Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 169


__ADS_3

Sudah pukul 1 siang sang suami belum juga pulang, padahal sebelum berangkat kerja Steven berjanji akan pulang sebelum makan siang ditambah ponsel miliknya suaminya tak aktif membuat Azizah khawatir.


Kamu kemana suamiku jam segini belum juga kembali, seharusnya kamu kembali dari tadi. Apa sebaiknya aku menyusul ke perusahaan saja?


Azizah memikirkan sejenak keinginannya untuk menyusul sang suaminya dan akhirnya keputusannya adalah menyusul pria blasteran itu.


Ia segera mengambil tas kecil miliknya dan bergegas keluar kamar.


“Mami! Azizah mau keluar sebentar,” ucap Azizah pada Yuli yang sedang sibuk menata bunga plastik di ruang keluarga.


“Mau kemana siang-siang begini?” tanya Yuli.


“Azizah mau ke perusahaan mi, Steven dari tadi sudah dihubungi,” balas Azizah.


“Kenapa tidak menunggu saja di rumah barangkali Steven sedang di perjalanan.”


“Azizah menyusul Steven saja mi, Assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam, kamu hati-hati ya nak!”


“Iya mi.”


Azizah berjalan ke luar rumah dan menghampiri bodyguard yang berdiri, “Pak antarkan saya ke perusahaan sekarang!” perintah Azizah.


“Baik nyonya muda!”


Sang bodyguard berlari kecil untuk mengambil mobil di garasi dan memanaskan mobil itu sebentar kemudian membukakan pintu mobil untuk Azizah.


“Ayo pak!” pinta Azizah.


“Baik nyonya muda!”


***


Di perusahaan.


Steven sedang berada di ruang rapat bersama bawahannya, ia sedang melakukan rapat untuk persiapan sponsor makanan yang baru saja diciptakan oleh perusahaan miliknya.


“Jadi apakah kalian siap?” tanya Steven.


“Kami siap CEO!” seru mereka.


Steven berdiri dari duduk dan bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, sifat dinginnya masih saja sama seperti itu.


Steven tak pernah sekalipun tersenyum di depan para bawahannya bahkan melirik pun tak pernah jika ada kesalahan yang diperbuat oleh bawahannya maka Steven akan membuat peringatan berbeda sebelum ia menikah dan belum mengenal Azizah, pria blasteran itu tak tanggung-tanggung memecat siapapun bawahannya yang melakukan kesalahan walaupun hanya sedikit.


Steven begitu lelah dan mengistirahatkan tubuhnya di kamar khusus ruang kerjanya, semenjak ia menjual sahamnya yang ada di luar negeri. Para investor yang sebelumnya bekerja dengannya terus memaksa dirinya agar kembali membangun perusahaan Steven bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Steven telah diperalat oleh Azizah. Namun, Steven tak perduli dengan apa yang dikatakan oleh orang lain karena ia tahu bahwa pilihannya adalah pilihan yang sangat tepat.


“Ya ampun banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari istriku!” ucap Steven yang terkejut karena baru saja ia menghidupkan ponselnya dan melihat notifikasi dari sang istri.

__ADS_1


Aku lupa bahwa aku sudah berjanji akan pulang sebelum makan siang.


Steven beranjak dari ranjang dan segera bersiap-siap untuk pulang, baru saja keluar dari ruangannya rupanya Azizah sudah berada di depan pintu.


“Sayang!” ucap Steven terkejut.


Azizah masuk dan menutup pintu rapat-rapat kemudian langsung memeluk tubuh suaminya.


“Kamu darimana saja suamiku? aku terus menghubungi berulang kali tapi nomormu tak aktif,” ungkap Azizah yang begitu khawatir dan kemudian menangis karena takut akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Steven merasa bersalah karena telah membuat istrinya khawatir ditambah sang istri kini malah menangis.


“Maafkan aku sayang, aku menyesal karena membuatmu menangis. Aku tadi sedang ada rapat dan ponsel aku matikan aku bahkan lupa memberitahukan kepadamu,” terang Steven kemudian mengelus-elus punggung Azizah.


“Jangan diulangi lagi, kamu tahu betapa khawatirnya aku?”


“Iya aku minta maaf, maaf ya sayang aku benar-benar menyesal,” ucap Steven serius.


Azizah terus memeluk tubuh suaminya, meski ia sudah tidak sering mengalami mual-mual lagi. Namun, Azizah sekarang malah sering menangis mungkin karena hormon kehamilan yang dialami oleh Azizah.


“Apakah kamu sudah makan siang sayang?” tanya Steven lembut.


“Belum, aku belum makan siang karena menunggu sayang,” balas Azizah.


“Ya sudah sekarang kamu duduk cantik kita akan makan siang bersama!”


“Baiklah!”


Setelah mengatakannya Steven mengajak Azizah untuk masuk ke dalam kamar yang cukup besar, Azizah sendiri bahkan tak tahu bahwa di ruang kerja suaminya ada kamar sebesar itu.


“Ini kamar kamu sayang?” tanya Azizah memastikan.


“Iya ini kamarku, baru aku bangun setengah bulan yang lalu. Sekarang istriku jangan menangis lagi ya!” pinta Steven dan menghapus air mata Azizah yang masih tersisa di pipi Azizah.


“Pantas,” ucap Azizah.


“Pantas apa sayang?”


“Pantas saja sebelumnya aku tidak tahu bahwa ada kamar ternyata baru dibuat. Tapi, kenapa tidak memberitahukan aku?” tanya Azizah.


“Sebelumnya aku minta maaf. Tapi, aku ingin memberitahukan kamu sayang karena kamar ini belum sepenuhnya jadi, lihat dinding!” pinta Steven.


Azizah memperhatikan dinding yang ditunjuk oleh suaminya ternyata ada foto-foto dirinya dan juga suaminya yang memang belum lengkap semuanya.


“Yah jadi bukan kejutan lagi ya,” ucap Azizah sedikit kecewa.


“Sudah tidak apa-apa. Tapi, apakah istriku ini menyukainya?”


“Sangat suka, tapi...”

__ADS_1


“Tapi apa?” potong Steven.


“Aku lebih suka jika di dinding ini ada foto anak kita juga sayang,” terang Azizah.


“Tentu saja! beberapa bulan lagi kita akan melihat malaikat kecil kita,” balas Steven.


Azizah kembali memeluk suaminya ia begitu tidak sabar melihat malaikat mungil yang berada di dalam perutnya.


“Tok.... tok...”


“Pesanan anda datang CEO!”


Steven meminta Azizah agar tidak keluar dari kamar sementara Steven keluar dan mengambil pesanannya.


“Kamu boleh pergi sekarang!” perintah Steven pada bawahannya.


“Baik CEO, saya permisi!” seru bawahannya sambil sedikit membungkuk kemudian pergi.


Steven lalu masuk ke dalam kamar dan meletakkan Makanannya dan juga Azizah di meja dalam kamar.


Di dalam kamar itu tidak hanya ada kasur, meja, bahkan lemari pendingin dan ruang ganti juga ada pokoknya lengkap.


“Ayo sayang kita makan bersama!” ajak Steven.


Azizah tersenyum manis dan duduk di meja yang sudah ada begitu banyak makanan di atas meja itu.


“Aku suapi ya sayang!”


“Baiklah!”


Steven menyuapi Azizah dengan begitu lembut, ia sangat senang jika istri tercintanya tersenyum ceria.


“Sayang perutku bergerak,” ucap Azizah sambil mengelus-elus perutnya.


Steven yang penasaran akhirnya membuka baju Azizah setengah dan yang benar saja ternyata bayi di dalam perut Azizah bergerak-gerak membuat perut Azizah seperti karet.


“Ya ampun anak kita sangat lucu aku ingin sekali mencubit pipi anak kita,” ucap Steven.


Azizah yang mendengar ucapan suaminya yang ingin mencubit bayinya menatap tajam kearah Steven.


“Sampai kamu mencubit anakku, aku tidak akan mau tidur bersamamu lagi,” ancam Azizah.


Aku hanya bercanda sayang, anakku hebat belum lahir saja sudah mendapatkan pembelaan dari istriku.


Lain kali aku harus berhati-hati, bisa-bisa suatu saat nanti calon bayi kami melarang ku untuk mendekati Azizah.


“Maaf sayang,” ucap Steven.


“Ya sudah suapi aku lagi!” pinta Azizah.

__ADS_1


Steven tersenyum dan kembali menyuapi Azizah dengan lembut.


__ADS_2