
Tibalah malam, Nirmala mendatangi kamar sang putri untuk mengetahui jawaban dari Diandra tentang ucapannya pagi tadi.
Tok... Tok..
“Masuk Mi!” Diandra sudah tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah ibunya.
“Mami langsung to the point aja, sekarang apa keputusan kamu?” tanya Nirmala dengan tatapan tajam.
Untuk pertama kalinya Diandra ketakutan, ia tidak mungkin mengambil keputusan untuk tetap mengejar Steven karena jika itu terjadi keluarganya akan benar-benar hancur.
“Diandra! kamu dengar mami bicara kan?” tanya Nirmala kesal.
“I...iya mi Diandra dengar,” sahut Diandra dengan menunduk kepalanya.
“Sekarang cepat katakan apa keputusan kamu!!” perintah Nirmala.
Diandra masih terdiam, ia menangis dalam diamnya. Disaat bersamaan Alex Smith yang tak lain ayah Diandra datang.
“Diandra kenapa mi?” tanya Alex yang melihat putri kesayangan menangis.
“Diandra aku minta mengambil keputusan untuk memilih melupakan Steven itu atau membiarkan kita bercerai,” terang Nirmala.
“Apa kamu sudah gila Nirmala? biarkan saja Diandra mendekati Steven. Ingat Diandra anak kita satu-satunya.” Bela Alex pada putrinya.
“Lihat! Diandra begini karena hasil didikan kamu, gara-gara kamu terlalu memanjakan Diandra membuat dia malah kurang ajar kepada kita. Biasanya aku diam tapi tidak untuk malam ini, aku ingin mendengar langsung keputusan Diandra. Kalau sampai dia tetap mengejar Steven itu malam ini juga aku akan pergi meninggalkan kalian!” Nirmala berbicara dengan nada tinggi membuat Alex terkejut.
Wanita yang hampir 30 tahun dinikahinya tidak pernah berkata dengan nada meninggi lain halnya dengan malam itu.
“Jangan Mi, Diandra akan melupakan Steven.”
Diandra akhirnya bisa memutuskan putusan mana yang tepat bagi dirinya.
“Papi dengar! Diandra memilih untuk melupakan Steven, besok pagi kita kembali ke Jerman!”
“Jerman?” tanya Alex kebingungan.
“Ya Jerman, mami sudah mendengar bahwa perusahaan papi bangkrut. Setidaknya di Inggris kita tidak akan kelaparan.”
Setelah berbicara Nirmala meninggalkan Anak dan ayah itu dikamar, Nirmala lega karena sang putri akhirnya menyerah juga untuk mengejar pria yang jelas-jelas tak pernah memandang Diandra.
Alex Smith pasrah dengan keputusan sang istri, awalnya ia ingin menyembunyikan kebangkrutannya namun ternyata sang istri lebih dulu mengetahuinya.
“Kita beneran akan ke Jerman Pi?” tanya Diandra disela-sela tangisnya.
“Yang dikatakan mami kamu benar, papi juga sudah bangkrut. Kamu sekarang kurangi sifat manja kamu ini nak!”
“Ba...baik Pi,” sahut Diandra.
Di kediaman Steven Walker.
Azizah dan Steven sibuk memilih undangan pernikahan mana yang cocok untuk mereka, sudah 1 jam lebih undangan pernikahan belum juga dipilih oleh calon suami istri itu.
__ADS_1
“Jadi bagaimana sudah ada yang cocok?” Entah berapa kali Teressa menanyakan kalimat itu kepada mereka.
“Belum nek, sebenarnya tadi sudah ada yang cocok menurut Azizah tapi Steven malah tidak cocok,” ucap Azizah sedih.
“Kita cari lagi ya sayang!” pinta Steven.
Azizah mendengus kesal ia benar-benar sudah kesal dengan sikap Steven yang perfeksionis itu.
“Sebaiknya aku hubungi desain undangan pernikahan yang lain kalau perlu dari luar negeri,” ucap Steven sambil mengotak-atik ponselnya.
“Terserah kamu saja Steven, aku mau tidur ini sudah malam.”
“Ya sudah kamu tidur saja urusan undangan biar aku saja!” seru Steven dengan santainya.
Azizah berjalan dengan menghentakkan kakinya, jika sudah urusan pernikahan Steven lah yang maju duluan untuk persiapan semuanya.
“Kalau sudah menikah nanti sebaiknya kamu banyak mengalah untuk Azizah, ingat Azizah adalah gadis yang sangat baik. Buatlah dia bahagia saat bersamamu!” Teressa berkata dengan lembut.
“Apa aku sudah keterlaluan ya nek? aku hanya ingin seluruh dunia menyaksikan pernikahan kami. Apalagi nenek tahu sendiri aku adalah pengusaha muda yang sangat terkenal se-Asia tenggara bahkan sampai negara Eropa lainnya.”
“Berlebihan tidak, hanya saja kamu harus tahu Azizah bukanlah gadis kaya jadi kamu harus mengerti!”
“Baik nek, terima kasih karena nenek telah mengingatkan Steven.”
30 menit kemudian.
Akhirnya Steven menemukan undangan pernikahan yang diinginkannya, undangan itu memiliki hiasan emas di pinggirannya. Bahkan souvernir pernikahan mereka adalah berlian 24 karat. Pernikahan itu akan menjadi sejarah dunia, itu yang dipikirkan oleh seorang Steven Walker.
“Iya nenek juga akan tidur, ingat besok orangtuamu akan datang!”
“Nenek tenang saja, Steven ingat kok.”
Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.
Di kamar Steven.
Sebentar lagi aku dan Azizah akan menikah, aku tidak pernah sebahagia dan Secinta ini kepada seorang gadis. Aku janji Azizah, akan selalu membahagiakan kamu. Dunia ini harus tahu bawa Azizah Cahyani hanya milik Steven Walker seorang.
Pria bermata indah itu kemudian tertidur dengan pulas.
Drrttt... drrttt...
Terdengar getaran ponsel milik Steven, membuat si empunya ponsel terbangun.
“Hallo siapa malam-malam mengganggu tidurku?” Steven berkata dengan nada yang sedikit tinggi.
“Maaf CEO jika saya mengganggu malam-malam, tapi proyek kita yang berada di Surabaya tiba-tiba roboh dan ada 2 korban jiwa yang meninggal.”
“Apa!” Steven berteriak terkejut.
Proyek yang diperkirakan memakan dana 10 Milyar tiba-tiba roboh membuat Steven terkejut.
__ADS_1
Pria keturunan Inggris-Indonesia dengan tergesa-gesa bangun dari tidurnya, Steven kemudian mengganti pakaiannya dengan jas kerja.
Sebaiknya malam ini aku harus segera ke Surabaya untuk memastikan sendiri kenapa tiba-tiba proyek itu bisa roboh? kalau pun ada yang berniat macam-macam terhadap perusahaan milikku akan aku pastikan mereka menyesal.
Sudah menjadi resiko dalam dunia bisnis jika ada persaingan namun yang ini sangatlah beda, Steven paling tidak suka jika ada orang yang berani bermain-main dengan dirinya. Ia dengan cepat keluar dari kamarnya, kebetulan saat itu Azizah juga keluar dari kamarnya.
“Steven! kamu mau kemana?” tanya Azizah saat mendapati sang calon suami sudah rapi dengan setelan jas kerja.
“Malam ini aku harus segera ke Surabaya sayang, proyekku yang sekitar 1 bulan dibangun malah roboh, aku curiga jika ada pesaing bisnisku yang melakukan perbuatan kotor ini,” terang Steven.
“Aku ikut!” pinta Azizah.
“Tapi sayang....”
“Pokoknya aku ikut kamu.” Azizah bersikukuh untuk ikut.
“Dengar sayang, papi dan mami besok akan terbang ke Jakarta. Jadinya kamu tetap dirumah,” ucap Steven memberi pengertian agar Azizah tidak ikut.
“Perasaanku tiba-tiba tidak enak Steven sayang, please aku ikut ya!” Azizah memohon.
Melihat wajah Azizah seperti itu membuat Steven tidak tega untuk menolak.
“Baiklah, tapi kamu harus janji jaga keselamatan kamu ya sayang!”
“Horeee!! terima kasih sayang,” balas Azizah senang.
“Sekaranh kamu ganti baju! jangan lupa pakailah jaket, cuaca malam ini sangatlah dingin. Aku ke kamar nenek dulu untuk pamit,” ucap Steven.
“Oke sayang! tapi kita kan naik mobil.”
“Kita tidak naik mobil, kita pakai pesawat pribadi saja,” ucap Steven.
“Haaa? pesawat pribadi?” Azizah terkaget-kaget.
“Kalau pakai mobil akan sampai 2 hari sayang, kalau kita naik pesawat hanya beberapa jam saja,” jelas Steven dengan lembut.
“Ba.. baiklah.”
Azizah membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam dalam. Didalam kamar Azizah masih terkaget-kaget dengan ucapan calon suaminya itu.
Ya Allah kenapa hamba baru sadar bahwa Steven ternyata sangatlah kaya?
Kalau dunia sampai tahu Steven menikahi gadis miskin seperti aku bagaimana?
Kamu harus bisa Azizah, terserah jika nanti para netizen ataupun haters membicarakan buruk tentang mu kamu harus tutup telinga rapat-rapat.
Terima kasih sebelumnya karena kalian telah membaca novel author ini...
Jangan lupa Vote ya!! Author maksa kalian untuk Vote sebanyak-banyaknya, biar ala coba? ya biar author semangat buat update.
Jangan lupa like ❤️🙏 Komen 👇❤️❤️
__ADS_1