
Steven terlihat sangat berantakan bahkan pandangan dari pria blasteran itu terlihat kosong tak berdaya.
Adam tidak bisa menahan air matanya, ia terus memeluk putranya berusaha memberikan semangat meskipun ia tahu itu adalah hal mustahil bagi seorang suami yang sangat takut kehilangan istri yang dicintainya.
Seorang wanita berpakaian serba putih keluar dari ruang ICU.
Wanita itu terlihat sangat sedih menandakan sesuatu yang tidak baik.
“Dokter bagaimana keadaan menantu serta cucu saya?” tanya Yuli dengan mata masih sembab.
Sang dokter menunduk kebawah dan mengangkat kembali wajahnya.
“Kami akan berusaha menyelamatkan ibu dan calon bayinya. Namun, sangat kecil kemungkinannya untuk selamat,” jelas dokter.
Steven terkejut dan menghampiri sang dokter.
“Bagaimanapun mereka harus selamat! jika tidak, rumah sakit ini akan aku tuntut sampai tidak bisa beroperasi lagi!” teriak Steven yang tidak terima jika mengatakan hal yang paling dibencinya.
Dokter itu tak menjawab justru ia bergegas kembali masuk.
Tiba-tiba seorang dokter yang menangani Galih datang menghampiri mereka.
“Permisi! siapa dari kalian saudara dari pasien bernama Galih?” tanya dokter.
Adam dan Yuli maju bersama-sama.
“Kami dok,” jawab mereka.
“Maaf sebelumnya, saya harus memberikan kabar yang tidak baik. Tulang rusuk pasien mengalami patah yang cukup serius ditambah....” Dokter itu menggantungkan ucapannya.
Mariska terkejut dan menangis sejadi-jadinya, pria yang sehari-hari menemani dirinya sedang berjuang hidup di ruangannya.
“Lalu apakah Galih bisa selamat dok?” tanya Yuli.
“Kami meminta agar anda sekeluarga berdoa untuk keajaiban yang diberikan Tuhan,” ucap dokter dan kembali memasuki ruang ICU.
Mereka benar-benar kehabisan kata-kata, perasaan mereka sama-sama hancur.
Mereka berharap sekali keajaiban dari Allah datang kepada Galih, Azizah dan juga bayinya.
Seorang dokter pria datang bersama dua orang polisi.
“Selamat siang!” sapa seorang polisi kepada Steven.
Steven tak berkata-kata sepatah kata pun, ia menatap sang polisi.
“Tuan Steven, apakah anda mengenal saudari Diandra?” tanya polisi.
Steven membelalakkan matanya dan mencengkram kerah baju dari si polisi.
__ADS_1
“Jangan berbasa-basi lagi, katakan apa maksudnya!” perintah Steven.
Polisi itu menceritakan bahwa penyebab dari tragedi itu adalah seorang wanita yang bernama Diandra.
Steven dan yang lainnya sangat terkejut karena dalang dari tragedi kecelakaan itu adalah Diandra.
“Dasar jal*ng, bisa-bisanya dia mati semudah itu,” ucap Steven mengumpat kesal.
Steven menceritakan semuanya mengenai Diandra, akhirnya polisi tahu motif dari kecelakaan itu.
Kedua polisi itu pergi sementara seorang dokter masih berdiam diri di tempat.
“Tuan Steven!” panggil dokter pria.
Steven tak menjawab, pria blasteran itu masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
Matanya memerah dan tubuhnya gemetar.
Karena tak mendapatkan respon dari Steven, sang dokter beralih berbicara dengan Adam dan Yuli.
“Kami sama sekali tidak tahu keluarga wanita itu,” ucap Adam dan Yuli.
Sang dokter pun tidak bisa berbuat banyak.
Ia berharap agar keluarga Diandra dapat segera mengambil mayat Diandra di ruang jenazah.
*
“Aaaaaa!” teriak Steven.
“Tenang nak!” pinta Yuli dan memeluk tubuh Steven.
“Bagaimana aku bisa tenang Mi, wanita sial*n itu membuat mereka bertiga kritis di dalam sana. Sementara dia dengan mudahnya mati!” Steven benar-benar marah ia tidak terima jika orang yang sangat dicintainya sedang berjuang melawan kematian.
Mariska terus saja menangis. Berharap apa yang terjadi adalah sebuah mimpi buruk dan sewaktu-waktu ia bisa bangun dari mimpi itu.
Kak Azizah, keponakanku dan Coneh.
Kalian harus tetap hidup, jangan tinggalkan kami seperti ini.
Coneh kamu harus bangun, bukankah kamu masih ada janji untukku yang belum kamu tepati.
Bukankah kita akan bermain kembang api bersama menyambut tahun baru yang sebentar lagi akan kita lakukan bersama.
“Hiks... hiks... Ya Allah selamatkan lah mereka!” Hanya itu yang bisa Mariska ucapkan.
Seorang dokter keluar dari ICU.
“Tuan Steven! tolong anda tanda tangan ini!” pinta dokter.
__ADS_1
“Untuk apa dokter?” tanya Adam dan Yuli yang mendekat.
“Tuam Steven harus memilih salah satu dari ibu dan anak untuk diselamatkan,” terang sang dokter.
Steven yang terduduk dilantai terkejut dan menghampiri sang dokter.
“Apakah anda tidak waras?” tanya Steven yang tak percaya dengan yang dikatakan oleh dokter wanita itu, “Bagaimana bisa saya memilih antara istri dan anak saya. Mereka bagaimanapun harus selamat,” tegas Steven.
“Tolong tuan Steven, saya sangat berharap kerjasama dari anda!” dokter itu sampai memohon kepada Steven agar mengerti dan segera menandatangani surat persetujuan operasi.
Bagaimana bisa aku memilih salah satu dari mereka, aku sangat mencintai istriku dan kami sangat menantikan kehadiran bayi kami.
Mana mungkin aku bisa memilih dan melakukan hal seperti ini.
Steven mengusap wajah dengan kasar, pria itu bahkan menjambak rambutnya sendiri.
“Tolong tuan Steven, tanda tangan surat persetujuan ini segera. Waktu kami tidak banyak!”
Lagi-lagi Steven dibuat frustasi. Dengan sekuat tenaga ia menandatangani surat persetujuan.
“Tolong selamatkan istri saya dok!” pinta Steven.
Keputusan yang sangat berat bagi suami sekaligus ayah.
Adam dan Yuli tidak bisa berkata-kata. Mereka hancur sama hancurnya seperti yang dirasakan oleh Steven saat itu juga.
“Apakah aku termasuk ayah yang jahat?” tanya Steven dengan tatapan kosong.
Yuli mendekat ke arah putranya, tubuhnya gemetaran dengan sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Ti..tidak nak. Kamu adalah seorang suami dan ayah yang baik.”
“Bagaimana jika Azizah membenciku mi? Bagaimana jika Azizah menanyakan bayi kami? Bagaimana jika Azizah.....” Steven tak bisa melanjutkan ucapannya lagi air matanya terus mengalir seolah-olah tak pernah lelah untuk jatuh dari matanya.
Yuli terus memeluk tubuh Steven dan menepuk-nepuk punggung Steven.
“Percayalah nak, Allah bersama dengan kita! Azizah pasti akan mengerti bahwa apa yang kamu lakukan adalah yang terbaik.”
Ini bukan jalan yang terbaik mi. Seandainya mami melihat wajah istriku yang begitu senang untuk menantikan bayi kami, bagaimana Azizah mengajak bayi kami berbicara dan bagaimana dia tak sabaran untuk menggendong bayi di dalam perutnya.
Bruk...
Mariska terjatuh tak sadarkan diri, Adam dan Yuli terkejut dengan cepat Adam menggendong keponakannya untuk segera ditangani oleh tenaga medis di rumah sakit itu.
Yuli akhirnya lepas kontrol, ia kembali menangis.
“Ya Allah tolong beri keajaiban kepada kami!”
Yuli bersujud di lantai, berharap Allah mengabulkan doanya.
__ADS_1
Steven mengangkat tubuh sang ibu dan memeluk tubuh ibu kandungnya. Adam pun mendekat dan memeluk istri dan juga putranya.