
Steven yang baru kembali dengan tergesa-gesa menuju kamar, ia ingin cepat menemui Azizah.
“Istriku sayang! aku pulang!” Steven memanggil Azizah dari balik pintu karena kebetulan pintu kamar dikunci oleh Azizah.
Azizah yang mendengar suara Steven segera berlari ke arah pintu dan membukanya.
“Sayang!” panggil Steven dan langsung mendekap tubuh Azizah.
“Steven kalau mau peluk di dalam, malam dilihat pelayan,” ucap Azizah kemudian Steven mengangkat tubuh Azizah.
“Suami sayang apa yang kamu lakukan? turunkan aku!”
Steven tak menggubris ia tetap mengangkat tubuh Azizah dan membaringkan Azizah di ranjang, Azizah yang terkejut dengan cepat menarik selimut dan segera membungkus tubuh dengan selimut itu.
“Apa yang kamu lakukan Steven, ini masih terlalu sore itu melakukannya,” ucap Azizah yang kini sudah seperti kepompong.
Steven tak goyah ia malah menindih tubuh Azizah yang saat itu terbungkus rapi oleh selimut.
“Istriku sayang! jangan panggil aku dengan sebutan nama, panggil lah aku dengan sebutan suami, mas atau sayang yang penting jangan namaku!” pinta Steven lembut.
“Baiklah sayang, tolong pergi dari tubuhku!” pinta Azizah.
“Tidak mau sekarang aku ingin memakanmu!”
Apa sekarang? terlalu sore untuk melakukan hal itu bagaimana kalau yang lain mendengarnya.
“Ja...jangan se.. sekarang sayang, bukankah kamu memintaku nanti malam? aku takut ada yang mendengar suara kita, Puput mengatakan kita suami istri melakukan hubungan intim maka akan ada suara-suara aneh,” ucap Azizah dengan begitu polos.
Steven tak dapat menahan tawanya ia benar-benar geli mendengar ucapan Azizah.
“Ha...ha.. kamu sangat lucu istriku benar-benar lucu!”
“Kamu kenapa malah tertawa, pokoknya nanti malam.”
“Kenapa tidak sekarang? didalam kamar ini ada peredam suara jika aku aktifkan otomatis peredam suara itu berfungsi dan jika kita berteriak sekeras apapun tidak akan terdengar dari luar,” jelas Steven.
“Be... benarkah? canggih sekali,” puji Azizah.
“Kamu meremehkan aku sayang, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa aku miliki. Namun hal yang paling ingin aku miliki selamanya adalah kamu Azizah Cahyani tidak ada yang lain!”
“Serius! apakah di hatimu hanya aku seorang?” tanya Azizah penasaran.
“Mmmm, mungkin saja!” seru Steven.
Mungkin saja maksudnya apa?
Azizah bingung dengan jawaban dari Steven ia membuang pandangannya ke sembarang arah dan terdiam, bodo' amat Steven menindihnya ia tak perlu pikirannya malah kemana-mana. Mungkin? Azizah bertanya-tanya kenapa mungkin, kenapa tidak bilang iya saja!
Steven bangun dan duduk di bibir ranjang kemudian ia menarik Azizah yang masih berbalut selimut itu didekapnya Azizah yang wajahnya terlihat kesal itu.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Steven penasaran sambil mengelus-elus rambut Azizah.
“Menjauhlah dariku Steven, aku tiba-tiba bad mood!” pinta Azizah tanpa memandang wajah Steven.
Ada apa dengannya kenapa tiba-tiba bad mood seperti ini apakah ada yang salah denganku?
“Baiklah, sekarang temani aku makan!” pinta Steven.
__ADS_1
Dasar suami ngeselin.
“Istriku sayang ayo makan bersama!” ajak Steven.
“Ya,” ucap Azizah singkat dan membuka selimut ditubuhnya.
Azizah berjalan dengan sangat cepat dan berjalan mendahului Steven, Steven benar-benar tidak peka membuat Azizah semakin kesal.
“Bi siapkan kami makan!”
“Baik tuan muda!”
Ada apa dengan istriku ini, diperhatikan dari kamar sampai meja makan tidak ada senyum diwajahnya Sebenarnya apa yang salah denganku?
Hidangan telah disiapkan Steven terus saja melahap makanan namun berbeda dengan Azizah, Azizah hanya mengaduk-aduk makanan tanpa memasukkannya ke dalam mulut.
“Aku mau mandi, rasanya tubuhku panas sekali,” ucap Azizah tanpa menunggu jawaban dari Steven ia melangkahkan kakinya ke kamar.
Steven semakin bingung ada apa dengan Azizah, kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu.
Di kamar.
Azizah telah membersihkan diri ia pun menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil membaca novel cinta kesukaannya, Steven yang berbaring di ranjang diabaikan oleh Azizah seolah-olah ia tidak melihat suaminya yang menatap ke arahnya.
Steven beranjak dari ranjang dan duduk tepat disamping Azizah ia lalu merangkulnya tangannya ke pinggang Azizah.
Azizah hanya terdiam dan tetap fokus dengan novel ditangannya, kemudian adzan magrib pun berkumandang.
(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
Hayya 'alashshalaah (2x)
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Hayya 'alalfalaah. (2x)
(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ
Laa ilaaha illallaah (1x)
“Ayo sayang kita sholat bersama!” ajak Steven membisikkan ditelinga Azizah.
“Ba..baiklah,” sahut Azizah.
__ADS_1
Ya Allah untuk pertama kalinya aku dan Steven sholat bersama, rasa kesal ku tiba-tiba menghilang.
Azizah dan Steven mengambil air wudhu.
Sebelumnya Steven jarang sekali sholat namun setelah menikah ia sadar bahwa mencintai wanita saja tidaklah cukup ia juga harus membimbing Azizah menuju surga -Nya Allah SWT bersama-sama.
🍃🍃🍃
Sholat pun akhirnya selesai kini mereka saling memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Do'a Steven.
Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Engkau memberikan hamba harta yang baik, tidak hanya harta bahkan memberikan aku sesosok wanita sekaligus istri untuk hamba. Jadikanlah keluarga kecil kami ini menjadi keluarga yang Engkau Ridhoi, maafkan jika selama ini hamba lalai dalam perintah Mu Ya Allah...
Hamba akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Azizah dan ayah yang baik bagi anak-anak kami kelak Aamin...
Do'a Azizah.
Ya Allah yang maha pencipta bumi dan langit.
Terima kasih karena Engkau telah memberikan hamba seorang suami dan keluarga yang sangat baik, kesedihan yang hamba alami selama ini akhirnya membuahkan hasil. Semoga pernikahan kami pernikahan yang Engkau Ridhoi dan jadikanlah kami keluarga yang bahagia dunia dan akhirat Amin...
Selesai memanjatkan do'a Azizah mencium punggung tangan Steven dan Steven mencium dahi Azizah.
Terlihat jelas senyum manis dari keduanya.
“Aku mencintaimu Istriku sayang!”
“Benarkah?” tanya Azizah.
“Benar sayang, kenapa kamu seperti tidak percaya?”
“Karena kamu tadi menjawab mungkin,” cetus Azizah dan kembali duduk di sofa.
Steven mengikuti Azizah dan memangku istrinya itu.
“Turunkan aku Steven!”
“Tidak akan!”
“Terserah kamu saja, lagipula sebentar lagi kamu lelah karena memangku tubuhku,” sahut Azizah kemudian fokus membaca novel kembali.
“Aku menjawab mungkin karena aku takut kalau cintaku tidak sepenuhnya untukmu,” terang Steven.
Deg.. deg...
Tidak sepenuhnya maksudnya dia memiliki wanita lain dihatinya?
Azizah langsung bersedih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut suaminya itu, tidak sepenuhnya sudah pasti ada wanita lain dihati Steven.
“Hiks...hiks... pergi dariku Steven!”
“Kamu kenapa menangis dengarkan aku dulu sayang!”
“Cukup, aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari kamu!” tegas Azizah.
Azizah berlari ke ranjang dan menyembunyikan wajahnya di guling, ia menangis menumpahkan kesedihannya di ranjang. Sementara Steven langsung panik melihat Azizah yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1