Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 147


__ADS_3

Di Magetan.


Tinggal dua hari acara pernikahan Yana dan Mike akan berlangsung, Yana hanya mengundang kerabat dekat saja dari sang ayah sementara kerabat dekat Rika tidak ada yang datang satu pun membuat Rika sedikit sedih untungnya Yana tak mempermasalahkan hal tersebut, yang terpenting adalah saat hari pernikahan semuanya merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.


Dua hari lagi aku menikah, ya ampun ini benar-benar membuatku gugup.


Usiaku masih terbilang sangat muda tapi tidak masalah, aku akan berusaha menjadi istri yang bisa diandalkan.


Rika membuka pintu kamar putrinya yang sedang duduk sambil menatap ke luar jendela.


“Mami kira kamu tidur siang nak, apa ada yang kamu pikirkan?” tanya Rika dan berjalan menghampiri Yana.


“Ya sedikit ada yang mengganggu pikiran Yana mi, itu soal pernikahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan,” balas Yana.


“Kalau soal itu memang seperti itu nak, dulu saat mami menikah dengan papi mu mami juga seperti itu,” ucap Rika sambil mengingat kenangannya bersama Danu.


“Mami Yana lapar, bisakah mami membuatkan Yana mie instan?” tanya Yana sambil memegang perutnya yang terasa sangat lapar.


“Tidak boleh mie instan, bagaimana kalau mami membuatkan cumi tumis pedas?”


“Yana mau mi, kalau begitu ayo kita ke dapur!


Yana akan membantu mami memasak.”


“Ide bagus.”


Yana mengandeng lengan Rika dan berjalan beriringan menuju dapur.


Rika sangat senang karena Yana membantunya memasak hitung-hitung latihan untuk menjadi seorang istri.


“Sekarang Yana ambil cumi di kulkas, mami akan menyiapkan tempat!” perintah Rika.


“Siap mi!” seru Yana dan membuka pintu kulkas, ia mencari-cari dimana keberadaan cumi dan akhirnya ketemu.


Cumi-cumi itu terlihat sangat segar meski sudah berada di dalam lemari pendingin ditambah ukurannya yang lumayan besar membuat Yana tak sabar ingin memakannya.


“Sudah ketemu nak?” tanya Rika karena Yana belum beranjak dari lemari pendingin itu.


“Sudah mi!” seru Yana dan menutup kembali pintu lemari pendingin kemudian berjalan menuju Rika yang sudah menyiapkan tempat.


“Sekarang kamu potong-potong!” perintah Rika sambil memberikan pisau.


“Baik mi!”


Rika melirik putri kesayangannya yang sedang memotong-motong cumi kemudian ia tersenyum tipis.


Putri kesayanganku tak terasa akan menjadi seorang istri kemudian akan menjadi seorang ibu, rasanya sangat bahagia sekaligus sedih.


Yana tak sengaja melirik ke arah Rika yang juga meliriknya ke arahnya.


“Hayo! mami mikirin apa sambil lihat Yana?” tanya Yana sambil memanyunkan bibirnya.


Rika hanya tersenyum manis dan melanjutkan aktivitasnya yaitu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


Di Jakarta.

__ADS_1


Steven sedang berada di pondok kecil halaman belakang rumah sambil menemani Azizah yang sedang ngidam mangga muda, terlihat sekali Azizah begitu lahapnya memakan mangga muda tanpa ada raut wajah orang yang sedang memakan makanan yang sangat asam.


“Pelan-pelan sayang, tak ada yang berebut makanan darimu!”


Azizah hanya melirik dan melanjutkan aktivitasnya untuk menikmati rujak mangga muda.


“Temani aku makan sayang!” pinta Azizah sambil menyodorkan mangga ke arah mulut suaminya.


Steven yang melihatnya saja sudah tidak tahan apalagi memakannya dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


“Kalau kamu tidak memakan mangga ini maka jaga harap nanti malam kamu bisa tidur seranjang denganku!” ancam Azizah.


Steven menelan Saliva nya dan mengangguk pelan.


“Baiklah, aaaa!” ucap Steven dan membuka mulutnya dengan cepat Azizah memasukkan mangga muda itu kedalam mulut suaminya.


Steven mengunyahnya dengan sangat pelan, bahkan matanya merem melek saat merasakan mangga muda itu.


“Bagaimana, manis kan?” tanya Azizah.


Manis darimana? seumur hidupku ini pertama kalinya aku memakan mangga mentah ini.


Kenapa aku juga yang harus ikut memakannya.


“I...iya sangat manis,” balas Steven berbohong.


“Kalau begitu habiskan mangga ini, aku sudah kenyang!” perintah Azizah.


Steven ternganga lebar karena istrinya menyuruhnya memakan mangga muda itu.


Kalau tahu begini aku bilang saja tidak manis.


“Baiklah, aku akan menghabiskannya tapi bisakah jangan sekarang?”


“Sekarang!” tegas Azizah mendelik tajam.


Steven menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memaksakan diri memakan mangga muda tersebut.


Azizah terus saja tertawa melihat ekspresi wajah suaminya, sementara Steven terus saja memaksakan diri untuk memakan habis mangga muda.


Istriku yang hamil tapi mengapa aku merasa bahwa diriku selalu ditindas, apakah anakku sungguh tidak menyukaiku?😒


Dari kejauhan Adam dan Yuli tertawa terbahak-bahak melihat Steven harus memakan mangga muda tersebut ditambah ekspresi wajahnya yang benar-benar tersiksa.


“Haha..ha..ha.. Astaga anak kita Pi, lihat saja ekspresi Steven!”


“Iya kamu benar mi!" seru Adam yang juga tertawa tapi tidak seheboh Yuli.


Yuli terus tertawa hingga ia bingung caranya untuk berhenti tertawa karena Adam tak ingin istrinya kelelahan tertawa ia pun menuntut istrinya agar masuk ke dalam rumah.


🍃🍃


Sore hari.


Azizah duduk di kursi depan rumah sambil menanti kedatangan suaminya yang setengah jam pergi membeli pecel lele yang ia beli tempo hari, wanita itu terus saja mengelus-elus perutnya.

__ADS_1


“Lama sekali, apakah terjadi sesuatu di jalan?” tanya Azizah bermonolog.


Azizah lalu melirik ke arah bodyguard yang berdiri tegak tak jauh dari tempatnya duduk dan memutuskan untuk menyusul suaminya.


“Pak, tolong antarkan saya!” perintah Azizah.


Bodyguard itu setengah berlari dan menghampiri Azizah.


“Anda mau kemana nyonya muda?” tanya bodyguard.


“Mau menyusul suaminya, sekarang ambil mobilnya!”


“Baik nyonya muda!”


Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini, aku harus memastikan bahwa suamiku baik-baik saja.


Mobil telah siap untuk meluncur, Azizah berjalan masuk ke dalam mobil.


“Nasi pecel lele tenda biru dekat perempatan pak!”


“Baik nyonya muda!”


Azizah mencoba menghubungi nomor telepon suaminya namun, tidak ada jawaban membuat Azizah menjadi khawatir.


“Cepat sedikit pak!” perintah Azizah tidak sabaran.


Meski Azizah meminta bodyguard itu untuk mengendarai mobil dengan cepat tapi, bodyguard itu tidak mengindahkan perintah dari Azizah dikarenakan majikannya itu sekarang tidak seorang diri melainkan di dalam perut majikannya itu ada janin yang harus dijaga.


🍃🍃


Sampailah di tempat tenda biru penjual pecel lele.


Azizah terkejut saat melihat seorang wanita yang berdiri dekat dengan suaminya.


Ia lalu turun dari mobil dan menghampiri suaminya dengan wajah kesal.


“Tolong ya jangan dekat-dekat dengan suami saya!” tegas Azizah dan merangkul lengan suaminya.


Steven dan yang lain terkejut dengan kedatangan Azizah yang tidak bersahabat.


“Maaf, saya kira masih bujang!” seru wanita yang sebelumnya berdiri tidak jauh dari Steven dan pergi meninggalkan warung tersebut.


“Mulutmu mau aku suapi sambal!” ucap Azizah saat wanita berjalan menjauh.


Untungnya saja warung tersebut masih sepi.


Steven yang berada di samping Azizah tercengang melihat istrinya yang begitu galak sementara ibu penjual pecel lele kembali fokus dengan pekerjaannya.


“Kamu aku tungguin di rumah bukannya langsung pulang malah sama wanita lain,” ucap Azizah mengomel pada suaminya.


Steven tersenyum dan mengecup kening Azizah. “Muachh.. tadi sedang mengantri istriku, aku tidak tahu kalau ada wanita disampingku,” terang Steven.


“Tidak tahu, lalu kenapa telepon dariku tidak diangkat?” tanya Azizah mengintrogasi.


Dimasa kehamilan mood Azizah selalu naik turun dan tak bisa ditebak.

__ADS_1


“Ya ampun, maaf istriku! ponselnya pasti tertinggal di dalam mobil,” ucap Steven jujur.


Azizah masih saja berada di dalam mode kesalnya Steven berusaha terus-menerus untuk membuat istrinya tak kesal lagi akhirnya usaha Steven membuahkan hasil, setelah pecel lele sudah jadi, Steven dan Azizah pulang dengan mobil yang dikendarai pria blasteran itu sementara bodyguard pulang sendiri dengan mobil yang ia bawa.


__ADS_2