
Steven menatap lekat istrinya yang tertidur beralaskan pada lengannya, wajah polos Azizah yang murni di pagi hari membuat cantiknya makin terlihat, Steven senang sekali mengingat pergulatan dengan dirinya dan Azizah di malam hari membuatnya ingin lagi dan lagi menggauli istrinya.
Dikecupnya kening Azizah berulang kali sampai membuat Azizah terbangun.
“Pagi Istriku!!” sapa Steven yang terus menatap wajah Azizah.
“Bolehkan aku tidur kembali?” tanya Azizah kemudian ia memeluk tubuh suaminya.
“Tidak boleh, ayo kita mandi bersama!” ajak Steven.
“Aku sangat lelah, semalam kamu terlalu buas,” ucap Azizah sambil memejamkan mata berharap ia kembali tertidur.
“Bagaimana kalau aku mau lagi?” tanya Steven santai.
Sontak Azizah terbangun dan menjauh dari sisi suaminya itu terlihat jelas bagian atas Azizah yang begitu polos membuat Steven bergairah.
“Kamu menggodaku sayang!” ucap Steven.
Azizah menatap aneh ke arah mata Steven ia pun tersadar apa yang dilihat oleh suaminya.
Dengan cepat Azizah memakai piyama dan berjalan secepat mungkin untuk sampai ke kamar mandi.
Suamiku ini benar-benar, sebaiknya aku segera mandi.
Steven terkekeh kecil melihat kelakuan istrinya ia pun bergegas mengambil handuk dan menyusul istrinya.
“Sayang! kok pintunya ditutup?” tanya Steven yang ingin mandi bersama sang istri.
Azizah tak menghiraukan panggilan suaminya ia tetap melanjutkan aktivitas mandinya itu.
“Azizah sayang!” panggil Steven lagi berharap pintu kamar mandi dibuka.
“Apa?” tanya Azizah sedikit berteriak di dalam kamar mandi.
“Aku ingin buang air kecil, cepat buka pintunya!” seru Steven.
“Ceklek”
Steven sedikit kecewa ia pikir akan mandi bersama sang istrinya rupanya sang istri malah telah selesai mandi.
“Ya sudah sana mandi, aku sudah selesai,” ucap Azizah.
“Bisakah kamu mandi lagi sayang?” tanya Steven dengan raut wajah dibuat sedih.
“Tidak... wekkk!” seru Azizah sambil menjulurkan lidahnya dan menjauhi suaminya.
Steven memanyunkan bibirnya dan masuk ke kamar mandi dengan ekspresi yang dibuat-buat kesal.
1 jam kemudian.
Azizah dan Steven turun menuju ruang makan. Adam, Yuli dan Teressa telah berada di meja makan terlebih dahulu.
“Selamat pagi mami, papi dan nenek!” sapa Azizah dengan memberikan senyum semanis mungkin.
“Pagi juga menantu mami!” seru Yuli.
“Berhubung kalian sudah disini, ayo kita sarapan!” ajak Teressa.
“Baik nek!” seru Azizah.
Suami istri itu pun duduk berdampingan di meja makan.
“Jadi kapan kalian berencana memiliki anak?” tanya Teressa.
Azizah yang sedang mengunyah makanan sontak terkejut membuat dirinya tersedak.
__ADS_1
“Uhuk...uhukk...”
“Ini diminum sayang!” ucap Steven sedikit panik karena istrinya tersedak sambil memberikan segelas air.
“Mami kita lagi makan, sebaiknya kita nikmati sarapan ini!” pinta Yuli.
“Baiklah, maafkan nenek ya Azizah!” ucap Teressa.
“Tidak apa-apa nek!” seru Azizah.
Apa ini tidak terlalu cepat? maksudku aku dan suamiku baru saja menikah dan nenek sudah membicarakan soal anak, padahal aku dan Steven belum membahas masalah anak sebelumya.
Jadi begini rasanya menikah, saat berpacaran pasti akan ditanya kapan menikah, giliran sudah menikah pasti akan ditanya kapan punya anak.
“Sayang! ayo dimakan!” ajak Steven.
“Iya,” sahut Azizah.
Selesai makan Steven dengan cepat mengajak Azizah pergi.
“Ayo sayang kita pergi!” ajak Steven.
“Loh mau kemana?” tanya Teressa.
“Ada hal penting yang harus Steven kerjakan nek dan Steven ingin mengajak Azizah juga!” seru Steven.
“Baiklah kalian hati-hati.”
Setelah pamit kepada kedua orangtuanya dan nenek Steven pun pergi, sedikit ada rasa lega pada hati Azizah karena bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh Teressa.
“Terima kasih sayang,” ucap Azizah sambil menundukkan kepala.
“Masalah yang tadi jangan kamu pikirkan ya istriku, sekarang kita pergi ke galery!” ajak Steven.
Disepanjang jalan menuju galery Azizah terus menempel pada suaminya ia memeluk tubuh suaminya Steven tak merasa risih sedikitpun justru ia sangat senang istrinya bisa bermanja-manja seperti itu.
“Tuan muda!” panggil Heru yang sedang menyetir.
“Ada apa?” tanya Steven.
“Saya tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini,” terang Heru.
Azizah terkejut namun ekspresi dari suaminya justru berbeda dari ekspresi dirinya.
“Katakan alasannya!” perintah Steven.
“Ibu saya meminta saya untuk berhenti, beliau ingin saya menemaninya,” terang Heru.
“Baiklah!” seru Steven santai.
Azizah yang masih memeluk suaminya dengan cepat melepaskan pelukannya.
“Pak Heru jika berhenti dari sini lalu di Bandung pak Heru bekerja apa?” tanya Azizah penasaran.
“Saya ada usaha kecil-kecilan dari gaji yang telah diberikan tuan muda kepada saya nyonya muda!” seru Heru.
“Pak Heru yakin mau berhenti?” tanya Azizah memastikan.
“Saya sudah yakin nyonya muda apalagi ini adalah permintaan ibu saya,” ujar Heru.
Azizah mengangguk pelan, “Semoga pak Heru dan orang tua pak Heru bisa bahagia di Bandung!”
“Terima kasih nyonya muda, saya juga berharap agar nyonya muda dan tuan muda menjadi suami istri yang sakinah, mawadah dan warahmah.”
“Kapan kamu akan berhenti?” tanya Steven.
__ADS_1
“Rencana besok tuan muda.”
“Baiklah, besok kamu harus antarkan saya ke perusahaan!”
“Baik tuan muda!”
Heru besok sudah berhenti, jujur dia adalah sopir yang berdedikasi tinggi. Sangat sulit mendapatkan bawahan seperti Heru.
Steven merasa sedikit sedih tapi mau bagaimana lagi ia juga tak bisa mencegah Heru.
“Sudah sampai tuan muda dan nyonya muda!” ucap Heru yang telah sampai di Galery Azizah.
“Terima kasih Heru!” seru Steven dan keluar mobil diikuti oleh Azizah.
Heru tersenyum lebar saat mendengar kata yang sangat jarang diucapkan oleh majikannya itu kepadanya.
“Selamat datang tuan muda dan nyonya muda!” sapa para karyawati.
“Kalian teruskan pekerjaan kalian!” perintah Steven dengan wajah datarnya.
“Baik tuan muda dan nyonya muda kami permisi!”
Azizah berjalan sambil melihat-lihat sekitar galery itu, banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja.
“Sayang! banyak sekali pelanggan kita,” ucap Azizah.
“Karena pakaian disini adalah pakaian kekinian dan aku jamin harganya tidak terlalu mahal serta kualitas bagus,” terang Steven.
“Jiwa bisnis suamiku ternyata tidak hanya di perusahaan, properti tapi juga di bisnis seperti ini.”
Tidak hanya bisnis ini saja yang kamu ketahui istriku ada lagi bisnis yang lain.
“Apalah aku harus kemari setiap hari?” tanya Azizah.
“Tidak perlu, aku tidak ingin istriku ini kelelahan.”
“Lalu bagaimana aku bisa mengontrol pemasukkan dan pengeluaran?” tanya Azizah.
“Disini aku mempekerjakan orang-orang yang profesional.”
“Aku mendapatkan kabar jika Mike datang ke Magetan dan membawa kedua orangtuanya.”
“Benarkah?” tanya Steven yang memang tidak mengetahui hal itu.
“Ya, Yana sendiri yang memberitahukan kepada ku, mereka juga akan menikah bulan depan di Magetan,” terang Azizah.
“Aku pikir Mike akan mengadakan pernikahan di Amerika.”
“Kenapa suamiku berpikir seperti itu? Mike mengambil keputusan yang tepat dan bisa dikatakan ia juga begitu mencintai sahabatku,” balas Azizah.
“Daripada kita membahas mereka lebih baik kita naik ke atas!” ajak Steven sambil membisikkan ke telinga Azizah.
“Jangan bilang...”
“Ayolah sayang!” potong Steven.
“Baiklah, hanya 1 ronde saja!” seru Azizah.
“Kita lihat saja nanti,” ucap Steven dan menuntun istrinya naik ke atas sambil merangkul pinggang ramping Azizah.
Bersambung...
Vote.. 😭😭
Like ❤️ juga..
__ADS_1