Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 15


__ADS_3

Tubuh Azizah semakin memburuk, Ia memaksakan diri untuk bekerja. Berkas-berkas yang kemarin telah Ia selesai, Sudah diserahkan kepada Wakil CEO.


Azizah bernafas lega karena tugas yang diberikannya selesai tepat waktu dan tak ada kesalahan sedikitpun.


Sampai sekarang Azizah tidak mengetahui wajah Bos nya tersebut. Ia berharap Atasannya adalah seorang yang murah hati, baik dan tidak sombong.


Steven Walker yang baru sampai di Kantor berjalan menuju Ruangannya. Para pegawai Kantor yang merasakan hawa dingin itu pun seketika menunduk tak berani menatap, Mereka hanya menyapa Steven Walker dengan suara sebaik Mungkin.


“Selamat Pagi Pak!”


“Selamat Pagi Pak!”


Begitulah Sapaan yang Ia dengar setiap harinya, namun tanpa sepatah kata pun Steven Walker membalasnya. Ia terus berjalan sampai Ruang kantornya. Di duduki kursi Singgasananya.


“Apakah pekerjaannya baik?” tanya Steven.


“Maksud bapak Azizah? Pekerjaannya cukup bagus,” balas Fendy Wakil CEO.


Steven Walker hanya diam mengangkat salah satu alisnya.


“Apa ada lagi yang ingin Bapak tanyakan?" tanya Fendy dengan sangat hati-hati.


“Tidak ada,” balas Steven datar.


“Baik Pak, Saya Permisi!”


Steven Walker mengangkat jari tangannya sebelah kiri, mengisyaratkan Fendy untuk segera pergi.


Bagaimana ekspresi mu saat melihatku gadis bodoh?


Hattchiiii.. Hattchiiii..


Azizah sedari tadi bersin, tubuhnya serasa berat untuk berdiri. Keringat dingin mengucur deras di kepala gadis itu.


Pekerjaannya menjadi sangat lambat.


Steven Walker menelisik keberadaan gadis itu dari Cctv di Meja kerjanya. Ia mencium gelagat yang tak beres dari Azizah.


“Kenapa lagi dengan Gadis Bodoh itu? Dari tadi ku perhatikan dia mondar-mandir tak jelas di ruangannya, Kenapa pula Ia sering menyapu wajahnya?” tanya Steven Walker penasaran.


Apakah dia sakit?


Beberapa menit kemudian Azizah terjatuh tak sadarkan diri, Steven Walker yang masih memandanginya dari Cctv terkejut. Ia berlari secepat mungkin untuk membantu Azizah Bangun. Panik yang dirasakan sekarang oleh Steven Walker. Para pegawai yang melihat Tingkah laku Atasannya tersebut merasa terkejut dan heran, Mereka tidak pernah melihat mimik wajah Atasannya yang penuh kekhawatiran.


Steven Walker lalu menggendong tubuh Azizah Ala Bridal Style.


Ia tidak perduli dengan Image dia sebagai CEO yang Arogan dan Acuh tak acuh.


Para pegawai yang menyaksikan pemandangan Sang CEO hanya diam bahkan ada yang sampai menunduk ketakutan karena ditatap tajam oleh Steven Walker.


“Cepat Nyalakan Mobilnya!” perintah Steven dengan nada tinggi.


Heru melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi, terlihat di wajah Steven Walker yang penuh kekhawatiran dan kegelisahan.


Heru tak menyangka bahwa pria yang terkenal Arogan dan Acuh tak acuh kepada orang lain jatuh Cinta terhadap bawahannya yang sangat terlihat biasa saja.

__ADS_1


“Apa yang kamu lihat? lihat ke arah depan!” perintah Steven.


Tubuh Heru langsung dibuat merinding, meski sudah bekerja dengan Keluarga Walker 7 tahun lebih. Tetap Saja Ia sangat takut dengan Seorang Steven Walker pria yang usia dibawahnya 10 tahun ini sangatlah menyeramkan. Ia bagaikan harimau tidur yang jika diganggu maka Ia tidak segan-segan menerkam orang yang mengganggunya.


Sesampainya di Rumah Sakit dekat Perusahaan Walker Corp. Steven Walker bergegas menuju Ruang rawat digendongnya Tubuh Azizah ala Bridal Style, Para pengunjung rumah sakit dan perawat yang berlalu lalang di rumah sakit menatap dalam-dalam ke arah Steven Walker. Bagaimana tidak? Hampir semua orang tercengang dengan adegan romantis tersebut, dan ada beberapa dari mereka mengenal Sosok Steven Walker.


“Cepat periksa Sekarang!” pinta Steven Walker dengan wajah khawatir.


“Iya sebentar, Bapak harus mengikuti prosedur dulu,” balas Seorang perawat.


“Cepat. Atau rumah sakit ini akan kututup,” ancam Steven Walker.


Perawat itu langsung membawa Azizah ke ruang rawat untuk diperiksa, betapa menakutkannya Pria berjas hitam itu.


30 Menit Kemudian.


Dokter yang memeriksa kondisi Azizah baru saja keluar dari Ruang rawat, Steven Walker dengan sigap menghampiri dokter itu.


“Bagaimana keadaan gadis bodoh itu?” tanya Steven.


“Keadaannya sudah membaik, dia hanya demam saja. Dia harus makan dan minum obat yang teratur agar kondisinya stabil,” ucap dokter itu dengan ramah.


“Terima kasih,” balas Steven.


Setelah Dokter itu pergi, Steven berjalan mendekati Azizah. Ditatapnya wajah Azizah dalam-dalam.


Dasar gadis bodoh, sudah tahu sakit bukannya izin bekerja malah memaksakan diri untuk masuk,” ucap Steven Walker lirih.


Ada apa dengan kamu gadis bodoh? kenapa saat melihatmu dalam keadaan seperti ini hatiku begitu sakit? Seandainya kamu tahu bahwa aku adalah Atasanmu, Apakah kamu berani mengatakan aku arogan dan kejam? Cepat sembuh gadis bodoh.


1 Jam kemudian.


Para perawat dilarang memberitahukan tentang Steven Walker yang mengantar Azizah ke Rumah Sakit.


beberapa saat kemudian.


“Aku ada dimana?” tanya Azizah yang sedikit pusing.


Kenapa tanganku di infus.


“Nona Azizah sudah sadar, Apakah ada keluhan?” tanya perawat.


“Alhamdulillah aku tidak mengalami keluhan apapun hanya pusing sedikit, Apakah ini rumah sakit?” tanya Azizah memastikan.


“Iya nona, anda sedang di rumah sakit. besok anda baru boleh pulang,” balas perawat itu ramah.


“Lalu siapa yang mengantarkan aku kesini? bukankah seingatku, aku masih di kantor.”


“Saya tidak tahu nona, Dan biaya Mbak Azizah sudah dilunasi,” ucap Perawat lalu pergi.


Siapakah orang yang menolong aku? Apakah orang kantor?


Disisi lain.


“Fendy! Suruh mereka berkumpul di ruang rapat sekarang!” perintah Steven.

__ADS_1


“Baik Pak,” balas Fendi.


10 Menit Kemudian.


“Saya meminta kalian hadir kesini untuk memperbaiki data ini!” perintah Steven dengan suara yang begitu mengerikan.


Para pegawai bergidik ngeri dengan Suasana hati Atasannya itu.


“Cepat kerjakan sekarang! untuk yang tidak hadir di ruang rapat ini. pecat mereka saat ini juga!” tegas Steven Walker.


Steven Walker kemudian pergi meninggalkan para pegawainya. Steven tidak perduli alasan apapun, sekalinya iya maka harus iya.


Di rumah sakit.


Azizah mencoba menghubungi nomor Dimas tapi hasilnya nihil. Telepon Dimas tidak aktif, Azizah pun berinisiatif untuk mengirim pesan singkat.


“Dimas. Aku masuk rumah sakit sekarang sedang dirawat. Jika kamu ada waktu tolong temui aku atau kamu jemput aku besok sore.” Ketik Azizah pada pesan singkat.


beberapa menit kemudian.


Kring... kring...


“Hallo Sayang, kamu di rumah sakit mana?” tanya Dimas dari sebrang telepon.


“Aku ada di rumah sakit Pelita hati,” balas Azizah.


“Sebentar lagi aku sampai sayang, saat ini aku dijalan. Aku tutup dulu teleponnya Muacch,” ucap Dimas lalu mematikan teleponnya.


40 Menit Kemudian.


“Sayang!” panggil Dimas lalu memeluk tubuh Azizah.


“Akhirnya kamu datang,” ucap Azizah disela-sela pelukan hangat.


“Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit sayang? Aku sangat khawatir.”


“Hanya demam biasa saja Sayang, besok aku sudah boleh pulang,” balas Azizah.


“Hari ini sampai besok aku akan menemani kamu di Rumah Sakit, lain kali kamu harus menjaga kesehatan kamu sayang. Aku takut kamu sakit,” ucap Dimas sedih.


“Kamu tenang saja, aku sudah membaik sekarang.”


Mereka saling bersenda gurau, Azizah senang kekasihnya datang menemui dirinya. Bahkan menemani sampai esok.


Keesokan harinya.


“Pegang lenganku,” ucap Dimas membantu Azizah berjalan.


“Dimas, aku bisa sendiri. kakiku tidak sakit,” balas Azizah.


Azizah diantar pulang oleh Dimas Ginanjar, Sang kekasih. Sejujurnya Dimas sangat penasaran dengan orang yang telah membantu membiayai pengobatan kekasihnya. Tapi Ia enggan bertanya kepada Azizah.


Azizah berjalan sedikit cepat, tiba-tiba kakinya tersandung. Dan disambut lah oleh Dimas Ginanjar. Steven Walker yang ingin mengetahui keadaan Azizah berjalan menuju arah ruangan Azizah, Namun saat akan menuju ke arah ruangan itu. Steven Walker terkejut melihat pemandangan yang membuat hatinya Panas, Di kepalnya kedua tangan Steven. Tanpa berbasa-basi lagi Steven pun pergi meninggalkan sepasang kekasih yang terlihat sangat dekat.


“Kenapa Cepat sekali Pak?” tanya Heru heran.

__ADS_1


“Jangan banyak tanya cepat pergi dari sini,” ucap Steven Walker kesal.


Siapa Pria yang memeluk gadis bodoh itu? Apakah Kekasihnya? atau Saudaranya? tapi kalau saudara tidak mungkin memeluk dan menatap selama itu.


__ADS_2