menemani dirinya dan menjadi teman curhatnya.


“Mami, papi! Mariska pergi dulu ya!”


“Kamu hati-hati ya nak, jangan pulang malam-malam!” seru Adam dan juga Yuli.


“Siap!” seru Mariska dengan memberikan hormat kepada Adam dan juga Yuli.


Mariska pergi ditemani oleh pak Min yang tak lain adalah bodyguard penjaga rumah.


“Berangkat pak!”


“Siap nona!”


Mariska tidak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan Galih, gadis itu sangat rindu melewatkan harinya bersama Coneh panggilannya untuk Galih.

__ADS_1


Aku rindu saat kita pergi ke pasar dan menikmati mie ayam bersama-sama Coneh.


Aku tahu kamu juga pasti rindu dengan suasana kebersamaan kita, tidakkah kamu ingat bahwa sebentar lagi adalah saat yang kita tunggu-tunggu?


Air mata Mariska seketika itu juga menetes membasahi pipinya, ia tidak sanggup lagi mengingat kenangannya bersama Galih.


Pak Min yang sedang mengemudikan mobil hanya bisa diam saja tanpa harus bertanya, toh ia juga sering melihat Mariska menangis saat akan pergi menemui Galih yang terbaring di rumah sakit.


Mariska akhirnya tertidur di dalam mobil karena kelelahan menangis.


1 Jam kemudian.


Mobil mereka akhirnya tiba di area parkir.


“Nona Mariska bangun! kita sudah sampai!” panggil Pak Min.


Mariska terkejut dan melihat ke arah sekitarnya.


“Kita sudah sampa ya pak, kalau begitu Mariska turun dan pak min..”


“Diam disini, benar kan nona Mariska?” tanya Pak Min yang memotong ucapan Mariska.


Mariska menjentikkan jarinya.


“Benar, sekali!” seru Mariska dan turun dari mobil seorang diri.


Gadis itu dengan langkah tergesa-gesa menuju ruangan Galih dirawat.


Aku akan terus bersabar untuk menunggumu sembuh Coneh.


5 menit kemudian.


Mariska akhirnya sampai ke ruangan dimana Galih di rawat.


“Sore Coneh!” sapa Mariska dengan semangat.


Mariska kemudian menghampiri Galih dengan duduk di kursi dekat ranjang.


“Hai Coneh, kamu ternyata belum juga sadarkan diri. Tau tidak, tadi aku menggendong bayi kak Azizah dan juga kak Steven. Bayi itu bernama Farhan Walker yang nantinya akan jadi penerus kak Steven,


Seperti biasa, Mariska akan menceritakan kegiatannya selama berada di rumah.


Itu ia lakukan agar Galih bisa mendengar apa yang ia katakan dan mau bangun dari komanya.


“Sekarang, bisakah kamu bangun untuk bersama-sama melihat bayi Farhan?


Saat kamu melihatnya, aku yakin kamu ingin menggendongnya!”


“Coneh! sekali-kali gantian kamu yang bercerita tentang kehidupanmu atau apa saja yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengarkannya!”


Tiba-tiba air mata Mariska kembali menetes.

__ADS_1


“Hiks... hiks... Coneh kapan kamu akan sadarkan diri? Apa kamu tidak bosan mendengar aku terus-menerus bercerita? Aku rindu saat kamu memanggilku Ceneh, bangunlah Coneh!”


Mariska menggenggam tangan Galih dan terus menangis tak henti-hentinya berharap pria yang sedang terbaring itu segera sadarkan diri.


__ADS_2