
3 Bulan kemudian.
Azizah berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk santai di pondok kecil halaman belakang rumah, usia kandungan Azizah kini sudah menginjak empat bulan.
Perutnya yang dulu rata kini sudah terlihat besar, tubuh yang langsing kini mulai berisi.
Berulang kali Azizah mengelus-elus perutnya yang terlihat sedikit menonjol.
Steven melihat istrinya berjalan dengan membawa jus buah ditangannya langsung berlari menghampiri Azizah, ia tidak ingin istrinya kelelahan apalagi Minggu kemarin Azizah sempat drop.
“Sayang biar aku saja yang membawa jus ini,” ucap Steven lalu mengambil gelas di tangan Azizah dan merangkul pinggang Azizah yang mulai berisi itu.
“Sore nanti kamu ingat kan sayang?” tanya Azizah berharap suaminya ingat bahwa sore nanti ia dan Steven akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa calon anak mereka.
“Tentu saja ingat istriku!”
“Apa coba?” tanya Azizah yang sudah duduk di pondok kecil sambil memandangi wajahnya suaminya yang duduk tepat disampingnya.
“Ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi anak kita dan juga ibunya,” jelas Steven.
Azizah puas dengan jawaban dari suaminya kemudian ia menyeruput jus buah yang sebelumnya ia bawa dan ia buat sendiri.
“Mike tadi pagi menghubungiku,” ucap Steven dengan wajah serius dan tidak bisa ditebak.
“Apa ada masalah?” tanya Azizah.
“Mike mengatakan kalau Yana...”
“Yana kenapa?” tanya Azizah memotong ucapan suaminya karena ia sudah panik lebih dulu.
Steven terkejut dengan ekspresi panik dari istrinya, ia tidak bermaksud membuat Azizah panik.
“Yana tengah mengandung,” terang Steven.
Azizah terperangah sekaligus bahagia mendengar kabar bahwa sahabatnya tengah mengandung, ia bahkan menggerakkan tubuhnya dengan bersemangat ditambah Azizah melompat-lompat kecil sangking bahagianya mendengar kabar kehamilan Yana.
Steven terkejut karena istrinya begitu semangat, pria blasteran itu langsung merangkul pinggang istrinya dan mendudukkan istrinya.
“Aku sekarang ingin menghubungi Yana,” ucap Azizah kemudian beranjak dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Steven.
“Ingin mengambil ponsel di kamar, aku harus menghubungi Yana dan memberikan ucapan selamat atas kehamilannya,” balas Azizah.
Steven menyodorkan ponselnya dan menyerahkan ponsel itu kepada Azizah.
“Pakai saja ini!” perintah Steven.
“Baiklah!” seru Azizah.
Steven menarik tubuh Azizah dan memangku istrinya, meski Azizah meminta untuk tidak dipangku. Namun, Steven kekeh ingin memangku istrinya itu.
__ADS_1
“Terserah kamu saja,” balas Azizah dan menghubungi Yana.
“Tut... Tut...”
“Hallo Steven!” ucap Mike dari balik telepon.
“Ini aku Azizah, bisakah aku berbicara dengan Yana?”
“Baiklah, tunggu sebentar!”
Azizah menunggu sahabatnya, sementara Steven memangku istrinya sambil terus memeluk tubuh Azizah.
“Hallo Azizah, ini aku Yana!”
“Yana.... selamat karena kamu tengah mengandung,” ucap Azizah.
“Terima kasih, pasti suamiku yang memberitahukan ke suamimu.
Lalu suamimu memberitahukan kepadamu.”
“Iya mau bagaimana lagi, jika aku sampai tahu suamiku merahasiakan sesuatu dariku, aku akan mendiamkannya selama seminggu,” ucap Azizah pada Yana. Steven yang mendengar ucapan istrinya hanya terdiam tak ingin berkomentar karena apa yang dibicarakan oleh Azizah memang benar.
“Aku juga begitu jika sebal dengan Mike, aku akan mendiamkannya!”
“Wah ternyata kita kompak, berapa usia kandungan kamu?”
“5 Minggu, 2 hari yang lalu akan baru menyadarinya karena setiap pagi perutku sangat tidak enak dan mual-mual terus,” balas Yana.
Steven terus saja mendengar ucapan istrinya, tak bosan-bosannya ia memandangi wajah Azizah ditambah pipi Azizah yang semakin membulat seperti donat.
Azizah terus saja berbincang-bincang dengan Yana hingga tak terasa baterai ponsel Steven habis.
“Hallo... hallo.. Yana!” panggil Azizah dan mengecek apakah ada masalah dengan ponsel milik suaminya.
“Baterai mu habis sayang, ponsel mahal tapi baterainya cepat habis,” omel Azizah.
“Buang saja, nanti aku akan membelinya lagi,” balas Steven santai.
“Daripada di buang lebih baik ponsel ini dijual lalu uang dari menjual ponsel itu diberikan kepada yang membutuhkan,” terang Azizah membuat Steven kalah telak.
“Iya, istriku memang yang paling benar dan berhati malaikat,” ucap Steven yang tidak ingin berdebat dengan istrinya.
“Sekarang bolehkah aku turun?” tanya Azizah yang masih berada dipangkuan Steven.
“Baiklah,” balas Steven dan menurunkan tubuh Azizah secara hati-hati.
“Sayang!” teriak Azizah dengan wajah terkejut.
Steven langsung panik saat Azizah berteriak kencang.
“Ada apa istriku, apakah ada yang sakit? Ayo kita ke rumah sakit!” ajak Steven dengan paniknya.
__ADS_1
“Tidak bukan itu, aku merasakan di dalam perutku ada yang bergerak,” ucap Azizah sambil mengelus-elus perutnya.
“Dug!!”
“Sayang! Aku merasakannya lagi,” ucap Azizah sedikit berteriak.
Steven pun ikut mengelus-elus perut Azizah dan benar, perut Azizah bergerak walau masih pelan tapi tetap terasa.
Pria blasteran itu tercengang dengan apa yang ia rasakan, ia pun menangis terharu dan mencium perut Azizah.
“Anak kita sayang,” ucap Steven lalu memeluk perut Azizah sambil terus menciumi perut itu.
Azizah ikut menangis terharu, ia benar-benar bahagia karena janin di dalam perutnya sudah mulai aktif.
“Hiks... hiks... anak kita suamiku,” ucap Azizah.
Steven berdiri dan memeluk tubuh Azizah, berulang kali Steven menghujani kening dan bibir Azizah dengan ciuman.
Ya Allah ini sungguh luar biasa nikmatnya,
Akhirnya hamba benar-benar merasakan kehidupan di dalam rahim hamba.
Semoga saat proses kelahiran hamba, hamba dan anak hamba baik-baik saja dan tidak kekurangan satu apapun.
Rintik-rintik hujan turun secara tiba-tiba, Steven dan Azizah langsung naik ke atas pondok kecil itu.
Awalnya pondok kecil itu hanya sebatas tempat untuk bersantai tanpa sisi yang ditutupi. Namun, karena Azizah sekarang lebih senang bersantai di pondok kecil itu akhirnya Steven menyulapnya menjadi kamar kecil yang sudah dilengkapi dengan kasur untuk beristirahat jikalau Azizah berdiam diri di pondok kecil itu.
“Suamiku, bolehkah aku meminta satu permintaan?” tanya Azizah.
“Katakan saja, aku akan menurutinya!”
“Aku ingin kita menjadi orang yang sederhana saja maksudku adalah bisakah kamu melepaskan kekayaan mu untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan?” tanya Azizah.
Steven terdiam sejenak, ia berpikir serius dengan permintaan istrinya.
Hartanya memang sangat banyak, bahkan 7 keturunan pun tidak akan habis.
Ditambah usaha-usaha Steven yang berada diluar negeri, tapi ia juga tidak mungkin bersikap serakah dengan harta yang ia miliki sekarang karena itu semua hanyalah titipan Allah SWT.
“Bisnisku yang berada diluar akan aku jual Dan aku akan fokus menjalani bisnis yang ada di sini. Tapi, aku akan menyisakan 1 perusahaan di Inggris dan Amerika. Apakah boleh?” tanya Steven.
“Kamu yakin merelakan bisnismu yang lain suamiku?” tanya Azizah memastikan bahwa yang dikatakan suaminya serius.
“Sangat yakin, aku akan fokus dengan bisnisku di Indonesia dan 2 perusahaan yang aku katakan tadi,” balas Steven serius.
Azizah kembali menitikkan air mata, suaminya benar-benar luar biasa. Bahkan disaat Azizah meminta untuk melepaskan perusahaan yang lain dan memberikan kepada orang yang membutuhkan pria blasteran itu langsung mengiyakan permintaannya.
“Terima kasih,” ucap Azizah.
“Aku yang seharusnya berterima kasih, karena Allah telah mengirimkan malaikat berwujud manusia seperti kamu istriku sayang.”❤️
__ADS_1
Like ❤️