
Mata Azizah terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Yang artinya sekitar 1 jam ia tertidur.
“Sudah bangun sayang!” sapa Steven dan mengecup kening Azizah.
Azizah merapikan kembali rambutnya, “Maaf sayang, aku berulang kali tertidur,” ucap Azizah dengan raut wajah sedih.
Steven mengusap lembut rambut istrinya, “Kamu ini bicara apa sayang? aku tahu alasan kamu seperti ini karena anak kita,” jawab Steven santai.
“Sayang!” panggil Azizah kemudian melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
“Kamu mau makan apa sayang?” tanya Steven yang sudah bisa menebak keinginan istrinya.
“Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku ingin makan sayang?” tanya Azizah yang terkejut karena sang suami bisa menebak keinginannya untuk makan.
“Tentu saja, karena aku suamimu.”
“Aku sekarang mau makan sosis bakar Mozarella!” pinta Azizah.
“Baiklah, aku akan meminta mereka mencari keinginanmu!”
Steven menekan tombol tak butuh waktu lama, 2 orang pria datang memasuki ruang CEO.
“Kalian berdua pergilah! beli sosis bakar Mozarella!”
“Baik CEO!” seru mereka.
Steven memberikan 5 lembar uang kertas berwarna merah.
Setelah 2 pegawai itu pergi, Steven dengan cepat memangku istrinya.
“Sayang turunkan! bagaimana jika ada yang melihat kita?” tanya Azizah sambil memperhatikan pintu takutnya jika ada orang yang masuk apalagi ia sedang dipangkuan Steven.
“Mereka tidak akan berani masuk ke dalam sayang, sekarang beri aku imbalan sayang!” pinta Steven kemudian tersenyum.
“Tidak mau,” jawab Azizah.
“Harus mau!”
“Tidak mau!”
“Harus mau!”
“Dasar pemaksa, baiklah Muachhh..” Azizah lalu mengecup bibir sang suami.
“Again!”
“No!”
“One more honey!”
“Muaccch...” Azizah kembali mengecup bibir sang suami.
“Thank you my wife ❤️.”
“Sekarang turunkan aku sayang, aku ingin ke toilet!”
Steven mengangguk kecil dan menurunkan Azizah dari pangkuannya secara hati-hati.
Azizah kemudian berjalan menuju ruang kamar yang berada di kantor suaminya.
__ADS_1
10 menit kemudian.
Steven mengernyitkan keningnya karena sang istri belum juga keluar, ia pun memutuskan untuk menyusul istrinya.
“Sayang!” panggil Steven dan melihat sang istri yang sedang berbaring di ranjang.
“Maaf sayang, rasanya aku ingin berlama-lama di ranjang ini,” jawab Azizah.
“Sepertinya anak kita sangat suka tidur sayang,” ucap Steven lalu tertawa kecil.
Azizah memukul pelan lengan sang suami yang sudah berada di atas ranjang mendekati dirinya.
“Mana sosis bakar Mozarella sayang?” tanya Azizah.
Baru saja Azizah bertanya, dari pintu luar terdengar ketukan pintu.
“Tok...tok..”
“Kamu tunggu disini ya sayang!” Steven bergegas mengambil sosis bakar Mozarella pesanan sang istri.
Akhirnya sosis bakar Mozarella keinginan mamah dan kamu datang juga sayang!
Azizah mengelus-elus perutnya dan sang calon bayi merespon dengan memberikan tendangan-tendangan kecil.
“Pesanan ratu hatiku sudah datang!” seru Steven dan memberikan kepada Azizah.
Azizah terkejut karena pesanan begitu banyak.
“Sebanyak ini sayang?” tanya Azizah dengan ekspresi terkejut.
“Tentu saja!” seru Steven santai.
Azizah geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin ia menghabiskan sosis bakar Mozarella sebanyak itu.
“Kau bercanda sayang?” tanya Steven memastikan.
“Tidak sayang, atau kamu yang habiskan sosis bakar Mozarella sebanyak ini!”
“Baiklah aku akan memberikan ini kepada mereka,” balas Steven dan bergegas keluar memberikan kepada bawahannya.
Selang beberapa menit.
Steven masuk ke dalam kamar dan melihat wajah sang istri yang begitu senang melahap makanannya.
“Bagaimana sayang, apakah kamu menyukainya?”
“Tentu saja sayang, kemari lah temani aku menghabiskannya!”
Azizah dan Steven menikmati sosis bakar Mozarella bersama-sama, mereka bahkan saling suap menyuap.
Setelah selesai menemani sang istri, Steven pamit untuk melaksanakan rapat penting.
“I love you my wife!”
“I love you too my husband!”
Azizah kini berada di dalam kamar seorang diri, ia merasa begitu kesepian.
“Suamiku sekarang sedang melaksanakan rapat,” ucap Azizah bermonolog.
Mata Azizah tiba-tiba tertuju pada album foto yang berukuran sangat besar, ia berjalan menuju album foto itu dan mulai membukanya.
__ADS_1
“Wow.. ternyata suamiku dari dulu memang sangat terkenal,” ucap Azizah ketika melihat foto-foto sang suami bersama orang-orang berpengaruh lainnya.
Azizah terus melihat satu persatu foto sang suami sampai akhirnya bunyi ponsel mengganggunya.
“Hallo siapa?” tanya Azizah kepada orang yang menghubungi dirinya.
“Hai wanita kampungan.”
“Kamu siapa?” tanya Azizah penasaran dan mulai tersulut emosi karena suara itu menghina dirinya.
“Aku adalah wanita yang waktu itu menghubungimu, Diandra!”
“Mau apa kamu menghubungi ku? apa yang sebenarnya kamu inginkan dari menghubungi ku seperti ini?”
“Aku ingin kamu menyerahkan Steven untukku!”
Azizah tertawa mendengar keinginan Diandra.
“Apakah kamu sedang bermimpi Diandra? seharusnya kamu sadar bahwa kamu tidak akan pernah membuat suamiku tertarik padamu!” Azizah berkata dengan sangat berani, ia tidak ingin terdengar lemah oleh Diandra.
“Kalau tidak ada hal yang penting yang ingin dibicarakan aku matikan,” sambung Azizah lagi dan mematikan sambungan telepon kemudian memblokir nomor Diandra.
Azizah melempar ponselnya ke arah ranjang, ia mengusap wajahnya.
Tenang Azizah, kamu harus tenang.
Kamu tidak boleh stress, ingat sekarang kamu sedang mengandung.
*
“Wanita kampungan sialan, berani-beraninya dia memblokir nomorku!” teriak Diandra.
Diandra saat itu benar-benar marah apalagi saat Azizah dengan percaya diri mengatakan bahwa dirinya tidak bisa membuat Steven Walker tertarik pada dirinya.
“Wanita kampungan itu memang harus diberi pelajaran, bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu. Lihat saja kamu wanita tidak tahu diri, aku akan membuat Steven Walker bertekuk lutut di hadapanku!”
**
Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB.
“Sayang!” panggil Steven dan segera masuk ke dalam kamar.
“Kamu sudah selesai sayang?” tanya Azizah yang sudah memeluk tubuh sang suami, “Kenapa lama sekali?” tanya Azizah lagi.
“Maaf ya sayang, ada beberapa hal yang memang harus segera aku atasi.”
“Sayang, tadi Diandra..” ucap Azizah lirih.
Steven terkejut dan menyentuh kedua pundak Azizah, “Kenapa sayang?” tanya Steven penasaran.
Azizah menceritakan semua tentang Diandra yang menghubungi dirinya saat berada di Singapura bahkan tak ada yang terlewatkan sedikit pun oleh Azizah untuk menceritakan tentang ancaman dari Diandra.
“Kurang ajar!” teriak Steven emosi.
“Kamu yang tenang ya sayang, aku akan menyuruh orang-orang ku untuk mencari dan menangkap ****** itu,” ucap Steven yang sangat marah karena telah berani mengganggu wanita yang begitu ia cintai.
Steven mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk segera menangkap Diandra.
“Kamu tidak akan berbuat hal yang macam-macam kepada wanita itu kan sayang?” tanya Azizah.
“Dia akan aku jebloskan ke bui sayang, dia telah berani mengusik wanita yang sangat aku cintai. Kamu tenang ya sayang!”
__ADS_1
“Baik sayang!”
Ya Allah sebenarnya hamba sangat takut, semoga permasalahan ini segera terselesaikan dan Diandra bisa segera sadar atas kesalahannya, apalagi Steven sudah menikah dan sebentar lagi kami akan memiliki anak.