
Rika menjalani hidupnya Seorang diri, ia bahkan menjual semua perhiasannya untuk membuka usaha di garasi mobil rumahnya.
Usaha yang ia tekuni adalah berjualan pakaian dan aksesoris wanita.
Setidaknya ia mencari kesibukan dengan berjualan dan berusaha menghilangkan kesedihan di hatinya.
"Kamu sendirian aja Rika?" Tanya Inem salah satu tetangga Rika.
"Iya Nem aku sendirian" Sahut Rika ramah.
"Kamu itu kan sekarang janda ya kan? lebih baik nikah gih!! biar tidak sendirian, lagian kami takut kalau suami kami melirik rumput tetangga" Ejek Inem.
"Ya kan Mbak?" Imbuhnya pada Ajeng.
"Iya Nem, apalagi secara Rika kan janda bohay dan Gatal" Ucap Ajeng pedas menekankan kata gatal.
Rika berusaha menahan amarahnya, Inem dan Ajeng sudah sangat terkenal dilingkungan itu. Mereka sangat suka mencari kesalahan orang lain dan tidak segan-segan membicarakan orang itu di depan mereka.
"Kalian kalau kesini hanya untuk menggosipkan diri saya mending cari tempat yang lain, soalnya disini untuk pelanggan" Ucap Rika pedas namun dengan nada lembut.
"Ayo Mbak kita pergi, kalau kita kesini yang ada malah suami kita yang kena sasaran" Ucap Inem pada Ajeng dan pergi dengan berjalan dibuat-buat yang menampilkan lenggokkan bokong mereka.
"Astaghfirullah, sabarkan Hamba Mu ini Ya Allah" Ucap Rika sambil mengelus-elus dadanya.
"Kenapa duo biang kerok kesini ka? pasti ghibah lagi ya?" Tanya Ela memastikan, Ela sudah hafal betul dengan kedua kakak beradik itu.
"Biasalah, aku harus sabar jika mereka lewat sini" Sahut Rika.
"Bener banget Ka, Oya Rika aku kesini mau beli kaos yang kemarin itu" Jelas Ela.
"Yang mana Ela? kamu kemarin beli kaos bukan hanya 1".
"Itu yang kaos lengan panjang terus ada tulisan Smart di depan baju" Terang Ela sambil mengingat baju kaos yang ia beli kemarin.
"Yang ini?" Tanya Rika sambil menunjukkan Baju Kaos.
"Iya Ka, aku ambil 1 lusin ya".
"Sebentar aku bungkus dulu" Ucap Rika sambil membungkus baju kaos.
"Ini uangnya" Ucap Ela lalu memberikan 5 lembar uang merah dan 1 lembar uang berwarna biru.
"Kembalinya 10 ribu kamu ambil saja" Sambung Ela lagi dan pergi membawa baju kaos.
"Terima kasih Ela" Teriak Rika pada Ela yang telah pergi menjauh.
__ADS_1
Rika senang, pendapatannya sangatlah cukup untuk sehari-hari.
Meski dengan dia berjualan ada saja yang membicarakan hal buruk tentangnya.
Apalagi jika mengenai tentang janda, entah mengapa janda seperti hal yang begitu buruk dan di cap jelek. Bahkan banyak yang mengira kalau janda itu adalah perebut suami dan perusak rumah tangga orang lain.
"Bu Rika!!" Sapa Anak remaja yang memakai seragam biru putih.
"Iya nak, mau cari apa?" Tanya Rika ramah.
"Vina beli jepit rambut 2 Bu" Ucap Vina pada Rika lalu menyodorkan uang.
"Ini nak, terima kasih" Sahut Rika lalu mengambil uang yang disodorkan Vina.
"Alhamdulillah" Ucap Rika bersyukur.
Rika sebenarnya ingin mencari Karyawati untuk membantunya berjualan, namun ia masih belum berani mencari Karyawati mengingat dirinya baru memulai usaha.
Rika mengernyitkan dahinya, ia penasaran mobil siapa yang berhenti tepat dirumahnya.
Saat seorang wanita dengan Pakaian mewah turun dari mobil, barulah Rika tahu siapa itu.
Ia merasa sangat takut, bukan karena ia salah melainkan ia takut dihina habis-habisan oleh wanita itu.
"Tapi".
"Saya tidak ingin mendengar mulut sialanmu itu, cepat kembalikan uang anak saya. Atau rumah kamu ini saya bakar" Ancam Neha.
Rika hanya menangis, uang yang dianggap milik Suaminya itu sebenarnya miliknya.
Rika begitu malu karena banyak sekali orang yang melihat ke arahnya, bahkan ada yang menatap sinis.
"Kita ngobrol di dalam saja ya Bu!!" Pinta Rika dengan menyentuh tangan Ibu mertuanya.
"Singkirkan tangan hinamu itu" Ucap Neha sambil menangkis kuat tangan Rika hingga jatuh tersungkur.
Mereka yang menyaksikan Neha memarahi Rika dan tak segan-segan berlaku kasar hanya diam saja, layaknya layar tancap yang sangat asik dipertontonkan oleh mereka.
"Dengar semuanya, wanita ****** ini benar-benar jahat. Dia mengambil harta anak saya secara paksa dan menghabiskannya. Sampai anak saya Vijay meninggal karena stres" Ucap Neha berbohong dan membalikkan fakta pada semua orang yang menyaksikan mereka.
"Cukup Bu, jangan diteruskan. Kenapa Ibu mengatakan hal yang sepenuhnya tidak benar?" Tanya Rika berusaha bangkit dari jatuhnya.
"Kalau Ibu mau uang Rika, Rika pasti akan memberikannya tapi Rika mohon jangan memfitnah Rika seperti ini Bu" Mohon Rika dengan wajah memelas.
"Cepat berikan uang kepada saya, karena itu milik anak saya bukan milik kamu" Tegas Neha.
__ADS_1
Rika lalu mengambil uang hasil berjualan, ia tidak ingin dicap serakah. Biarlah Tuhan yang membalasnya.
Setelah itu Neha pergi meninggalkan Rika yang menangis, Para tetangga dan orang-orang sekitar bahkan mengutuki Rika.
Rika yang tahan dengan sikap tetangga dan orang yang menyaksikannya itu langsung menutup dagangannya ia bahkan menutup rapat-rapat pintu rumahnya.
"Ya Allah, biarkanlah Hamba Mu ini hidup bahagia. Jangan siksa Hamba seperti ini Ya Allah" .
Keesokan harinya.
Rika tak tahan lagi, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Ponorogo.
Ia berniat pergi sejauh mungkin dari tanah jawa itu.
"Selamat tinggal tanah kelahiranku, Biarkanlah aku pergi untuk menuju kebahagiaan diriku".
Rika pergi dari bus satu ke bus yang lain, tak terasa ia sudah tiba di pulau Sumatera tepatnya di Lampung.
Rika memutuskan tinggal di Bandar Lampung, tepatnya di daerah Kemiling.
Ia tinggal di sebuah rumah yang cukup layak dengan harga sewa yang murah.
"Maafkan aku Mas Danu dan maafkan Mami Yana, entah sekarang kalian dimana. Tapi aku harap kalian baik-baik saja dan bahagia".
Rika menjalani hari-harinya dengan sangat bahagia, banyak tetangga yang sangat baik terhadap Rika.
Rika bekerja di salah satu rumah makan yang cukup terkenal di Kemiling.
"Ayo Mbak berangkat bareng aku" Ajak Tutut teman kerja Rika.
"Terima kasih Mbak" Sahut Rika.
"Mbak pulang kerja nanti, kita mampir ke pasar bambu kuning ya! ada yang mau aku beli" Ajak Tutut.
"Iya Mbak, tenang saja" Sahut Rika.
Mereka pergi bekerja dengan mengendarai mobil matic, Tutut senang mengenal Rika.
Rika tidak menceritakan semua kejadian yang ia alami, ia hanya menceritakan bahwa ia janda beranak satu.
Tutut pun tidak terlalu banyak ikut campur, ia lebih senang menjadi pendengar yang baik.
Bersambung..
Tinggalkan jejak😘
__ADS_1