
Di Magetan.
Yana tidur menemani Rika yang masih tak sadarkan diri, matanya terlihat sangat lelah serta bengkak akibat menangis.
“Yana sayang kita kembali ke rumah ya!” ajak Danu.
“Tidak Pi, Yana masih mau menemani mami disini. Yana takut kalau mami ditinggal sendirian mami akan pergi meninggalkan kita,” sahut Yana dengan suara yang begitu lirih seolah tak berdaya mengeluarkan suara.
“Ini sudah larut malam, tidak baik kamu tidur dirumah sakit. Besok pagi kita akan kembali ke sini menemani mami!”
“Tidak mau Pi, Yana mau disini saja!” tegas Yana.
“Yana dengarkan kata papi! kalau Yana pulang dan beristirahat sebentar dirumah mami pasti akan senang nak. Tapi kalau kamu bersikukuh ingin tidur disini apa mami kamu akan senang? tolonglah Yana, papi tahu kamu pasti mengerti apa yang papi maksud itu semua juga demi mami,” jelas Danu.
“Ba..baiklah Pi,” balas Yana pasrah.
Sebelum pergi Yana memeluk, mencium Rika serta membisikkan kata-kata penyemangat untuk mami tercintanya.
“Yana dan papi pulang dulu ya mami, mami disini harus baik-baik saja jangan tinggalkan kami!” pesan Yana pada Rika yang masih memejamkan mata rapat-rapat.
Danu menuntun sang anak menuju mobil, tubuh Yana terlihat begitu lemah.
“Mami bisa sembuh kan Pi?” tanya Yana disela-sela mereka berjalan menuju mobil.
“Insya Allah nak, kata dokter mami kamu bisa dioperasi tapi kemungkinan selamat hanya sedikit,” jujur Danu.
Yana yang mendengar kejujuran Danu langsung terdiam dan tak melanjutkan langkahnya.
“Hiks...hiks.... mami tidak akan meninggalkan kita Pi!” teriak Yana yang langsung mendapatkan sorotan mata disekitarnya.
“Yana yang tenang jangan menangis lagi ya nak! kamu harus percaya dengan kuasa Allah apalagi mami adalah Wanita sekaligus ibu yang hebat nak. Jangan menangis mami pasti sangat sedih jika tahu putri cantiknya ini menangis!”
Ya Allah pokoknya mami harus sembuh, mami tidak boleh meninggalkan Yana.
“Sekarang kita ke mobil ya nak!” ajak Danu lembut dan kembali menuntun putrinya ke arah luar.
Tibalah mereka di mobil. Danu membuka pintu mobil untuk putrinya dan ia pun masuk kemudian mengendarai mobil menuju kediamannya.
“Yana!” panggil Danu sambil menatap ke depan jalan raya.
“Ya.”
Yana tak ingin banyak berbicara ia masih merenungkan nasib Rika yang masih tak sadarkan diri di rumah sakit.
“Mike dan sahabatmu di Jakarta sudah kamu beritahu sayang?” tanya Danu.
“Mike sudah Pi, besok dia akan kemari sementara Azizah sengaja tidak Yana beritahu,” jawab Yana.
__ADS_1
“Kenapa tidak kamu beritahu Yana?”
“Azizah sekarang telah menikah Pi, rasanya aneh jika harus memberitahukan kepada Azizah sementara dia masih pengantin baru,” jelas Yana.
“Kamu benar nak, ternyata anak papi dan mami sekarang sudah dewasa,” puji Danu.
💕💕
Keesokan Pagi Di Jakarta.
Sepasang suami istri itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan, Azizah awalnya tak mau ikut ia sedikit canggung jika harus berada di perusahaan apalagi dulu dia adalah bawahan suaminya namun karena Steven menyakinkan bahwa tidak apa-apa maka Azizah pun mengiyakan.
Saat keluar rumah Azizah melihat sudah ada sopir baru pengganti Heru, pria itu terlihat jauh lebih madu dari Heru dan kemungkinan bahwa usia pria itu seusia dengan Azizah.
“Itu sopir baru kita sayang?” tanya Azizah memastikan.
“Iya sayang, bagaimana?” tanya Steven.
“Tidak apa-apa tapi kenapa rasanya sopir baru kita sangat muda?”
“Ya kamu benar, dia salah satu anak panti asuhan Jannah kebetulan dia membutuhkan pekerjaan jadi aku memberinya pekerjaan ini.”
“Suami sangat baik jadi tambah cinta,” puji Azizah.
“Aku juga jadi tambah cinta dengan kamu istriku!” seru Steven.
Azizah dan Steven melangkahkan kaki ke dalam mobil, sopir baru itu dengan cepat membukakan pintu untuk majikannya.
Azizah tersenyum namun tidak dengan Steven, pria blasteran itu tetap dengan kepribadiannya yaitu jarang tersenyum dan sangat angkuh.
Mobil pun segera berangkat menuju perusahaan, di dalam mobil tak banyak dilakukan oleh suami istri itu mereka duduk sambil menggenggam tangan satu sama lain sesekali Azizah merangkul lengan suaminya.
“Nama kamu siapa?” tanya Azizah pada sopir baru.
“Nama saya galih nyonya muda.”
“Kamu terlihat sangat muda berapa usiamu?” tanya Azizah.
“19 tahun nyonya muda!”
Steven sedikit tidak senang dengan keakraban dari keduanya ia melirik ke arah istrinya dan wajahnya berubah menjadi begitu asam. Melihat perubahan dari wajah suaminya Azizah terkekeh geli dan memeluk lengan suaminya.
“Apakah kamu cemburu suamiku?” bisik Azizah.
Steven terdiam tanpa menjawab pertanyaan istrinya ia malah menyandarkan tubuh di kursi mobil dan memejamkan matanya.
Aku tahu kamu cemburu suamiku, tapi kamu berpura-pura tidak perduli.
__ADS_1
Suamiku terlihat sangat tampan jika seperti ini..
Azizah pun ikut memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya itu, terasa sekali otot di lengan suaminya yang kencang dan kekar.
Steven mengintip Azizah dan mendekatkan mulutnya mengecup kening istrinya itu, Azizah yang hanya memejamkan mata itu langsung mendongak menatap suaminya.
“Ada apa?” tanya Steven menatap istrinya.
Azizah mengangguk dan tersenyum lebar ia lalu memainkan jambang suaminya yang mulai tumbuh.
“Jangan dicukur ya sayang!” pinta Azizah bermanja.
“Baiklah demi istriku!” seru Steven.
Galih terus menyetir mobil tanpa merasa terganggu dengan kemesraan suami istri itu.
Ia sangat senang bisa bekerja menjadi sopir pria blasteran itu apalagi Steven termasuk orang yang sangat baik di panti asuhan Jannah.
Sampailah mereka di gedung besar menjulang tinggi, galih masuk ke area parkir mobil di lantai dasar.
“Ayo sayang!” ajak Steven.
Galih ditugaskan untuk kembali pulang dan akan datang lagi ke perusahaan setelah makan siang sekitar jam 1 siang.
Steven masuk ke perusahaan itu dengan terus merangkul pinggang ramping Azizah, sementara Azizah berjalan dengan sedikit menunduk.
“Selamat siang CEO dan nyonya muda Azizah!” sapa para pegawai.
Azizah tersenyum canggung sementara Steven tetap sama dengan wajah datarnya. Akhirnya sampailah mereka di ruang CEO Azizah bernafas lega.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Steven sambil memainkan rambut istrinya.
“Tidak ada,” balas Azizah dan melihat-lihat sekeliling ruangan milik suaminya.
Ruangan itu telah berubah, ada beberapa foto ia dan suaminya terpajang di dinding ruangan itu.
“Kapan?” tanya Azizah penasaran.
“Apakah kamu suka?” tanya Steven.
Steven berjalan menuju kursi sambil menuntun Azizah agar mengikutinya dengan cepat Azizah diangkat dan kini sudah di atas pangkuan suaminya.
“Ahhh... sayang, lepaskan aku nanti ada yang melihat kita!” pinta Azizah.
“Tidak ada yang melihat kita sayang, cepat katakan tentang ruangan ini apakah kamu menyukainya?”
“Ya aku sangat menyukainya, bisakah kita pergi ke Surabaya sebelum bulan madu ke Paris? aku ingin menemui bapak dan ibu!” pinta Azizah
__ADS_1
“Tentu saja, baiklah besok kita akan pergi ke Surabaya.”
“Terima kasih sayang, kamu memang suami yang pengertian!”