
Sinar matahari pagi mengintip dari balik tirai kamar Azizah dan membuat Azizah terpaksa bangun dari ranjang empuk.
Ia menghela nafasnya entah mengapa pagi itu Azizah merasa tidak nyaman.
Azizah merenggangkan ototnya. Perlahan ia berjalan menuju kamar mandi dan segera menanggalkan pakaiannya.
Diisinya Bath up dengan air hangat dan tak lupa dengan tetesan wangi aromaterapi.
Setelah melakukan ritual mandi, ia dengan cepat mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
Azizah bingung pakaian mana yang harus ia kenakan. “Mengapa aku sangat bingung memilih pakaian padahal aku tetap saja berdiam diri di apartemen.”
Karena tak kunjung mendapatkan pakaian yang cocok dikenakan Azizah, ia akhirnya menjejerkan beberapa pakaian yang terlihat lumayan.
“Cap cip cup kembang kuncup pilih yang mana yang mau di cup.” Jari telunjuknya berhenti di setelan baju kasual berwarna biru muda.
“Baiklah, yang ini saja.”
Azizah merias wajahnya dengan sentuhan make up dan tak lupa lip tint berwarna pink.
“Selamat pagi nona Azizah.” Indah menyapa Azizah yang baru keluar dari kamar.
“Selamat pagi juga.” Azizah membalas dengan senyuman.
“Nona ingin menu makanan apa hari ini?”
“Tidak biasanya mbak Indah bertanya, tapi kebetulan hari ini aku mau telur dadar dan tumis kangkung.”
Indah mengangkat kedua alisnya.
“Serius nona?” tanya Indah sedikit terkejut.
“Iya mbak Indah, sambil menunggu masakan mbak Indah jadi. Aku ingin kebawah menghirup udara pagi.” Azizah dengan cepat keluar dan pergi menuju lantai dasar.
“Nona Azizah pasti bosan jika harus tinggal di apartemen ini,” ucap Indah.
Di taman lingkungan Apartemen tak terlihat ramai, kebanyakan dari penghuni apartemen itu adalah orang elit sehingga banyak yang pergi untuk bekerja.
“Tinggal di sini ternyata membosankan sekali,
lebih nyaman tinggal di kontrakan. Banyak sekali anak-anak disana.”
Steven baru sampai dan tak sengaja melihat Azizah yang duduk di jejeran kursi taman.
“Azizah! sedang apa disini? Kenapa gadis bodoh ini malah keluar di cuaca yang dingin seperti ini.”
Steven dengan cepat meminta Heru menghentikan mobil, ia lalu turun dan berjalan menghampiri Azizah yang duduk melamun.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Steven datar.
“Sa...saya hanya ingin menghirup Udara pagi Pak Steven.” Azizah terkejut karena Steven memergokinya keluar apartemen.
“Masuk!” perintah Steven dingin.
“Ba-baik Pak.” Azizah melangkahkan kakinya dengan cepat.
Indah telah selesai memasak makanan yang diinginkan Azizah.
“Sudah pulang nona?” tanya Indah yang mendengar pintu terbuka tanpa menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
“Lain kali jangan beri gadis bodoh ini keluar dengan cuaca dingin seperti ini.” Steven berbicara dengan nada tinggi.
“Ma..maaf Tuan muda lain kali saya akan mencegah nona keluar.” Indah berkata dengan terkejut sekaligus ketakutan.
Azizah tak ingin menatap Steven yang terlihat nada bicaranya yang sangat marah.
Menunduk, ya itulah yang dilakukannya saat ini.
“Besok kamu sudah mulai kuliah dan selama beberapa hari aku tidak datang kesini.” Steven berbicara dengan tenang.
“Te..terima kasih Pak.” Azizah berbicara sambil membungkukkan badannya.
“Ini!” Steven menyodorkan paper bag yang dibawanya.
Azizah mendongak menatap ke arah Steven dan dengan hati-hati menerima paper bag.
“Apa ini Pak?” tanya Azizah bingung.
“Buka saja.”
Azizah membuka paper bag itu dengan sangat pelan, tanpa sadar bibirnya tertarik membentuk senyum.
“Mochi, terima kasih Pak Steven.” Azizah senang saat tahu bahwa itu adalah mochi boneka panda pemberian Yana.
“Itu sudah lama di mobil.”
Setidaknya mochi yang diberikan Yana untuk dirinya tak hilang.
“Terima kasih Pak.”
Steven tersenyum tipis dan melangkah kakinya ke arah ruang tamu.
Azizah menatap punggung Steven yang semakin menjauh dan tak terlihat lagi.
“Ya.”
“Sepertinya boneka panda itu sangat spesial untuk nona,” Indah sedikit penasaran dengan boneka yang di pegang oleh Azizah.
“Oh ini!” tunjuk Azizah pada boneka panda,
“Ini dari sahabatku, dia memberikan ini saat pergi ke Malaysia dan menjadi satu-satunya kenangan kami.” Azizah mengucapkan dengan mata berkaca-kaca.
“Pantas saja membuat nona senang.”
“Aku lapar, tolong panggilkan Pak Steven!”
“Baik Nona.”
Indah melangkahkan kakinya menuju tempat Steven.
“Tuan muda! nona Azizah mengajak anda untuk makan bersama.” Indah berkata dengan sopan.
“Aku tidak lapar,” tolak Steven.
“Kalau begitu saya permisi Tuan muda,” ucap Indah dan berjalan mundur meninggalkan Steven.
“Tuan muda bilang sedang tidak lapar nona.” Indah berkata pelan.
“Baiklah, mbak Indah temani aku makan ya!” ajak Azizah.
__ADS_1
“Baik nona.”
Steven duduk sambil menggeser foto-foto Mariska, sudah 2 Minggu dari kejadian ia melihat Mariska. Namun belum juga mendapatkan hasil, 10 orang kepercayaan telah dikerahkan oleh Steven tapi hasilnya tetap saja tak ada.
Kamu membuatku gila Mariska, selama ini kamu kemana saja?
Seharusnya kamu datang kepadaku bukan malah pergi.
Steven mengambil gelas kecil dan membuka almari kecil dekat televisi.
Ia lalu meraih isi di dalam almari kecil itu.
Sudah lama sekali tidak minum air haram ini.
Steven menuangkan air di dalam gelas kecil.
Belum sempat meneguk minuman, Azizah datang dan mengambil gelas itu lalu membantingnya ke sembarang tempat.
“Apa yang kamu lakukan?” Steven bertanya dengan teriakan keras.
Azizah tak merasa bersalah ataupun takut, ia merasa benar dengan membuang gelas itu.
“Pak Steven tidak boleh minum ini.” Azizah mengambil botol itu dan berlari menuju wastafel.
Steven terkejut saat Azizah membuang minumannya ke wastafel.
“Kenapa kamu membuangnya?” Steven tak habis pikir kenapa Azizah berani sekali mengusiknya bahkan membuang minumannya.
“Karena minuman ini tak pantas untuk Bapak.” Azizah meneriaki Steven dan berlari ke kamar lalu menutup keras pintu kamar.
Indah mendengar dan melihat keributan mereka berusaha menjauh. Ia dengan cepat pergi menjauhi mereka menuju dapur.
“Aih, apa yang kulakukan tadi?” Steven mengusap kasar wajahnya, emosinya yang meledak-ledak tadi perlahan meredam.
Dengan perlahan ia berjalan menuju kamar dengan langkah kaki yang terasa berat seperti ada rantai yang mengikat kedua kaki Steven.
“Benar-benar bodoh, seharusnya aku tak bersikap kasar kepada Azizah.” Steven tak percaya dengan sikapnya yang kasar terhadap Azizah.
Azizah duduk bersandar di pintu dengan tangis yang tidak dapat dihentikan.
Apa salahku? dia tidak pernah membentak ku meski dia sering memberikan tatapan tajam. Salah jika aku melarangnya minum air haram itu?
Ia berdiri dengan tangan yang masih menyentuh tembok seolah itu adalah penahan tubuhnya yang tak kuasa berdiri.
Sakit, itulah yang dirasakan. Bukan karena fisik melainkan hatinya.
Indah mengintip ke arah ruangan tempat mereka bertengkar, pelan-pelan ia berjalan menuju ruang tamu untuk membersihkan pecahan gelas yang tidak banyak namun berserakan.
Sangat menyeramkan, kenapa tuan muda Steven bersikap seperti itu kepada nona?
4 bulan melayani Azizah namun tak pernah melihat Steven maupun Azizah bertengkar apalagi berdebat, sekalinya bertengkar membuat Indah bergidik ngeri.
“Semoga saja mereka berbaikan lagi, aku benar-benar merasa canggung jika mereka tetap bertengkar seperti ini.” Indah berkata dengan penuh harap agar keduanya bisa berbaikan kembali.
Dikamar Azizah masih berdiri bersandar tembok, Ia masih saja menangisi kejadian tentang dirinya dan Steven.
Tak pernah terbayangkan jika dirinya dan Steven bertengkar.
Dengan langkah kaki yang terasa lemah Azizah berjalan menuju ranjang ukuran King size.
__ADS_1
Azizah merebahkan tubuh lelahnya, mata yang sedari tadi mengeluarkan air mata membuat gadis itu tertidur pulas.
Tinggalkan jejak guys 🤗❤️