Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 152


__ADS_3

Malam hari.


Selepas sholat isya bersama, Azizah dan Steven memutuskan untuk berangkat menikmati malam mereka di Alun-alun Magetan.


Azizah begitu senang karena ia bisa malam mingguan bersama suaminya.


Steven memakai baju kasual sementara Azizah memakai baju yang cukup tebal karena udara malam yang begitu dingin.


“Sudah siapa sayang?” tanya Steven.


“Sebentar lagi sayang, aku harus memakai jaket juga,” balas Azizah.


“Jangan yang warna biru, pakailah warna hitam saja,” ucap Steven.


“What? yang benar saja, kenapa harus warna hitam sayang?” tanya Azizah keheranan.


“Aku tidak ingin istriku ini menjadi pusat perhatian!” tegas Steven.


“Kalau begitu kamu juga harus pakai baju serba hitam!” pinta Azizah.


“Ya sudah kamu pakai jaket warna biru," ucap Steven.


Azizah tersenyum puas dan memakai jaket bulu berwarna biru.


Istriku kenapa malah ini sungguh menggoda, membuatku ingin segera memakannya.


“Apa yang kamu pikirkan? jangan harap ingin memakan ku malam ini,” ucap Azizah.


“Baiklah, ayo kita berangkat sekarang!” ajak Steven dengan wajah cemberut.


Sebelum berangkat, mereka berdua pamit terlebih dahulu kepada Adam dan Yuli yang berada di kamar. Kemudian suami istri itu turun ke lantai dasar, sementara Galih dan Mariska sudah berada di mobil terlebih dahulu.


“Lama sekali mereka berdua,” ucap Mariska bermonolog.


Galih hanya melirik sekilas lalu menanti kedatangan majikannya di pintu keluar masuk hotel.


“Mereka datang,” ucap Galih dan segera keluar mobil untuk membukakan pintu mobil.


“Selamat malam tuan muda dan nyonya muda!” sapa Galih.


“Malam juga Galih!” seru Azizah dan masuk ke dalam mobil kemudian disusul oleh suaminya.


“Kakak lama sekali,” ucap Mariska saat Steven dan Azizah sudah berada di dalam mobil.


“Benarkah?” tanya Azizah.


“Mungkin,” balas Marika sambil mengangkat kedua alisnya.


“Berangkat sekarang!” perintah Steven kepada Galih.


“Baik tuan muda!” seru Galih dan mulai menyalakan mobil.


Wajah Azizah berseri-seri sepanjang perjalanan menuju kabupaten Magetan.


“Terima kasih suamiku!” ucap Azizah kemudian memeluk lengan suaminya.


“Malam ini kamu terlihat sangat cantik," puji Steven sambil mencolek hidung Azizah.


Azizah tertawa kecil kemudian Steven pun ikut tertawa.


Galih dan Mariska yang berada di depan hanya diam membisu, tidak ada pembicaraan dari keduanya yang ada hanya tatapan permusuhan.

__ADS_1


Azizah menatap ke luar jendela kaca mobil dan melihat ada warung tenda dengan kain bertuliskan sate ayam.


“Galih berhenti sekarang!” perintah Azizah.


Galih langsung menghentikan mobil, untungnya saat itu ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


“Kenapa berhenti sayang?” tanya Steven.


“Aku ingin memakan sate di seberang jalan itu sayang,” ucap Azizah sambil menunjuk tenda yang ia maksud.


“Baiklah!” seru Steven dan mengelus-elus perut Azizah.


“Terima kasih sayang,” balas Azizah senang.


“Galih putar balik, kita akan mampir ke tenda itu!” perintah Steven.


“Baik tuan muda!” seru Galih dan menyalakan mobil menuju tenda yang dimaksud oleh majikannya.


Mariska terlihat sangat senang karena ia akan menikmati sate ayam, sudah lama sekali ia menginginkan sate ayam. Namun, belum juga kesampaian.


Keponakanku memang sangat pintar, akhirnya aku akan menikmati sate ayam.


Galih tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Mariska yang terlihat begitu bahagia.


Apakah gadis ini juga sangat ingin menikmati sate ayam? lucu sekali.


🍃🍃


Setelah mobil berhenti di dekat tenda tersebut, Galih dengan cepat keluar dan membukakan pintu untuk majikannya.


Azizah turun dari mobil dengan begitu semangat.


“Aaaaa.” Teriak Azizah.


Azizah yang semula semangat hanya terdiam dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


“Sudah tidak apa-apa, lain kali kamu harus hati-hati. Ingat anak yang sedang kamu kandung," ucap Steven lembut.


“Maaf,” balas Azizah.


Para pelanggan yang berada di dalam tenda itu hanya melongo melihat Azizah maupun Steven yang begitu romantis.


“Ayo kita beli sate ayam keinginan anak kita!” ajak Steven.


Azizah melepaskan pelukannya dan menggenggam lengan suaminya.


“Mau beli satu mister?' tanya bapak penjual sate ayam sambil mengipasi sate.


“Iya,” balas Steven singkat.


“Sayang, sate ayamnya dibungkus saja,” ucap Azizah.


“Sate ayam 4 porsi pak, dibungkus antarkan ke mobil hitam itu,” ucap Steven sambil menunjuk mobil hitam miliknya yang ia beli saat berada di Madiun.


“Baik mister!” seru pedagang sate.


Steven merangkul pinggang Azizah dan menuntunnya ke dalam mobil. Di dalam mobil Azizah langsung memeluk suaminya, ia begitu malu sekaligus merasa bersalah karena kurang hati-hati.


“Maaf,” ucap Azizah bersembunyi di dada suaminya.


Mariska dan Galih lagi-lagi terdiam di dalam mobil itu, mereka kompak menatap lurus dan berpura-pura tak mendengar pembicaraan suami istri yang duduk di belakang mereka.

__ADS_1


“Lain kali harus berhati-hati istriku,” balas Steven lembut.


“Iya sayang,” ucap Azizah.


15 menit kemudian.


Penjual sate datang menghampiri mereka dengan membawa sate yang mereka pesan, Galih membuka kaca mobil dan menerimanya.


“Saya permisi!” ucap penjual sate ayam.


“Iya pak!” seru Galih.


Galih terlebih dahulu memberikannya kepada kedua majikannya lalu ia memberikan seporsi sate ayam kepada Mariska yang terlihat begitu sumringah.


“Sayang, seperti ini sangat enak,” ucap Azizah bersemangat.


“Iya sayang, makanlah!”


Azizah mengangguk dan mulai menyantap sate ayam bumbu kacang yang berada ditangannya.


“Wah enak sekali,” puji Azizah saat memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.


“Iya kak, enak sekali,” sahut Mariska.


Steven belum menyantap sate ayam itu, ia masih memperhatikan istrinya.


“Kenapa menatapku seperti itu, cobalah sayang ini enak sekali.”


“Baiklah!” seru Steven dan menyantapnya.


Lumayan enak, ternyata istri dan anakku sangat pintar memilih makanan.


Mereka berempat menghabiskan sate ayam tersebut, untungnya Steven telah menyediakan air mineral di dalam mobil.


Steven tahu jika istrinya sangat senang berhenti mendadak jika sedang berpergian.


“Kenyang," ucap Azizah sambil mengelus-elus perutnya.


“Anak pintar,” balas Steven dan ikut mengelus-elus perut Azizah.


Steven memberikan 5 uang lembar uang tunai berwarna merah dan meminta Galih untuk turun dan membayar biaya makan mereka.


“Berikan semuanya kepada penjual sate itu!” perintah Steven.


“Baik tuan muda!” seru Galih kemudian keluar dari mobil untuk membayar biaya makanan mereka.


Beberapa menit kemudian.


Galih masuk dan menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju alun-alun Magetan.


Suamiku ini memang sangat baik, anakku sayang. Jika, sudah besar nanti kamu harus menjadi manusia yang dermawan seperti ayahmu ya.


“Kenapa dengan senyum mu sayang?” tanya Steven melihat istrinya tersenyum manis.


“Tidak ada, sekarang aku mengantuk suamiku. Bolehkah aku tidur sebentar saja!” pinta Steven.


“Baiklah, sini aku peluk!” seru Steven dan memeluk istrinya.


Azizah tersenyum dan mulai memejamkan mata dipelukan suaminya.


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏

__ADS_1


Vote ya!! Terima kasih untuk kalian yang sudah merespon novel author.. ❤️


__ADS_2