
Sinar matahari pagi mengintip kamar Azizah dari celah jendela membuat si empunya kamar terbangun dari tidurnya.
Pagi itu membuat Azizah tersenyum bahagia karena ia mendapat kabar jika calon suaminya yang sedang di Negeri Paman Sam akan tiba ke bumi ibu Pertiwi.
“Nona muda!” panggil seorang pelayan.
“Masuk!” perintah Azizah.
Rupanya kepala pelayan yang datang membawakan secangkir teh hangat serta beberapa roti panggang.
“Kok dibawa ke kamar Bi?” tanya Azizah yang masih membaringkan tubuhnya di ranjang.
“Pagi-pagi buta tuan muda meminta saya untuk membuat secangkir teh dan beberapa roti panggang nona muda,” jelasnya.
Tumben? tidak biasanya Steven seperti itu.
“Ya sudah letakkan di meja, terima kasih Bi,” ucap Azizah.
“Saya permisi nona muda.”
Azizah masih saja terbaring di ranjangnya yang empuk dengan mata yang belum terbuka sempurna ia berusaha berdiri menuju tirai jendela. Dibukanya jendela itu lebar-lebar.
“Pagi yang cerah,” ucap Azizah gembira.
Gadis itu kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan dirinya.
🌸🌸🌸
Steven dan Teressa sudah tiba di Bandara, Steven sengaja tidak memberitahukan kekasihnya bahwa ia pulang lebih awal dan membawa sang nenek.
“Selamat pagi tuan muda dan nyonya besar Teressa,” ucap Heru sambil membukakan pintu.
“Pagi juga Heru, maaf ya kamu menjemput kami sepagi ini,” sahut Teressa.
“Sudah tugas saya sebagai sopir Nyonya besar Teressa,” balas Heru.
“Sudah jangan banyak bicara, ayo kita pulang!” perintah Steven yang tak sabar menemui calon istrinya.
“Baik tuan muda,” sahut Heru.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Steven hanya terdiam sesekali ia tersenyum seperti orang gila membuat Teressa tertawa kecil.
1 jam kemudian.
“Kita sudah sampai nek,” ucap Steven bahagia.
Steven yang tak sabaran menemui Azizah langsung turun dari mobil tanpa Heru membuka pintu mobil membuat Heru dan Teressa tertawa bersama.
“Dasar anak muda kalau sudah jatuh cinta seperti orang gila,” ucap Teressa.
Heru mendengar ucapan Teressa hanya tertawa kecil.
Di kamar.
Azizah menikmati roti panggang sesekali ia menyeruput teh. Berulang kali Azizah memeriksa isi ponselnya barang kali kekasihnya menghubungi dirinya namun apa yang ditunggu belum juga memberikan kabar.
“Sudah jam segini belum juga memberi kabar, giliran sama bibi pagi-pagi buta sudah memberi perintah,” ucap Azizah.
“Steven sebenarnya disana sedang apa? kenapa sampai saat ini belum memberitahukan aku, lihat saja kalau dia meneleponku akan ku pastikan tidak aku angkat,” ucap Azizah kesal.
__ADS_1
Pucuk dicinta ulam pun tiba, suara ponsel tiba-tiba terdengar dengan segera Azizah mengangkat sambungan telepon.
Niat untuk tidak mengangkat telepon dari calon suaminya dilupakan saat itu juga, sangking bahagianya Azizah.
“Assalamualaikum Azizah sayang.”
“Waalaikumsalam, kamu dari mana saja Steven?” tanya Azizah kesal.
“Maaf ya sayang tadi ada beberapa wanita yang meminta foto bersama denganku,” ucap Steven dari sebrang telepon.
“Apa? terus kamu meladeninya? dasar cowok sama saja, sama-sama nyebelin,” teriak Azizah lalu membanting ponselnya ke kasur empuk.
Dibalik pintu Steven terkekeh geli karena mendengar kekesalan dari calon istrinya ia senang mengusili Azizah meski hanya sesekali karena sebelumnya selalu Steven lah yang diusili oleh Azizah.
Steven masih berdiri di depan pintu berharap Azizah keluar dari pintu dan melihat dirinya telah tiba. Ya benar saja, Azizah pun membuka pintu dengan sangat kuat.
Betapa terkejutnya Azizah setelah membuka pintu kamar mendapati Steven berdiri tepat di depan pintu sambil membawa sebuket bunga mawar putih.
“Suprise!” ucap Steven.
“Steven!” Azizah masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Iya sayang ini aku Steven Walker calon suami kamu,” terang Steven.
“Tapi bagaimana bisa? bukankah kamu pulang nanti sore?” tanya Azizah polos.
“Pffutttt.” Steven menahan tawanya dengan menutup mulut.
Keterkejutan Azizah menghilang saat ia mengingat kejadian di telepon tadi, ia pun melengos pergi ke dapur.
“Loh kok cuek sayang?” tanya Steven sambil mengejar Azizah.
“Mboh.”
“Sayang!” panggil Steven lagi.
“.......”
Azizah masih terdiam ia sangat kesal, bisa-bisanya Steven selingkuh dari dirinya.
Teressa berdiri tidak jauh dari mereka ia pun menghampiri Azizah. “Pagi Azizah!” sapa Teressa.
“Nenek! nenek kesini juga?” tanya Azizah sambil memeluk Teressa.
“Iya Azizah, maaf ya membuat kamu jadi salah paham,” ucap Teressa.
“Salah paham apanya nek? nenek sudah sarapan?” tanya Azizah.
“Nenek belum sarapan.”
“Kalau begitu nenek diam disini, Azizah buatkan sarapan untuk nenek,” ucap Azizah.
Steven hanya terdiam melihat Azizah dan Teressa yang begitu akrab. Dia benar-benar diabaikan oleh calon istrinya itu.
“Steven juga belum makan sarapan Azizah, tolong kamu buatkan juga!” perintah Teressa.
“Biarkan pelayan yang menyiapkan sarapannya nek, aku hanya menyiapkan sarapan untuk nenek tercinta,” ucap Azizah.
Steven duduk sambil memanyunkan bibirnya, ia menyesal karena membuat Azizah jadi cuek terhadapnya.
__ADS_1
“Steven sangat lapar nek,” ucap Steven berpura-pura lemas.
“Coba kamu minta pelayan untuk menyiapkan sarapan!” seru Teressa.
“Tidak mau nek!”
Azizah mendengar ucapan sang kekasih merasa iba, tidak sepantasnya ia memperlakukan Steven seperti itu.
Tak disengaja jari telunjuk Azizah teriris pisau.
“Awwww....” Rintih Azizah.
Steven yang berpura-pura lemas dengan sigap berlari ke arah. “Kamu kenapa sayang? Ya ampun tangan kamu berdarah,” ucap Steven lalu menghisap jari telunjuk Azizah yang berdarah.
Mendapat perhatian lembut dari sang kekasih membuat Azizah merasa tak enak hati, bukan karena saat itu ia sedang ngambek melainkan Steven tanpa rasa ragu atau jijik menghisap darah segar yang keluar dari telunjuk tangannya.
“Aku bisa sendiri Steven,” ucap Azizah kemudian menarik tangannya dan pergi.
Steven tak menjawab ucapan Azizah ia tetap mengikuti Azizah kemanapun langkah kaki kecil sang calon istri pergi.
“Ngapain kamu ikut aku?” ketus Azizah.
“Tangan kamu terluka Azizah sayang, sini biar aku obati,” ucap Steven lembut lalu mendudukkan Azizah ke sofa. “Kamu diam disini dulu ya sayang!” perintah Steven.
5 Menit Kemudian.
Steven datang sambil membawakan kotak P3K dengan cepat ia membersihkan luka dari jari telunjuk Azizah.
Setelah selesai Steven mengecup luka Azizah yang telah ditutupi oleh kain kasa.
“Maaf ya sayang!” Sesal Steven.
“Buat apa?” ketus Azizah yang masih ngambek.
“Aku tidak pernah selingkuh dari kamu sayang, maaf kalau bercanda aku tadi kelewatan,” terang Steven.
Azizah bernafas lega rupanya itu semua hanyalah tipuan dari Steven. “Benarkah?” tanya Azizah memastikan.
“Benar Azizah sayang, mana mungkin aku bohong.”
“Baiklah aku maafkan,” sahut Azizah.
Steven tersenyum bahagia sangking bahagianya ia hampir mencium bibir Azizah untungnya Azizah segera menghindar dan melanjutkan aktivitasnya di dapur.
Teressa tertawa geli melihat tingkah calon suami istri itu.
Akhirnya sarapan pun sudah siap, Azizah menyiapkan 3 porsi makanan.
“Selamat makan!” ucap Azizah semangat.
Untuk pertama kalinya Teressa mencicipi masakan buatan dari Azizah, Teressa bahkan berdecak kagum karena masakan dari cucu menantunya sangat enak bahkan pas di lidah nya.
“Kamu memang istri yang tepat untuk cucuku Azizah, masakan kamu sangat luar biasa enak,” puji Teressa.
“Terima kasih Nek,” sahut Azizah dengan wajah tersipu malu.
“Azizah memang cocok untuk Steven nek,” sahut Steven kemudian melahap makanan yang dibuatkan oleh calon istrinya itu.
Please Vote dong teman-teman 😭😭😭😭
__ADS_1
Jangan lupa like ❤️ komen 👇
Terima kasih untuk kalian semua... ❣️😭😭😭