
Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib.
Steven maupun Azizah sedang duduk bersama yang lain, mereka berbincang-bincang di ruang keluarga sambil menikmati cemilan di sore hari.
“Jadi kapan kalian merencanakan bulan madu?” tanya Adam penasaran.
“Mungkin Minggu depan Pi!” seru Steven.
Azizah terkejut dengan Jawaban suaminya itu karena ia tidak menyangka akan secepat itu, “Apa tidak terlalu cepat sayang?” tanya Azizah.
“Bagiku Minggu depan sudah terlalu lama istriku sayang, aku malah ingin kita bulan madu ke luar negeri sekarang!” sahut Steven dengan santainya.
Sekarang? enak ya jadi orang kaya tinggal ini itu bisa, aku juga butuh persiapan! tidak main asal pergi saja.
“Rencana kalian mau kemana?” tanya Yuli penasaran.
“Ke Paris Pi, kebetulan Azizah juga mau kesana,” ucap Steven.
“Berapa lama?” tanya Yuli lagi.
Steven menoleh ke arah Azizah, “Berapa lama sayang?” tanya Steven.
“Soal itu aku ikut kamu saja Steven!” seru Azizah.
“Baiklah 2 bulan!” terang Steven.
Azizah terkejut karena mendengar ucapan suaminya itu, 2 bulan bukan waktu yang sebentar apalagi berada diluar negeri.
“Aku tidak ingin berlama-lama disana,” tolak Azizah.
“Baiklah, kita kembali ke Jakarta saat kamu bosan tinggal di sana,” tegas Steven.
Steven tak mau berdebat, cukuplah diam yang menjadi cara aman bagi dirinya ia pun yakin jika mereka telah di Paris Azizah tak bosan bulan madu disana dan mungkin saja Azizah berinisiatif untuk tinggal di Paris selamanya.
Teressa tertawa kecil tidak ada komentar apapun untuk pengantin baru itu.
Drrrt... drrrtt
Ponsel pintar milik Steven bergetar bertanda ada seseorang yang menghubunginya.
“Ada yang menghubungi Steven jadinya harus Steven terima,” ucap Steven dan dengan cepat keluar menjauh dari mereka.
Azizah memanyunkan bibirnya dan pamit menyusul suaminya itu.
“Hallo, Assalamualaikum,” ucap suara wanita dari seberang telepon.
“Waalikumsalam, ada apa teyze?”
“Baby, aku ingin kamu memanggilku dengan sebutan Baby!”
“Baiklah, ada apa baby?”
“Kapan kesini, aku bosan di apartemen terus. Sekali-kali temani aku pergi jalan-jalan menyelusuri jakarta.”
“Baiklah baby aku akan menemanimu besok!”
__ADS_1
“Sekarang, aku mau sekarang kamu berangkat dan temani aku jalan-jalan.”
“Baiklah baby.”
Steven tanpa mengucapkan salam langsung mematikan sambungan telepon sepihak, ia kembali lagi ke ruang keluarga dan pamit keluar.
“Papi, mami, nenek dan Istriku sayang! aku pamit keluar ada urusan penting!”
“Ya sudah hati-hati ya nak!” pesan Yuli dan Adam.
“Iya Steven, hati-hati di jalan!” pesan Teressa.
Azizah menahan kesedihannya ia berusaha bersikap biasa saja, ia telah mendengar semua pembicaraan Steven meski tidak terlalu jelas apa yang dibicarakan dengan orang diseberang telepon itu. Yang pasti Azizah tahu bahwa itu adalah seorang wanita, karena Steven yang tak lain suaminya selalu menyebut kata baby yang dapat diartikan itu adalah panggilan sayang.
Steven mendekat ke arah Azizah dan mencium kening istrinya itu kemudian ia pergi dengan terburu-buru.
Steven membawa mobilnya tak memakai sopir, itu dikarenakan Heru belum juga kembali dari Bandung.
Azizah yang penasaran kemana suaminya pergi itu pun dengan sigap mengikuti suaminya, untung saja motor di garasi sedang menganggur, motor tersebut kepunyaan salah satu bodyguard karena Steven sama sekali tak memiliki motor. Jadinya Azizah dapat membawa motor tersebut untuk mengikuti Steven.
Aku harus mengikuti kemana kamu pergi Steven, baby? siapa baby yang kamu sebut itu.
Steven melajukan mobilnya menuju apartemen dengan kecepatan sedang ia mengambil jalan pintas agar segera sampai, di belakang Azizah yang mengikuti Steven tak dapat menyusul Steven karena banyak sekali kendaraan lain yang menutupi jalannya ia pun menyerah dan memutar arah kembali ke rumah.
Kehilangan jejak, aku harap kamu tidak mengecewakan aku Steven. Siapa baby yang kamu maksud aku tahu benar bahwa yang menghubungimu adalah seorang perempuan.
Aku sangat berharap kamu adalah suami yang setia berbeda dari pria dan orang kaya kebanyakan yang bermain api.
“Loh kamu dari mana Azizah?” tanya Yuli sambil menyiram tanaman.
“Pulsa kamu habis?”
“Iya mi, tapi sekarang sudah Azizah isi. Azizah ke dalam dulu ya mi!”
“Oke sayang!”
Mata Azizah mulai merah ia berlari cepat menuju kamar, ia tidak ingin mereka melihat wajahnya yang terlihat sedih itu.
“Hiks.... hiks...” Azizah menangis di dalam kamar sambil memeluk guling.
Pikiran dan mulutnya sangat tidak sinkron, jika di mulutnya mengatakan tidak maka lain di dalam hatinya, hatinya mengatakan ya, bahwa Steven tengah berselingkuh dari dirinya.
Tidak Azizah, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus mencari bukti tentang Suamimu, jangan pernah berasumsi bahwa Suamimu berselingkuh.
Azizah mengalami konflik batin yang begitu hebat, ia takut akan diduakan lagi seperti yang Dimas lakukan waktu itu terhadapnya dan ia tidak ingin Steven melakukan hal yang dilakukan Dimas terhadapnya.
Di Apartemen.
Ting... tong...
“Teyze!!”
Lucy yang baru saja keluar dari kamar berjalan menuju pintu.
“Ceklek.” Pintu terbuka.
__ADS_1
“Silahkan masuk Steven!” Lucy mempersilahkan untuk masuk.
“Teyze, aku ingin minta tolong kepadamu!” ucap Steven serius.
“Baiklah, sepertinya kamu sangat senang dengan panggilan teyze. Bantuan apa Steven ku?”
“Apakah teyze ingin jalan-jalan?” tanya Steven.
“Ya tentu, ini alasanku memintamu datang kemari!” seru Lucy pada keponakannya.
“Baiklah, teyze sekarang bersiap-siap kita akan berangkat secepatnya!” perintah Steven.
“Steven ku sekarang mulai memerintah lagi, baiklah kamu tunggu aku 15 menit!” seru Lucy.
Sambil menunggu Lucy bersiap-siap, Steven berjalan menuju ruang makan ia mengambil apel yang berada di meja makan dan kembali lagi ke sofa yang ia duduki tadi. Apel yang ditangannya habis dan Lucy telah siap dengan pakaian yang begitu mencolok.
“Aku tidak akan pergi kalau teyze masih memakai pakaian seperti itu!”
“Ada yang salah dengan pakaianku?” tanya Lucy heran.
“Ayolah teyze! ini bukan luar negeri, ini adalah Indonesia dan aku tidak ingin orang-orang mengenaliku apakah banyak sekali paparazi gila yang senang mengejar ku” tegas Steven sedikit narsis.
“Baiklah jangan dijelaskan lagi aku paham maksudmu, kalau begitu tunggu aku 10 menit lagi!”
Lucy terpaksa mengganti pakaiannya, ia sangat kesal lagi-lagi Steven bersikap menyebalkan.
10 menit kemudian.
“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Lucy sambil memutar tubuhnya memperlihatkan pakaian yang ia kenakan.
“Lumayan, setidaknya ini lebih sopan,” sahut Steven.
“Lumayan? apa kamu meledekku?”
“Bisa dibilang begitu,” sahut Steven dengan santai.
“Stop! aku tidak ingin berdebat denganmu Steven, sekarang kita berangkat!” ajak Lucy.
Steven dan Lucy akhirnya meninggalkan apartemen, Steven menelusuri setiap jalan raya di Jakarta. Lucy yang merasakan lapar meminta Steven untuk mampir ke sebuah restoran untuk mengisi perutnya yang sedari tadi berbunyi meminta asupan makanan.
“Kita makan disini teyze!”
“Restoran ini cukup mewah, ayo jangan lama-lama!” seru Lucy dan menggandeng lengan Steven.
Steven dan Lucy menikmati makanan mereka, sesekali mereka bercanda.
“Karena aku sudah menemani teyze jalan-jalan, aku ingin teyze membalas kebaikanku ini!”
“Katakan!”
Steven mengutarakan keinginannya membuat kejutan spesial untuk istri tercintanya, Lucy yang mendengar ucapan dan keinginan Steven mengangguk setuju.
“Baiklah, deal!” seru Lucy.
Bersambung.
__ADS_1
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏.