Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 24


__ADS_3

Yana sibuk memporak-porandakan kamar miliknya, pikirannya sangat tak karuan.


"Jatuh dimana barang itu" Ucap Yana yang bingung dengan barangnya yang hilang.


Danu yang lewat di depan kamar Yana tak sengaja melihat anaknya yang bingung dan kamar yang sangat berantakan. dihampirilah putri kesayangan itu.


"Ada apa sayang? kenapa kamar kamu seperti kapal pecah begini?" Tanya Danu heran.


"Yana mencari akrilik pemberian Azizah Pi, Bagaimana Pi Akrilik itu tidak bisa ditemukan hiks.. hiks.." Tangis Yana pun pecah.


"Kok malah nangis anak Papi ini, kita cari sama-sama ya!!" Ucap Danu menenangkan.


Sekitar setengah jam mereka mencari namun hasilnya nihil.


"Hiks.. hiks.. kenapa tidak ketemu Papi? Azizah pasti marah dengan Yana" Ucap Yana polos.


Danu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ia sangat bingung harus menjawab apa agar anaknya tidak menangis lagi.


Noor yang mendengar suara tangisan Sang cucu bergegas menghampiri Yana.


"Kenapa Yana menangis?" Tanya Noor yang bingung melihat cucunya menangis.


Yana tidak menjawab Ia masih saja menangis seperti anak kecil, padahal Yana kini telah menginjak umur 19 Tahun.


"Yana kehilangan akrilik cahaya pemberian sahabatnya Bu, makanya Ia menangis" Sahut Danu.


"Yang ada namanya itu ya?" Tanya Noor.


Yana langsung terdiam, Ia langsung menoleh ke arah Sang Nenek.


"Nenek tahu dimana akrilik milik Yana?" Tanya Yana dengan sangat penasaran.


"Sebentar Nenek ambilkan" Ucap Noor lalu pergi mengambil akrilik itu.


"Udah jangan nangis lagi, semoga itu beneran akrilik punya kamu".


"Iya Pi".


Noor datang membawa akrilik bertuliskan nama Yana Aryanto dan Azizah Cahyani.


"Ini kan yang kamu maksud?" Tanya Noor sambil memberikan akrilik itu.


"Iya Nek ini milik Yana, syukurlah terima kasih Nek. nenek menemukan barang ini dimana?".


Yana sangat senang akhirnya barang kesayangannya bisa ditemukan. Jika tidak mungkin dirinya bersedih dan akan merasa kehilangan seumur hidupnya.


"Nenek kemarin menemukan di bawah sofa dekat TV, lain kali jangan ditaruh sembarangan" Ucap Noor sambil menasehati cucunya.


"Astaga, Yana baru ingat kemarin akrilik ini dipinjam Megi saat main kesini" Jelas Yana sambil menepuk jidatnya.


"Ya sudah nenek mau ke depan".

__ADS_1


" Iya Nek" Balas Yana.


Yana memeluk dan mencium akrilik itu, Danu Aryanto bingung dengan kelakuan anak gadisnya.


"Kamu kenapa Yana? kenapa kamu terlihat sangat sedih dan aneh begini?" Tanya Danu heran tak seperti biasanya sang anak seperti itu.


"Yana merasa kalau Azizah sedang mengalami sesuatu yang buruk Pi, Yana ingin menemui Azizah. Sudah 7 tahun Yana tidak bertemu Azizah" Terang Yana.


"Kamu mau kembali ke Indonesia?" Tanya Danu.


"Yana mau Pi, Yana mau banget" Balas Yana semangat.


"Tapi Papi ada syarat!!".


"Syarat? memang harus pakai syarat Pi?" Tanya Yana sedih.


"Syaratnya adalah sebelum Kamu ke Indonesia, kamu harus temani Papi pergi ke Amerika" Terang Danu.


"Amerika Pi? Yana mau Pi. Jadi Yana bisa beli oleh-oleh untuk Azizah dan Bu Darmi" Ucap Yana senang.


"3 bulan kita di Amerika, Papi harap kamu betah untuk sementara waktu".


"Baiklah Pi, apapun Yana turuti asal Yana segera bertemu Azizah dan Bu Darmi".


"Anak Pintar" Puji Danu.


"Papi sekarang keluar ya!! Yana mau membereskan kamar Yana yang seperti kapal pecah ini Pi" Ucap Yana halus lalu memberikan senyum lebar pada Danu.


Yana memperhatikan Akrilik bertuliskan nama dirinya dan Sahabatnya. Ia sangat rindu dengan masa kecilnya bersama Azizah.


"Maaf Azizah, aku akan menemui kamu sebentar lagi. Aku harap kamu tidak pernah melupakan aku" Gumam Yana.


Danu berjalan ke arah ruang keluarga, Ia melihat Sang Ibu sedang duduk manis sendirian sambil menonton TV. Dihampirinya Sang Ibu yang sangat fokus dengan acara favoritnya.


"Masih saja suka acara itu Ibu, apa tidak bosan?" Tanya Danu berbasa-basi.


"Masih Danu, bagaimanapun ini acara Ibu dan mendiang Ayah kamu" Balas Noor.


"Iya Bu, Ayah sangat menyukai film ini" Sahut Danu.


"Danu!!" Panggil Noor.


"Iya Bu, ada apa?" Tanya Danu sambil menatap kearah TV.


"Kapan kamu menikah lagi, Ibu ingin kamu segera memiliki istri" Ucap Noor serius.


Danu yang fokus menatap acara TV langsung menengok ke Sang Ibu.


"Maksud Ibu apa?" Tanya Danu heran.


"Kamu ini bagaimana Danu, sudah 12 tahun kamu menjadi duda. Bagaimanapun kamu harus menikah agar ada yang merawat kamu dan Yana. Lagipula kamu tidak terlalu tua di umur mu yang sekarang, umur mu tahun ini baru menginjak 42 tahun Danu, Ibu harap kamu menikah lagi" Pinta Noor.

__ADS_1


"Bu, Danu dari dulu tidak pernah memikirkan untuk menikah lagi, sedikitpun tidak pernah terpikirkan mencari istri lagi" Terang Danu halus.


"Apa kamu masih mencintai Rika? wanita yang meninggalkan kamu dan Yana?" Tanya Noor penasaran.


Danu tidak menjawab pertanyaan dari Sang Ibu, Danu mengalihkan pandangannya kepada Sang Ibu. Ia sangat bingung untuk menjawab pertanyaan itu.


Sementara Noor sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu, Ia bisa membaca gelagat Anaknya.


"Lihat Ibu Danu, Jadi kamu masih mencintai Rika?" Tanya Noor lalu membalikkan badan Danu agar menghadap pada dirinya.


"Danu tidak tahu Bu, bagaimanapun Rika dulu istri Danu dan Ibu dari anak aku yaitu Yana" Ucap Danu lirih.


Noor menghela nafasnya, Ia tidak bisa memaksa atau memarahi Sang Anak. Apapun pilihan Danu, Noor akan mendukungnya.


"Danu dengarkan kata Ibu, Apapun pilihan kamu suatu saat nanti. Menikah ataupun tidak Ibu harap kamu bahagia, dan Ibu minta kepada kamu jangan memikirkan Rika lagi. Ingat!! Dia telah bersuami dan bukan milik kamu ataupun Yana. Rika dan Suaminya saat ini pasti telah memiliki anak. Kalaupun kamu menikah, Ibu malah bersyukur" Terang Noor memberikan penjelasan untuk Danu agar bisa berpikir jernih.


"Iya Bu, Danu mengerti. Danu ke kamar Bu" Balas Danu lalu pergi menuju kamar.


Danu bersandar di pinggir ranjang, Ia benar-benar bingung dengan hatinya.


"Ya Allah, Sebenarnya ada apa dengan hati hamba ini? Hamba setiap malam memimpikan mantan istri hamba. Ada apa dengan kamu Rika? kenapa aku bermimpi bahwa kamu sangat sedih dan mendatangi diriku. Sebenarnya ada apa dengan kamu disana?" Tanya Danu yang bingung akan mimpinya itu.


Danu melihat jam di alarm di nakas nya dilihatnya waktu telah menunjukkan Pukul. 23.00 waktu setempat, Ia ingat bahwa dirinya belum melakukan sholat Isya.


Danu lalu bergegas mengambil air wudhu.


"Ya ampun, ternyata waktu sudah begitu malam. hampir saja aku lupa sholat" Ucap Danu lalu bergegas mengambil air wudhu.


Usai mengambil air wudhu, Danu bergegas mendirikan Sholat.


Beberapa menit kemudian.


Akhirnya sholat pun selesai, dilipatnya Sajadah berwarna hijau miliknya.


Danu berjalan keluar kamar menuju kamar Sang Putri, dilihatnya Yana yang sedang tertidur sambil memeluk sebuah bingkai foto.


Danu berpikir bahwa foto itu adalah milik Yana dan Sahabatnya, Danu pun mengambil dan meletakkannya di nakas. betapa terkejutnya Ia saat tahu siapa orang yang dibalik foto itu.


"Apa kamu merindukan Mami kamu nak?" Tanya Danu lirih dengan wajah sedih.


Danu lalu meletakkannya bingkai foto itu, sebelumnya Danu tidak pernah melihat foto Rika.


"Papi tahu nak, kamu sebenarnya merindukan Mami kamu. Seandainya Papi dan Mami kamu tidak berpisah mungkin kamu tidak akan pernah mengalami ini semua nak. dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap. Maafkan Papi nak" Batin Danu.


Danu meneteskan air matanya, Ia mengingat masa-masa saat Yana sendirian dan membutuhkan dirinya serta Rika. Namun dia dan Rika dulu sangat tidak perduli dengan Yana. Rika yang sibuk dengan Vijay dan Danu yang sibuk dengan pekerjaannya.


Danu bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menghabiskan waktunya bersama Yana. Dan bisa melihat Sang Putri tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik.


Like+favorit ❤️


Jangan lupa Vote Poin/Koin untuk Novel Author.

__ADS_1


Terima kasih 🤗😍


__ADS_2