
1 jam berlalu namun mertua dan nenek Teressa belum juga kembali, ia pun melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuat cemilan.
“Nyonya muda sedang apa?” tanya pelayan.
“Ingin membuat cemilan, apakah ada tepung terigu?” tanya Azizah.
“Nyonya muda ingin dibuatkan apa? biar saya yang membuatkan cemilan untuk nyonya muda.”
“Tidak perlu bi, bibi cukup mengambil tepung, keju, mesis coklat dan susu coklat!”
“Baiklah nyonya muda saya segera mempersiapkannya.”
Akhirnya bahan-bahan yang diinginkan oleh Azizah terkumpul, Azizah sore itu ingin membuat cemilan piscok lumer.
Ia memulai dari mengupas kulit pisang.
Ada dua pelayan yang berdiri tak jauh dari Azizah kalau-kalau Azizah membutuhkan sesuatu.
Daripada menunggu mereka yang belum tentu kembali dengan cepat lebih baik membuat cemilan, untung saja di dapur banyak bahan untuk membuat cemilan. Kalau tiap hari aku dirumah dan membuat cemilan apakah tubuhku akan menjadi gemuk? ah, lupakan saja, yang terpenting perutku terisi hi...hi...
Dua pelayan saling melempar senyum melihat Azizah yang terlihat begitu bahagia, dipikiran mereka majikannya itu bahagia karena sudah menikah dan telah melewati malam bersama Steven sang majikan.
Dari mengupas kulit hingga kini hampir selesai Azizah yang mengerjakan, ia sama sekali tidak ingin dibantu oleh pelayan. Ia membuat piscok lumer begitu banyak sekitar 35 potong piscok lumer yang telah ia buat.
“Kalian bantu aku angkat yang ini! lalu yang sudah di tuper**** letakkan di lemari itu!” perintah Azizah.
25 potong ia letakkan di meja ruang keluarga.
“Kalian kemari!” panggil Azizah.
“Iya nyonya muda, ada yang bisa kami bantu?” tanya dua pelayan itu.
“Orang yang bekerja disini berjumlah berapa orang?” tanya Azizah.
“Pelayan ada 8 orang sementara bodyguard ada 4 orang nyonya muda,” sahut salah satu pelayan yang terlihat lebih tua.
“Ambil 12 potong piscok ini dan bagikan ke yang lain!” perintah Azizah.
“Baik nyonya muda, terima kasih.”
Pelayan itu lalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh Azizah, tak disangka mereka begitu menikmati piscok lumer buatan Azizah. Bahkan mereka memuji keahlian yang dimiliki oleh istri majikannya itu, Dimata mereka Azizah tidak hanya baik, ia juga sangat sopan dan pandai menghormati orang yang lebih tua meski orang tersebut adalah seorang bawahan.
***
Adam sangat lelah mengikuti istri dan ibunya berbelanja, mereka berdua seperti orang yang tidak kenal lelah.
Ampun sama mereka ini, berjam-jam belanja tidak selesai dari tadi. Kenapa kodrat wanita harus seperti ini?
“Pi kita masuk ke toko itu ya!” ajak Yuli.
“Lagi? ba...baiklah,” sahut Adam.
Entah sudah berapa toko yang mereka jelajahi, terkadang Yuli dan Teressa hanya masuk dan melihat-lihat barang atau sekedar menanyakan harga.
“Pi yang ini cocok tidak untuk mami?” tanya Yuli yang memperlihatkan daster bermotif bunga.
“Bagus,” sahut Adam.
Paling hanya bertanya saja.
__ADS_1
“Tidak jadi lah Pi, kurang cocok daster yang ini!”
Baru aja membatin, sudah terbukti kan bahwa wanita kodratnya seperti ini?
“Mami Teressa pilih yang mana? apakah sudah ada yang cocok?” tanya Yuli.
“Belum, disini tidak ada yang cocok. Kita cari ditempat lain saja!” pinta Teressa.
“Lagi??” tanya Adam dengan ekspresi terkejut.
“Ya! apa ada masalah?” tanya Teressa.
Adam tak tahan lagi, kalau tahu akan seperti ini dari awal ia akan menolak untuk menemani mereka berbelanja.
“Adam tidak kuat berjalan lagi mi, sekarang Adam ingin pulang!”
“Loh kok pulang Pi? kita kan baru saja belanja!”
“Baru saja dari mana? dari jam 10 sampai jam 5 sore mami bilang baru saja?” tanya Adam terheran-heran.
Yuli dan Teressa dengan cepat melihat jam yang ada dipergelangan tangan mereka.
“Astaga, sudah jam 5,” ucap Yuli terkejut.
“Mami bahkan tidak tahu jika sudah sangat sore,” sahut Teressa.
“Lihat kan! kalian saja bahkan tidak menyadarinya,” ucap Adam.
“Pantas dari tadi mami lapar,” ucap Teressa sambil senyum-senyum.
“Ya sudah ayo pulang! lain kali kita berbelanja lagi!” ajak Adam.
Mereka bertiga akhirnya kembali ke rumah.
****
Mobil Adam Walker telah sampai di halaman depan rumah, bodyguard dengan cepat berlari dan membukakan pintu mobil.
“Selamat sore tuan besar, nyonya besar dan nyonya besar Teressa!” sapa bodyguard.
“Parkiran mobil ke garasi, badanku sakit semua!” perintah Adam sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit.
Azizah yang sudah menanti mereka sedari tadi menghampiri mertua dan sang nenek.
“Alhamdulillah, papi, mami dan nenek sudah sampai,” ucap Azizah.
“Loh kamu dirumah nak?” tanya Yuli.
“Iya mi, kenapa memangnya?”
“Mami kira kalian jalan-jalan,” balas Yuli.
“Kita mengobrolnya di dalam saja, sudah mau maghrib ini!” ajak Adam.
Mereka pun masuk ke dalam dan berkumpul di ruang keluarga.
“Ya ampun, jadi papi tidak kuat karena menemani mami dan nenek berbelanja?” tanya Azizah.
Azizah terkekeh mendengar apa yang terjadi selama mereka berbelanja kalau saja Adam tidak memberitahukan waktu yang sudah sore dipastikan Yuli dan Teressa tetap berbelanja sampai lupa waktu dan diri... 😅
__ADS_1
“Bagaimana tidak kuat, mami dan nenekmu berjalan kesana-kemari seperti kaki mereka ada mesinnya,” sahut Adam.
Mereka berbincang-bincang diselingi dengan candaan dari keluarga itu, Azizah mengingat sesuatu ia dengan cepat menyeret kakinya menuju dapur.
“Bi piscok lumer aku mana?” tanya Azizah pada pelayan.
“Ini nyonya muda Azizah!”
“Terima kasih bi,” ucap Azizah dan berjalan kembali ke ruang keluarga.
Azizah meletakkan piscok lumer buatannya ke atas meja.
“Silahkan dicoba, piscok lumer buatan Azizah!”
“Piscok?” tanya Teressa yang tidak tahu makanan apa yang dibuat oleh Azizah.
“Pisang coklat nenek, jadi itu pisang yang dibungkus dengan kulit lumpia lalu dalamnya Azizah beri mesis dan toppingnya Azizah beri parutan keju dan susu coklat,” jelas Azizah.
Selesai mendengar penjelasan Azizah, Teressa dengan cepat mencomot piscok itu disusul oleh Adam dan Yuli. Mereka memakan piscok itu dengan begitu antusias.
“Enak sekali nak,” puji Yuli.
“Iya Azizah, sangat enak,” puji Adam.
“Besok buatkan nenek piscok seperti ini lagi, nenek sebenarnya tidak terlalu suka pisang tapi jika sudah dibuat begini nenek jadi lahap.”
“Oke, tenang saja besok Azizah buat yang banyak untuk orang rumah,” sahut Azizah dengan sangat senang.
Ya dia sangat senang bahwa piscok buatannya sangat disenangi oleh keluarga barunya itu.
“Yah habis,” ucap Yuli.
“Cepat sekali habisnya, padahal mami baru makan sedikit” sahut Teressa.
“Memang mami makan berapa?” tanya Adam.
“Mami makan 1, 2,3... mami makan 4,” terang Yuli.
Adam tertawa kecil karena istrinya itu makan piscok lumer cukup banyak.
“Papi jangan tertawa, memang papi makan berapa?” tanya Yuli penasaran.
“Papi makan 5,” sahut Adam.
Azizah mengingat betul bahwa ia menyisakan 15 potong piscok lumer ia pun tertawa kecil membuat mereka bertiga heran.
“Loh kamu kenapa tertawa?” tanya Yuli.
“Azizah ingat betul bahwa piscok lumer ada 15 mi,” terang Azizah.
Adam dan Yuli mengakumulasi piscok yang mereka makan, total dari suami istri itu 9 berarti 6 dimakan oleh Teressa.
Adam dan Yuli dengan kompak menatap ke arah Teressa dengan penuh pertanyaan, sementara Teressa tersenyum lebar seperti orang yang sedang tertangkap basah.
Wkwkw... 🤣🤣
Bersambung.
Vote dong please 😭😭
__ADS_1
Like ❤️ komen 👇