Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 74


__ADS_3

“Sayang!” suara wanita memanggil dan berjalan ke arah mereka.


Steven dan Hendrick sama-sama melihat ke arah wanita itu.


“Sayang!” ucap wanita itu yang telah berada di tengah-tengah mereka.


“Steven perkenalkan ini istriku, Megan,” ucap Hendrick.


“Steven,” sahut Steven.


“Lihat istriku Megan, cantik kan?”


“Lebih cantik istriku,” sahut Steven dengan penuh percaya diri.


Megan tersenyum kecut ke arah Steven, ia tidak senang ada orang yang meremehkan kecantikannya.


“Sayang! temani aku makan kue,” ucap Megan dengan manja.


Cihhh, wanita seperti ini dinikahi oleh Hendrick. Bukankah dia model majalah dewasa? benar-benar tak habis pikir dengan selera Hendrick.


“Steven, kami ingin kesana!”


“Silahkan, nikmatilah hidangan yang telah kami sediakan,” ucap Steven.


Hendrick dan Megan pun pergi untuk menikmati kue yang telah disediakan.


🌸🌸🌸


Tepat jam 3 pagi Azizah terbangun mendengar suara alarm ponselnya, ia melihat ke sekitar kamar namun tak menemukan keberadaan Steven.


Dimana Steven, bukankah ini sudah jam? seharusnya dia sudah sampai rumah begitu penting kah tamu undangan dibandingkan aku yang kini telah menjadi istrinya?


Karena sebal Azizah kembali melanjutkan tidurnya dan mengunci pintu kamar.


Rasain kamu Steven tidurlah kamu diluar.


***


Steven baru sampai rumah 15 menit ia terlambat dari janji yang ia berikan kepada Azizah.


“Selamat datang tuan muda, selamat atas pernikahan kalian,” ucap para pelayan, mereka yang memang sudah bangun dari jam 3 dan hampir setiap hari mereka bangun di jam 3 pagi jika ada Yuli dan Adam.


“Ya terima kasih, ini untuk kalian!” Steven memberikan beberapa lembar amplop.


“Terima kasih tuan muda, anda sangat murah hati,” ucap para pelayan.


Steven tak membalas ucapan terima kasih mereka ia tergesa-gesa untuk menemui Azizah yang kini sudah menjadi istrinya.


Ceklek...


“Loh kok dikunci?” Steven ingin membuka pintu namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam.


“Sayang! suamimu pulang!”


Azizah membuka matanya saat mendengar panggilan Steven tapi ia sama sekali tak bergerak dari sofa untuk membukakan pintu.


Panggil lah aku sebanyak yang kamu bisa Steven, aku tidak akan membukakan pintu. Suruh siapa pulangnya telat?


“Kamu baru pulang nak?” tanya Yuli.


“Iya mi, apakah Azizah di dalam?” tanya Steven.


“Iya Azizah di dalam, kenapa memangnya?” tanya Yuli heran.

__ADS_1


“Kalau istriku di dalam mengapa pintu kamar tidak dibuka padahal Steven memanggilnya berulang kali.”


“Kamu bilang ke Azizah pulang jam berapa?”


“Kok mami malah tanya seperti itu?”


“Biasanya kalau seorang istri tidak membukakan pintu untuk suaminya berarti ada kesalahan, pasti karena kamu pulang telat,” ucap Yuli menerka-nerka alasan mengapa pintu kamar belum juga dibuka.


“Sepertinya itu alasannya mengapa Azizah tidak juga membukakan pintu, tapi kenapa mami tahu soal ini?”


“Karena mami kamu sering berbuat seperti kepada papi nak,” timpal Adam yang ternyata berdiri didekat mereka.


“Loh kok papi bangun?” tanya Yuli.


“Bagaimana tidak bangun, kalau suara Steven terdengar sampai kamar kita,” balas Adam.


“Sekarang Steven bagaimana mi?” tanya Steven dengan kebingungan.


“Ya kamu tunggu saja sampai Azizah membukakan pintu atau kamu tidur saja di kamar yang lain?”


Steven menyesali perbuatannya yang pulang terlambat kalau saja ia pulang sedari tadi sudah pasti ia dan Azizah bermesraan di kamar.


“Ya sudahlah, Steven tunggu saja disini,” ucap Steven pasrah.


“Yuk Pi kita ke kamar lagi, biarlah Steven dan Azizah menyelesaikan masalah mereka berdua lagipula mereka telah menikah!”


“Ayo mi!” seru Adam.


Steven menarik kursi dan menggeser kursi itu tepat di depan pintu. Ia bersandar sampai akhirnya ia tertidur.


Di dalam kamar Azizah tak bisa tidur ia berjalan dan mendekatkan telinganya ke arah pintu untuk memastikan apakah Steven benar-benar telah pergi atau menunggu pintu terbuka.


Bukan tidak ya? pasti dia tidur di kamar lain. Tidak mungkin kan Steven menunggu aku di depan pintu.


BRUG!!


“Steven!” teriak Azizah.


“Sakit!”


Steven terjatuh dengan kepala yang terbentur mengenai pintu.


“Hafuh, maaf-maaf aku tidak sengaja,” sahut Azizah dan menarik tubuh Steven ke dalam kamar.


Azizah takut jika insiden Steven terjatuh membuatnya dikira melakukan KDRT terhadap suaminya.


“Sakit sayang,” ucap Steven sambil memegang kepalanya.


“Lagian kamu ngapain duduk bersandar di depan pintu?”


“Ya habisnya mau bagaimana lagi? dari tadi aku manggil kamu tapi tidak dibukakan pintu,” sahut Steven.


“Mana yang sakit? benjol tidak?” tanya Steven sambil memegang kepala Steven memastikan bahwa tidak ada benjolan di kepala suaminya.


“Awwww, sakit.”


“Oooppsss, ternyata benjol ya!”


Azizah tertawa kecil karena benjolan di kepala Steven.


“Suami benjol bukannya disayang malah diketawain.”


“Terus diapain dong?” tanya Azizah.

__ADS_1


“Disayang dong, contohnya dipeluk, dicium atau.....”


“Hentikan Steven, kalau kamu teruskan akan aku pastikan benjolan di kepala kamu bertambah satu lagi bahkan lebih,” ancam Steven.


Steven tersenyum dengan tatapan aneh, Azizah bahkan bergidik ngeri melihat senyum diwajah Steven.


“Sayang!” ucap Steven sambil mendekat ke arah Azizah.


“Mau apa?” tanya Azizah sambil menyilangkan tangan ke dadanya.


“Hmmmm, itu...”


Azizah terkejut dengan Jawaban itu, sangking groginya ia berjalan mundur dan terpleset mengenai kaki kayu sofa.


“Aaaahhhh, sakit,” ucap Azizah merintih kesakitan.


“Ya ampun sayang, tunggu sebentar!”


Kaki Azizah terluka dan mengeluarkan darah,


Steven dengan cepat mengambil obat merah dan beberapa kain kasa.


“Sakit Steven,” ucap Azizah.


“Tahan ya sayang, aku pakai ini dulu,” ucap Steven.


“Aaaawww, pelan-pelan Steven. Seharusnya pakai itu tidak sakit kan?”


“Tidak sayang, ini juga aku pelan-pelan kamu tahan dong!!”


“Awwww, cukup Steven ini sakit.”


“Aku kan pelan-pelan sayang, sebentar lagi juga enakan tidak sakit lagi,” sahut Steven.


“Awwww, perih....”


“Sebentar sayang, dikit lagi pasti enakan,” sahut Steven dengan memberikan obat merah ke luka Azizah perlahan.


“Bagaimana apa masih sakit?” tanya Steven.


“Ternyata sakitnya diawal, sekarang sudah enakan,” sahut Azizah.


Steven kemudian mengangkat tubuh Azizah ke atas ranjang dan mengistirahatkan tubuh Azizah.


Ternyata di balik pintu Adam dan Yuli menguping pembicaraan mereka, mereka bahkan senyum-senyum mendengar suara suami istri itu.


“Wah sepertinya kita akan cepat punya cucu Pi,” ucap Yuli dengan sangat gembira.


“Benar mi, mami tidak sabar ingin menimang cucu dari mereka,” sahut Adam.


“Steven anak kita benar-benar tidak sabaran, baru saja bertengkar sekarang malah hihi.... aduh mami malu melanjutkan kata-kata itu,” ucap Yuli sambil menahan mulutnya.“


“Ayo mi kita ke kamar sekarang, tidak baik jika mendengarkan mereka sedang.....” ucap Adam menggantungkan ucapannya.


“Ayo Pi, pasti mereka di dalam sedang semangat-semangatnya membuat cucu-cucu yang lucu untuk kita Pi!” seru Yuli.


Adam dan Yuli akhirnya benar-benar pergi menjauh dari pintu kamar pengantin baru itu, mereka begitu bahagia.


Wkwkwkw... Orang tua Steven Walker salah sangka guys... 🤣🤣🤣


Mau lanjut gk nih?


Vote dulu dong!!

__ADS_1


Like ❤️ komen 👇 juga ya


__ADS_2