Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 27


__ADS_3

Mike sudah bersiap untuk berangkat menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, tak lupa Steven menemani Sang sahabatnya untuk kembali ke Amerika.


"Lain kali aku akan berkunjung ke Jakarta lagi, padahal aku masih ingin bersama denganmu Steven" Ucap Mike sedih.


"Menjijikkan" Ucap Steven.


"Kamu masih saja bersikap dingin kepadaku, aku sudah ingin kembali Steven. Seharusnya kamu perhatian kepadaku" Balas Mike dengan sangat Manja.


"Sekali lagi kamu seperti itu, kupukul wajahmu" Ucap Steven dengan tatapan tajam.


"Baiklah, aku diam saja" Sahut Mike sedih, ya dia sedih karena belum menghabiskan waktu bersama Steven.


Steven mendekati Mike, dipeluknya Mike dan menepuk bahunya.


"Mainlah kesini lagi, jangan lupa bawa kekasihmu itu!" Ucap Steven.


Mike langsung melebarkan senyumnya, ternyata Steven masih mengharapkan kehadiran dirinya.


"Siap Bos" Balas Mike sambil memberikan tanda hormat.


Tak terasa pesawat yang ditumpangi oleh Mike siap landas, Mike pun pergi meninggalkan kota Jakarta.


Usai kepergian Mike, Steven langsung bergegas menemui Pujaan hatinya.


"Kita ke Rumah Sakit!!" Ucap Steven pada Heru.


"Baik Tuan Muda" Balas Heru sambil membukakan pintu untuk majikannya.


"Tuan Muda!!" Panggil Heru.


"Mmmm" Balas Steven.


"Tidak jadi" Ucap Heru yang kesal dengan sikap Steven.


"Ada apa? Cepat katakan!! Jangan bertele-tele" Balas Steven.


Kruyuk.. kruyuk..


Heru malu dengan suara perutnya, Ingin rasanya Ia berlari sekencang mungkin menjauhi Steven.


Steven menahan tawanya, rupanya Heru sedang dilanda lapar.


"Kita ke restoran terdekat yang sudah buka, kasihan cacing diperut kamu" Ledek Steven.


Heru tidak berani menjawab, Ia benar-benar malu. Seharusnya tadi Ia makan terlebih dahulu.


Tibalah mereka di salah satu restoran ternama di Jakarta, Heru dan Steven memasuki restoran itu. Meski sangat pagi yaitu sekitaran jam 6 pagi, namun restoran itu cukup banyak pengunjungnya.


Mereka duduk di barisan dekat kasir, Heru yang sangat lapar langsung memesan berbagai macam makanan. Steven Walker tidak risih sama sekali dengan kelakuan Heru, bagaimanapun sudah menjadi tanggung jawabnya untuk semua kebutuhan Sang Sopir.


"Saya sudah memesan banyak, Tuan muda mau pesan apa?" Tanya Heru.


"Teh hangat saja" Jawab Steven singkat.


Setelah menu makanan diantar ke meja mereka, Heru dengan semangat menikmati makanan tersebut. Steven yang hanya menikmati teh hangatnya itu merasa jenuh, Ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat yang langsung terpapar sinar matahari pagi.


"Jangan disini Dimas, nanti ada yang melihat kita" Ucap Monicha yang geli dengan kelakuan Dimas yang menciumi lehernya.

__ADS_1


Steven sangat jijik dengan kelakuan mereka, saat ingin pergi. Steven terkejut dengan siapa wanita itu sedang melakukan hal mesra di depan publik.


"Bukankah dia pria yang bersama gadis bodoh itu di Rumah sakit? Rupanya dia bukan pria baik-baik sangat menjijikkan" Gumam Steven sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Steven segera menghampiri Heru, Ia sangat muak dengan kelakuan yang tak pantas itu.


"Saya sudah selesai Tuan Muda, anda tadi dari mana?" Tanya Heru.


"Cepat bayar, Ini uangnya!!" Ucap Steven lalu memberikan beberapa uang berwarna merah.


Usai membayar tagihan makanan, mereka bergegas menuju Rumah Sakit.


"Tinggalkan aku, kamu pulanglah!!" Pinta Steven.


"Tuan Muda?".


"Aku tidak pulang" Jawab Steven.


"Kalau begitu Saya permisi Tuan muda, jika ada apa-apa segera hubungi saya" Ucap Heru.


"Ya" Balas Steven singkat.


Heru kemudian pergi meninggalkan Steven di rumah sakit, sementara Steven bergegas menemui Azizah.


"Gadis bodoh, kapan kamu sadar?" Tanya Steven lirih.


Steven Lalu mencium kening Azizah, dirapikannya rambut yang sedikit berantakan.


Beberapa menit kemudian Steven tertidur tepat didekat perut Azizah dan melingkarkan tangannya di Perut Gadis bodoh itu.


Azizah menggerakkan tangannya, terasa sedikit berat dibagian perut. Dilihatnya ada seorang Pria yang memeluk perutnya.


"Siapa Kamu?" Teriak Azizah lagi.


Steven yang terkejut dengan teriakan Azizah, lalu berdiri dan berusaha menenangkan Azizah.


"Kamu jangan berisik, tenang" Pinta Steven menenangkan Azizah.


"Kamu kenapa bisa disini? dan ada dimana aku?" Tanya Azizah sambil mengedarkan pandangannya kesana-kemari.


"Kamu sedang di rawat ini rumah sakit, jangan banyak gerak" Ucap Steven dengan lembut.


"Aku sangat berterima kasih dengan Tuhan, akhirnya kamu sadar juga" Sambung Steven lagi.


"Sudah berapa lama aku dirawat disini?" Tanya Azizah penasaran.


"Hampir 2 Minggu kamu dirawat, Sahabatku yang menabrak dirimu. Tapi Dia telah pulang ke Amerika" Terang Steven.


"Ada apa dengan kakiku kenapa sebelah kanan tidak dapat digerakkan?".


"Kakimu sekarang dalam masa pemulihan, kamu harus pakai kursi roda".


"Hiks.. hiks.. bagaimana ini? Aku pasti sudah kehilangan pekerjaan. Bagaimana aku membiayai biaya pengobatan dan kehidupan sehari-hari" Tangis Azizah pecah, bagaimanapun Ia harus bekerja dan menghidupi dirinya sendiri.


"Tenanglah, Urusan itu biar aku yang menanganinya. Sementara waktu, kamu tinggallah di apartemen. Jangan terlalu banyak berpikir" Ucap Steven sangat lembut.


"Bagaimana aku bisa tenang? Aku kehilangan pekerjaan. Apartemen, maksudmu apa? Aku tahu kamu tidak memiliki uang. Dan aku tidak ingin merepotkan siapapun termasuk dirimu" Tegas Azizah.

__ADS_1


Steven tidak menjawab, Ia memencet bel agar dokter segera datang.


Beberapa menit kemudian.


Dokter pun datang dengan 2 orang perawat.


Steven diminta untuk keluar sementara waktu, karena Azizah harus diperiksa keadaannya.


Steven pun dengan berat hati keluar.


"Nona Azizah sudah sadar syukurlah, Tuan Steven selalu setia menunggu anda di sini" Ucap dokter sambil mengecek kondisi Azizah.


"Maksud dokter apa? Steven siapa?" Tanya Azizah bingung.


"Tuan Steven Walker, yang baru saja keluar ruangan ini" Sahut dokter.


Azizah membelalakkan matanya, mulutnya bahkan menganga lebar. Ternyata orang yang Ia kira ingin mencuri beberapa waktu yang lalu adalah Atasannya sendiri.


"Ya Tuhan, matilah aku. Seharusnya aku tidak menjelek-jelekkan dirinya" Batin Azizah ketakutan.


Azizah menelan Saliva nya kasar-kasar, Sungguh hidupnya kini sedang diujung tanduk.


"Nona Azizah keadaannya sudah membaik, kami sarankan jangan terlalu banyak gerak" Pesan Dokter.


Usai memeriksa keadaan Azizah, mereka pun pergi meninggalkan Azizah di ruang rawat itu.


Steven Walker dengan cepat menemui Azizah.


"Sebaiknya kamu dirawat dirumah saja, aku bosan menunggumu di rumah sakit ini" Ucap Steven sambil menengok ke arah luar jendela.


Azizah tak menjawab ucapan Steven, Ia hanya menunduk menahan malu dan ketakutan. Ia takut karena pernah mengatakan hal jelek tentang Steven.


"Kau kenapa gadis bodoh?" Tanya Steven heran.


Diangkatnya kepala Azizah, terlihat sekali wajahnya yang ketakutan.


"Ada apa?" Tanya Steven.


"Maafkan Saya Pak Steven, Saya salah tolong jangan hukum saya" Ucap Azizah ketakutan.


Steven menahan tawanya, ternyata Azizah Sudah tahu siapa dirinya.


"Ya kamu benar, kamu harus ku hukum!" Ucap Steven dengan menyunggingkan senyum jahatnya.


Azizah langsung mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung, sungguh Ia sangat ketakutan.


Steven merasa tidak enak hati karena awalnya Ia ingin mengerjai gadis bodoh itu, malah membuat Azizah ketakutan dan mengeluarkan keringat.


"Sudahlah Saya hanya bercanda, hari ini juga kamu ikut Saya!!" Ajak Steven.


"Kemana Pak? Bapak tidak mungkin kan mengirim saya ke penjara?" Tanya Azizah penasaran.


"Ha..ha.. kamu tidak perlu takut".


2 Jam kemudian.


Heru datang menjemput Azizah dan Steven, akhirnya Heru tahu mengapa Sang Majikan membeli sebuah apartemen mewah.

__ADS_1


Tinggalkan jejak guys 🤗❤️


__ADS_2