Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 11


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Yana akhirnya tiba, Ia sangat tidak sabar menunggu kedatangan Sahabatnya dan Bu Darmi.


Danu meminta Yana untuk bersabar menantikan kedatangan mereka.


“Ini sudah jam berapa Pi? hampir 1 jam kenapa mereka belum juga datang?” tanya Yana tak sabar.


“Sabar Yana, mungkin dijalan sedang mengalami kemacetan. Kamu tahu kan di jam-jam seperti ini banyak orang pulang kerja,” jelas Danu Aryanto pelan.


“Tapi Pi.”


“Sudah Yana, sekarang kamu mandi kasihan mereka kalau dekat kamu pasti langsung pingsan,” ledek Danu.


“Papi itu yang bau,” balas Yana.


“Hmmm.. Bau teriak bau ya!”


“Sudahlah Yana pergi mandi.”


“Papi juga mau pergi mandi.”


Danu Aryanto sangat senang menggoda Yana, rasa bahagia yang tidak pernah Ia alami dan lakukan untuk Putrinya.


Saat Danu ingin bergegas menuju kabar, tiba-tiba telepon rumah berbunyi.


Kring.. kring...


“Selamat sore dengan siapa?” tanya Danu pada penelpon.


“Ini aku mas,” ucap wanita itu dari telepon rumah.


“Ngapain kamu telepon?” tanya Danu sedikit membentak.


“Aku ingin berbicara dengan anak kita,” ucap wanita itu yang tak lain adalah Rika.


“Jangan ganggu kami,” tegas Danu kemudian mematikan telepon sepihak.


Berani-beraninya dia bicara seperti itu tanpa memikirkan perasaanku, kemana saja dia saat Yana membutuhkannya.


Disisi lain.


"Habis berbicara dengan siapa kamu tadi?" bentak Vijay Julio.


“Aa..ku ti..tidak berbicara dengan siapa-siapa.”


“Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah menghubungi mereka lagi. sekarang kamu berdandan yang cantik kita akan pergi!”


“Kita mau kemana Jay?”


“Jangan banyak tanya, cepat berdandan. Aku tunggu kamu di mobil!”


“Iya Jay.”


Kenapa Vijay berubah drastis, dulu sebelum kami menikah dia selalu berperilaku baik terhadapku. Tapi kenapa sekarang dia cepat emosional seperti ini. Semoga sikap dia seperti ini hanya sementara.


20 Menit Kemudian.


“Kenapa lama sekali? cepat naik!”


“Maaf,” balas Rika lalu masuk ke dalam mobil.


“Sampai sana kamu harus tersenyum dan jangan malu-maluin.”


“Iya Jay.”


Sepanjang perjalanan Vijay selalu mengumpat kesal, karena jalanan di Sore hari sangatlah ramai.


“Sialan, kenapa macet begini. Menyebalkan!” eriak Vijay Julio.


“Kamu sabar Jay,” uap Rika menenangkan.


“Sabar bagaimana? Apa mata kamu buta?”


“Kamu kenapa bicara kasar seperti itu terhadapku?” tanya Rika yang mulai menangis.


“Hentikan! Jangan menangis aku pusing.”


“Bagaimana aku bisa berhenti dari tadi kamu membentak aku terus.”


“Baiklah Rika sayang, aku mohon berhentilah menangis nanti wajah kamu tidak cantik lagi. Jadi tolong hentikan!” bujuk Vijay Julio.


“Tapi kamu harus berjanji jangan membentak aku lagi!”

__ADS_1


“Aku berjanji, sekarang hentikan tangisanmu.”


Rika lalu menghapus air matanya, Ia berharap Vijay Julio menepati janjinya.


Dikediaman Danu Aryanto.


“Assalamualaikum,” ucap Azizah dan Darmi.


“Waalaikumsalam, Silahkan masuk!”


“Terima kasih Mbok,” ucap Darmi.


“Yana mana Mbok?” tanya Azizah.


“Sepertinya sedang mandi non,” balas Parti.


“Haduh.. Mbok Parti panggil Azizah saja. Jangan panggil non!” pinta Azizah.


“Baik Non, eh.. Maksud Sayang baik Azizah.”


“Ini Saya bawa bolu, buat cemilan di Sore hari" Ucap Darmi lalu memberikan kotak berwarna putih.


“Ini beli apa buat Bu?” tanya Parti penasaran.


“Saya buat sendiri Mbok, Yana kalau berkunjung ke rumah sering saya buatkan bolu. Alhamdulillah Yana suka.”


“Pasti enak buatan Bu Darmi,” luji Parti.


“Mbok Parti bisa saja.”


“Kalau begitu Saya permisi kebelakang sekalian buatkan minum dan menyajikan kue bolu ini.”


“Iya Mbok.”


“Azizah, Bu Darmi kalian sudah datang. Dari tadi apa barusan?”


"Kami baru saja datang Nak, tadi lagi ada razia kendaraan dijalan makanya lama" Terang Darmi.


“Pantesan Yana tunggu dari tadi kalian belum juga sampai,” balas Yana.


“Ini buat kamu Yana,” ucap Azizah lalu menyerahkan kotak kecil.


“Ini apa?” tanya Yana penasaran.


“Baiklah aku buka ya!”


“Semoga kamu suka.”


“Ya Ampun ini lucu sekali, darimana kamu dapat benda sebagus ini? ini benar-benar bagus.”


“Aku Pesan benda ini khusus buat kamu.”


“Terima kasih Azizah, kamu memang sahabatku.”


Yana senang dengan hadiah dari Azizah, Akrilik bertuliskan Nama Yana Aryanto dan Azizah Cahyani terpampang jelas. Ditambah dengan bentuk yang unik.


"Itu seperti lampu, jika lampu kamar kamu matikan. Dan kamu tekan tombol merah itu makan akan mengeluarkan cahaya seperti lampu. Nama kita akan terlihat sangat jelas,” jelas Azizah.


“Nanti malam akan kita coba dikamar kita, aku tidak sabar ingin melihatnya.”


“Permisi, Silahkan di minum dan dinikmati!”


“Terima kasih Mbok, loh ada bolu? Mbok Parti beli dimana?” tanya Yana.


“Ini bawaan dari Bu Darmi Non.”


“Wah.. terima kasih Bu Darmi. Yana paling suka bolu buatan Bu Darmi, selain enak juga lembut di mulut,” puji Yana.


“Nak Yana macam Chef,” balas Darmi.


“Nak Azizah dan Bu Darmi sudah datang ya, Yana dari tadi tidak sabar menunggu kalian. sampai-sampai tidak ingin mandi,” ucap Danu Aryanto.


“Papi... Stop,” ucap Yana kesal.


“Papi benar kan sayang?”


“Kalau Papi seperti itu lagi, Yana tidak mau sama Papi lagi.”


“Ampun.. ampun.. Papi hanya bercanda sayang. Maafkan Papi ya!”


“Oke. Yana maafkan.”

__ADS_1


Tingkah laku mereka pun sontak membuat yang lain tertawa, pemandangan yang terlihat sangat intim ini pun membuat mereka terharu.


Malam hari.


“Ayo Yana kita sholat bersama ajak yang lainnya juga!” ajak Danu Aryanto.


“Baik Pi.”


“Papi tunggu di ruang sholat ya!”


“Oke Pi!”


5 Menit Kemudian.


Mereka berkumpul tak terkecuali Parti dan Paijo.


Danu Selalu menyempatkan diri untuk sholat bersama-sama. Parti maupun Paijo sudah hafal betul dengan majikannya tersebut jika berada dirumah.


Usai sholat Isya, Parti dan Bu Darmi bergegas menyiapkan makan malam.


“Tuan, Makanannya sudah siap,” ucap Parti.


“Terima kasih Mbok, panggilkan yang lain kita makan bersama!”


“Baik Tuan.”


Acara makan pun berlangsung, Darmi salut akan sikap Danu Aryanto terhadap bawahannya. Ia kagum dengan apa yang dilakukan Danu Aryanto.


Usai Makan, mereka melakukan kegiatannya masing-masing.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, mereka pun memutuskan untuk beristirahat tidur. Parti dan Darmi tidur bersama, kamar yang dipakai Parti bukanlah kamar yang usang dll.


Tapi kamar yang sangat layak pakai, bahkan kamar Darmi sangatlah biasa bila dibandingkan dengan kamar Parti.


“Kamar Mbok Parti bagus sekali, bahkan kamar saya tidak sebagus ini,” puji Darmi.


“Ini semua berkat Tuan, Tuan dan Nyonya Rika tidak pernah membeda-bedakan kami. Saya maupun Paijo diperlakukan seperti keluarga sendiri,” jelas Parti.


“Maaf Mbok kalau Saya lancang, kalau boleh tahu kenapa Pak Danu dan Bu Rika bercerai? sebelumnya Saya tahu dari Yana tapi saya tidak berani bertanya lebih,” ucap Darmi.


“Gara-gara orang ketiga Bu, Nyonya Rika dulu suka bertemu Pak Vijay. Kalau tidak salah mereka dulu adalah Sahabat, tapi entah kenapa Nyonya Rika Malah berselingkuh dengan Pak Vijay. Dan akhirnya Tuan menceraikan Nyonya,” terang Parti.


“Padahal Pak Danu sangat baik, sangat disayangkan jika mereka bercerai,” ucap Darmi sedih.


“Iya Bu, namanya juga sudah takdir. Sejak saat itu juga Tuan menjadi sibuk bekerja. Tapi Alhamdulillah, sekarang Non Yana bisa kembali ceria Saya sudah sangat senang bu.”


“Sama Mbok, Saya juga sangat senang Yana kembali ceria lagi.”


Mereka berbincang-bincang, tak lama kemudian mereka tertidur.


Dikamar Yana.


“Wah.. ternyata sangat cantik. Aku sangat suka,” puji Yana.


“Nanti jika sudah sampai di Malaysia, Aku harap kamu selalu tidur ditemani ini.”


“Tenang saja Azizah, Aku pasti akan selalu tidur ditemani akrilik cahaya ini.”


“Terima kasih Yana, untuk semuanya jangan pernah lupakan aku,” ucap Azizah.


“Aku tidak akan pernah melupakan kamu, Aku berjanji suatu saat nanti kita akan bertemu lagi!”


“Kamu janji kita akan bertemu lagi?” tanya Azizah penuh harap.


“Yana Aryanto berjanji kepada Azizah Cahyani bahwa kita akan bertemu lagi suatu saat nanti,” tegas Yana.


Mereka saling memeluk satu sama lain, entah berapa lama mereka saling memeluk dan menangis bersama. Sampai akhirnya mereka tertidur pulas.


3 Hari kemudian.


Di Sekolah.


“Selamat Siang Anak-anak sebelum kita pulang ke rumah masing-masing, Bapak selaku Kepala Sekolah dan Paman dari Yana Aryanto. Memberitahukan kepada Anak-anak yang tak lain yang tak bukan teman sekelas Yana, Bahwa teman kita besok dan seterusnya tidak bersekolah lagi di sekolah tercinta kita,” terang Joko pada murid.


“Kenapa Pak?” tanya murid-murid serempak.


“Yana akan pindah sekolah, Bapak harap kalian semua bisa menerima keputusan teman kita ini,” jelas Joko.


Sontak Anak-anak menangis, bahkan ada yang langsung mendekati Yana dan memeluk. Meski mereka tahu Yana adalah sesosok teman yang cuek tapi selama ini Yana tidak pernah pelit. Yana selalu membela yang lemah itulah Yana Dimata mereka.


Meski Azizah tahu lebih dulu tentang kepergian Sahabatnya, tetap saja Ia tidak bisa membendung air matanya.

__ADS_1


Apalagi saat melihat teman yang lain menangis, hati Azizah merasa sakit. Sakit ditinggalkan oleh Sahabat yang sangat tulus, Sahabat yang baik dan Sahabat yang tak pernah membeda-bedakan Siapapun.


__ADS_2