Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 111


__ADS_3

Pagi hari begitu cerah Azizah dan Steven sedang berada di kamar untuk mempersiapkan keberangkatan mereka menuju Paris.


Bulan madu mereka bukanlah bulan madu sembarangan, Steven merencanakan sesuatu


untuk istrinya di Kota romantis itu.


“Sayang, yang ini sudah cocok belum?” tanya Azizah memperlihatkan telinganya yang sudah dihiasi anting berlian pemberian ibu mertuanya yaitu Yuli.


“Sangat bagus, tapi kenapa kecil sekali?


pakai saja yang besar!” perintah Steven.


“Bagiku ini sangat cantik sayang, kalau yang besar telingaku akan terasa berat!” seru Azizah.


Azizah bercermin di kaca rias miliknya, ia memperhatikan tatanan rambut ala dirinya sendiri.


Steven berjalan dan memeluk Azizah dari belakang berulang kali ia mengecup tengkuk istrinya.


“Hentikan sayang!” pinta Azizah.


“Tidak!” tolak Steven.


“Kalau begitu terus kita tidak akan berangkat sayang.”


“Baiklah,” ucap Steven.


Tiba-tiba Steven mengeluarkan kalung cantik berliontin cinta, kalung itu adalah kalung berlian.


Kilauan berlian itu benar-benar sangat cantik.


“Untukmu istriku!” ucap Steven lalu menyematkan kalung itu ke leher putih istrinya.


Azizah menyentuh kalung itu dan langsung membalikkan tubuhnya ke arah suaminya.


“Kalung ini sangat mahal dan terlihat mencolok sayang, aku tidak pantas memakai berlian ini,” ucap Azizah lalu berusaha melepaskan kalung itu dari lehernya.


“Jangan dilepas sayang,” larang Steven.


“Ku Mohon sayang, ini sangat mencolok!” pinta Azizah agar suaminya mengizinkan dirinya untuk menolak kalung itu.


“Aku sudah memesan kalung ini seminggu yang lalu dan kalung ini hanya ada 3 di dunia.”


Azizah terperangah dan membuka mulutnya lebar-lebar, Steven tersenyum lalu mencium bibir Azizah.


Azizah kemudian tersadar dan menutup rapat-rapat mulutnya itu.


“Hanya 3? berarti ini sangat mahal,” ucap Azizah dengan penuh keyakinan.


“Tidak mahal, hanya 1 milyar,” balas Steven santai.


Azizah terkejut dan memijat keningnya yang tiba-tiba pusing.


1 Milyar tidak mahal suamiku bilang?


Hanya untuk sebuah kalung 1 Milyar?


“Aku harap kamu memakainya dan jangan pingsan lagi,” bisik Steven.


Azizah tak ingin berdebat dengan suaminya, ia lalu pergi turun ke bawah untuk sarapan.


Semakin hari kamu semakin menggemaskan istriku, aku jadi tidak sabar ingin memberikanmu kejutan dan mencetak baby-baby yang lucu.


Pria blasteran itu lalu menyusul istrinya ke ruang makan, saat di ruang makan Azizah terlihat kesal.

__ADS_1


Makanan yang berada di piringnya juga hampir habis.


“Kamu marah sayang?” tanya Steven hati-hati.


“Tidak, aku hanya lapar saja!” seru Azizah.


“Benarkah?”


“Ya, untuk apa aku berbohong?”


“Kalau begitu cium aku!” perintah Steven sambil menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.


Azizah kesal lalu menendang tulang kering suaminya, sontak Steven merasakan kesakitan dan terjatuh dari tempat duduknya.


Azizah panik karena suaminya tak bergerak.


“Kalian yang diluar cepat kemari!” panggil Azizah panik pada bodyguard.


Bodyguard datang dengan ekspresi terkejut, dengan cepat mereka mengangkat tubuh Steven menuju kamar.


“Kalian tinggalkan kami sekarang!” perintah Azizah.


“Baik nyonya muda, kami permisi!”


Steven kenapa lemah sekali?


Aku hanya menendangnya saja dan sekarang dia malah pingsan.


“Sayang, bangun!” pinta Azizah sambil menggoyangkan tubuh Steven.


Steven sebenarnya hanya berpura-pura pingsan, ia ingin memberi pelajaran sedikit untuk istrinya.


“Hiks...hiks... kalau kamu tidak bangun sekarang, aku akan membawamu ke rumah sakit dan selamanya tidak akan pergi berbulan madu,” ucap Azizah.


Azizah tahu jika suaminya hanya berpura-pura karena sedari tadi bulu mata suaminya bergerak-gerak.


“Jangan gitu sayang,” ucap Steven lalu memeluk tubuh istrinya.


Drrrtttt.. Suara telepon bergetar milik Azizah.


Azizah berdiri dan berjalan ke arah meja rias.


“Dari siapa sayang?” tanya Steven penasaran.


Azizah melihat nomor telepon itu yang tidak ia kenal sama sekali.


“Tidak ada nama!” seru Azizah.


“Ya sudah kamu matikan saja!”


Setelah menolak panggilan itu, ponsel Azizah kembali bergetar. Azizah mengabaikan namun dipanggilan ke lima Azizah dengan terpaksa menerima sambungan telepon itu.


“Hallo, siapa?” tanya Azizah.


“Azizah, ini aku Dimas!”


“Dimas?”


Steven yang masih berada di ranjang langsung turun dari ranjangnya dan menghampiri istrinya.


Ia lalu mengambil ponsel itu dengan ekspresi yang begitu kesal.


“Jangan hubungi istriku lagi!” tegas Steven lalu mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Setelah itu ia pergi meninggalkan Azizah dengan ekspresi kesal.


Azizah yang ingin melangkah kakinya mengejar Steven tertunda saat mendengar getaran ponselnya, Sebenarnya ia ingin sekali mengabaikan Dimas namun sepertinya Dimas sedang ada masalah terlebih lagi saat Azizah mendengar suara Dimas yang begitu sedih.


“Ada apa Dimas, cepat katakan!” pinta Azizah tak ingin berbasa-basi.


“Anakku sudah meninggal Azizah,” ucap Dimas dari balik telepon dengan nada yang begitu sedih.


Azizah terkejut sekaligus sedih, ia merasa kasihan dengan Dimas yang tidak hanya ditinggal mati oleh istrinya namun juga anaknya.


“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, meninggal karena apa Dimas?” tanya Azizah.


“Anakku keracunan obat, aku hanya ingin memberitahukan kamu Azizah. Mungkin dengan cara ini perasaanku akan membaik,” ucap Dimas.


“Aku hanya bisa mendoakan kamu agar kamu bisa ikhlas Dimas, maaf aku tidak bisa datang ke rumahmu.


Aku sekarang telah bersuami, kamu tahu kan bagaimana suamiku?”


“Tidak apa-apa Azizah, terima kasih.”


Azizah dengan cepat mematikan sambungan telepon dan mencari keberadaan suaminya.


“Bi suamiku kemana? apakah kalian tahun dimana suamiku?” tanya Azizah pada pelayan.


“Tuan muda berada di belakang rumah nyonya muda, sedang duduk di pondok kecil ”


“Terima kasih bi!”


Azizah dengan cepat berlari ke arah pondok kecil yang berada di halaman belakang rumah.


“Suamiku!” panggil Azizah.


Steven hanya diam sambil memainkan ponselnya.


“Maaf!” ucap Azizah lalu memeluk tubuh suaminya.


Steven tak membalas pelukan itu, wajahnya sangat datar dan tatapannya sangat dingin.


Baru kali ini Azizah melihat ekspresi wajah suaminya kepada dirinya.


“Jangan diam saja sayang, bicaralah!” bujuk Azizah.


Karena suaminya tak membalas ucapannya,


Azizah pun berinisiatif mencium bibir Steven.


Namun Steven sama sekali tak membalas bahkan ia menutup mulutnya rapat-rapat, tak habis akal Azizah naik kepangkuan suaminya itu lalu kembali menciumi bibir Steven.


Ternyata cara itu juga gak berhasil, ia lalu sedikit menggesek bokongnya agar mengenai area vital suaminya itu.


Ternyata cara itu berhasil, Azizah tersenyum dan pergi meninggalkan Steven.


“Kamu harus tanggung jawab sayang!” teriak Steven.


Azizah terus berlari menuju kamar, belum sempat mengunci pintu kamar Steven telah berhasil masuk.


“Kamu telah membangunkan adik kecilku sayang, sekarang kamu harus bertanggung jawab!” pinta Steven.


Azizah menelan Salivanya dengan susah payah, kalau tahu begini ia tidak akan memakai rencana konyol itu.


“A...aku min..minta maaf sayang!” ucap Azizah sambil memohon.


Steven tersenyum dan mengangkat tubuh Azizah ke ranjang, ia lalu melakukan aktivitas suami istri.

__ADS_1


Pagi itu Steven sangat liar, bahkan Azizah kewalahan meladeni nafsu suaminya.


Make up yang sudah cantik menghiasi wajahnya, rambut yang sudah tertata rapi serta pakaian yang sudah rapi kini benar-benar berantakan.


__ADS_2