Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 21


__ADS_3

Dimas Ginanjar menghubungi nomor Azizah namun nomornya selalu diluar jangkauan, datang mengunjungi rumahnya namun hasilnya nihil. Dimas berpikir sangat keras kemana Azizah selama beberapa hari ini tak pernah memberikan kabar.


"Kamu kemana sayang? jangan membuatku khawatir" gumam Dimas yang sedih tak mengetahui keberadaan Sang kekasih.


"Dimas, tolong Ayah angkat meja disana!!" Pinta Sutomo Ginanjar.


"Iya Yah".


Dimas mengangkat satu-persatu sayuran yang baru saja dibeli salah satu karyawan restoran.


"Dimas, hari ini Ayah kenalkan kamu dengan anak sahabat Ayah. Dia gadis yang sangat cantik dan pintar" Ucap Sutomo memuji anak Sahabatnya.


"Tidak perlu Yah, Aku tidak tertarik" Tolak Dimas.


"Sekali ini saja, kamu pasti menyukainya" Ucap Sutomo meyakinkan Sang Putra.


"Aku sudah memiliki Azizah. Dan tidak membutuhkan gadis manapun selain dirinya" Tegas Dimas.


"Apa yang kamu katakan tadi? kamu masih saja berhubungan dengan gadis miskin itu? sadar Dimas, dia itu tidak pantas untuk keluarga kita" Ucap Sutomo yang tak suka dengan Azizah.


"Cukup, jangan pernah merendahkan Azizah lagi. Bagaimanapun Azizah adalah kekasih aku. Dan dia akan menjadi istri aku" Tegas Dimas.


Dimas pergi meninggalkan Sang Ayah, Ia tak perduli apa yang dipikirkan oleh Ayahnya itu. Baginya Azizah adalah segalanya.


"Gara-gara gadis itu kamu berani menentang Ayahmu ini, Sampai kapanpun Aku Sutomo Ginanjar tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua. Sampai kapanpun" Gumam Sutomo.


Dimas melajukan mobilnya sangat kencang, emosi dihatinya tidak kunjung padam. Mendengar orang yang dicintainya dihina habis-habisan oleh Sang Ayah.


Brakkkk...


"Sialan, Aku menabrak seseorang" Ucap Dimas lalu segera keluar dari mobil.


Orang yang ditabrak Dimas yang tak lain Monicha hanya mengalami luka lecet di kakinya.


"Awww.. sakit" Rintih Monicha yang menunduk kesakitan pada kakinya.


"Maaf aku tidak sengaja, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Dimas khawatir.


Monicha langsung menoleh ke arah Dimas, ternyata orang yang menabrak dirinya adalah Dimas Ginanjar pria yang akan dijodohkan dengan dirinya.


"Sakit sekali" Balas Monicha.


"Lagi-lagi kamu" Ucap Dimas kesal.


"Hai kau tidak lihat kakiku sekarang terluka untuk yang kedua kalinya, dan ini gara-gara dirimu. Sebaiknya kamu bertanggung jawab atau aku akan berteriak" Ancam Monicha.


"Bertemu denganmu membuatku sial" Ketus Dimas lalu memapah Monicha berdiri.


"Aww.. pelan-pelan kamu tidak lihat kakiku berdarah" Rintih Monicha.


"*Sangat sial kenapa harus bertemu wanita ini lagi, sangat menyebalkan" Gumam Dimas.


"Tak Masalah kakiku terluka, yang penting aku bisa selalu bersama denganmu calon suamiku" Batin Monicha*.


Dimas melajukan mobilnya menuju klinik terdekat di daerah itu, Monicha dengan bangganya menyibakkan rok mininya agar terlihat paha mulus miliknya.

__ADS_1


"Turunkan Rok mu itu, jangan harap aku tertarik dengan wanita murahan seperti dirimu" Ucap menohok Dimas pada Monicha yang terlihat sangat murahan.


"Apa maksudmu, Aku hanya ingin membersihkan kotoran yang menempel pada rok ku ini. mata mu itu yang sangat tak tahu malu melihat-lihat pahaku ini" Balas Monicha santai.


"Terserah kamu saja" Ucap Dimas sambil memutar matanya yang jengah dengan kelakuan Monicha.


Tiba di sebuah klinik terdekat di daerah itu, Dimas membantu memapah Monicha. Monicha sangat pintar mengambil kesempatan, dipeluknya tubuh Dimas kuat-kuat. Dimas tidak menolak namun juga tidak mengiyakan, yang terpenting agar segera ditangani luka wanita yang Ia tabrak.


"Lukanya tidak terlalu besar, Saya sudah menutupi dengan perban. 3-5 hari perbannya sudah boleh dibuka" Ucap seorang perawat.


"Terima kasih" Balas Dimas.


"Perkenalkan namaku Monicha" Ucap Monicha sambil mengeluarkan tangan kanannya.


"Dimas" Ucap Dimas dingin tanpa membalas jabatan tangan dari Monicha.


Monicha berpikir keras bagaimana Seorang Dimas Ginanjar bisa tertarik dengan dirinya, lalu dia menyusun rencana untuk menarik perhatian dari Seorang Dimas Ginanjar.


"Hoek..hoekk" Monicha berpura-pura mual.


"Kamu kenapa?" Tanya Dimas agak khawatir.


"Hoek..hoekk".


"Bicaralah, Apa kamu hamil?" Tanya Dimas polos.


"Sepertinya penyakit lambung aku kambuh lagi, dari tadi aku belum makan. niat tadi ingin makan malah kamu tabrak" Ucap Monicha dengan wajah sesedih mungkin.


Akhirnya Dimas Ginanjar pun luluh, Ia merasa sangat bersalah gara-gara Dia. Wanita itu mengalami kejadian seperti ini.


"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan dirimu. Aku takut kamu akan bicara aku sebagai wanita murahan lagi" Sahut Monicha sedih.


"Maafkan Aku, sekarang lupakan hal tadi. Aku berjanji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi" Ucap Dimas serius.


Monicha sangat senang, ternyata sangat mudah membuat Dimas luluh terhadap dirinya. Dimas mengajak Monicha untuk makan. Namun tidak sampai disitu Monicha lagi-lagi mengeluarkan jurus jitunya.


"Tanganku seperti sangat sakit, memegang sendok saja susah. Kalau pakai tangan kiri tidak berdosa kan Dimas?" Tanya Monicha pura-pura polos.


"Jangan pakai tangan kiri, biar aku saja yang membantu dirimu makan" Ucap Dimas lalu mengambil sendok ditangan Monicha dan menyuapinya.


"Terima kasih Dimas, maaf aku telah merepotkan dirimu" Ucap Monicha dengan tampang memelas.


"Sudah jangan banyak bicara, cepat kunyah!!" Perintah Dimas.


Monicha hanya tersenyum lebar kepada Dimas, wajah cantiknya tidak dapat menipu mata Dimas. jika dibandingkan dengan Azizah, Azizah lah yang lebih cantik namun soal body Monicha lah pemenangnya.


"Wanita ini jika tersenyum ternyata cantik juga, Ya Tuhan ada apa denganmu Dimas? sadarlah kamu telah memiliki kekasih bahkan lebih cantik dari wanita ini namun tubuhnya seperti menarikku, tolong aku Tuhan". Batin Dimas dengan menelan Saliva nya kasar-kasar.


"Makanlah obat ini!!" Ucap Dimas lalu memberikan bungkusan berisi obat.


"Apaan ini?" Tanya Monicha bingung.


"Bukankah lambung kamu tadi sakit? jadi cepat minum obat ini!!" Pinta Dimas.


"O..obat ya, ti..tidak usah" Tolak Monicha dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Kenapa tidak usah?" Tanya Dimas heran.


"Begini, aku dari dulu tidak menyukai minum obat. jadi tidak perlu lagipula aku sudah sembuh karena makan" Balas Monicha yang tak ingin ketahuan telah berbohong.


"Jadi begitu, lain kali kamu jangan sampai telat makan" Ucap Dimas perhatian.


"Terima kasih kamu telah perhatian terhadapku" Balas Monicha dengan memberikan suara selembut mungkin.


Monicha lagi-lagi berhasil menarik perhatian dari Dimas.


"Dimas aku pulang dulu ya!" Ucap Monicha.


"Jangan pulang sendiri biar aku saja yang antarkan dirimu".


"Tidak perlu repot-repot aku bisa pulang sendiri" Tolak Monicha.


"Aku bilang antarkan berarti aku harus antarkan kamu" Tegas Dimas.


"Baiklah kalau tidak merepotkan dirimu aku mau" Balas Monicha.


Dimas dan Monicha kini telah didalam mobil, Monicha sengaja pulang berlawanan arah agar berlama-lama bersama Dimas dimobil.


"Sepertinya dari tadi kita hanya berputar-putar" Ucap Dimas yang dari tadi tak kunjung Sampai ke tempat tujuan.


"Mm.. Iya Dimas, kita lewat jalan lain. jalan yang biasa aku lewati lagi ada acara nikahan" Bohong Monicha.


"Jadi begitu".


"Tinggal sedikit lagi kamu menjadi milikku selamanya Dimas Ginanjar" Ucap Monicha didalam hati.


Kini sampailah mereka di kediaman keluarga Bima Nasution.


"Kita sudah sampai, kamu mau turun tidak? Mampir masuk kedalam" Ucap Monicha.


"Tidak perlu, lain waktu saja" Balas Dimas.


Tanpa basa-basi Monicha langsung mencium bibir Dimas, Dimas terdiam Ia tidak menolak ataupun menerima ciuman itu. Ia masih diam karena terkejut dengan perlakuan Monicha.


Perlahan tapi pasti ciuman itu menjadi lumatan Dimas akhirnya menyerah Ia ikut larut dalam Ciuman panas mereka.


Monicha sangat senang Dimas membalas ciuman itu.


"Bakso.. Bakso" Teriak penjual bakso yang lewat disamping mobil mereka.


Mereka terperanjat dan kaget. Aktifitas mereka pun terhenti.


"Mm.. Ma..Maaf Dimas, aku tadi terlalu senang" Ucap Monicha yang menyentuh bibir miliknya.


"Sebaiknya kamu segera turun" Balas Dimas.


Monicha pun turun dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir manisnya itu.


"Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan tadi? Aku begitu hanyut dalam ciuman tadi" Gumam Dimas sambil menyentuh bibirnya.


Tinggalkan jejak guys ❤️

__ADS_1


Jangan lupa beri Poin/Koin buat Novel ini biar Author tambah semangat.. 😍🤗


__ADS_2