Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 134


__ADS_3

Azizah duduk di jejeran kursi umum berwarna putih dengan bentuk ukiran kayu yang begitu indah, ia duduk sambil menikmati es krim yang ia beli disekitar tempat itu.


Cuaca kota Paris saat itu cukup panas namun tak sampai membakar kulit jika bersantai-santai di kursi yang ia duduki.


Jangan tanya mengapa Azizah hanya sendirian, sedari pagi Steven pergi karena ada urusan dengan Hendrick dan juga suaminya sedang mencari waktu yang pas untuk mereka pergi ke Inggris mengunjungi keluarga besar Steven disana terutama menemui nenek Teressa yang sedang sakit.


Dari kejauhan seorang pria menatap ke arah dimana Azizah sedang duduk sambil menikmati es krim miliknya.


Pria itu perlahan mendekati Azizah dan duduk tepat di samping Azizah.


“Hai Azizah kita ketemu lagi!” sapa pria itu.


Azizah yang sedang menikmati es krim sontak menoleh ke pria yang mengetahui namanya, ia terkejut saat tahu siapa pria itu.


“Kamu? kamu sedang apa disini?” tanya Azizah terheran-heran.


“Aku disini karena sedang menikmati kota Paris sekalian mencari obyek yang pas untuk karya fotoku,” ucap pria itu.


Azizah masih ingat jelas siapa pria yang berada di dekatnya saat ini, pria itu adalah Deniz yang sempat membantunya saat ia hampir terjatuh di salah satu hotel di kota Surabaya, tempat ia dan Steven menginap. Azizah juga pernah menghancurkan kamera mahal milik Deniz.


“Karya foto maksud kamu?” tanya Azizah.


“Aku mengikuti lomba fotografer disini dan tanpa sengaja malah melihat kamu,” jelas Deniz.


“Sudah lama kamu disini?”


“Lumayan, sebulan lebih kira-kira aku disini!”


Kenapa pas sekali dengan kedatangan kami, apa dia mengikuti aku dan Steven?


“Ya,” balas Azizah singkat.


“Apakah kamu masih lama tinggal di sini?” tanya Deniz memastikan.


“Tidak tahu, mungkin aku dan suamiku akan pergi segera mungkin,” ucap Azizah.


Deniz tersenyum tipis ia lalu memotret sembarang arah dengan kamera yang berada di genggamannya.


“Apakah suamimu baik?” tanya Deniz sambil terus memotret mencari obyek yang bisa ia potret.


“Tentu saja baik,” ucap Azizah sedikit heran mengapa Deniz menanyakan tentang suaminya.


“Baguslah kalau begitu, aku bisa tenang!” seru Deniz kemudian pergi begitu saja setelah mengatakan beberapa kalimat yang membuat Azizah semakin terheran-heran.

__ADS_1


Ada apa dengan pria itu? datang tanpa diundang pergi pun tanpa pamit.


Ya sudahlah lebih baik aku kembali ke hotel menunggu Steven pulang.


Deniz dari kejauhan hanya menatap punggung Azizah yang mulai menjauh, wajahnya nampak sedikit sedih.


Baguslah kalau suamimu baik Azizah, aku sempat menyukaimu dan aku pikir pria yang bersamamu adalah kerabat mu rupanya malah suamimu.


Deniz ternyata menyukai Azizah namun dengan cepat ia membuang rasa itu jauh-jauh karena tak.oantas bagi dirinya mencintai istri pria lain.


Azizah terus melangkahkan kakinya menuju hotel tempat ia dan suaminya menginap, ia menghiraukan orang-orang disekitarnya yang berkata dengan bahasa asing yang tidak di mengerti oleh Azizah sampai akhirnya Azizah sampai di kamar hotel.


Wanita itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk ukuran King size, tiba-tiba ia mengalami pusing yang teramat pusing.


“Ada apa dengan kepalaku, kenapa tiba-tiba pusing sekali,” ucap Azizah.


Azizah memijat keningnya berharap pusing segera minggat dari kepalanya, dirasa sudah cukup membaik ia mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang untuk sementara waktu.


Dering ponsel pintar miliknya berbunyi diabaikan saja oleh Azizah, ia tidak perduli siapa yang menghubunginya yang dipikirkan Azizah hanyalah bagaimana caranya pusing di kepalanya segera pergi.


Sekitar 10 menit kemudian, Azizah sudah merasa membaik dan menidurkan kembali tubuhnya di ranjang.


🍃🍃


Sore hari.


Urusannya bersama Hendrick telah selesai, ada beberapa kesepakatan yang harus mereka lakukan untuk bisnis mereka.


Steven juga telah memesan tiket untuk pergi ke Inggris, awalnya ia ingin memakai pesawat pribadi miliknya namun karena Azizah bersikukuh menolak untuk naik pesawat pribadi akhirnya Steven pun mengiyakan permintaan Istrinya yang tidak memakai pesawat pribadi.


Pria itu melepaskan pakaian lengkapnya dan memutuskan membersihkan diri sebelum mendekati istrinya.


Azizah terbangun saat mendengar gemericik air dari kamar mandi.


Rupanya suamiku sudah pulang.


Azizah ingin menyiapkan pakaian untuk suaminya namun tubuhnya serasa tak berada untuk bangun, membuat wanita itu merasa kesal dan hanya berdiam diri di ranjang tanpa bisa berbuat apa-apa.


Tidak mungkin kan kalau aku sakit lagi?


Atau jangan-jangan aku keracunan karena menikmati es krim yang aku beli?


Steven telah selesai dari kamar mandi, handuk putih polos masih terikat di pinggangnya sampai batas atas lututnya.

__ADS_1


“Sudah bangun istriku!” ucap Steven kemudian membuka handuk yang menutupi bagian bawahnya dan terlihat jelas benda kecil milik suaminya dan berjalan ke arah almari tanpa memakai sehelai benang pun.


Azizah sudah terbiasa dengan kelakuan suaminya, ia hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya.


Sore itu Azizah malas ingin mengucapkan sedikit katapun dari mulutnya, ia hanya membaringkan tubuhnya sampai Steven selesai memakai pakaian lengkap.


“Sayang!” panggil Steven saat melihat istrinya sedari tadi diam tak menanyakan apapun perihal ia pergi dari pagi sampai sore.


“Mmmm.”


“Apakah kamu marah istriku?” tanya Steven kemudian mendekati istrinya yang masih berbaring di ranjang empuk.


“Tidak,” ucap Azizah singkat.


Kenapa lagi dengan istriku ini?


perasaan tadi pagi baik-baik saja tapi mengapa sekarang menjadi cuek seperti ini terhadapku?


“Kamu kenapa istriku?” tanya Steven memastikan.


Azizah melirik sekilas ke arah suaminya dan memejamkan matanya, Steven menjadi tambah heran dengan sikap istrinya.


“Kamu masih mengantuk sayang?” tanya Steven sekali lagi.


“Iya, temani aku tidur!” pinta Azizah namun tidak juga membuka matanya.


Steven bernafas lega karena istrinya meminta dirinya untuk menemani istrinya itu untuk tidur, dengan cepat ia naik ke ranjang dan memeluk tubuh istrinya.


“Jangan memeluk ku!” larang Azizah.


Steven tertegun mendengar ucapan istrinya.


Apa ada yang salah dari diriku, bukankah setiap ingin tidur aku selalu memeluknya tapi kenapa Azizah melarang ku memeluknya?


Ya sudahlah aku turuti saja daripada aku dilarang tidur dengannya.


“Baiklah sayang, aku akan tidur tanpa memelukmu!” ucap Steven.


Steven bergeser menjauh dari istrinya, ia bingung harus bagaimana.


Meski ada guling disisi tempat tidurnya namun tetap saja tubuh istrinya lah yang lebih enak untuk dipeluk.


Azizah berusaha bergerak membelakangi suaminya, ia pun kesal dengan sikapnya.

__ADS_1


Ingin sekali ia dipeluk oleh suaminya, namun hati kecilnya malah menolak di dekati suaminya itu membuat Azizah hanya bisa diam dan melanjutkan tidurnya.


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭


__ADS_2