
“Maafkan aku Azizah sayang, selama ini jika aku membuatmu sering marah, sedih dan ngambek, 2 hari lagi kita akan menikah aku ingin kamu menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Aku ingin kamu Azizah Cahyani menerimaku, maukah kamu hidup dan menua bersamaku?” tanya Steven dengan penuh harap.
“Maaf Steven... Aku tidak bisa...”
Steven terkejut ia berdiri dan matanya seketika itu berkaca-kaca. Ia merasa Perjuangan selama untuk mendapatkan dan mendekati Azizah sia-sia.
“Kenapa Azizah? apakah aku tidak pantas bersanding denganmu?” tanya Steven yang masih tak percaya dengan penolakan Azizah.
“Aa...aku tidak bisa Steven. Aku tidak bisa menolak mu,” sahut Azizah.
Steven yang sudah sangat sedih akhirnya lega, hampir saja ia gila jika Azizah menolaknya.
“Ya Allah, hampir saja aku mati,” ucap Steven.
“Segitunya kamu sampai mau mati, aku belum dinikahi oleh kamu Steven. Kita juga harus memiliki anak dan cucu,” balas Azizah.
Steven mendekat ke arah Azizah dan memeluk gadis itu dengan sangat erat dirasa puas memeluk tubuh Azizah, Steven melepaskan pelukannya dan menyematkan cincin berlian di jari manis Azizah.
Azizah pun terharu dengan kejutan itu, ia sangat senang terlebih lagi Steven mencintainya dengan sangat tulus.
“Terima kasih Steven, kamu adalah hal terindah yang pernah aku miliki,” ucap Azizah dengan sangat bahagia.
“Aku pun berterima kasih kepada kamu Azizah sayang karena telah menerimaku,” sahut Steven.
dua sejoli itu saling memeluk satu sama lain, akhirnya apa yang mereka inginkan segera terjadi.
“Steven!”
“Apa?”
“Sudah malam, aku ingin tidur!”
“Baiklah, aku juga ingin tidur,” sahut Steven.
Mereka kemudian saling melepas pelukan dan berjalan terpisah menuju kamar mereka.
Azizah masuk ke dalam kamar, sampai di kamar ia langsung merebahkan diri hingga akhirnya ia tertidur.
“Aku dimana?” tanya Azizah saat melihat sekitar. Ia pun tak tahu sedang dimana dirinya berdiri dari kejauhan ada sesosok wanita yang berjalan mendekatinya.
“Azizah sayang!” panggil wanita itu dengan sangat lembut, ia memakai pakaian serba putih wajahnya begitu cantik berseri-seri.
“Ibu..!!” Azizah memanggil ibunya.
“Ini bukan Maya kan?” tanya Azizah pada wanita itu.
“Iya nak, ini ibu kandung mu. Ibu sangat senang anak ibu ini sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan sebentar lagi akan menikah.” Sosok itu kemudian memeluk Azizah, Azizah dibuat terharu karena melihat ibu kandungnya.
“Azizah sangat merindukan ibu, Azizah rindu sekali dengan ibu hiks...hiks..”
“Anak ibu tidak boleh cengeng, ibu selalu menemani Azizah dimana dan sampai kapanpun,” ucap Maya menenangkan sang putri.
Perlahan Maya berubah menjadi bayangan, pelukan mereka makin lama makin longgar dan akhirnya bayangan itu menghilang.
“Ibu....!” Azizah berteriak dan terperanjat dari tidurnya.
“Azizah kamu kenapa?” tanya Yuli khawatir dan langsung memeluk tubuh Azizah yang terlihat begitu gemetar serta keringat-keringat kecil yang keluar dari keningnya.
“Hiks... hiks” Azizah hanya menangis di pelukan calon mertuanya.
“Kamu kenapa nak? ceritakan ke mami kamu kenapa, apakah kamu bermimpi buruk?” tanya Yuli sambil mengelus-elus rambut Azizah.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
“Lalu kenapa? ceritakan ke mami agar mami tahu alasan kamu menangis!” pinta Yuli.
“Hiks... Azizah, Azizah bermimpi bertemu ibu kandung Azizah mi hiks..hiks..”
__ADS_1
“Lalu ibumu mengatakan apa nak?” tanya Yuli dengan penuh keibuannya.
Azizah lalu menceritakan pertemuannya dengan Maya, tak ada sedikitpun yang terlewatkan.
“Sekarang Azizah tidak boleh bersedih, pasti ibumu sekarang sedang melihat Azizah,” ucap Yuli.
Yang dikatakan calon ibu mertuanya memang benar akhirnya Azizah berhenti menangis. Hatinya sangat tenang karena Yuli begitu perhatian terhadapnya ia pun melanjutkan tidurnya kembali.
Pagi hari.
Pagi-pagi buta Steven telah bersiap untuk ke perusahaan. Hari itu ia mengajak Azizah untuk menemaninya.
“Kamu yakin ingin mengajakku ke perusahaan?” tanya Azizah memastikan.
“Kamu kenapa menanyakan hal itu Azizah sayang? kamu meragukan ku?” tanya Steven.
“Bu...bukan itu, hanya saja aku takut dengan para pegawaimu,” ucap Azizah dengan wajah yang begitu polos.
“Kamu tidak perlu takut, jika ada yang macam-macam dengan calon istriku ini akan aku pastikan mereka aku pecat saat itu juga,” tegas Steven.
“Ba..baiklah,” ucap Azizah pasrah.
Sebelum berangkat kedua sejoli itu sarapan bersama dengan keluarga, sesekali mereka melempar candaan kepada Azizah dan Steven yang sebentar lagi akan menikah.
“Haduh nenek tidak sabar melihat kalian memiliki bayi,” ucap Teressa penuh harap.
Deg...deg...
Azizah maupun Steven saling melempar pandang, pandangan mereka seperti orang kebingungan.
Bayi? ya ampun aku sama sekali belum memikirkan tentang anak, bagaimana nenek bisa mengatakan hal itu.
Azizah benar-benar bingung harus menjawab apa kepada Teressa.
“Nenek tenang saja setelah menikah kami akan membuat bayi-bayi yang lucu serta imut,” sahut Steven santai.
Azizah membelalakkan matanya ke arah Steven, begitu gampangnya Steven mengucapkan hal itu di depan orangtuanya serta nenek.
“Baiklah sayang,” sahut Steven.
“Mami, papi dan nenek kami berangkat Assalamualaikum,” ucap Steven sambil mencium punggung tangan mereka begitu juga dengan Azizah.
1 jam kemudian.
Perusahaan Walker Corp.
Steven berjalan memasuki ruangannya dengan merangkul Azizah, para pegawai yang melihat Steven membawa seorang wanita sangat terkejut. Hanya segelintir orang yang mengetahui siapa itu Azizah, karena Azizah pernah bekerja menjadi asisten CEO tapi hanya dalam waktu yang begitu singkat.
Banyak yang bergumam dalam hati mereka siapakah wanita yang dibawa atasan mereka itu, beberapa dari mereka ada yang mengatakan bahwa Azizah sangatlah cantik kebanyakan dari para kaum Adam tentunya yang memuji kecantikan calon istrinya Steven namun ada yang merasa jengah dan sebal melihat Azizah yang telah memenangkan hati sang CEO siapa lagi kalau bukan dari kaum hawa.
“Selamat pagi CEO!” sapa mereka, Steven sekarang tidak lagi dipanggil melainkan dipanggil CEO. Ia ingin semua bawahannya menghormatinya.
“Berkumpulah disini sekarang juga!” perintah Steven dengan tatapan menakutkan.
Para pegawai pun langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti perintah Steven Walker.
“Perkenalkan Wanita bersamaku ini adalah calon istriku, jadi bersikap hormat kepadanya!” perintah Steven.
“Baik CEO!” sahut mereka.
“Bubar!” perintah Steven.
Para pegawai pun berhamburan dan mengerjakan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
“Mari sayang kita ke ruangan ku!” Steven mengatakan dengan berbisik ke telinga Azizah.
Azizah bergidik ngeri dengan bisikkan itu.
__ADS_1
“Baik,” sahut Azizah.
Dua sejoli itu lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang kerja CEO.
Setelah kepergian Steven dan Azizah, beberapa dari pegawai berkumpul dan mulai bergosip.
“Jadi itu yang diberitakan kemarin, sungguh jelek,” ucap salah satu dari mereka menghina Azizah.
“Yang benar saja, wanita seperti itu kamu bilang jelek. Lantas kamu itu apa?” tanya salah satu dari mereka membela Azizah.
“Loh kok kamu malah membela wanita itu?”
“Kalian bubar sekarang! atau aku akan melaporkan kalian kepada CEO?”
Seketika mereka bubar dengan tergesa-gesa dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Baru saja mereka bubar tiba-tiba Mia datang yang baru saja dari toilet.
“Ada apa ini kok wajah kalian tegang?” tanya Mia.
Nely yang baru saja membubarkan mereka menatap tajam kearah mereka agar tak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Mia.
“Ada apa sih dengan mereka biasanya kalau aku bertanya selalu dijawab,” ucap Mia lalu ia kembali ke kursinya.
Di Ruang CEO.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Steven.
“Ti...tidak ada apa-apa, hanya saja dulu aku kesini sebagai asisten CEO dan sekarang....”
“Dan sekarang kamu akan menjadi istri CEO,” potong Steven.
“Apakah ini terlalu aneh Steven sayang?”
Steven mengernyitkan keningnya ia lalu berjalan ke arah dan duduk memangku Azizah.
“Steven lepaskan! ini dikantor,” ucap Azizah.
“Kenapa memangnya dikantor lagipula mereka tidak ada yang berani masuk jika belum aku izinkan,” sahut Steven.
“Dasar kamu ini, pokoknya lepaskan!” pinta Azizah kemudian berusaha melepaskan pangkuannya dari Steven.
“Baiklah Azizah sayang,” sahut Steven dan melepaskan Azizah.
“Oya, tadi kamu bilang terlalu aneh maksudnya?” tanya Steven penasaran.
“Hidupku dulu sangatlah tak berarti maksudku dulu aku bukan siapa-siapa Steven, aku hanya seorang wanita yang sangat miskin. Masuk ke sini untuk bekerja tidak lebih Sampai akhirnya kamu jatuh cinta kepadaku dan semuanya berubah, hidupku seperti cerita dongeng Steven,” ucap Azizah sambil mengingat-ingat kembali awal pertama ia masuk kedalam perusahaan yang dimiliki oleh Steven Walker.
“Bagiku itu tidaklah aneh, kamu adalah wanita yang Tuhan kirimkan untukku.”
“Benarkah? apakah kamu mau berjanji satu hal untukku?”
“Kenapa hanya satu, kamu memintaku untuk berjanji 1000 pun aku pasti akan menurutinya,” ucap Steven dengan serius.
“Aku hanya ingin satu Steven, bisakah?”
“Katakan apa yang kamu minta untukku berjanji Azizah sayang?”
“Aku ingin kamu setia kepadaku bahkan disaat aku tidak ada!” pinta Azizah.
“Kalau untuk hal itu kamu tidak perlu meminta karena itu akan aku lakukan sampai akhir usiaku,” ucap Steven dengan wajah yang sangat serius.
Pria blasteran itu lalu memeluk serta mencium lembut pipi Azizah. Steven tak ingin kehilangan Azizah apapun yang terjadi karena di dalam relung hatinya sudah ada nama Azizah Cahyani yang terukir bahkan permanen tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Vote dong!!
Yang mau baca kelanjutannya yang harus di vote dong biar author makin semangat ..😭😭🙏😅
__ADS_1
Gabung juga di grup chat teman-teman untuk menambah tali silaturahmi kita..
Like ❤️ komen 👇 Terima kasih.