
Sudah hampir seminggu Diandra bersembunyi dari orang-orang yang ingin menangkap dirinya, ia tahu jelas jika orang-orang itu adalah suruhan dari pria yang teramat ia cintai.
Diandra tetap saja tidak sadar atas kesalahannya, dirinya justru malah semakin membenci Azizah yang telah mempersulit dirinya untuk mendekati Steven Walker.
“Ya aku lakukan sekarang adalah bersembunyi, jangan sampai mereka menangkap ku apapun yang terjadi,” ucap Mariska.
Diandra melempar semua barang-barang yang berada di dekatnya tak terkecuali kursi maupun meja.
Aku bersumpah akan membuat kamu membayar semuanya yang aku alami saat ini.
Usahaku untuk kembali kesini adalah untuk mendapatkan cinta dari Steven Walker bukan malah seperti ini.
Diandra lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, wajahnya terlihat sangat pucat bahkan terlihat sangat tidak terurus.
Di kediaman Steven Walker.
Steven masih terus menanti kabar dari orang-orang suruhannya, pria blasteran itu begitu geram dan kesal karena Diandra belum juga ditemukan.
“Sayang, ayo makan siang!” ajak Azizah karena sang suami belum juga makan bahkan semenjak pagi pria blasteran itu belum juga memasukkan apapun ke dalam mulutnya.
“Aku tidak lapar sayang,” balas Steven dan mengecup kening Azizah.
“Tapi aku lapar sayang,” ucap Azizah dengan memasang ekspresi menyedihkan.
Steven terkejut dan dengan cepat ia mengajak sang istri untuk makan siang.
“Kita makan siang ya sayang!” ajak Steven.
Azizah tersenyum tipis akhirnya sang suami memutuskan untuk makan.
Steven berjalan keluar kamar dengan terus menggandeng pinggang Azizah.
“Apakah Diandra belum ditemukan juga sayang?” Azizah bertanya dengan terus memperhatikan wajah sang suami, “Pasti belum ya,” sambung Azizah karena raut wajah pria di sisinya terlihat jelas sedang kesal.
“Jangan pikirkan sesuatu yang tidak penting!” perintah Steven.
“Baiklah.”
Saat berada di dalam lift Azizah terus saja memeluk tubuh suaminya, ia berharap pria blasteran yang sedang berada di pelukannya bisa sedikit lebih tenang.
“Aku mencintaimu suamiku.” Kata-kata terucap dari bibir manis Azizah.
“Aku pun juga mencintaimu istriku,” balas Steven dan mengecup kening istrinya.
Pintu lift terbuka, Azizah dan Steven bergegas keluar dan bersama-sama melangkahkan kaki mereka menuju ruang makan.
Di ruang makan.
__ADS_1
“Selamat siang tuan muda dan nyonya muda!” sapa para pelayan.
Azizah tersenyum, “Siang juga bibi!” kemudian ia duduk tepat di sampean Steven.
“Tinggalkan kami!” perintah Steven dingin, dengan cepat para pelayan pergi.
Azizah tidak ingin menanyakan alasan mengapa pria disampingnya mengusir para pelayan, ia cukup melayani suaminya untuk makan siang.
“Ini sayang,” ucap Azizah yang sudah mengisi nasi serta lauk untuk Steven.
Steven mengucapkan terima kasih dan mulai menikmati hidangan makan siangnya bersama Azizah.
“Kamu juga harus makan ya sayang!”
“Tentu saja, lihat porsi makan ku banyak sayang.” Azizah berkata sambil menunjukkan piringnya yang sudah terisi nasi dan juga lauk.
Yuli yang ingin ke arah dapur memutuskan untuk menunda keinginan dan bersantai sejenak di ruang keluarga sambil menunggu anak dan menantunya selesai makan siang.
Calon bayi mereka kini lebih aktif dari biasanya, sebulan lagi Azizah akan melahirkan.
Berulang kali Azizah harus mengelus-elus perutnya yang semakin
lama sekali terasa geli.
“Kenapa tidak dihabiskan sayang?” tanya Azizah melihat isi piring milik suaminya yang masih tersisa.
“Aku kenyang sayang, bagaimana denganmu?” tanya Steven.
Steven menjentikkan jarinya kemudian para pelayan menghampiri Steven.
“Iya Tuan muda!” ucap mereka menunggu perintah Steven.
“5 menit!” Steven mengatakannya dengan melebarkan 5 jari tangannya, “Aku beri waktu 5 menit untuk kalian membersihkan pondok belakang rumah!” perintah Steven.
Mereka kompak saling melirik satu sama lain dan berlari secepat mereka untuk menyelesaikan perintah dari Steven.
Azizah terkejut dan menatap tak percaya ke arah suaminya, “Apakah ini tidak keterlaluan sayang?” tanya Azizah.
Steven tak menjawab, ia terus duduk sambil menatap lekat wajah wanita di sampingnya.
Azizah juga tak ingin kalah, ia pun menatap wajah sang suami.
Terdengar suara hentakan kaki yang berlarian mendekati ruang makan dengan cepat.
“Tu..tuan muda,” ucap mereka dengan napas yang begitu berantakan.
“Pondok kecil sudah kami bersihkan,” sambung mereka dengan terus menundukkan pandangan mereka.
__ADS_1
Steven beranjak dari kursi dan menggandeng tangan Azizah menuju halaman belakang.
“Ayo sayang, aku ingin bermanja-manja denganmu,” bisik Steven dan tersenyum.
“Dasar mesum.” Azizah memukul lengan suaminya.
Steven terus menggoda Azizah hingga wajah Azizah memerah karena ucapan sang suami.
“Silahkan ratu hatiku!” ucap Steven mempersilahkan Azizah masuk ke dalam pondok kecil yang sebelumnya sudah ia sulap menjadi kamar khusus dirinya dan juga istri tercinta.
“Terima kasih raja hatiku,” sahut Azizah yang geli sendiri dengan ucapannya.
Azizah masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang sangat empuk dan lembut.
“Nyaman sekali, bagaimana kalau malam ini kita berdua tidur disini sayang!”
“Boleh, aku akan meminta mereka memberikan banyak lampu agar malam kita semakin indah dan bercahaya,” sahut Steven.
Azizah menarik tangan Steven agar ikut berbaring menemani dirinya.
“Bukankah kamu mengatakan ingin bermanja-manja sayang? Sekarang aku ingin kamu memanjaku dengan mengusap lembut rambutku sampai tertidur!” pinta Azizah.
Steven mengiyakan dan segera mengelus lembut rambut Azizah serta perut buncit Azizah.
“Sayang,” ucap Azizah terkejut dengan pergerakan bayi di dalam perutnya.
“Anak kita sangat aktif,” sahut Steven.
“Aku tidak sabar ingin melihat wajah imut malaikat kecil kita sayang, aku sangat berharap kamu berada di sisiku saat tiba waktunya untuk ku melahirkan,” ucap Azizah serius.
“Tentu saja!”
Steven terus berbicara sampai akhirnya Azizah tertidur.
Saat itu Azizah sedang tertidur dengan posisi miring, terlihat sekali jika wanita hamil itu sangat sulit mencari posisi yang enak untuk tubuhnya.
Berulang kali Steven memperbaiki
tidur istri tercintanya.
Pria blasteran itu terus saja menatap wajah polos sang istri. Rasanya tak ada bosannya untuk terus menatap wajah Azizah wanita yang begitu sangat ia cintai.
Jujur saja sayang, perasaanku belum tenang jika wanita kurang ajar itu belum juga ditangkap.
Berani-beraninya dia mengusik wanita yang sangat aku cintai, aku tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu terjadi kepada kamu dan juga anak kita meski hanya sehelai rambut.
Sekitar 1 jam lebih Steven menghabiskan waktunya untuk menatap wajah Azizah, sampai akhirnya ia mengantuk dan memutuskan menyusul Azizah yang sudah tidur lebih dulu.
__ADS_1
Akhirnya kamu tertidur juga sayang, aku sangat mencintaimu suamiku.
Azizah mengintip wajah sang suami dan kembali menelusuri alam bawah sadarnya.