Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 38


__ADS_3

Steven baru tiba di Apartemen ia lalu menghampiri Azizah yang sedang duduk sambil membaca sebuah buku novel.


“Gadis bodoh! tanda tangan berkas ini!” perintah Steven.


“Berkas apa ini Pak? Apakah Pak Steven ingin menjual sayang?” tanya Azizah lalu meletakkan novel yang ia baca.


“Siapa yang bilang ingin menjualmu? Lagi-lagi kamu bicara seperti itu. Berkas itu untuk mengurus kuliah kamu, jadi cepat tanda tangan!” perintah Steven dingin.


“Apa? Bapak tidak salah?” tanya Azizah heran.


“Jangan pernah meragukan pemikiran ku, aku sangat benci dengan orang yang ragu terhadapku. Aku ingin kamu meneruskan kuliah tanpa harus memikirkan biayanya, tapi dengan syarat kamu harus tetap menjadi sekretaris ku dengan gaji yang tentunya aku potong,” jelas Steven, ia tak ingin memberitahukan kebenarannya bahwa Steven ingin menjadikan Azizah pendamping hidup.


“Maaf Pak saya tidak bermaksud meragukan Pak Steven,” ucap Azizah sambil menundukkan kepalanya.


“Mau apa tidak?” tanya Steven dingin.


Jangan sia-siakan kesempatan ini Azizah.


Aku harus bisa.


Azizah tidak ingin melewatkan kesempatan itu, ia pun menyetujui ucapan Steven karena kesempatan itu tidak akan datang untuk yang ke dua kalinya. Lagi pula jabatan sekretaris CEO adalah jabatan yang luar biasa.


“Saya setuju Pak. Terima kasih atas kesempatan ini, saya akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan pernah mengecewakan Pak Steven,” ucap Azizah lalu menadatangani berkas.


“Baiklah aku akan pergi sekarang,” balas Steven sambil membawa berkas yang telah ditandatangani oleh Azizah.


“Iya Pak Steven,” sahut Azizah sambil memperhatikan kepergian Steven.


Hati Azizah sangat senang dan berbunga-bunga, keinginan untuk berkuliah akhirnya terwujud meski harus menjadi sekretaris CEO tanpa digaji sepenuhnya melainkan dipotong.


“Ehem..” Indah berdehem.


“Sepertinya sangat bahagia nona, pasti Tuan muda Steven bersikap romantis,” tebak Indah.


“Mbak Indah sok tahu.”


“Hi..hi.. iya deh Nona,” ucap Indah dengan tawa kecil.


Azizah lalu pergi ke meja makan untuk mengambil air minum.


Ia kemudian mengambil novelnya dan melanjutkan membaca di kamar.


Sore hari.


Azizah baru saja selesai mandi ia lalu mengeringkan rambutnya yang basah dengan pengering rambut tak lupa ia memakai baju tidur bermotif panda.


Usai mengeringkan rambut Azizah lalu pergi ke ruang tamu untuk menonton film, film itu menceritakan tentang seorang anak yang ditinggal oleh orang tuanya Azizah lalu ingat tentang kehidupan.


“Hiks.. hiks.. kenapa ceritanya sama persis dengan cerita aku 😭”Azizah menangis mengingat kedua orangtuanya Ia tak pernah mengunjungi makan kedua orangtuanya ditambah Darmi Sang bibi telah meninggalkan Azizah untuk selamanya jadi tidak ada teman yang bisa diajak ke Surabaya.


“Nona Azizah kenapa?” tanya Indah terkejut, ia tak pernah melihat Azizah menangis selama dirinya bekerja.


“Hiks..hiks.. aku rindu dengan kedua orangtuaku yang telah meninggal dunia Mbak,” ucap Azizah yang masih menangis.


“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Maaf ya Nona saya baru tahu kalau Nona yatim piatu, Nona Azizah pasti kuat lagipula ada Tuan muda Steven yang menjaga nona,” ucap Indah menghibur lalu memeluk Azizah agar tenang.


Azizah menangis di pelukan Indah, sampai akhirnya Azizah tertidur kelelahan.


“Kasihan Nona Azizah, ternyata di balik sikapnya yang ceria ada kesedihan dihatinya,” ucap Indah sambil memperbaiki posisi tidur Azizah.


Indah tak pernah tahu tentang kehidupan Azizah. Ia hanya diutus oleh Steven untuk menjaga Azizah.


Indah berharap Azizah dan Steven hidup bersama dengan menjalani kehidupan rumah tangga.


Steven baru saja tiba di Apartemennya dan melihat Azizah tidur dengan wajah yang terlihat habis menangis ia pun dengan cepat menghampiri Indah untuk menayangkan kenapa Gadis bodoh itu menangis.


“Indah!” panggil Steven dengan wajah datar.


“Astaga, Tuan muda hampir membuat saya jantungan. Ada apa Tuan muda?” tanya Indah sambil memegang dadanya.

__ADS_1


“Gadis bodohku kenapa terlihat habis menangis apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Steven mengintrogasi Indah.


“Nona Azizah menangis karena merindukan Alm. kedua orangtuanya Tuan muda,” sahut Indah.


Mendengar ucapan itu Steven berjalan menghampiri Azizah yang tengah tertidur di sofa.


Tanpa berbasa-basi Steven langsung mengangkat tubuh Azizah dan membawanya ke kamar. Indah yang melihat keromantisan Steven bahkan dibuat terlena oleh sikap Steven.


“Ya ampun Tuan muda so sweet banget beruntung Nona Azizah mendapatkan Tuan muda Steven,” puji Indah.


Steven membaringkan tubuh Azizah di ranjang ukuran King size. Ia lalu menyelimuti tubuh Azizah, terlihat kesedihan di raut wajah Azizah meski ia sedang tertidur.


Tidurlah yang nyenyak gadis bodohku! Aku akan menemanimu ke Surabaya untuk menemui mereka. Aku janji!


Steven lalu mencium kening Azizah dan meninggalkan Azizah yang sedang tertidur.


1 Jam kemudian.


Azizah terbangun dan sangat heran karena dirinya telah tidur di kamar.


Padahal ia ingat sekali jika sebelumnya dirinya tertidur di sofa ruang tamu.


Azizah lalu berlari kecil keluar kamar menghampiri Indah.


“Mbak Indah!!” panggil Azizah.


“Ada apa Nona?” tanya Indah.


“Bukankah aku tadi tidur di sofa, apakah aku tidur berjalan menuju kamar?” tanya Azizah bingung.


“Nona ini malah pura-pura tidak tahu, kan Tuan muda Steven yang menggendong nona masuk kamar hi..hi..” sahut Indah dengan tertawa kecil.


Azizah membelalakkan matanya ia lalu memukul kepalanya, ia benar-benar lupa kalau ada Steven.


“Sekarang Pak Steven dimana?”


“Nona ini sudah waktunya saya pulang, calon suami saya sedang menunggu dibawah,” sambung Indah.


“Silahkan pulang Mbak Indah! hati-hati di jalan.”


Setelah kepergian Indah, Azizah lalu kembali ke kamar.


Steven sedang berbaring di ranjangnya, ia mengingat kejadian tadi pagi saat diperjalanan menuju perusahaan.


Seorang wanita yang mirip dengan orang yang dikenalnya lewat tepat di depan mobil.


“Kembalilah Mariska,” ucap Steven sambil memegang bingkai foto berisikan gambar Seorang gadis remaja dengan memegang bunga mawar.


Tak lama Steven pun tertidur dengan memeluk bingkai foto.


Azizah ke luar kamar menuju meja makan,


Ia melihat makanan masih utuh disana.


Kakinya pun melangkah ke arah kamar Steven untuk mengajak Steven makan malam bersama.


Tok.. tok..


“Pak Steven!” panggil Azizah.


“Ada apa?” tanya Steven membuka pintu kamar.


“Pak Steven sudah makan apa belum?” tanya Azizah dengan sedikit gugup.


“Kebetulan belum, ayo kita makan bersama!”


“I...iya Pak,” sahut Azizah gugup.


Mereka makan bersama di meja makan.

__ADS_1


Steven maupun Azizah tak mengeluarkan suara sedikitpun mereka fokus menikmati hidangan.


Namun sesekali Steven melirik ke arah Azizah yang sibuk mengunyah makanan.


20 Menit Kemudian.


“Biar aku yang angkat piring ini,” ucap Steven sambil mengangkat piring kotor.


“Jangan begitu Pak, biar saya saja,” tolak Azizah sambil mengambil piring yang ada di tangan.


“Biar aku saja!”


“Tidak Pak Steven, biar saya saja!”


Mereka seperti memperebutkan sebuah permen manis, tarik menarik tak ingin mengalah.


Brakkkkk... Prengggg...


Piring akhirnya terjatuh ke lantai dengan pecahan kaca yang berhamburan.


“Aaawww...” Tangan Azizah terkena pecahan kaca piring.


Steven panik dan menghisap darah Azizah yang keluar dari jarinya.


“Tolong jangan seperti ini Pak,” ucap Azizah lalu pergi menuju kamar.


Azizah mengatur nafasnya yang memburu, hatinya benar-benar berdebar saat Steven memperlakukan dengan sangat baik padahal dirinya sendiri adalah seorang bawahan.


“Ayo Azizah! buang jauh-jauh rasa sukamu itu. Ini tidak benar dan sangat salah,” ucap Azizah sambil menggelengkan kepalanya.


Ada apa dengan gadis bodoh itu, padahal aku hanya menolongnya. Apakah aku melakukan kesalahan?


Usai membereskan pecahan piring, Steven pergi meninggalkan Apartemen tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepergiannya kepada Azizah.


“Selamat malam Tuan muda,” sapa Heru sambil membuka pintu mobil untuk majikannya.


“Pulang ke rumah!” perintah Steven dingin.


“Baik Tuan muda,” sahut Heru.


Heru segera mengendarai Mobil menuju kediaman Steven Walker.


Setelah sekian lama akhirnya Steven pulang kerumahnya.


Di sepanjang perjalanan Steven hanya diam melamun, ia mengingat gadis remaja yang lewat tepat di depan matanya.


Aku akan menemukan kamu Mariska.


1 Jam kemudian.


Dikediaman Steven Walker.


“Selamat malam Tuan muda!” sapa Pelayan.


“Ya,” balas Steven singkat dan pergi memasuki rumahnya.


Hati Steven saat itu benar-benar tak karuan, ia bahkan kehilangan fokusnya.


Yang dipikirkannya hanyalah menemukan kembali Mariska.


Kira-kira siapa itu Mariska?


Silahkan komen menurut pemikiran kalian teman-teman.


Like+Vote buat novel author ini.


Biar tambah semangat untuk update


😭😭

__ADS_1


__ADS_2