
Di Inggris.
Suasana duka menyelimuti hati para hadirin yang berada di pemakaman, Teressa sekarang sudah tenang di tempat peristirahatan terakhirnya tepat di samping suaminya.
Satu persatu mereka pulang meninggalkan Teressa tak terkecuali dengan Mike,
Steven belum juga bergerak untuk meninggalkan pemakaman itu, Azizah pun mau tak mau harus menemani suaminya.
“Selamat tinggal nek,” ucap Steven dengan mata yang masih bengkak namun ditutupi oleh kaca mata hitam miliknya.
Azizah mengelus-elus bahu suaminya, wanita itu juga begitu sedih dengan kepergian Teressa.
“Sayang ayo kita pulang, lihat cuacanya sangat mendung!” ajak Azizah ia tidak ingin hujan deras mengguyur tubuh Steven dan juga dirinya mengingat cuaca pagi itu begitu dingin.
Steven mengangguk kecil dan meninggalkan Teressa, ia menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat.
Azizah tiba-tiba merasakan pusing dan ia kehilangan keseimbangan, untungnya saja Steven dengan cepat menangkap tubuh istrinya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Steven panik dan mengangkat tubuh istrinya menuju mobil.
Sopir yang menunggu di dalam mobil dengan cepat membukakan pintu mobil untuk majikannya.
“Aku tidak apa-apa sayang,” ucap Azizah sambil memijat kepalanya.
“Benarkah? jika kamu sakit cepat beritahu aku sayang!” pinta Steven.
“Iya sayang, sebaiknya kita pulang saja!” pinta Azizah.
“Baik kita akan segera pulang!”
Steven meminta agar sang sopir agar cepat kembali ke rumah, ia ingin istrinya segera beristirahat.
Di dalam mobil Azizah selalu memeluk tubuh suaminya, rasanya sangat nyaman dipelukan pria blasteran itu hingga ia pun tertidur di dada suaminya.
Steven membelai serta mengecup pucuk kepala sang Istri, ia begitu takut jika istrinya sakit.
🍃🍃
Akhirnya mereka pun sampai, Steven menepuk lembut pipi istrinya berharap wanita yang dicintainya segera bangun karena ini bukan waktu yang tepat untuk Steven menggendong tubuh istrinya apalagi disaat mereka masih dalam suasana berduka atas kepergian nenek Teressa.
“Istriku sayang, ayo bangun!” ucap Steven.
Azizah membuka mata secara perlahan, sampai akhirnya ia sadar bahwa sudah sampai rumah.
“Maaf aku ketiduran," ucap Azizah sambil menjauhi tubuhnya dari Steven.
“Maaf istriku, aku membangunkan tidurmu tapi....”
“Tidak apa-apa aku tahu maksudmu sayang, ya sudah ayo kita turun!”
“Iya sayang!” seru Steven.
__ADS_1
Steven turun lebih dulu dan menuntun istrinya turun dari mobil, Azizah sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
Mereka masuk ke dalam rumah terlihat sekali banyak keluarga yang berkumpul, Azizah bahkan merasa canggung jika harus berkumpul dengan keluarga Steven yang notabene adalah bule.
Yuli tahu bahwa menantunya itu canggung, ia pun mendekat menghampiri Azizah dan mengajak Azizah untuk duduk berdekatan dengannya.
“so this is Steven's wife (Jadi ini istri Steven)” ucap salah satu wanita yang umurnya sekitar 70 an yang memakai bahasa Inggris.
“Yes this is our daughter-in-law(Iya ini menantu kami!)” seru Yuli.
Azizah hanya tersenyum kepada wanita itu tanpa mengatakan apa-apa karena ia takut jika salah bicara sedikit saja maka ia akan semakin merasa canggung dan juga kebanyakan dari mereka mengucapkan kata dengan bahasa Inggris yang memang Azizah sendiri tidak fasih berbahasa Inggris.
“Azizah, nenek yang berbicara dengan mami barusan adalah sepupu dari nenek Teressa,” ucap Yuli kepada Menantunya.
“Iya mi!” seru Azizah.
Azizah dan Yuli selalu berbicara dengan bahasa Indonesia, yang tidak tahu arti dari percakapan mereka hanya diam membisu.
Satu persatu mereka pulang kembali ke rumah masing tersisa, beberapa orang saja bahkan saudara yang berada di Turki memutuskan untuk pulang ke negara asal mereka.
Tak terkecuali dengan Lucy, Lucy memutuskan untuk sementara waktu tinggal di Turki lagipula ia dan Malik sudah resmi bercerai.
“Hati-hati teyze,” ucap Mariska lalu memeluk tubuh Lucy.
“Kamu jangan bersedih, aku akan datang lagi,” sahut Lucy.
Azizah menghampiri Lucy dan bergantian memeluk wanita yang sempat membuat dirinya dan Steven salah paham.
“Tenang saja keponakanku, aku akan ke Indonesia saat kalian telah memiliki anak!” seru Lucy.
Membuat Azizah maupun Steven saling pandang.
“Cepatlah buat anak, aku penasaran dengan wajah buah hati kalian,” goda Lucy.
Wajah Azizah seketika memerah ia pun menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
“Aku sangat malu sayang,” ucap Azizah.
Adam, Yuli bahkan yang lain pun tertawa mendengar ucapan polos Azizah.
Mereka senang karena Azizah mampu memecahkan kesedihan mereka karena ditinggal oleh Teressa.
“Aku pergi, assalamualaikum!” ucap Lucy dan yang lainnya.
“Waalikumsalam!” seru mereka.
Jika di Indonesia masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Islam akan melakukan acara doa bersama atau yasinan lain halnya di Inggris, penduduk disana mayoritasnya adalah non muslim.
Jadi, Adam memutuskan untuk mengirimkan do'a sekeluarga yang ada di dalam rumah itu.
Malam hari.
__ADS_1
Adam dan yang lainnya sedang berada di ruang makan tak terkecuali dengan Mike, Mike memutuskan untuk tetap tinggal selama dua hari ke depan.
Dua pelayan begitu lihai menata makanan mengingatkan Azizah tentang pelayan-pelayan yang berada di Paris saat acara makan malam romantis bersama suaminya di gedung fashion pemberian Steven dan wajahnya berubah kesal saat mengingat Megan yang menatap suaminya dengan penuh ketertarikan.
“Dasar,” ucap Azizah kecil dan bisa di dengar oleh yang lainnya membuat Azizah terkejut dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Steven mewakilkan rasa penasaran yang lainnya dengan ucapan Azizah yang terdengar begitu kesal.
“Tidak apa-apa,” sahut Azizah yang berusaha menahan malunya.
“Yakin tidak apa-apa nak?” tanya Yuli memastikan.
Ah... bagaimana ini, memalukan saja.
Gara-gara wanita kecentilan itu aku seperti ini.
“Iya mi!” seru Azizah sambil mengangguk kecil.
“Sudah-sudah, ayo kita nikmati makan malam kita!” ajak Adam.
Azizah mengambil nasi serta lauk untuk suaminya, ia tidak memperbolehkan pelayan melayani suaminya itu karena yang harus melayani Steven adalah dirinya dan itu kewajiban bagi setiap istri.
Mike memperhatikan bagaimana Azizah memperlakukan Steven, membuat ia iri dan membayangkan dirinya dan Yana.
Bayangan Mike.
“Suamiku, biar aku saja yang mengambil nasi serta lauk untukmu!” ucap Yana.
Mike tersenyum lebar saat Yana melayaninya, tak lupa ia mengecup bibir istrinya itu.
“Kamu cantik sekali Yana sayang!” ucap Mike sambil terus menciumi bibir Yana.
“Muacch... muachhh... muach..!” Mike berulang kali memonyongkan bibirnya dan mengeluarkan suara yang jika siapapun mendengarnya pasti merasa kengerian sekaligus geli.
Adam, Yuli serta yang lainnya kompak tertawa keras, Steven mengambil sambal dan menaruhnya ke bibir Mike membuat Mike tersadar.
“Ha...ha..ha..” Tawa mereka pecah saat melihat raut wajah keterkejutan Mike.
“Pedas.. pedas..,” ucap Mike dan dengan cepat mengambil gelas yang sudah terisi air lalu menghabiskannya.
.
.
.
Wkwkw.. 😂
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏
Terima kasih atas kerjasama kalian semua!❤️
__ADS_1