Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 211


__ADS_3

Pagi hari.


Orang-orang sudah berkumpul dikediaman Steven Walker. Mereka akan mengiringi jenazah Galih yang akan segera dimakamkan.


Terdengar Isak tangis dari anak-anak panti asuhan dan yang lainnya.


Perlahan-lahan keranda mayat yang telah berisikan jenazah Galih diangkat menuju peristirahatan terakhir.


Hanya beberapa orang yang tinggal tak ikut pergi ke pemakaman umum termasuk Azizah dan bayinya.


Mariska yang berada di dalam kamar hanya menangis belum bisa menerima kenyataan, ia benar-benar terlihat sangat menyedihkan di dalam kamarnya.


Kenapa semua orang yang aku sayangi meninggal? Kedua orang tuaku meninggalkan aku untuk selamanya dan sekarang Galih juga meninggalkan aku untuk selamanya.


“Hiks.... hiks... kenapa jadinya begini? Kenapa Coneh meninggalkan aku padahal aku selalu menemani kamu dan mengajak kamu berbicara meskipun kamu tidak menjawabnya, apakah usahaku selama ini tidak pernah kamu dengar Coneh?”


1 jam kemudian.


Di pemakaman umum.


Galih akhirnya benar-benar telah selesai dikuburkan. Satu-persatu para pelayat pergi meninggalkan pemakaman umum.


Saat Galih dan kedua orangtuanya pergi mereka terkejut melihat Mariska yang berlarian bahkan sering terjatuh hingga rok panjang yang ia kenakan dipenuhi dengan tanah.


Gadis itu berlari dan akhirnya sampai ke kuburan Galih.


“Mariska!” ucap Steven dan kedua orangtuanya.


“Tinggalkan Mariska dan Galih disini!” pinta Mariska.


Adam mengangguk kecil ke arah istrinya yang artinya menyetujui permintaan dari keponakannya.


“Ayo kita tinggalkan Mariska, berikanlah dia waktu disini.”


Steven pun pergi bersama kedua orangtuanya meninggalkan Mariska sendirian.


“Hiks... hiks... Coneh, apakah aku hanyalah candaan mu saja? Di tanggal 31 Desember bukankah kamu mengatakan kita akan merayakan tahun baru dan menyalakan kembang api yang sangat banyak? Tapi, kenapa kamu malah mengingkarinya dan malah memilih tidur di dalam kuburan?”


Mariska menangis tak henti-hentinya, gadis itu benar-benar tidak terima atas kepergian Galih pria yang selama ini menemaninya meskipun diawal mereka pernah berseteru.


“Aku harap semua ini hanyalah mimpi buruk ku, aku berharap bahwa ini hanya bunga tidur.”


“Sejujurnya aku mencintai kamu Coneh, meskipun awalnya aku membohongi diriku sendiri. Tapi, inilah kenyataannya bahwa gadis yang biasa kamu panggil Ceneh menyukai Coneh nya!” teriak Mariska.


Cukup lama Mariska di kuburan Galih hingga akhirnya ia kembali tidak sadarkan diri.


Beberapa menit kemudian.


Seorang pria paruh baya yang sedang membersihkan makam terkejut melihat seorang wanita yang pingsan diatas pemakaman.


“Astagfirullah,” ucapnya.

__ADS_1


Bapak itu memperhatikan wanita yang pingsan itu.


“Ya ampun, bukankah ini adiknya tuan steven.”


Ia pun memutuskan untuk memberitahukan kepada Steven segera mungkin.


Steven dan yang lainnya sedang berada di ruang tamu sambil berbincang-bincang dengan pengurus panti asuhan.


“Assalamualaikum!” ucap pak Kardi dengan napas memburu.


Penghuni rumah terkejut dan menghampiri pak Kardi.


“Ada apa pak?” tanya Adam.


“Anu Tuan, non Mariska pingsan di kuburan!”


Deg!


Tak berpikir panjang Adam dan Steven menyusul Mariska ke pemakaman.


Sesampainya di pemakaman mereka berdua terkejut melihat Mariska yang tergeletak tepat di atas kuburan Galih.


“Papi yang angkat adikmu. Kamu buka pintu mobilnya!”


“Baik pi.”


“Ya Allah nak,” ucap Adam dan menggendong tubuh keponakannya.


Steven yang mengemudi mobil hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun, ia benar-benar sedih melihat adik sepupunya yang terlihat begitu menyedihkan.


“Mariska mana mungkin mau Pi kalau diajak ke Inggris,” balas Steven.


“Mau tidak mau dia harus mau, papi tidak bisa melihat dia hidup seperti ini.”


“Lebih baik papi tanyakan dulu kepada Mariska, karena keputusan ada di tangan mariska.”


Mobil mereka akhirnya memasuki pekarangan rumah.


Adam kembali menggendong tubuh keponakannya dan membawanya kedalam kamar Mariska.


Yuli langsung menangis melihat kondisi Mariska yang sudah dipenuhi tanah, ia tidak tega melihat gadis yang disayangi terlihat sangat menyedihkan.


“Ya Allah nak, kamu kenapa terlihat begitu menyedihkan,” ucap Yuli sambil membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di wajah Mariska.


Yuli membersihkan wajah Mariska dengan terus menangis.


Beberapa menit kemudian.


Mariska perlahan membuka matanya dan melihat bibinya.


“Mami... hiks... hiks.. Galih mi,” ucap Mariska sambil memeluk tubuh Yuli.

__ADS_1


“Iya nak mami tahu.”


“Kenapa Galih juga meninggalkan Mariska mi? kenapa orang-orang yang Mariska sayang pergi meninggalkan Mariska untuk selamanya? Apakah Mariska tidak ditakdirkan untuk bahagia mi?” Mariska terus bertanya mengenai nasibnya kepada wanita yang dipeluknya.


Yuli belum bisa menjawab, wanita itu terus saja menangis.


“Mi tolong katakan bahwa ini hanyalah kebohongan! Mariska bahkan tidak melihat wajah Galih untuk yang terakhir kalinya.”


“Kenapa mami ataupun yang lainnya tidak membangunkan Mariska untuk melihat Galih, kenapa? hiks... hiks....”


Yuli membelai punggung keponakannya dengan sangat lembut.


“Nak, kita sebagai manusia memang tidak bisa berbuat apa-apa jika Allah sudah berkehendak. Manusia boleh berencana namun, Allah lah yang berkehendak nak,” jawab Yuli.


Mariska tidak lagi bertanya, gadis itu memilih untuk menumpahkan rasa sedihnya di pelukan Yuli.


**


Di dalam kamar.


Steven menatap wajah polos istrinya yang sedang berbaring bersama bayi mereka.


Mariska tentu saja merasakan kesedihan yang teramat dalam, aku sendiri bahkan pernah merasakan kesedihan saat istri dan anak kami diambang Kematian.


“Sayang!” panggil Azizah melihat suaminya hanya berdiri mematung sambil memperhatikan dirinya.


Steven terkejut dengan lamunannya dan menghampiri istrinya.


“Iya sayang,” jawab Steven dan ikut berbaring menemani sang istri.


“Sayang, apakah Mariska baik-baik saja sekarang?” tanya Azizah.


“Mariska sedang tidak baik-baik saja sayang, saat di pemakaman....” ucap Steven menggantungkan ucapannya.


“Ada apa sayang?” tanya Azizah gelisah.


“Mariska pingsan dan sekarang sudah di kamarnya,” jawab Steven.


Azizah menggerakkan tubuhnya dan memutuskan untuk menemui adik iparnya. Namun, saat kakinya baru menyentuh lantai sang suami langsung menahan dirinya.


“Sayang, sebaiknya berikan waktu untuk Mariska. Mami sekarang masih berada di kamar mariska.”


“Tapi sayang....”


“Kalau Mariska sudah tenang, kamu boleh menemuinya. Sekarang temani saja Farhan!”


Azizah akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali berbaring menemani buah hatinya bersama Steven.


“Sayang, apakah Mariska harus berada disini? Maksudku apa tidak seharusnya ia mencari suasana baru, aku takut jika Mariska selalu terbayang-bayang dengan kebersamaannya bersama Galih,” ujar Azizah.


“Itu juga yang aku takutkan sayang, Mariska masih terlalu muda jika merasakan kesedihan seperti ini. Aku takut masa lalunya akan mengganggu masa depannya, papi sebenarnya sudah berencana untuk kembali ke Inggris dan mengajak Mariska,” jelas Steven serius.

__ADS_1


“Menurutku itu ide yang bagus sayang, pelan tapi pasti Mariska akan kembali ceria seperti sedia kala.”


Steven memeluk tubuh sang istri berharap ia bisa tenang untuk sementara waktu.


__ADS_2