
Setelah kepergian Steven Azizah merasa kesepian, ditambah lagi Yana dan Mike juga kembali ke Magetan.
Sementara Mariska pergi menyusul Steven karena kedua orang Steven memintanya ke Inggris.
Bagaimana ini? sekarang aku dirumah Steven, tanpa ada siapa-siapa yang bisa aku ajak berbicara. Para pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka, bahkan Steven melarang mereka untuk mengobrol bersamaku. Membosankan.
Baru sehari ditinggal Azizah sudah merasakan kesepian, ia pun memiliki ide untuk mengusir kejenuhan hatinya.
“Bibi!” panggil Azizah pada kepala pelayan.
“Ada apa nona muda?”
“Bisakah bibi belikan aku 20 ayam potong?”
“Sebanyak itu untuk apa nona muda?” tanya kepala pelayan dengan penasaran.
“Untuk dimasak bi, tolong ya Bi! ini uangnya,” ucap Azizah sambil memberikan kartu kredit.
“Tidak usah nona muda, tuan muda telah memberikan saya kartu kredit untuk belanja. Kartu yang nona muda bawa itu untuk kebutuhan pribadi nona muda,” jelasnya.
“Baiklah,” sahut Azizah pasrah. Azizah tahu perintah Steven tidak bisa diganggu gugat oleh pelayan.
1 Jam kemudian.
Azizah tergesa-gesa menuju dapur saat mengetahui bahwa ayam pesanannya sudah datang, dengan senang ia memotong ayam potong itu menjadi beberapa bagian.
“Biar saya saja nona muda,” ucap pelayan.
“Tidak usah, ini tugas aku. Kalian berdua tolong cuci bumbu-bumbu yang sudah aku kupas.”
“Baik nona muda,” ucap kedua pelayan.
Azizah senang jika memasak olahan ayam, apalagi ayam buatannya itu ia bagi-bagi kepada orang yang membutuhkan.
“Sudah kami bersihkan nona muda, selanjutnya bumbu ini di apakan?” tanya salah satu pelayan.
“Kalian haluskan saja!”
3 Jam kemudian.
“Ini buat apa nona muda?” tanya kepala pelayan.
“Ini semua untuk yatim piatu, tolong bibi bawakan kotak nasi ini!”
“Baik nona muda.”
Sekitar 200 kotak nasi berisi ayam bakar telah siap untuk diantarkan, Azizah senang membantu orang lain meski uang itu berasal dari calon suaminya.
“Pak Heru tolong antarkan Azizah ke yayasan panti asuhan Jannah,” pinta Azizah.
“Baik nona muda,” sahut Heru.
“Pak Heru panggil Azizah dengan nama saja, Azizah sangat pusing jika kalian memanggil dengan sebutan nona Azizah dan sekarang malah memanggil dengan Azizah dengan sebutan nona muda. Apa kalian tidak pusing?” tanya Azizah kesal.
Heru tertawa kecil, Azizah dari dulu sampai sekarang tetap saja sama.
__ADS_1
Meski kini ia telah menjadi calon istri Majikannya itu, namun sedikitpun sikap Azizah tak pernah berubah seperti orang kebanyakan.
“Kok pak Heru tertawa? Azizah ini bicara serius pak,” ucap Azizah tambah kesal.
“Maaf nona muda, bagaimanapun panggilan itu adalah perintah. Kami pun tidak sanggup jika harus memanggil nona muda dengan hanya nama saja,” jujur Heru.
“Baiklah, pak Heru dan orang rumah sama saja. Sama-sama menyebalkan.”
Tak butuh waktu lama yayasan panti asuhan kini terlihat di depan mata, Heru memasuki halaman panti itu. halaman disana tidak terlalu besar, panti itu juga tidak cukup luas. Namun terlihat sekali ada 2 tingkat dengan ruangan tidak sampai 10 jika dihitung dari lantai dasar dan atas.
Azizah tersenyum lebar, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke panti asuhan. Beberapa anak dari mereka memperhatikan kehadiran Azizah dan Heru.
“Selamat datang!” sapa seorang ibu yang umurnya sekitar 60 tahun.
“Terima kasih, perkenalkan saya Azizah dan ini teman saya pak Heru,” ucap Azizah memperkenalkan diri.
Heru berdecak kagum dengan Azizah, seorang sopir seperti dia malah dianggap teman oleh Azizah.
Berbanding terbalik dengan sikap Steven yang semena-mena terhadapnya, ya meski gaji yang ditawarkan sangat tinggi.
“Saya Ibu Wiwik pemilik panti asuhan ini.”
“Kami kesini karena ingin membagikan makanan untuk anak-anak disini, kebetulan ada sedikit rezeki,” ucap Azizah mengutarakan maksud kedatangan mereka.
“Alhamdulillah,” ucap syukur Wiwik.
“Mari ikut saya mbak Azizah dan pak Heru!” ajak Wiwik ramah.
Wiwik mengajak Azizah dan Heru disebuah ruangan, banyak sekali foto-foto yang tertempel di dinding.
“Iya mbak Azizah, mereka dulu adalah anak-anak yatim-piatu disini. Saat mereka sudah memutuskan mandiri meninggalkan tempat ini, pasti kami mengabadikan foto yang seperti mbak Azizah lihat,” terang Wiwik.
“Nona muda!” panggil Heru sambil menepuk pundak Azizah.
“Pak Heru cukup panggil nama saja, please!” bisik Azizah.
“A.. Azizah coba lihat foto ini, saya takut jika salah lihat!” pinta Heru sambil menunjuk ke salah satu bingkai foto.
Azizah menyipitkan matanya ia memperhatikan seorang pria dengan beberapa anak kecil.
Saat tahu siapa pria itu, Azizah langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
“Ini bukannya?...”
“Ini Steven Walker Azizah, salah satu orang yang berpengaruh disini. Berkat pak Steven yayasan kami ini terbantu, beliau sosok pria yang sangat baik dan dermawan,” puji Wiwik.
“Benarkah?” tanya Heru memastikan, sudah bertahun-tahun lamanya ia bekerja tapi tak pernah mengetahui sisi lain dari seorang Steven Walker.
“Benar sekali, apa pak Heru mengenali pak Steven?” tanya Wiwik.
“Sudah pasti kenal, kan Steven Walker adalah pria terkaya se-Indonesia bahkan se-Asia tenggara,” pungkas Azizah.
“I..iya Bu, yang dikatakan Azizah benar,” sahut Heru.
“Saya tidak bisa berlama-lama disini Bu, jadi kami pamit pulang sekalian mengambil kotak nasi,” ucap Azizah.
__ADS_1
Azizah mengeluarkan kotak nasi ayam bakar dibantu beberapa orang pengurus yayasan panti asuhan, setelah berhasil mengeluarkan semuanya dan memberikan kepada anak-anak. Azizah memberikan amplop yang berisi uang sebesar Rp. 10.000.000-,
“Terima kasih atas kebaikan mbak Azizah dan pak Heru, semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan rezeki lebih dari Allah,” ucap Wiwik.
“Terima kasih atas doanya, ini semua berkat Steven Walker,” sahut Azizah.
“Maksudnya? mbak Azizah mengenal pak Steven?” tanya Wiwik bingung.
Azizah tak ingin menjawab ia hanya tersenyum sesekali melambaikan tangan kepada anak-anak panti asuhan.
Setelah itu Azizah dan Heru benar-benar pamit pulang dari yayasan panti asuhan.
“Pak Heru!”
“Iya nona muda ada apa?”
“Sepertinya pak Heru tidak tahu soal Steven yang membantu yayasan itu?”
Heru membalas dengan anggukan.
“Iya nona muda, saya sudah lama bekerja dengan keluarga tuan muda tapi tak pernah melihat sisi lain dari tuan muda,” sahut Heru.
Azizah semakin cinta dengan calon suaminya itu, pria yang terlihat dingin kepada orang lain ternyata memiliki hati seperti malaikat.
Sungguh beruntung memiliki Steven Walker sebagai pendamping hidup.
“Pak Heru kita berhenti di depan ya!” pinta Azizah.
“Di mall ini nona muda?” tunjuk Heru pada pusat perbelanjaan.
“Iya pak Heru, cepat parkir mobilnya!”
“Baik nona muda,” sahut Heru.
Heru pun memarkirkan mobil area parkir, Azizah meminta agar Heru tak mengikutinya.
Heru pun menuruti permintaan Azizah.
Azizah memasuki sebuah toko pakaian, ia mencari pakaian yang harganya murah namun terlihat elegan.
Saat Azizah sibuk memilih-memilah pakaian dari kejauhan seseorang memandangi dan berjalan mendekatinya.
“Azizah!”
Mendengar namanya dipanggil Azizah langsung membalikkan badan.
“Kamu!” teriak Azizah kaget.
Siapa ya guys yang panggil Azizah?
Ada yang tahu?
Silahkan like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭
Harus vote guys... 😘😘😘
__ADS_1